
Pemandangan itu tentu menarik perhatian semua orang, Drake menarik Tiara tapi Tiara juga di tarik oleh Angga. Tiara malah bingung menatap Angga dan Drake bergantian.
"Kau ini siapa? Aku ingin berbicara pada Tiara" kata Drake menatap kesal pada Angga.
"Kau tidak perlu tau siapa aku, tapi aku peringatkan padamu, jangan mengganggu Tiara lagi" kata Angga datar.
"Kau pikir aku takut, Ha? Kita selesaikan ini di luar" kata Drake menantang.
Angga melihat hal itu pun tersulut, Ia menyetujui untuk menerima tantangan itu. Tiara malah semakin kaget saat melihat Angga dan Drake akan berkelahi.
"Gaga, Jangan urusi dia. Sebaiknya kita pulang saja" kata Tiara mencegah.
"Tidak, kau diam saja di situ" kata Angga menepis pelan tangan Tiara sebelum mendatangi Drake.
Tiara menutup mulutnya saat melihat Drake yang sudah terkapar ditanah setelah beberapa kali mendapatkan bogem mentah dari Angga. Pria itu kini sudah tidak bisa bangun lagi. Angga mengelap sudut bibirnya yang terlihat berdarah, selain itu pria itu baik-baik saja.
"Jangan pernah menemui Tiara lagi. Dia milikku, Apapun hubunganmu dengan Tiara sebelumnya, aku tidak perduli. Sekarang dia wanitaku" kata Angga memperingatkan Drake yang menahan sakit di perutnya karena pukulan telak dari Angga.
Angga meninggalkan Drake dan mendatangi Tiara yang masih kaget itu.
"Apa yang kau lakukan? Kau berdarah" kata Tiara menatap Angga dengan cemas.
"Ini hanya luka kecil, sekarang pria itu tak akan mengganggumu lagi" kata Angga.
"Ya tapi aku harus mengobatinya, Ayo" kata Tiara langsung menarik Angga ke salah saru kafe, Ia segera memesan es batu untuk mengompres luka Angga.
Angga hanya diam saja saat melihat wajah Tiara yang kini begitu dekat dengannya. Wanita itu terlihat sangat hati-hati sekali mengobati lukanya.
"Apa hubunganmu dengan dia?" tanya Angga menatap Tiara sedikit tajam.
"Itu sedikit rumit untuk di jelaskan" kata Tiara singkat.
"Jangan bertele-tele, katakan saja apa hubunganmu dengannya?" kata Angga entah kenapa merasa kesal kalau Tiara bersama pria lain.
"Ck, Aku dan Drake bertemu melalui aplikasi kencan online, awalnya dia begitu baik dan perhatian padaku, lalu kita sering bersama" kata Tiara meski sedikit kesal tapi ia mau menceritakan pada Angga.
"Lalu?" kata Angga mendesak.
"Lalu apalagi? Ya kita menjadi dekat lebih dari teman, namun setelah cukup lama, Drake ternyata sudah punya pacar" kata Tiara tersenyum kecut saat mengingat hubungannya.
"Hahaha, jadi kau menyukainya? Lalu untuk apa aku memukulinya, aku jadi merasa bersalah sekarang" kata Angga tertawa hambar.
"Tidak juga, Aku tidak menyukainya, sepertinya aku hanya terbawa suasana" kata Tiara.
Angga menekuk wajahnya, bagaimana bisa dekat dengan seorang pria karena terbawa suasana. Dasar wanita aneh, pikirnya.
"Bagaimana bisa kau dekat dengan pria karena terbawa suasana?" tanya Angga.
"Yah apa, Aku juga mau di perlakuan dengan baik oleh seorang pria, aku ingin ada yang memerhatikan, Dan Drake memberiku perhatian itu padaku, diperlakukan seperti itu tentu aku baper. Aku ingin punya pacar" kata Tiara mengecilkan suaranya di akhir kalimat.
Jujur saja, Tiara merasa sedikit insecure saat melihat kedua sahabatnya sudah memiliki pendamping hidup. Sedangkan dia, hanya begini-begini saja.
Angga menahan senyumnya mendengar ucapan Tiara. Wanita di depannya ini memang galak, tapi ternyata masih lugu dan sangat polos.
"Kalau begitu, jadilah pacarku" kata Angga membuat Tiara sangat kaget. Angga memasang senyum manisnya saat melihat wajah kaget Tiara.
"Kau? Jadi pacarmu? Yang benar saja, kita tidak saling cinta, kau juga tidak menyukaiku, kenapa kau memintaku untuk menjadi pacarmu" kata Tiara menatap Angga kesal.
Tiara semakin kaget, apalagi kini wajah Angga begitu dekat dengannya. Ia bisa mencium bau parfum vanila musk yang sangat lembut. Ia lalu memperhatikan wajah Angga yang ternyata sangat tampan jika di lihat dari dekat.
"Baiklah" kata Tiara merasa tak ada salahnya mencoba berhubungan dengan Angga. Ia juga sudah cukup lama kenal pria ini. Dan setahunya Angga pria yang baik dan tidak suka neko-neko.
"Jawabannya hanya Ya atau tidak" kata Angga sedikit tersenyum khas dirinya yang manis.
"Ya, aku mau jadi pacarmu" kata Tiara menundukkan wajahnya karena merasa malu.
Angga tersenyum lembut, ada rasa hangat di hatinya saat mendengar hal ini. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk menaikkan dagu Tiara.
"Oke fix, mulai sekarang kita pacaran" kata Angga lagi.
Tiara terdiam menatap Angga, kenapa hanya seperti ini, tidak ada bunga atau kata-kata romantis yang di ucapkan Angga padanya. Tapi hal ini malah membuat hati Tiara senang karena Angga menembaknya dengan cara yang berbeda.
"Hal pertama yang harus kau tau saat menjadi pacarku adalah, aku orangnya pencemburu. Aku tidak suka wanitaku dekat dengan pria lain untuk alasan apapun, Jadi jangan coba-coba dekat dengan pria lain" kata Angga serius.
"Baiklah, Kau juga tidak boleh dekat dengan wanita manapun" kata Tiara tak kalah seriusnya.
Angga tersenyum kecil lalu memberanikan diri meraih tangan Tiara untuk di genggamnya.
"Sejak aku bersamamu, tidak akan ada wanita lain" kata Angga menatap Tiara dengan pandangan lembut lalu mencium kedua tangan Tiara yang merasa terhanyut oleh sorot mata Angga.
*****
"Abang! Bisa diem nggak, Aku nggak bisa masak kalau gini"
Karin menggerutu sebal saat Dio terus menempeli tubuhnya saat dirinya sedang membuat sarapan.
"Masak aja, aku nggak ngapa-ngapain kok" kata Dio pagi itu sudah rapi dengan pakaian kantornya, tapi ia malah iseng menggoda istrinya yang sedang serius memasak.
"Tapi aku nggak konsen, udah sana tunggu di meja makan. Aku juga belum buatin bekal buat Abang" kata Karin lagi.
"Enggak, mau gini aja" kata Dio malah menyandarkan dagunya di pundak Karin. Tangannya terulur menyentuh tangan Karin yang kini sedang membuat roti panggang.
Mendapatkan perlakukan seperti itu, Karin malah semakin terkaku, ia memalingkan wajahnya dan melihat Dio yang menatapnya lembut. Karin tersenyum dan menyatukan bibir mereka. Sekejab saja lalu kembali memasak dan sesekali menautkan bibirnya kembali.
"Hari ini nggak bawa bekal nggak apa-apa ya, Abang sih, gangguin aku mulu" kata Karin saat Dio sudah menyelesaikan sarapan.
"Nggak apa-apa, nanti siang aku juga ada shooting di luar" kata Dio menatap Karin yang ikut mengantarnya sampai depan rumah.
"Baiklah" kata Karin merapikan dasi Dio lalu menepuk pelan dada bidang suaminya. "Udah ganteng" bisiknya membuat Dio tertawa.
"Nggak rugikan punya suami ganteng gini" kata Dio menarik pinggang istrinya lalu mencium kening Karin dalam-dalam sebelum berangkat ke kantor.
Happy Reading.
Tbc.
_Tiara
_Angga