MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Kepanikan Meningkat



"Kalau kau memang mencintaiku kau tidak akan melakukan hal seperti ini. Mungkin jika kau mengehentikan ini, aku akan merubah keputusanku"


Perkataan Axel membuat Bianca menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"


Axel berdiri dari duduknya, ia beranjak untuk mendekati Bianca yang diam mematung. Wajah Axel benar-benar tak tertebak.


"Bukankah kau ingin kita bertunangan?" kata Axel berdiri tepat didepan Bianca hingga membuat jarak keduanya nyaris tak ada.


"Tentu, Apakah kau sudah setuju?" tanya Bianca mendadak gugup saat berdekatan dengan Axel, apalagi tatapan Axel yang membuat jantungnya berhenti berdetak.


"Aku setuju" kata Axel tenang namun membuat Bianca kaget.


"Kau serius?"


"Aku selalu serius dengan ucapan ku" sahut Axel masih tak melepaskan tatapannya membuat Bianca semakin salah tingkah. "Tapi dengan satu syarat." sambungnya lagi.


"Syarat? Syarat apa?" tanya Bianca tak mengerti.


Axel tersenyum tipis, ia mendekatkan wajahnya membuat Bianca seketika menutup matanya. Namun Axel tak melakukan apapun.


"Berikan bukti video yang kau punya padaku, maka keinginanmu akan aku turuti" bisik Axel sedikit sinis namun ia berhasil menutupinya dengan senyum tipis dibibirnya.


Bianca justru tertawa mendengar permintaan Axel. "Kau pikir aku bodoh? Aku udah simpen bukti itu di drive berbayar yang nggak akan bisa kau akses. Jangan harap aku akan memberikannya sebelum kita bertunangan"


"Baiklah jika itu keputusanmu. Sekarang aku benar-benar ragu kalau kau memang mencintaiku" kata Axel menjauhkan tubuhnya.


"Justru karena aku terlalu mencintaimu makanya aku lakuin ini" kata Bianca dengan lantang.


"Tapi caramu jauh dari kata itu" sergah Axel mulai muak dengan alasan yang Bianca berikan.


"Ini tidak akan terjadi kalau dari awal kau menerimaku. Tapi apa yang kau lakukan Axel? Axel terus menolak dan menyakitiku. Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi kau lah yang mendorongku sampai aku berbuat seperti ini. Jadi ini semua adalah salahmu" teriak Bianca lebih lantang dari sebelumnya.


"Jangan berteriak di depanku" ucap Axel tak suka Bianca berbicara seperti itu.


"Terserah. Sudah cukup aku bersabar kali ini. Lihat saja apa yang akan aku lakukan Axel. Kau pasti akan menyesal" kata Bianca menyambar tasnya dengan gerakan kasar.


Ia sudah tak bisa lagi menahan emosinya karena Axel masih tak terpengaruh oleh ancamannya. Sepertinya pria itu hanya menganggap ia menggertak saja. Baiklah, sepertinya memang sudah waktunya kartu as dikeluarkan. Saat ia berjalan keluar ruangan Axel tak sengaja Bram menabraknya membuat Bianca hampir saja terjatuh.


"Hei, apa kau tidak bisa jalan dengan benar!" seru Bianca begitu kesal.


Namun Bram tak perduli, ada hal lain yang lebih penting daripada meladeni Bianca. Bianca tentu semakin kesal karena Bram mengacuhkannya. Ia ingin segera pergi, tapi melihat pintu ruangan Axel yang terbuka membuatnya penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


Axel masih bertampang ketat saat Bram masuk ke ruangannya. Ia bingung harus menghadapi Bianca dengan cara seperti apa, karena wanita itu begitu licik dan tak mudah di manipulasi. Sekarang ia hanya tinggal menunggu bom waktu yang akan Bianca ledakkan.


"Ada apa?" sentak nya masih terbawa emosi.n


"Nona Bella dibawa ke rumah sakit tuan" ucap Bram dengan wajah panik dan pucat. Ia baru saja mendapatkan laporan kalau Nona Bella jatuh.


"Bagaimana bisa?" tanya Axel kaget.


Bram segera menceritakan apa yang terjadi secara singkat dan jelas. Namun ia bergidik ngeri saat melihat wajah Axel yang berubah menyeramkan. Tangannya sudah mengepal erat hingga kuku jarinya menancap.


"Brengsek! Apa yang sebenarnya dilakukan mereka" umpat Axel begitu emosi mendengar apa yang sudah dilakukan terhadap Bella.


"Maaf Tuan anak buah kita datang terlambat jadi..


"Aku tidak butuh alasanmu, sekarang di rumah sakit mana Bella dibawa?" sergah Axel tak ingin membuang waktunya.


Axel langsung bergegas pergi begitu Bram menyebutkan nama rumah sakit tempat Bella dibawa. Ia tak tau jika masih ada Bianca yang mencuri dengar pembicaraan mereka.


*****


Karin dan Tiara berlari panik untuk segera membawa Bella ke rumah sakit, Apalagi darah yang keluar semakin banyak membuat kepanikan mereka meningkat ke level satu.


"Siapin mobilnya!" teriak Tiara pada Karin.


Karin mengangguk dan bergegas mencari mobilnya, tapi karena sangking paniknya ia sampai tidak melihat saat sebuah mobil yang baru saja masuk hendak menabraknya.


"Dio! Tolong gue ." ucap Karin membuat Dio mengurungkan niatnya untuk memaki Karin.


"Ada apa?" tanya Dio sedikit bingung dengan wajah Karin yang begitu panik.


Beberapa menit kemudian mereka bertiga sudah membawa Bella melesat ke rumah sakit. Dio menyetir mobilnya dengan sangat kencang dengan Karin dan Tiara yang setia menemani Bella.


"Sakit.. Anak gue..." Bella kembali merintih, dalam alam bawah sadarnya ia hanya memikirkan bagaimana nasib anaknya.


"Iya Bel.. kita akan segera sampai dirumah sakit, sabar ya..." kata Tiara dengan suara bergetar. Karena di sangat ketakutan melihat darah.


Mereka bertiga sebenarnya sangat kaget dengan kejadian ini. Mereka benar-benar tak tau kalau Bella benar-benar hamil. Selama ini Tiara dan Karin memang sering curiga dengan sikap Bella, tapi ia tak mau berpikiran macam-macam.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Dio segera turun dan menggendong Bella. Ia tak perduli bajunya kotor karena darah Bella, yang jelas hatinya lebih sakit melihat wanita yang dicintainya sakit seperti ini.


"Yang kuat Bel" batinnya penuh harap.


Setiap detik yang dilalui terasa sangat lama bagi mereka bertiga.


"Lo udah hubungin orang tuanya?" tanya Dio.


"Udah, Mereka baru bisa dateng nanti siang solanya masih di Bandung" kata Tiara seadanya.


"Gimana bisa jadi kayak gini?" tanya Dio lagi.


"Kita nggak tau, waktu kita dateng Bella udah kayak gini" jelas Karin.


"Lo berdua udah tau kalau Bella hamil?" tanya Dio dengan sedikit emosi karena ia yakin kalau Bella tak akan seperti ini jika tidak terpengaruh oleh seseorang. Karena Dio yakin kalau Bella adalah wanita baik-baik yang tak akan sembarangan tidur dengan pria lain.


"Bukannya lo yang hamilin Bella?" kata Tiara membuat Dio menatapnya tajam.


"Gue memang brengsek, tapi gue nggak bakalan ngerusak wanita yang gue cintai" kata Dio dengan ketusnya.


"Terus siapa dong yang hamilin Bella?" kata Karin sedikit bingung. Tak mungkin kan kalau Bella bisa hamil sendiri, pikirnya.


"Ya pasti anak pacarnya lah" sahut Dio dengan kesal mengingat bagaimana Bella berani berciuman bibir di depannya. Apalagi melihat umur pacar Bella yang sepertinya lebih dewasa bukan tak mungkin kalau mereka sudah melakukan hubungan yang lebih intim.


"Pacar siapa? Bella itu nggak ada pacar" sergah Tiara tak percaya.


Dio ingin menjawab namun melihat seseorang yang datang membuatnya terdiam. Ia hanya menatap tajam pria yang kini berjalan kearahnya.


Sedangkan Kedua sahabat Bella itu tampak kaget melihat Axel yang ada di sana? Untuk apa pikirnya?


Happy Reading


TBC


VISUAL


Axel Leander Indra Jaya



Bella Ayunda Putri Nugraha



Ardio Abimanyu Putra



Bianca Natalie