MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Secercah Harapan.



Cukup jauh mereka berjalan hingga mereka tiba di sebuah taman bermain kecil dan sederhana. Mainannya pun tak banyak, hanya ada beberapa ayunan, jungkat-jungkit, bar besi dan permainan yang dapat di putar. Tempatnya sangat teduh dengan pohon-pohon rindang yang menaungi. Semilir angin tampak menerpa wajah Karin.


"Sini, aku akan mendorongmu" kata Dio tiba-tiba mengangkat Karin dari kursi rodanya dan menaikkannya ke ayunan.


"Ak....u....ta....kut" kata Karin mengingat kapan terakhir kali naik ayunan. Ternyata sudah sangat lama, mungkin saat usianya masih 10 tahun.


Karin baru tau kalau mereka saat ini berada di atas bukit. Pemandangan disana sangat indah. Warna air laut yang berwarna biru dengan pantulan matahari tampak berkilauan karena gelombang-gelombang air laut yang tertiup angin. Benar-benar sangat indah dan menenangkan.


"Indah sekali bukan?" bisik Dio di telinga istrinya.


"Iya" kata Karin masih kagum dengan deretan pemandangan indah disana.


"Aku akan mendorongmu sekarang" kata Dio mulai mendorong ayunan itu pelan-pelan dan lama-lama berubah cukup kencang membuat Karin berteriak karena rasa geli di perutnya.


Semakin lama ayunan itu terdorong hingga cukup jauh membuat Karin memejamkan matanya.


"Jangan menutup mata, nikmati saja" kata Dio sedikit berteriak.


"Ta...kut" Karin menggelengkan kepalanya karena takut terjatuh.


"Tidak akan jatuh, pegangan yang kuat. Aku ada disini, kalau kau jatuh, aku akan menangkapmu" kata Dio tertawa kecil saat melihat ekspresi Karin yang ketakutan.


Karin sedikit mengerutkan dahinya mendengar ucapan Dio yang cukup konyol. Kalau ia jatuh, mana mungkin Dio bisa menangkapnya.


"Bukalah matamu, pemandangannya sangat indah" kata Dio lagi.


Karin tak menjawab, tapi ia mengikuti apa yang di katakan Dio. Membuka matanya perlahan sambil mengeratkan pegangannya. Dio ternyata sudah mengayunkannya cukup tinggi. Saat ia berayun ke depan jantungnya terasa berdetak kencang, tapi entah kenapa Karin merasa senang, mungkin karena adrenalin nya terpacu dengan ini semua.


"Bagaimana?" teriak Dio lagi.


"Me.....ye..na...ng...kan...Tapi....pu...sing" kata Karin sudah merasa perutnya cukup mual.


Mendengar itu Dio segera menghentikan dorongannya hingga ayunan itu perlahan-lahan berhenti. Karin masih menikmati sisa-sisa ayunan yang bergerak perlahan hingga ayunan itu berhenti sempurna.


"Mau lagi?" tanya Dio.


"Tidak....ga..ti..an..kamu" kata Karin menatap suaminya.


"Haha, aku tidak bisa bermain ini sayang, Kakiku terlalu panjang. Kau saja yang bermain, mau main apa lagi?" kata Dio tertawa kecil.


"Kenapa...aku?" kata Karin bingung.


"Ya, aku hanya ingin mengajakmu bermain, sekarang, ayo main perosotan itu. Aku akan membantumu naik" kata Dio menunjuk prosotan kecil disana.


"Eh...?" Karin sedikit kaget saat Dio tiba-tiba menggendongnya dan membawanya ke perosotan itu.


Dio membantu Karin untuk duduk di ujung perosotan itu lalu mendorongnya kemudian berlari untuk menunggu Karin di bawah agar tidak jatuh.


Karin kembali berteriak namun juga bahagia saat tubuhnya bergerak turun dengan cepat ke bawah dan Dio dengan sigap menangkapnya.


"Seru kan? mau lagi?" kata Dio tersenyum melihat wajah bahagia Karin.


"Mau" kata Karin merasa sangat senang bisa bermain itu.


"Siap Nyonya" kata Dio tersenyum tipis dan kembali membantu Karin naik ke atas lalu kembali mendorongnya.


Kali ini sepertinya dorongannya cukup kuat hingga Karin merosot terlebih dulu sebelum Dio sampai didepan. Tubuh Karin langsung merosot kebawah dan bokongnya menyentuh tanah, tapi anehnya Karin merasakan kakinya begitu nyeri.


"Astaga! Karin, maafkan aku. Mana yang sakit?" Dio langsung bergegas mendatangi Karin dan mengecek seluruh tubuh istrinya untuk melihat apakah ada luka.


"Ka..ki..." Karin menunjuk kakinya yang semakin terasa nyeri.


"Kaki kamu sakit? Mana yang luka?" Dio semakin kaget dan mengecek kaki Karin.


"Buk...an..." Karin menggelengkan kepalanya. Ia ingin menjelaskan tapi argh! Mulutnya sangat susah untuk mengatakannya. Karin lalu meminta ponsel pada Dio yang segera memberikannya.


"Kakiku sakit, Biasanya tidak pernah merasakan apapun" Karin menulis itu. Ia penasaran kenapa Kakinya sudah bisa merasakan sakit. Karena selama hampir dua bulan, dari paha sampai ke mata kaki, ia tak bisa merasakan apapun. Tapi sekarang kenapa begitu nyeri sekali. Apakah ini pertanda bagus?


"Ha?" Dio terbengong sesaat kemudian matanya membesar. "Ayo kita ke rumah sakit" Kata Dio ingin tau apa penyebab rasa sakit di kaki istrinya. Dio merasa ada secercah harapan untuk kesembuhan istrinya.


*****


"Hei, kenapa kau seenaknya pergi begitu saja?"


Disisi lain, Angga terlihat baru saja menurunkan beberapa barang yang di suruh Dio untuk membawanya. Hari itu, rencananya Dio akan mengajak Karin piknik bersama Angga dan juga Tiara. Tapi sejak tadi Angga di buat kesal dengan sikap Tiara yang tidak mau membantunya.


"Lalu apa lagi? Kau kan cowok, bawa begituan aja masa nggak bisa?" Tiara terlihat berdiri santai menunggu Angga yang kerepotan membawa banyak barang.


"Apa kau tidak bisa membantuku sedikit saja, Bawa ini" kata Angga dengan suara kesalnya lalu menyerahkan keranjang yang berisi makanan.


"Kau ini memang ya, seharusnya kau itu belajar bagaimana bersikap pada wanita. Lelaki sejati itu tak akan membiarkan wanitanya kerepotan" kata Tiara menyambar keranjang itu dengan sedikit kasar.


"Bodo amat! Lagipula kau bukan wanitaku, untuk apa aku mengurusi mu" seru Angga melirik malas pada Tiara.


Tiara semakin jengkel mendengar perkataan Angga yang tak pernah mau mengalah padanya. Keduanya lalu segera naik ke atas bukit itu untuk menyusul Dio dan Karin, tapi mereka sedikit bingung saat melihat Dio yang menggendong Karin dengan terburu-buru.


"Ada apa ini? Karin kenapa?" tanya Tiara khawatir dengan keadaan sahabatnya.


"Tidak apa-apa, Tapi aku harus memastikan sesuatu, Angga, nanti kau bawakan kursi roda istriku" kata Dio langsung pergi begitu saja meninggalkan Angga dan Tiara yang masih terbengong.


"Sialan!" umpat Angga sebal karena sudah repot-repot membawa banyak barang tapi mereka tidak jadi berpiknik.


"Ututititu.....Kasihan banget ya" kata Tiara tersenyum mengejek.


"Berani sekali kau mengejekku, awas saja nanti. Aku akan meninggalkanmu disini" kata Angga mendengus sebal.


"Kau pikir aku takut? Lagipula aku bisa pulang sendiri kalau kau meninggalkanku" kata Tiara santai saja.


"Oh, begitu ya. Baiklah, Aku akan pergi dan aku bisa pulang sendiri" kata Angga berbalik dan berjalan mendahului pergi.


Tiara membesarkan matanya saat melihat Angga pergi. Ia pikir Angga hanya menggertak nya saja, tapi ternyata pria itu serius .


"Hei Gaga, tunggu aku. Sialan!" seru Tiara segera menyusul Angga.


"Kenapa ikut? Bukanya kau ingin pulang sendiri, dan namaku Angga bukan Gaga" kata Angga melirik Tiara yang kini berjalan disampingnya.


"Terserah aku mau manggil apa, mulut-mulut aku juga" kata Tiara seenaknya saja.


Happy Reading.


Tbc.