
Sinar matahari tampak menerobos masuk membias seluruh kamar yang di tempati oleh sepasang suami istri itu. Dio terbangun terlebih dulu dan menatap istrinya yang masih terlelap damai. Ia lalu menatap luar yang sudah terang benderang.
Mungkin merasa di perhatikan, Karin terbangun dari tidurnya, seperti biasa pertama kali yang di lihatnya adalah wajah suaminya.
"Selamat pagi" bisik Dio memberikan ciuman lembut di kepala Karin.
"Pagi, Abang kenapa nggak bangunin aku" kata Karin menaikan selimutnya yang hampir melorot.
"Sengaja, kamu pasti capek banget" kata Dio lagi.
"Gara-gara siapa coba? Sekarang badanku pegel-pegel, pengen pijit" kata Karin sedikit menggerutu karena memang badannya sakit semua. Tentu saja karena melayani hasrat suaminya yang selalu tiada habisnya, bahkan sekarang miliknya masih cukup perih karena keliaran suaminya semalam.
"Maafin aku, Aku selalu nggak bisa ngendaliin diri kalau sama kamu. Mau aku pijitin?" kata Dio merasa bersalah mendengar keluhan istrinya.
"No! Nanti bukannya pijit tapi malah Abang nyerang aku lagi, aku mau ke SPA aja" kata Karin langsung menolak usulan suaminya.
"Oke, nanti aku cariin SPA yang deket dari sini. Tapi kayaknya aku nggak bisa nemenin kamu" kata Dio mengambil ponselnya yang berada di nakas.
"Memangnya Abang mau kemana?" tanya Karin menatap suaminya penasaran.
"Papa mau ngajak aku ke kantor, mumpung masih disini katanya, besok kita pulang ke Jakarta" kata Dio seadanya.
Karin mengangguk mengerti, ia kemudian bangkit dari tidurnya untuk membersihkan diri. Sepertinya hari sudah cukup siang sekali.
"Kamu mau kemana?" tanya Dio mencegah istrinya yang ingin pergi.
"Mau mandi Abang" kata Karin melirik malas gelagat suaminya.
"Oke, kita mandi sekarang" kata Dio menendang selimut mereka dan ikut bangkit dari ranjang.
"Abang ish, Nggak ada mandi bareng. Aku capek" kata Karin kaget saat melihat Dio dengan pede bertelanjang ria didepannya.
"Aku tidak akan melakukan apapun Nyonya" kata Dio tertawa kecil melihat wajah Karin yang berubah waspada.
"Beneran ya?" kata Karin sedikit tak percaya. Ia mungkin bisa saja melayani suaminya, tapi hari ini dia benar-benar lelah sekali.
"Percayalah padaku sayang, Ayo, aku kangen di sabunin sama kamu" kata Dio mengerlingkan matanya lalu meraih Karin dalam gendongannya dan tapi ia bukannya membawa Karin ke kamar mandi, Dio malah membawa istrinya ke kolam renang.
"Abang gila! Gimana kalau ada yang lihat kita" pekik Karin kaget.
"Tidak ada orang yang akan melihat, tenangkan dirimu Nyonya" kata Dio tanpa di duga, menceburkan tubuh Karin kedalam kolam.
"ABANG!!!!!!!!"
Dio tersenyum lalu ikut menceburkan dirinya kedalam kolam renang. Karin sedikit kesal mencipratkan air ke wajah suaminya.
"Ngeselin banget sih" kata Karin.
"Hahaha, kemarilah, Pagi ini sangat indah sekali sayang" kata Dio memeluk Karin dan menatap langit yang biru cerah.
"Iya, Pagi ini adalah pagi terbaikku Abang" kata Karin ikut memandang langit yang pagi itu benar-benar indah sekali.
"Ikut-ikutan aja" kata Dio mere mas gemas dada istrinya.
"Kondisikan tanganmu Abang, Aku tidak mau pagi ini berakhir dengan de sa han" kata Karin menepis tangan suaminya.
Dio hanya tertawa mendengar apa yang di katakan Karin. Pagi itu mereka mandi tanpa bercinta dan mereka kini bersiap untuk sarapan pagi yang sudah di sediakan pelayan vila. Menciptakan momen yang indah bersama orang yang berharga dalam hidup adalah sebuah kebahagian yang tak akan bisa di ungkapkan hanya dengan sebuah kata.
"Abang, Bagaimana nanti kita pulang? Apa kita akan begini saja? Aku tidak mau menggunakan gaunku yang semalam, underwearku juga sudah kau robek" kata Karin ingat kalau saat ini mereka berdua hanya menggunakan bathrope.
"Tentu saja tidak, Aku sudah menyuruh Angga untuk membawa pakaian ganti kita, kau tenang saja" kata Dio.
"Ya, aku yang memintanya kesini kemarin"
"Jangan bilang kejutan ini semua juga disiapkan Angga" kata Karin menatap suaminya.
"Ya memang" kata Dio seadanya.
"Itu artinya Angga yang memberiku kejutan, bukan Abang" kata Karin.
"Mana ada seperti itu? Dia hanya melakukannya tapi ini semua ideku dan uangnya juga dariku" kata Dio tak terima.
"Tetap saja yang menyiapkan Angga, Abang harusnya nggak boleh gitu, bisa jadi kemarin dia itu lagi liburan tapi Abang ganggu" kata Karin lagi.
"Biarkan saja, Lagipula itu sudah tugasnya menjadi asistenku. Tapi menurutku, dia malah bahagia mendapatkan tugas ini" kata Dio membuat Karin tak mengerti.
"Maksud Abang?" tanya Karin.
"Kita akan tau setelah ini" kata Dio tersenyum tipis. Ia ingin memastikan apa yang selama ini di pikirkan, sejauh ini instingnya tak pernah salah.
******
"Gaga, Apa nanti mereka tidak curiga kalau aku ikut denganmu?" tanya Tiara ragu saat Angga mengajaknya menemui Dio dan Karin.
"Biarkan saja, Memangnya kenapa sih kalau mereka tau?" kata Angga.
"Ya, tidak apa-apa, aku hanya malu" kata Tiara seadanya.
"Kau malu punya pacar sepertiku?" tanya Angga.
"Bukan, Untuk apa aku malu? Aku menyukaimu dan kau menyukaiku itu sudah lebih cukup, aku hanya belum siap karena kau tau sendiri hubungan kita belum jelas" kata Tiara menjelaskan.
"Belum jelas bagaimana? Kita sudah pacaran"
"Ish, bukan itu maksudku. Ah, sudahlah. Kita masuk saja, Nanti mereka kelamaan nunggu lagi" kata Tiara membuka seatbeat miliknya.
"Tiara?" Panggil Angga membuat Tiara menoleh.
"Aku mungkin membutuhkan waktu sedikit lama untuk bertemu keluargamu, Aku ingin menyiapkan segala masa depan kita nanti, Maukah kau menungguku?" kata Angga menatap Tiara sendu.
Sebenarnya ia cukup takut saat menjalin hubungan dengan Tiara karena kehidupan mereka cukup jauh berbeda. Ia hanya anak dari keluarga sederhana sedangkan Tiara? Semua orang tau bagaimana kesuksesan keluarganya. Tapi ia juga tak bisa mengabaikan perasaannya yang sejatinya sudah lama tersimpan pada wanita ini. Bahkan sangat lama karena ia mencintai Tiara saat pertama kali mereka bertemu, yaitu waktu masa orientasi siswa SMP.
Tapi ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya langsung karena ia memang pria yang cukup sulit untuk mengekspresikan dirinya. Angga lebih suka mencintai dalam diam.
"Gaga, Aku pasti menunggumu" kata Tiara malah ingin menangis mendengar ucapan Angga.
"Percayalah, aku pasti datang untukmu" kata Angga menarik lembut tubuh Tiara dan memeluknya.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi Dio dan Karin mengintip interaksi keduanya dari balik jendela vila. Meskipun tak jelas, tapi mereka tau kalau kedua orang itu sedang berpelukan.
"Mereka pacaran?" kata Karin masih kaget dengan apa yang di lihatnya.
"Sesuai dugaan" kata Dio tersenyum puas karena tebakannya tak meleset.
"Abang udah tau? kenapa nggak ngomong" kata Karin melirik suaminya tajam.
"Aku juga baru tau, kemarin-kemarin hanya menebak aja, Eh, itu mereka turun dari mobil. Kau harus ingat, kita pura-pura tidak mengetahui saja, oke" kata Dio menatap istrinya yang mengangguk mengerti.
Happy Reading.
Tbc.