MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Aku Tidak Akan Berhenti.



Manusia kadang bertindak sangat egois. Mereka menginginkan sesuatu kemudian mengusahakannya tanpa memikirkan apa yang terjadi setelahnya. Ia memang sengaja tak melibatkan Bella sama sekali dengan masalah yang menimpa dirinya saat ini.


Selain tak ada korelasinya, Axel hanya tidak ingin membuat istrinya banyak pikiran karena sudah hamil besar. Tapi keputusannya itu malah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


Sekarang ia harus menemukan istrinya dan menjelaskan semuanya. Entahlah, Apakah istrinya masih mempunyai kata maaf untuknya. Axel hanya bisa berharap dia belum terlambat.


Jika sampai terjadi sesuatu dengan Istri dan anaknya, Axel benar-benar tak akan mengampuni dirinya sendiri. Ia memasukan cincin pernikahan mereka kedalam dompet, sebelum pergi ke rumah mertuanya.


Lalu lintas malam itu cukup sepi karena malam sudah larut. Axel mengendarai mobilnya dengan pelan, pandangan matanya menyisir sisi jalanan berharap bisa menemukan istrinya. Axel mendengar ponselnya berdering, tapi ia mengacuhkannya.


"Brengsek!" maki Axel saat ponselnya terus berdering dan terpaksa mengangkatnya.


"Sebaiknya ini penting!" bentaknya begitu kesal.


"Halo Axel, Maaf nak. Ini Mama" Axel langsung menghentikan mobilnya setelah mendengar suara mertuanya.


"Iya Ma, Maafkan Axel karena berbicara kasar" kata Axel sedikit heran kenapa Mama mertuanya menghubunginya. Apa Bella terluka atau bagaimana?


"Iya tidak apa-apa. Mama cuma mau nanya keadaan Bella. Mama hubungin nomernya nggak aktif. Perasaan Mama jadi nggak enak. Bella baik-baik saja kan?" ucapan Mama Anita membuat tubuh Axel bagai disambar petir.


Itu artinya Bella tidak datang kerumah orang tuanya. Lalu kemana perginya istrinya itu di tengah malam seperti ini.


"Sayang, kamu dimana" batinnya semakin kalut.


Axel bergerak cepat memerintah Bram dan anak buahnya untuk ikut mencari istrinya itu. Axel pun mendatangi semua tempat yang biasanya di datangi istrinya. Bahkan ke rumah Tiara yang sahabat dekatnya pun tak ada. Axel semakin panik karena tak menemukan istrinya dimana-mana.


"Kamu dimana sayang, Ini sudah malam" ucap Axel begitu panik, hati dan pikirannya berkecamuk tak karuan.


Sebuah mobil putih tiba-tiba menyalip dirinya membuat Axel kaget bukan kepalang. Ia segera menginjak rem mobilnya


"****!!!"


Axel hampir saja memaki siapa orang itu, saat melihat Indra turun dari mobilnya. Ia mengetuk kaca jendela mobil Axel.


"Ada apa?" seru Axel dengan nada kasarnya.


"Apa kau sudah menemukan Bella?" tanya Indra.


"Kalau aku sudah menemukannya tak mungkin, aku ada disini" bentak Axel rasanya tak bisa berbicara dengan nada biasa. Kepalanya kini bahkan begitu pusing karena belum menemukan Bella.


"Apa kau sudah mencari kerumah temannya?"


"Sudah, Tapi Bella tidak ada dimana-mana. Sekarang udah tengah malam, kemana perginya Bella, Dia sedang hamil Ndra, Dimana dia sekarang? Apa dia udah makan? Aku tidak tau" Axel berkata seperti itu dengan mata berkaca-kaca. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya.


"Aku juga sudah menyuruh anak buahku mencari istrimu. Semoga Bella cepet ketemu" kata Indra ikut iba melihat Axel yang menangis tak berdaya seperti ini.


Setelah menenangkan hatinya beberapa saat, Axel dan Indra kembali mencari Bella. Bersamaan dengan itu ponsel Axel berdering.


"Siapa?" tanya Indra.


"Nomer nggak di kenal"


"Coba angkat, Mungkin itu Bella" kata Indra.


Axel mengangguk dan segera mengangkat panggilan itu. "Halo?" ujarnya.


"Bagaimana? Apakah kejutan yang aku berikan menyenangkan Axel?"


"Siapa kau?" Axel membulatkan matanya saat mendengar suara seorang pria.


"Kau tidak perlu tau siapa aku, Biar ku tebak, Kau pasti sedang mencari istrimu" Pria itu tertawa renyah membuat Axel kepanikan Axel meningkat.


"Aku tidak melakukan apapun, setidaknya untuk saat ini" kata Pria itu lagi.


"Jangan coba-coba, Jika kau berani melukai istriku sedikit saja, Aku pasti akan membunuhmu" kata Axel lagi.


"Lakukanlah jika kau bisa" Pria itu tertawa kencang lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Brengsek! Ndra! Bella di culik, Kita harus menemukan Bella sekarang juga!" kata Axel dengan kepanikan meningkat.


"Oke, Oke lo tenang dulu. Kita nggak boleh gegabah. Kita harus melacak lokasinya dulu" kata Indra mencoba berpikir dengan kepala dingin.


Axel mengangguk setuju. Mereka berdua langsung bergegas menghubungi tim pelacak yang sudah sangat handal untuk melacak keberadaan Bella. Sepertinya telepon orang tadi sedikit memberi pengaruh baik karena mereka bisa dengan mudah mencari keberadaan Bella melalui nomor ponselnya.


*****


Bella tampak meringkuk di sudut ruangan yang begitu kotor, Ia masih tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang di dihirupnya tadi. Ia merasakan tubuhnya dingin dan menggigil karena siraman air dingin yang membuat dirinya basah kuyup. Bella membuka matanya perlahan dan melihat ruangan yang sangat asing.


"Akhirnya kau bangun juga" terdengar suara berat pria membuat Bella kaget.


"Kau..Kau..siapa?" kata Bella terbata-bata. Ia menatap pria paruh baya yang kini berdiri di depannya dengan ngeri.


"Jangan takut, Aku tidak akan melukaimu" kata Pria itu tersenyum manis, namun Bella malah takut saat melihat sorot matanya yang tampak mengerikan.


"Aku ..aku tidak mengenalmu..tolong..lepaskan aku" kata Bella benar-benar ketakutan.


"Melepaskan mu? Tidak akan. Sebelum suamimu tau apa yang aku rasakan" kata Pria itu memegang dagu Bella dengan kasar.


"Aku tidak tau apa maksudmu" kata Bella meringis kesakitan karena pria itu.


"RAFAEL! Anakku yang telah di bunuh oleh suami mu dengan begitu keji! Bahkan dia tega membuang jasadnya begitu saja di jalanan layaknya sampah!" Teriak Ayah Rafael dengan begitu kerasnya.


"Rafael?" Bella begitu kaget saat mendengar nama itu.


"Apa kau terkejut? Gara-gara wanita seperti dirimu, anakku terbunuh dengan cara menyakitkan" teriak Ayah Rafael tiba-tiba menampar pipi Bella dengan keras, seolah meluapkan amarah yang terpendam selama ini.


"Argh..." Bella mendesis kesakitan, air matanya langsung mengalir begitu saja.


"Bagaimana? Apakah sakit? Itu bahkan belum apa-apa yang dilakukan oleh suamimu pada anakku" kata Ayah Rafael kali ini menarik tangan wanita itu agar berdiri.


"Lepaskan aku!" seru Bella mencoba berontak.


"Diam!" bentak Ayah Rafael lalu mendorong tubuh Bella ke dalam salah satu ruangan.


Bella hampir terjatuh dan ia merasakan perutnya begitu kencang. Ia lalu menatap sekelilingnya yang penuh dengan foto-foto yang sangat besar. Bella membulatkan matanya saat melihat foto-foto yang menurutnya mengerikan.


"Kau lihat! Ini semua ulah suamimu! Anakku dulunya tampan harus mati dengan cara mengenaskan!" kata Ayah Rafael menarik tangan Bella untuk mendekati foto-foto itu.


"Tidak! Tidak! Aku tidak mau!" Bella menutup matanya rapat-rapat tak mau melihat foto mayat Rafael yang bergelantungan di dinding itu. Perutnya bahkan langsung merasa mual saat melihatnya.


"Buka matamu! Kau harus melihat kekejaman yang suamimu lakukan!" teriak Ayah Rafael kini mencengkeram tangan Bella dengan erat, sangat erat seolah ingin meremukkan tangan Bella yang mungil.


"Sakit..." rintih Bella.


"Ini belum seberapa Bella, Dan jangan harap aku akan berhenti sebelum kalian mati" kata Ayah Rafael lalu memanggil anak buahnya.


"Pegang dia!"


Happy Reading.


Tbc.