
Bagaimana rasa cinta ini dapat ku lawan.
Jika hanya karena kau menatapku.
Rasa rindu ini tak bisa lagi ku tahan.
___________________________
Karin sudah tiba di lantai sembilan, Ia melihat ruangan yang tampak begitu luas. Di ujung lorong terdapat logo perusahan yang sangat besar. Tapi pegawainya tak terlalu banyak, benar-benar agensi yang kecil.
D&K Entertainment.
"Selamat Siang, Saya ada janji mau casting hari ini" ucapnya pada resepsionis kantor.
"Oh, Nona Karin ya, Sudah di tunggu oleh Tuan Angga. Mari saya antar" kata resepsionis itu memimpin jalan Karin.
Karin mengikuti langkah resepsionis itu sampai tiba di sebuah ruangan yang lebih besar dari yang lainnya. Disana sudah banyak sekali wanita muda yang sepertinya juga akan mengikuti casting. Ada juga crew yang bertugas menata desain pemotretan.
"Tuan Angga, Nona Karin sudah datang" ujar Resepsionis tadi membuat pria yang tadi sibuk berbicara itu menoleh.
"Angga!"
"Karin"
Keduanya tampak kaget saat saling berhadapan, Sedetik kemudian keduanya tertawa kecil.
"Kamu apa kabar?" Angga mengulurkan tangannya langsung di sambut oleh Karin.
"Kabar baik, Kamu sendiri?"
"Ya baik, Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini, Udah lama banget" kata Angga tersenyum tipis.
"Aku juga enggak, Dari kemarin padahal udah ngobrol" kata Karin lagi.
"Aku juga nggak tau kalau itu kamu, Selama ini kemana aja, Kalian bertiga udah nggak pernah bareng lagi kayak waktu SMA" Kata Angga yang memang dulunya satu sekolah dengan Karin.
"Aku kuliah di Swiss, Bella juga udah nikah, sedangkan Tiara pasti masih sering ketemu kan" kata Karin seadanya.
"Oh iya, Tiara satu kampus sama aku" kata Angga mengangguk-angguk.
"Jadi, Sekarang aku kerja sama kamu nih? Udah jadi bos ya sekarang" kata Karin bercanda.
"Hahaha, Bos apaan. Bosnya bukan aku disini" kata Angga tertawa menanggapi Karin.
"Bohong banget" kata Karin masih dengan tawanya.
"Serius deh" sahut Angga.
"Percaya deh, By the way gimana jadinya? Aku langsung bisa ikut cast sama yang lain?" tanya Karin kembali ke tujuan utamanya kesini.
"Bisa-bisa, Nunggu aja giliran kamu" kata Angga lagi.
Karin mengangguk mengerti, sembari menunggu, keduanya tampak mengobrol ringan. Setelah beberapa orang, Akhirnya sekarang giliran Karin. Ia sudah di make up tipis oleh penata rias, bajunya tidak di ganti karena sudah bagus.
Karin sedikit gugup, tapi saat lampu blitz di nyalakan, Ia langsung merubah ekspresinya dan berpose semenarik mungkin. Kameraman tampak sangat puas saat melihat hasil jepretan foto Karin, Dia segera menunjukkan pada Angga yang tak kalah puasnya. Karin benar-benar sempurna.
"Bagus Rin" kata Angga masih dengan senyum puasnya.
"Serius bagus?" tanya Karin ikut senang mendengarnya.
"Iya, Setelah ini langsung lanjut ke ruangan ku aja, Kita bisa bahas kedepannya gimana nanti" kata Angga berubah serius.
"Oke bisa, bisa. Aku bersihin make up dulu ya" kata Karin senang bukan kepalang saat ternyata dirinya lolos casting.
"Silahkan, Aku santai kok" kata Angga tersenyum tipis.
*******
Karin membaca surat kontrak yang di berikan Angga padanya. Ia tentu tak boleh gegabah dan nantinya akan membuat rugi dirinya.
"Brand ini udah banyak ngeluarin produk terkenal Rin, Jadi ini kesempatan bagus untuk pendatang baru sepertimu, Nama kamu bisa langsung naik daun nanti" kata Angga menjelaskan.
"Ya, Mereka meminta kita buat ide baru untuk iklan ini. Kami semua sudah memikirkan ide itu dan tinggal mencari modelnya. Jika kau sudah fix, Kita bisa langsung berangkat lusa" kata Angga membuat Karin terdiam sesaat.
"Kalau kau takut tidak apa-apa, Kita bisa casting pemain lain. Atau kau mau pikir-pikir dulu?" kata Angga yang melihat wajah ragu Karin.
"Oh, tidak perlu. Aku tidak takut. Ini emang udah jadi pilihan aku kan, Jadi ya harus di nikmati" kata Karin ingat perkataan Ayahnya kalau semua pekerjaan pasti ada resikonya. Semua tidak ada yang mudah, Tapi jika kita melakukannya sungguh-sungguh, pasti akan berhasil nantinya.
"Kau yakin?" kata Angga.
"Yakin, Dimana aku harus tanda tangan?" kata Karin dengan mantap. Ia harus berani mencoba hal baru agar dia mendapatkan pengalaman.
"Disini" kata Angga menunjuk bagian paling bawah kertas kontrak itu.
Karin segera membubuhkan tanda tangannya disana lalu menyerahkannya kepada Angga.
"Baiklah, Selamat atas kerjasamanya Karin, dan aku ucapkan selamat datang di D&K Entertainment" kata Angga mengulurkan tangannya yang di sambut langsung oleh Karin.
"Terima kasih Angga" kata Karin tersenyum tipis.
"Baiklah, Aku akan melaporkan pada atasanku setelah ini. Aku akan menghubungimu lagi nanti" kata Angga lagi.
"Atasanmu? Bukankah kau bosnya disini?" Karin mengerutkan dahinya.
"Bukan, Aku kan tadi sudah bilang kalau aku bukan bosnya" kata Angga tertawa kecil.
"Aku pikir kau bohong, Lalu dimana bosmu?" tanya Karin penasaran.
Angga baru akan menjawab tapi urung karena ponselnya berdering. Ia langsung mengangkatnya.
"Halo? Iya aku sudah dapat, Apa kau masih lama? Baiklah...." Angga mengangguk sekilas sebelum mematikan panggilan itu.
"Karin, Atasanku tadi menelepon, Dia ingin bertemu dengan mu, Sekarang sedang perjalanan kesini" kata Angga.
"Oh, Baiklah" kata Karin sedikit kaget tapi juga gugup karena akan bertemu atasan barunya. Ia tentu harus bersikap mengesankan di pertemuan pertama dengan atasannya.
"Jangan terlalu tegang Karin, Santai saja" kata Angga tersenyum tipis saat melihat kegugupan Karin yang sangat jelas.
"Apakah terlalu terlihat?" kata Karin.
"Iya, Kau harus terbiasa mulai sekarang. Karena jika nanti kau jadi model, pastinya akan sangat banyak orang yang melihatmu kan" kata Angga.
"Ya, Aku hanya belum terbiasa" kata Karin membenarkan perkataan Angga.
Beberapa menit menunggu, pintu ruangan Angga terbuka membuat keduanya langsung menoleh secara bersamaan.
"Hai, Bro...Akhirnya kau datang juga" kata Angga tersenyum menyambut teman sekaligus atasannya itu.
Karin diam mematung di tempatnya, lelucon apa ini? Kenapa Dio ada disini? Atau jangan-jangan, Atasan yang di maksud Angga adalah Dio?.
Dio sebenarnya kaget melihat Karin disana, tapi ia bersikap biasa saja.
"Jadi, Bagaimana?" kata Dio langsung to the point, Ia berjalan mendekat ke salah satu sofa yang ada disana hingga posisinya berhadapan dengan Karin yang masih diam mematung.
"Seperti yang aku bilang, Aku sudah dapat modelnya. Karin, Kau tidak lupa dengannya kan?" kata Angga masih dengan senyumnya, tak tahu jika kedua orang itu sedang perang dingin.
"Mana mungkin aku melupakannya, Kita kan satu sekolah dulu" kata Dio terus menatap Karin yang terang-terangan memasang wajah masamnya.
"Jadi, Bos yang kau maksud adalah Dio?" kata Karin menatap Angga sedikit kesal, kenapa tidak bilang daritadi, pikirnya.
"Yaps, Betul sekali Karin" kata Angga mengangguk.
"Aku membatalkan kerjasama itu kalau begitu" kata Karin langsung membuat Angga kaget.
"Why? Bukankah kau sudah setuju?" tanya Angga bingung.
"Aku berubah pikiran" kata Karin benar-benar tak ingin punya hubungan apapun lagi dengan Dio. Ia merasa hatinya tidak baik-baik saja jika bertemu dengan pria itu.
Happy Reading.
Tbc.