MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Tuhan, Ambil Nyawaku Sekarang Juga.



"Tuan Dio ingin bertemu Jendral polisi Martin" kata Angga langsung menyerahkan lencana khusus yang di berikan oleh Axel tadi. Saat mereka sampai di Markas besar kepolisan.


Salah satu polisi di sana membacanya serius lalu membukakan pintu agar mobil mereka masuk. Setelah melaporkan keadaan semuanya, Angga dan Dio segera turun. Ia langsung di sambut oleh salah satu ajudan polisi.


"Silahkan Tuan, Jenderal Martin sudah menunggu anda" kata ajudan itu memimpin jalan mereka menuju salah satu ruangan khusus.


Setelah menyusuri lorong-lorong panjang, akhirnya mereka langsung bertemu Jendral polisi yang di maksud. Usianya sekitar 40tahunan, tampak masih gagah dan tubuhnya bagus. Raut wajahnya tegas dan punya kharisma sendiri.


"Selamat malam Tuan Dio. Maaf, tidak menyambut anda dengan benar. Saya yang akan memimpin langsung tugas dari anda. Tuan Axel sudah mengabarkan kepada kami, dan kami sudah menyusun rencana untuk segera menemukan Nona Karin" kata Jendral Martin tak berbasa-basi, ia langsung mengulurkan tangannya pada Dio dengan mantap. Setelahnya ia membawa Dio dan Angga ke dalam ruangan khusus.


"Ya, Kita bisa mulai mengecek CCTV dari tempat hotel kami menginap, mungkin akan ada petunjuk" kata Dio sedikit menjelaskan sambil berjalan menuju suatu ruangan.


Ternyata didalam ruangan itu cukup penuh dengan para anggota polisi lain. Mereka semua tampak mengobrol serius dan melihat layar yang terletak di dalam ruangan itu.


"Anda benar Tuan, kami sedang melakukannya. Tapi saat ini belum ada sesuatu yang mencurigakan" kata Jendral Martin tampak ikut memperhatikan layar yang di putar anak buahnya. Layar itu berisi rekaman CCTV yang sudah mereka dapatkan.


"Apa memang tidak ada petunjuk apapun?" tanya Dio dengan wajah suramnya, ini sudah jam tiga dini hari tapi belum ada kemajuan dalam pencarian ini.


"Tunggu dulu, coba zoom pada detik 20-22 itu, aku merasa mobil itu sejak tadi berada di belakang mobil anda" kata Jenderal Martin menunjuk satu anak buahnya untuk segera memperbesar gambar itu.


Dio pun langsung ikut melihat layar besar itu, dan ternyata benar ada mobil yang terus mengikutinya.


"Catat plat nomor itu dan segera lacak dimana keberadaannya sat ini" perintah Jendral Martin lagi.


Tanpa diperintah dua kali, mereka segera melakukan yang di suruh oleh Jendral Martin. Setelah cukup lama, akhirnya mereka mendapatkannya tapi hasilnya tak sesuai dengan yang di harapkan.


"Mereka menggunakan plat nomor palsu" kata Salah satu polisi.


"Sial!" umpat Dio tak lagi bisa menahan emosinya. Karena lawannya kali ini benar-benar sangat licik.


"Kendalikan diri anda Tuan Dio, Kita pasti akan melakukan segala cara untuk menemukan Nona Karin" kata Jenderal Martin menatap Dio yang di kuasai emosi itu.


Dio tak menyahut, perasaanya semakin tak tenang. Setiap jam yang terlewat menjadi siksaan baginya, ia sangat takut mereka akan melukai Karin jika tak segera menemukan wanita itu. Dio terbayang saat kemarin mereka masih begitu bahagianya merayakan kemenangan cinta mereka, tapi ia sama sekali tak menyangka di hari yang sama, mereka akan mengalami petaka besar seperti ini.


Dio ingat senyuman bahagia Karin sore itu, tapi ia gak menyangka kalau itu terakhir kalinya ia melihat senyum indah istrinya.


Sampai pagi hari tiba, sama sekali belum ada titik tetang membuat Dio sangat frustasi. Bahkan ia tak tidur dan makan apapun, karena perasaannya berkecamuk tak karuan.


"Apa kau tidak ingin makan dulu, kau juga butuh tenaga untuk mencari Karin nanti" kata Angga mendekati Dio yang sejak semalam masih bergeming dari ruangan itu.


"Apa menurutmu aku masih bisa makan ngga? Aku sangat khawatir pada Karin" kata Dio menjambak rambutnya untuk meluapkan emosi yang tertahan di dalam dirinya.


"Kita pasti akan menemukannya, sekarang gantilah bajumu dan makanlah sedikit. Jangan sampai kau sakit, Aku yakin Karin pun tak akan senang kalau kau sakit" kata Angga sengaja menggunakan nama Karin untuk membujuk Dio dan terbukti berhasil.


Dio menghela nafas sejenak sebelum beranjak untuk membersihkan dirinya. Ia juga ingat kata-kata Karin yang tidak ingin sampai dirinya sakit.


******


"Sudah bangun ternyata, aku jadi tak perlu repot membangunkan mu" kata Cindy terlihat berjalan menuju tempat dimana Karin yang masih terikat di pohon.


Karin menatap wanita itu dengan tajam namun juga tak berdaya, wanita di depannya ini benar-benar iblis yang berwujud manusia. Dia bahkan sangat tega melakukan hal seperti ini pada sesama wanita.


"Kau masih berani menatapku seperti itu? Dasar wanita kurang ajar" Entah setan apa yang merasuki Cindy hingga tiba-tiba menampar wajah Karin dengan keras, seolah melupakan dendam kesumatnya pada wanita ini.


Karin tak mengaduh, rasa sakit itu tak seberapa di banding luka yang dia dapatkan kemarin, ia malah tersenyum tipis pada Cindy.


"Kapan kau akan membunuhku?" ucap Karin sudah siap mati rasanya daripada terus mendapatkan penyiksaan seperti ini.


Cindy semakin emosi saat melihat senyuman Karin, ia memegang dagu wanita itu dengan erat seolah bisa meremukkan tulang Karin yang kecil.


"Jangan harap aku akan membunuhmu sebelum aku puas menyiksamu" kata Cindy menghempaskan wajah Karin dengan kasar.


"Maka lakukanlah agar aku segera mati" kata Karin lagi semakin tersenyum.


Hal itu tentu menyulut emosi Cindy. "Penjaga!" teriaknya dengan keras.


"Ya Nona?" Dua orang penjaga langsung datang ketiga mendengar suara Cindy.


"Lepas ikat pinggang kalian" kata Cindy dengan wajah bengisnya.


Kedua penjaga itu sangat kaget mendengar apa yang di inginkan Cindy, namun tak menolak dan segera melepas ikat pinggang mereka.


"Ikat wanita tak tau diri ini di jendela itu, Aku harus memberi pelajaran agar wanita ini tau siapa aku" kata Cindy dengan senyum jahatnya.


Karin mencoba berontak namun tenaganya kalah kuat hingga ia tak bisa lagi melawan saat tubuhnya di paksa di ikat di jeruji jendela itu. Karin di ikat membelakangi posisi Cindy saat ini.


"Cambuk dia sepuluh kali" perintah Cindy membuat kedua penjaga itu kaget. "Kalau kau tidak mau, aku akan melaporkan kalian pada Tuan Wijaya, kau tau sendiri akibatnya kan jika sampai itu terjadi" kata Cindy mengancam.


Dengan ragu mereka mulai mencambuk tubuh Karin pelan namun sudah membuat wanita itu menjerit kesakitan.


"Lebih keras bodoh!" bentak Cindy tak suka karena penjaga itu hanya mencambuk Karin pelan.


Penjaga itu mau tak mau menambah kekuatan cambukan itu dengan keras membuat Karin semakin menjerit pilu. Baru tiga kali, tapi sudah membuat punggung Karin langsung berdarah hingga merembes keluar dari bajunya.


"Sudah Nona, dia bisa mati jika terus sepeti ini" kata penjaga itu ikut emosi karena melihat tubuh Karin yang gemetaran dan suaranya pun sangat menyayat hati.


Karin pun sudah tak bisa menahannya, rasa sakit, perih, pedih dan juga panas bersatu menjadi satu. Tuhan, bisakah kau mengambil nyawaku sekarang juga, aku sudah tak tahan lagi. batin Karin seraya menangis kesakitan hingga menjalar ke perut depannya.


Happy Reading.


Tbc.