MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Hal Romantis.



"Aaaaa....So sweet banget ya Dio, Karin pasti seneng banget di kasih surprise kayak gini, aku juga pengen" kata Tiara yang hari itu ikut menemani Angga untuk mempersiapkan semuanya.


"Biasa aja, Ngabisin uang doang kalau begini" kata Angga.


"Ini itu romantis tau, Aku juga mau kau melakukan ini padaku kalau kita menikah nanti" kata Tiara sedikit cemberut.


"Akan aku usahakan, yang penting kita harus pulang dulu, kita juga belum cari hotel" kata Angga segera mengajak Tiara pergi dari tempat itu untuk mencari hotel terdekat.


Tapi sepertinya hari itu hari sial baginya karena tiba-tiba ban mobilnya pecah ketika dalam perjalanan. Tiara mengomel sebal karena Angga juga tak bisa mengganti ban mobilnya sendiri.


"Terus gimana dong Gaga, Kau memang pacar tidak berguna ya, mengganti ban mobil saja tidak bisa" kata Tiara menatap sekelilingnya dengan kesal. Disana tidak ada bengkel sama sekali.


"Banyak bicara, sebaiknya kita ke kafe itu dulu, Aku lapar dan sekalian bertanya hotel terdekat disini" kata Angga mendengus karena Tiara mengatainya.


"Ya, tapi aku capek Gaga" kata Tiara merengek.


"Kita tinggal berjalan sedikit, Apa aku perlu menggendong mu" kata Angga.


"Tidak masalah kalau kau mau, Ayo gendong aku" kata Tiara malah mendorong tubuh Angga untuk membelakanginya lalu ia naik di punggungnya.


Angga sedikit kaget melihat tingkah Tiara, tapi ia tak mengatakan apapun, ia segera menggendong Tiara menuju kafe yang letaknya cukup dekat dengan mobilnya. Ternyata disana masih cukup ramai orang juga.


"Gaga, Aku ingin air kepala, sepertinya segar" kata Tiara saat melihat beberapa orang tampak menikmati minuman itu.


"Baiklah, Kau makan saja, aku akan memesankan untukmu" kata Angga bangkit dari duduknya untuk membeli apa yang di inginkan Tiara.


Tiara mengangguk dan melanjutkan makannya, ia cukup menikmati olahan makanan yang di pesannya malam itu. Selama makan, Tiara diam-diam memperhatikan Angga yang mengantri untuk mendapatkan apa yang di minta.


Pacarnya itu kini sedang di dekati oleh wanita muda yang sepertinya sedang hamil, dan mereka tampak mengobrol sesaat sebelum kemudian Angga kembali mendatanginya.


"Mana air kepalaku?" tanya Tiara saat melihat Angga tak membawa apapun.


"Maaf sayang, aku memberikan air kelapamu pada wanita itu, dia sedang hamil" kata Angga.


"Kenapa kau memberikannya? apa wanita itu lebih penting dari pacarmu" kata Tiara cukup kesal karena tak mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Bukan seperti itu sayang, Aku hanya kasihan padanya karena dia hamil" kata Angga menjelaskan.


"Tau ah, aku kesel" kata Tiara melipat tangannya ke atas perut.


"Jangan kesel, besok aku akan membelikan mu lebih banyak, Ayo habiskan makananmu, setelah ini kita langsung pergi ke penginapan" kata Angga.


"Nggak mau, aku udah nggak mood" kata Tiara masih dengan sikapnya.


Angga menghela nafas sejenak dan menatap Tiara yang masih memasang wajah kesalnya itu. "Kalau kau tidak mau, biar aku saja yang menghabiskan" kata Angga mengambil piring Tiara.


"Hei, kenapa kau mengambil makananku?" kata Tiara memprotes.


"Kau bilang tidak mau, daripada mubazir, ya aku makan aja" kata Angga santai saja.


"Tidak, kembalikan makananku" kata Tiara sepertinya memang suka mencari masalah. Dia mengambil piringnya yang sudah di angkat Angga.


Angga diam menatap apa yang di lakukan Tiara, wanita di depannya ini memang berbeda dari wanita yang di kenal. Tiara selalu apa adanya dan tanpa canggung menunjukkan sifat aslinya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Tiara mendadak gugup saat ditatap oleh Angga dengan tajam.


"Tidak apa-apa, Aku ingin minta izin mencium mu, apakah boleh?" kata Angga dengan senyum manisnya.


"Kau apa?" raut wajah Tiara tiba-tiba berubah saat mendengar ucapan Angga. Tapi ia belum menjawab, Angga sudah lebih dulu menyentuhkan bibirnya pada bibir Tiara. Hanya sekejab, namun sudah membuat Tiara mematung.


Tiara mengulum bibirnya dan menunduk, wajahnya kini bahkan sudah memerah hingga menjalar ke telinganya. Jantungnya jangan ditanya bagaimana, berdetak sangat keras karena baru saja mendapatkan first kissnya.


Setelah makan malam selesai, Angga mengajak Tiara menuju penginapan yang berada di samping kafe itu.


"Ini kunci kamarmu" kata Angga menyerahkan kunci kamar Tiara yang bersebelahan dengan kamarnya.


"Ehm, ya" kata Tiara menerima kunci itu dan menatap Angga.


"Baiklah, aku akan masuk dulu. Selamat malam" kata Angga tersenyum sedikit sebelum meninggalkan Tiara.


Tiara mengerutkan dahinya merasa Angga ini kaku sekali, kenapa hanya begini saja? Tidak ada ada salam perpisahan atau apa?


"Hei Gaga, tunggu dulu" kata Tiara mengambil langkah di depan Angga. Ia menutup jalan Angga agar tidak jadi kedalam kamar.


"Kenapa?" tanya Angga bingung.


"Kau ini bagaimana sih, kita ini sudah pacaran kenapa kau main pergi begitu saja?" kata Tiara protes.


"Lalu? Jadinya bagaimana lagi?" kata Angga dengan wajah herannya.


"Biasanya kalau orang pacaran itu bagaimana?" kata Tiara sebal karena Angga tidak peka.


"Ehm...kalau mau pergi ya tinggal pergi saja" kata Angga cuek seperti biasa.


"Ish, tak bisakah kau bersikap romantis sedikit saja. Aku heran kenapa aku bisa suka padamu" kata Tiara menggerutu dengan wajah cemberut.


Angga malah tertawa melihat tingkah pacarnya itu. "Lalu, bagaimana yang romantis itu?"


"Aku ingin seperti di novel" kata Tiara.


"Bagaimana?" tanya Angga pura-pura tak mengerti.


"Ehm...begini" kata Tiara mengambil tangan Angga lalu meletakkannya di kepala. "Mulai saat ini, kalau kau pergi, kau harus mengelus rambutku seperti ini" kata Tiara tersenyum manja.


"Memangnya kau bintang peliharaan yang harus di elus" kata Angga tertawa kecil.


"Ih, ini itu romantis tau kalau di lihat orang" kata Tiara lagi.


"Kau mau romantis di lihat orang atau dari hati?" kata Angga.


"Ya keduanya, pokoknya kau harus melakukannya" kata Tiara setengah memaksa.


"Baiklah, Aku masuk dulu kalau begitu" kata Angga berjalan melewati Tiara dan membuka pintu kamarnya.


Sekarang kenapa Tiara merasa tak puas hanya dengan elusan kepala. Ia lalu menatap Angga sebelum membuka kamarnya, tapi tiba-tiba tangannya di tarik oleh Angga dan dengan cepat Angga mencium bibirnya dengan lembut. Tiara tentu kaget, namun ia tak menolak dan membalas ciuman itu dengan gerakan kaku, tangannya tampak canggung memeluk leher Angga yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya.


"Aku lebih suka salam perpisahan seperti ini" kata Angga setelah melepaskan ciumannya, ia mengusap lembut bibir Tiara yang masih basah karenanya.


"Begini juga boleh" kata Tiara tersenyum.


"Baiklah, sekarang masuklah ke kamarmu, ini sudah sangat malam" kata Angga tersenyum manis dan kembali mengelus kepala Tiara.


Tiara mengangguk dan membuka pintu kamarnya, ia sempat melihat Angga yang masih berdiri disana sebelum perlahan ia menutup pintu itu. Setelah pintu itu tertutup, Tiara langsung meloncat karena sangking bahagianya.


Happy Reading.


Tbc.