MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Perasaan Yang Rumit.



Hari ini saat ku buka mata, saat itu ku coba menerka. Namun aku tak bisa menebaknya.


Kapan hatimu penuh cinta dan kapan kau menganggap ku tak pernah ada.


___________________________________


"Bersihkan tubuhmu dan tidurlah, Kau bisa menggunakan bajuku dulu untuk sementara" kata Dio melirik Karin yang kedinginan.


"Baiklah" kata Karin lalu berjalan menuju kamar mandi yang berada disana. Ia mengentikan langkahnya sejenak lalu menatap Dio yang berjalan ingin keluar kamar.


"Dio.." Panggilnya membuat pria itu menoleh.


"Ehm...Terima kasih" kata Karin dengan lidahnya yang kelu, ia langsung buru-buru masuk setelah mengatakan hal itu.


Melihat tingkah Karin yang seperti itu membuat Dio mengulas senyum tipis sebelum keluar dari kamarnya.


Karin membasuh seluruh tubuhnya dengan air hangat yang cukup menyegarkan. Ia tak ingin mandi terlalu lama karena sudah mengantuk. Setelah menyelesaikan mandinya, ia segera keluar dan sudah tak menemukan Dio ada disana. Karin tak ambil pusing, Ia membuka lemari pakaian pria itu untuk mencari baju ganti.


Ia memilih salah satu kemeja yang ia rasa cukup besar dan memakainya. Tapi Karin baru sadar kalau ia tak memakai dalaman. Tidak mungkin dia seperti ini saja, tapi semua bajunya juga basah. Karin lalu mencari celana milik Dio yang sekiranya cukup kecil tapi tentu saja tidak ada.


"Apa kau sudah selesai?" terdengar suara Dio mendekat membuat Karin langsung menoleh melihat Dio yang datang membawa secangkir teh.


Mata Dio membesar saat melihat penampilan Karin yang menggunakan kemeja putih miliknya yang kedodoran. Kemeja itu hanya sampai setengah pahanya membuat penampilan Karin sangat seksi di matanya, Apalagi wajahnya yang polos dengan rambut setengah basah. Karin terlihat sangat cantik di matanya.


"Iya sudah, Aku tadi mencari celana mu tapi tidak ada yang kecil" kata Karin seadanya tak begitu memperhatikan tatapan Dio padanya.


"Benarkah tidak ada?" Dio meletakan tehnya di samping ranjang dan mendekati Karin yang masih berdiri di tempatnya.


"Iya, Tapi tidak masalah. Aku hanya sebentar disini, memakai kemeja mu sudah cukup" kata Karin mulai gugup saat Dio berada di dekatnya.


"Kau yakin ingin begini saja? Apa aku tidak takut kalau aku bisa mudah melakukan sesuatu padamu jika seperti ini" kata Dio menyeringai tipis membuat Karin sedikit kaget, tapi ia mengulas senyum tipis.


"Jika kau ingin, kau sudah melakukannya" kata Karin memberanikan diri menatap mata cokelat Dio yang memantulkan gambar dirinya.


Dio menarik sudut bibirnya melihat keberanian Karin. "Kau pikir aku tidak bisa melakukannya sekarang?" Dio meletakan tangannya di samping kepala Karin dan tangannya yang lain menarik pinggang Karin agar mendekat ke arahnya hingga keduanya sangat dekat.


"Apa kau selalu melakukan hal ini pada semua wanita?" kata Karin benar-benar melawan rasa gugupnya. Ia tak boleh terlihat lemah di depan Dio.


"Menurutmu?" Dio justru balik bertanya.


"Kau sama sekali tidak berubah, sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri" kata Karin cukup kesal membayangkan hal itu, Ia langsung berontak agar terlepas dari rengkuhan Dio.


"Tidak ada alasan untuk berubah" kata Dio melepaskan Karin lalu mengambilkan salah satu boxer nya dan menyerahkannya pada Karin.


"Apa ini?" Karin menatap benda yang di berikan padanya dengan tak percaya.


"Kenapa seolah baru pertama kali melihatnya, Bukankah kau sudah sering melihat punya Nathan" kata Dio sengaja memancing Karin.


Mendengar hal itu Karin terdiam sebentar. "Oh tentu, Aku memang sudah sering melihatnya" kata Karin tentu saja berbohong. Melihat Nathan bertelanjang saja tidak pernah, apalagi sampai melihat **********.


"Apa yang sudah kalian lakukan?" Dio mengeraskan rahangnya saat mendengar perkataan Karin.


"Menurutmu apa yang di lakukan orang pacaran pada umumnya? Bukankah kau juga melakukan itu pada kekasihmu" sahut Karin dengan nada santainya.


"Kenapa tidak berani, Aku memang sudah sering melakukannya dengan Nathan, lagipula aku juga sudah tidak perawan, bukankah hal itu sama saja?" kata Karin membuat Dio mengepalkan tangannya.


"Aku pikir kau wanita yang berbeda, Ternyata kau sama saja dengan yang lainnya" kata Dio langsung pergi begitu saja.


Karin menggigit bibirnya saat melihat punggung Dio yang menjauh. Entah apa tujuannya berkata seperti itu, Padahal sejauh ini ia belum pernah melakukan hal itu kepada lelaki manapun selain Dio.


******


Dio tampak memasuki kamarnya yang cukup remang, di lihatnya Karin yang sudah meringkuk tanpa menggunakan selimut. Perlahan ia mendekat dan menatap wajah Karin yang sedang tertidur. Pandangannya melembut saat melihat wajah Karin yang polos, tanpa sadar tangannya terulur untuk mengelus pipi itu.


Tapi tak lama ia ingat kalau wanita ini sekarang sudah milik orang lain. Dio menarik tangannya kembali lalu bangkit dan menarik selimut untuk membalut tubuh Karin yang meringkuk. Ia menatap lama wajah wanita itu sebelum kembali keluar untuk tidur.


Saat mendengar pintu kamar tertutup, Karin membuka matanya karena ia sengaja pura-pura tidur karena ingin melihat apa yang di lakukan Dio padanya. Ia pikir Dio akan berbuat macam-macam, tapi ternyata dugaannya salah.


Tapi karena perlakuannya yang seperti itu malah membuat air matanya langsung meleleh begitu saja. Sial sekali, Kenapa ia bisa menangis hanya karena sikap Dio yang seperti ini. Karin sangat benci perasaan ini, perasaan yang sangat rumit untuk di mengerti.


Keesokan harinya Karin tampak baru bangun setelah matahari yang cukup tinggi. Ia langsung mengambil ponselnya dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Astaga! Kenapa aku kesiangan gini sih" gerutunya kesal sendiri, ia bergegas bangun dan ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Ia yang sedang terburu-buru tidak tau kalau ada Dio yang baru saja keluar kamar mandi membuat dirinya menabrak dada bidang pria itu.


"Akhhhhhh..." teriaknya saat hampir terpeleset sebelum Dio menangkapnya.


"Perhatikan jalanmu" kata Dio terdengar begitu dingin.


"Maaf, Aku tidak melihatmu" kata Karin kikuk.


"Hari sudah siang, Kau bisa pulang" kata Dio membuat Karin menatap pria yang kini sedang menatapnya datar dan sangat dingin.


"Iya, Kenapa kau tidak membangunkan ku" kata Karin setengah menggerutu.


"Aku juga baru bangun" kata Dio benar-benar cuek sekali, berjalan melewati Karin dengan tubuhnya yang bertelanjang dada membuat Karin bisa melihat perban yang membalut perut pria itu.


"Kau mandi? Bukankah lukamu masih basah?" Karin tak bisa menahan mulutnya untuk bertanya.


Dio melirik Karin sekilas. "Bukan urusanmu" ujarnya sambil lalu.


Mendengar itu Karin semakin kesal, Padahal ia sudah berbicara baik-baik. Tapi pria di depannya ini malah bersikap seperti itu. Baiklah jika itu yang di inginkan, Karin pun bisa bersikap tak perduli, lagipula ia memang tak perduli. Ia baru saja akan masuk ke kamar mandi sebelum mendengar suara cempreng seorang wanita yang mendekat.


"Sayang....Where are You...."


Mata Karin membesar saat menyadari itu suara Cindy, Ia menatap Dio yang masih bersikap santai saja.


"Dio...Ada Cindy"


Happy Reading.


Tbc.