MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Sayap-Sayap Patah.



Karin tersenyum tipis dan melepaskan tangannya dari Dio. "Kau tidak mencintaiku Dio" kata Karin sedikit tersenyum miris.


"Kenapa kau berkata seperti itu? Aku yang lebih tau perasaanku" kata Dio mengerutkan wajahnya.


"Benarkah? Jika kau mencintaiku, kenapa kau berpacaran dengan wanita lain?" kata Karin kini menatap Dio serius.


"Aku bisa memutuskan Cindy" kata Dio.


"Kau sama sekali tidak berubah, bagaimana bisa kau dengan mudah memutuskan seorang wanita, Apa kau bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati Cindy nanti. Dio, tolong jangan begitu kejam" kata Karin menatap Dio tak percaya.


"Tapi aku tidak pernah mencintai dia Karin, aku baru sadar kalau hanya kau yang aku inginkan. Selama lima tahun, aku sudah mencoba melupakan mu dan mecoba mengeluarkan mu dari pikiranku, tapi aku tidak bisa Karin. Aku hanya memikirkan mu" kata Dio penuh perasaan. Emosi tertahan sangat jelas di wajahnya, ia mencoba meyakinkan kalau hanya Karin lah satu-satunya wanita yang di inginkan.


"Memikirkan ku? Tapi aku rasa Kau itu hanya merasa bersalah dan Kau merasa bertanggung jawab karena sudah melakukan hal itu padaku. Itu bukan cinta Dio, tapi hanya rasa kasian"kata Karin tertawa miris.


"Lalu, Bagaimana denganmu?" tanya Dio pelan, ia bingung harus bagaimana lagi menjelaskan pada Karin kalau dia benar-benar mencintai wanita itu.


"Aku tidak tahu" kata Karin tak ingin menjawab karena dia sendiri bingung dengan perasaannya.


"Kau mempunyai perasaan itu padaku kan?" kata Dio mencoba mengejar mata Karin yang terus menghindarinya.


"Dio! Tolong jangan seperti ini. Bisakah kau tidak membuat keadaan ini semakin rumit. Kau itu sudah punya Cindy" kata Karin dengan bibir bergetar, Bukan karena dingin. Tapi karena menahan sakit di dadanya saat mengatakan hal itu.


"Tapi aku tidak mencintainya Karin, Aku hanya mencintaimu, Apa kau tidak percaya padaku" kata Dio kini meraih tangan Karin yang dingin untuk di genggamnya.


"Tapi aku tidak bisa" kata Karin membuat Dio menatap wanita itu dalam-dalam.


"Kenapa? apa karena Nathan?" tanya Dio menahan nyeri di hatinya.


"Iya, kita sudah punya kehidupan masing-masing. Dio, cobalah setia dengan pasanganmu" kata Karin sebenarnya berat sekali mengatakan hal itu, tapi ini juga tidak akan baik jika di teruskan.


"Baiklah jika itu maumu, tapi jangan melarang ku untuk mencintaimu, karena aku tidak akan berhenti untuk mencintaimu sampai kapanpun" kata Dio dengan suara beratnya, ia sedang menahan emosinya, hatinya sakit sekali karena sudah dua kali mendapat penolakan dari Karin.


*****


Keheningan tampak menemani perjalanan mereka saat pulang ke rumah. Keduanya memilih bungkam satu sama lain. Bahkan sampai mereka sampai di Vila, tak ada obrolan apapun


Dio tak perduli rasa dingin yang menyerbu tubuhnya, rasa dingin itu tak sebanding dengan sakit yang dirasakannya karena Karin.


"Biar aku bantu" kata Dio yang melihat Karin kesusahan membuka helmnya.


"Makasih udah di ajak jalan-jalan" kata Karin tersenyum tipis.


"Iya sama-sama" kata Dio tak bisa membalas senyum itu. Hatinya masih merasa nyeri sekali karena penolakan Karin tadi.


"Kalian berdua darimana saja? Kenapa meninggalkanku sendirian?" sembur Cindy begitu melihat Dio dan Karin kembali ke Vila. Wajahnya tampak begitu kesal sekali.


Kini bahkan Cindy menatap Karin dengan tatapan sinisnya. Ia langsung menarik tangan Dio yang masih berdiri disamping Karin.


"Oh, hanya melihat pemandangan. Karin, kau pasti lelah, istirahatlah dulu" kata Dio menatap Karin yang masih berdiri disana.


"Iya, Aku permisi dulu" kata Karin sedikit menganggukkan kepalanya sebelum masuk ke kamarnya.


"Kau harus menjelaskan padaku" kata Cindy menatap Dio dengan tajam.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Aku lelah dan ingin istirahat. Tolong jangan menggangguku" kata Dio merasa tak punya tenaga untuk meladeni Cindy, Tubuh dan Hatinya sedang lelah saat ini.


"Bukankah aku sejak dulu seperti itu. Cindy, Kau tau sendiri bagaimana hubungan ini terbentuk, jadi kau itu hanya mengharapkan hal yang sia-sia. Karena kau jelas tau kalau aku tidak mencintaimu" kata Dio sudah tak ingin bermanis-manis lagi pada wanita ini. Sudah cukup, dia sudah lelah mengikuti sandiwara gila ini.


"Lalu siapa orang yang kau cintai? Karin!" kata Cindy langsung saja.


"Bukan urusanmu" kata Dio melirik wanita itu tajam.


"Tentu itu urusanku, Kau menyukai Karin kan? Kau bahkan merelakan jaketmu di pakai dirinya! Kau jahat Dio! Setelah semua yang kita lalui, kau seenaknya mengatakan ini padaku!" kata Cindy langsung menumpahkan air matanya.


"Maafkan aku" kata Dio merasa bersalah karena membuat Cindy seperti ini.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, Disini memang aku saja yang bodoh. Tapi kau tau, Dio. Aku tidak akan pernah menyerah untuk membuatmu mencintaiku" kata Cindy mengusap air matanya kemudian buru-buru pergi.


Dio menghela nafas kasar, kenapa susah sekali membuat Cindy mengerti.


******


Karin menatap pemandangan di depan Vila, Di sampingnya sudah ada teh hangat dan cemilan yang sengaja ia bawa. Ia paling suka dengan kesunyian seperti ini. Setelah cukup lama, Karin akhirnya bangkit untuk mandi sore, tapi dia di buat kaget saat tiba-tiba ada orang yang memeluknya dari belakang.


"Selamat Sore Nona cantik" Karin langsung mendengus saat menyadari jika itu suara Nathan.


"Nathan! Kau mengagetkanku saja" kata Karin mencubit tangan Nathan yang melingkar di perutnya.


"Berarti berhasil dong" kata Nathan tersenyum tipis dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Ish, Lepaskan dulu tanganmu" kata Karin merasa kurang nyaman dengan tingkah Nathan ini.


"Tidak mau" kata Nathan malah sengaja memeluk Karin lebih erat.


"Ehemmmm...." suara deheman terdengar membuat keduanya menoleh dan Karin langsung kaget saat melihat Dio.


"Oh, Hai sepupu..." kata Nathan tersenyum santai dan melepaskan rengkuhannya dari Karin tapi ia menarik pinggang ramping Karin untuk mendekat.


"Wow! Nathan, kau sudah datang" Cindy tiba-tiba muncul dan ikut bergabung, ia sempat melirik Dio namun tak mengatakan apapun.


"Ya, Aku sudah merindukan wanitaku. Terima kasih ya sudah menjaganya" kata Nathan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Karin.


"Kau pikir aku apa, harus di jaga" kata Karin pelan.


"Ya tidak apa-apa. Karin baik-baik saja disini. Tadi dia baru saja jalan-jalan bersama Dio" kata Cindy sengaja mengadukan itu agar Nathan tau bagaimana sikap Karin jika tidak ada dirinya.


Karin melirik Cindy malas, ia tau wanita itu sengaja menyindirnya. "Kapan kau datang?" tanya Karin membuat Nathan langsung menatapnya.


"Aku baru saja sampai, Aku lelah sekali. Ayo temani aku istirahat" kata Nathan langsung merengkuh pinggang Karin dan mengajaknya masuk ke dalam bersama.


"Eh? Kau mau tidur dimana?" tanya Karin bingung.


"Tidur dimana saja, tapi sekarang aku sangat lelah, tidak masalah kan tidur di kamar mu dulu" Nathan sengaja berbisik tepat di telinga Karin membuat orang yang melihatnya merasa mereka berdua mesra.


Dio tentu melihat hal itu, hatinya seperti tercabik-cabik dan sakitnya tak tertahankan.


Happy Reading.


Tbc.