MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) All About Us.



"Bibir Abang kering banget" ucap Karin saat melihat bibir Dio sedikit terkelupas.


"Benarkah? Aku sepertinya kurang minum air putih" kata Dio meraba bibirnya yang terasa cukup kasar.


"Oh, sebentar. Aku punya sesuatu" kata Karin membuka tasnya dan mengambil lip bam miliknya. Ia ingin langsung mengoleskannya pada bibir Dio tapi pria itu menolak.


"Aku seorang pria, untuk apa memakai ini. Biarkan saja, aku akan mencabutnya saja" kata Dio mencegah saat Karin ingin memberinya lipstik.


"Ini tidak akan terlihat, Cuma gini doang" kata Karin mengoleskan lip bam itu ke bibirnya agar Dio tau kalau lip bam itu tidak akan telihat merah seperti lipstik.


"Nggak kelihatan kan?" kata Karin mengecap bibirnya setelah memakai lipbam.


"Ya, tapi aku tidak mau memakai itu" kata Dio lagi.


"Tapi kalau pakai ini biar lebih membantu Abang, Coba dulu dong" kata Karin sedikit memaksa.


"Apa kau begitu ingin aku memakainya?" tanya Dio tiba-tiba tersenyum usil.


"Ya, ini bisa kok ngebantu, biar bibir Abang nggak pecah-pecah gitu" kata Karin lagi.


Dio meraih tengkuk Karin lalu mencium bibir manis istrinya dengan cepat. "Udah pakai kan?" kata Dio tersenyum manis.


"Dasar modus!" seru Karin tersenyum malu dan mencubit pelan lengan suaminya.


"Aku memikirkan sesuatu sejak tadi" kata Dio mengeratkan pelukannya di pinggang Karin lalu berbisik lembut.


"Memikirkan apa?" tanya Karin merasa kegelian saat Dio mengendus lehernya.


"Aku sangat menginginkanmu saat ini" bisik Dio menatap istrinya tajam namun lembut.


Karin tampak kaget saat melihat tatapan suaminya. "Ada-ada aja, Ini di kantor. Aku juga mau pulang, Abang pulang jam berapa?" kata Karin menolak ide gila dari suaminya.


"Pengennya pulang sekarang, tapi aku masih ada sedikit pekerjaan" kata Dio kini beralih mengusap-usap lembut punggung istrinya.


"Kalau begitu cepatlah selesaikan, Aku akan menunggu di rumah" bisik Karin dengan senyum tak bisa di lepas. Dio semakin menatap Istrinya penuh gairah.


"Disini saja bagaimana?" kata Dio menggoda Karin.


"Tidak, disini mau melakukanya dimana..Ehm, pulang saja" kata Karin mencoba menolak godaan suaminya.


"Kita bisa melakukannya dimana saja" kata Dio mengerlingkan matanya.


"Tapi, Aku harus mandi setelah melakukan itu" kata Karin mencari-cari alasan.


"Aku punya kamar mandi pribadi, Nona Karin, Apakah masih ada alasanmu yang harus aku dengarkan lagi? Aku sudah ingin mencium mu" kata Dio menunggu alasan apa yang ingin istrinya katakan.


Karin menggigit bibirnya dan menggeleng. "Tidak ada" kata Karin akhirnya menyerah. Ia menatap Dio yang terus memandangnya penuh nafsu.


Baru saja Karin mengatakannya, Dio langsung mencium bibirnya penuh nafsu. Karin pun langsung membalasnya dan melingkarkan tangannya di leher Dio. Membayangkan banyak wanita yang menginginkan suaminya Karin semakin liar. Ia membuka kancing kemeja suaminya dengan cepat, entah apa yang di pikirkan, Karin malah mencium leher Dio dengan keras hingga menciptakan warna merah.


Perlakuan Karin itu membuat Dio semakin terpancing dan segera menerjang istrinya dengan ganas. Keringat keduanya bercucuran dengan nafas yang memburu. Bibir saling terpaut, saling meraba setiap jengkal tubuh mereka. Bersama-sama mencapai puncak kepuasan dan membuat seluruh tubuh lemas.


Dio mengubah posisinya agar tak menimpa Karin yang masih lemas itu, membiarkan istrinya menikmati sisa-sisa kepuasan yang baru tercipta.


"Abang, Aku mau mandi dulu" kata Karin teringat kalau ini masih di kantor.


"Ya, Aku akan meminta Angga mengambilkan handuk baru" kata Dio bangkit dari posisinya, memunguti baju dan celananya yang berserakan di lantai. Saat ia akan menggunakan pakaiannya, ternyata kemeja itu sudah kusut karena kelakuan bar-bar mereka.


Dio segera menghubungi Angga. "Ngga, ambilkan kemejaku yang baru dan bawakan handuk" kata Dio langsung.


Dio menunggu sejenak seraya menatap pintu kamar mandi dimana istrinya berada. Tak selang berapa lama, pintu ruangannya di ketuk membuat ia langsung bangkit dan membukanya.


"Apa yang kau lihat? Berikan itu padaku" kata Dio sedikit ketus.


"Tidak bos, Aku hanya ingin bertanya, dimana bos membuat tato seperti itu, Aku juga ingin mencobanya" kata Angga tersenyum jahil dan mengulurkan barang-barang yang di butuhkan Dio.


Wajah Dio sempat merah karena godaan Angga tapi ia pura-pura berwajah dingin dan segera menutup pintunya.


"Sayang" panggil Dio mengetuk pintu kamar mandi.


"Ya?" sahut Karin mematikan shower yang menyala.


"Kenapa mengunci pintu?" kata Dio menekuk wajahnya.


"Ya tidak apa-apa, Aku mencari handuk tapi tidak ada" kata Karin membuka sedikit pintunya karena tak ingin Dio menyerangnya lagi.


"Aku membawanya" kata Dio menunjukkan handuk di tangannya.


"Terima kasih" kata Karin ingin mengambil handuk itu, tapi Dio malah menjauhkannya dan mendorong pintu kamar mandi itu dan langsung masuk begitu saja.


"Abang!" serunya kaget dan menutup kedua asetnya yang terpampang.


"Apa? Aku tidak akan membiarkanmu pulang sebelum kita menyelesaikan ini Nyonya" kata Dio mencampakkan handuk itu ke atas wastafel dan kembali meraih tubuh Karin untuk mengulangi kegiatan panas mereka.


Karin menekuk wajahnya setelah semuanya selesai, ia juga sudah berdandan rapi dan sedang memasangkan baju pada suaminya yang manja ini.


"Jangan cemberut terus" kata Dio mencium pipi Karin yang gembul.


"Enggak, Aku nggak akan tergoda lagi" kata Karin merenggut dan sudah menyelesaikan tugasnya.


"Baiklah, Aku akan mengantarmu ke depan. Nanti pulangnya mungkin aku akan terlambat" kata Dio merengkuh pinggang Karin dan mengajaknya keluar ruangan.


"Ya, salah siapa harus ngajak begituan" kata Karin.


"Ya salah kamu, pesona mu memang sangat susah di tolak Nyonya" kata Dio menggoda istrinya.


Karin tersenyum simpul, saat mereka keluar ruangan para pegawai Dio tampak menatap keduanya tanpa sembunyi-sembunyi. Apalagi dua resepsionis julid tadi yang terkaget-kaget saat melihat bosnya menggandeng mesra seorang wanita.


"Antar sampai sini aja" kata Karin menghentikan langkahnya saat sampai di depan lift. Dari posisinya kini, resepsionis julid itu masih terus melihat interaksi keduanya.


"Sampai bawah juga nggak apa-apa" kata Dio.


"Disini aja, Abang juga masih banyak pekerjaan kan, Aku tunggu dirumah" kata Karin tersenyum mesra dan mengelus dada bidang suaminya.


Karin juga dengan sengaja pura-pura membenarkan kerah kemeja suaminya sehingga kissmark yang dibuatnya terlihat. Ia tertawa dalam hati saat melihat eskpresi syok dari resepsionis itu.


"Aku akan segera pulang" kata Dio dengan senyumnya yang indah hanya untuk istrinya.


"Yasudah, aku pulang sekarang. Tapi cium dulu" kata Karin manja pada suaminya.


Dio semakin senang karena melihat istrinya yang manja. Ia segera mencium kening istrinya.


"Lagi...." kata Karin masih memasang wajah manjanya.


Dengan gemas Dio akhirnya menciumi seluruh wajah istrinya membuat Karin tertawa.


"Udah, Aku pulang dulu" kata Karin mengecup bibir Dio sekilas sebelum masuk kedalam lift. Ia sempat melirik ekspresi kedua resepsionis julid itu.


Happy Reading.


Tbc.