MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Kedatangan Bella ~ 1



Bella mondar mandir cemas di dalam kamarnya. Semalam dirinya sudah di izinkan pulang. Tapi hatinya begitu tak tenang karena ucapan Papanya yang mengatakan kalau keluarga Axel akan datang besok. Kenapa semuanya jadi kacau seperti ini. Ini sungguh di luar rencananya.


Sebelumnya tanpa sepengatuhan siapapun, Bella sudah mencari klinik yang biasa mengaborsi janin di umur yang masih muda. Tapi sekarang kedua orang tuanya sudah tau. Tentu hal itu tak mungkin dia lakukan. Bella memutar otaknya, bagaimana caranya membatalkan pernikahan ini. Yang benar saja, dia harus menikah sekarang. Apalagi dengan pria yang sama sekali tak dia cintai. Bella tak ingin terjebak selamanya dengan pria itu.


Ah ya! Kenapa dia tak menyuruh pria itu saja yang membatalkan pernikahan ini. Setidaknya membantu dirinya untuk membujuk Papanya untuk tak menikahkan mereka. Ya benar, Bella harus menemui pria itu segera.


****


Bella keluar rumah saat hari masih cukup pagi, Dia sengaja pergi diam diam untuk menghindari kedua orang tuanya. Saat ini dia sudah berada di depan gang komplek perumahannya. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi pria brengsek itu.


Hingga panggilan yang entah keberapa kalinya, akhirnya diangkat juga. Bella hampir saja membanting ponselnya karena kesal.


"Kemana aja sih Lo! Tidur kebo banget Sampek nggak denger gue telepon" semprotnya tanpa basa basi.


"Ada Apa?" Suara Axel terdengar begitu serak khas bangun tidur.


"Kirim alamat Lo! Gue mau kesana sekarang! Gue tunggu lima menit" Ucap Bella cepat dan langsung memutus panggilan. Tak perduli Axel yang gelagapan karena tingkahnya itu.


****


Axel rasanya baru saja memejamkan matanya ketika ponselnya berdering. Dia ingin sekali mengumpati siapa yang berani menganggunya di pagi buta begini. Semalaman Axel tak bisa tidur karena memikirkan ibunya, Subuh tadi dia baru saja tidur dan sekarang dia harus terbangun karena ulah Bella.


Baru saja dia hendak membuka mulutnya, tapi wanita itu sudah mengomelinya dengan kata kata ajaibnya. Diantara kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, Axel mendengar wanita itu meminta alamatnya dan ingin menemuinya. Mau apa lagi sih?. Tapi Axel tak mau ambil pusing, dia segera mengetikan alamat apartemennya dan ingin melanjutkan mimpinya.


Bella tiba di gedung Apartemen Axel 1jam kemudian karena jaraknya yang lumayan jauh. Dia menatap bangunan tinggi dan begitu mewah itu. Tapi Bella tak punya waktu untuk mengaguminya, dia segera berjalan kearah lobby yang begitu luas. Sebelumnya Axel sudah mengirimkan alamat beserta nomor apartemennya, Jadi Bella tak perlu bingung mencarinya.


Bella langsung mengetuk pintu begitu menemukannya. Tak selang berapa lama, Axel muncul dengan rambut acak acakan. Bella terdiam menatap penampilan Axel yang berbeda dari biasaya. Bukan karena jelek atau bagaimana, tapi Bella kaget dengan wajah Axel yang bonyok.


"Kau! Kenapa dengan wajahmu?" tanya Bella langsung.


"Tidak apa! Masuklah dulu" Axel membuka pintunya agak lebar supaya Bella bisa masuk. Axel tak jadi melanjutkan tidurnya karena selain tak bisa, dia juga cukup penasaran dengan maksud kedatangan Bella.


"Nggak apa-apa gimana! Muka Lo ancur begini, Coba gue lihat" Tanpa sadar Bella langsung memegang kedua pipi Axel, dia melihat luka lebam dan beberapa luka yang cukup dalam. Bagaimana Axel bisa mendapatkan luka ini? Seingatnya kemarin, Pria itu masih baik baik saja. Tapi sekarang? Kenapa malah begini. Apa semua ini ulah Papanya?


"Sakit banget ya? Udah di obatin belum" ucap Bella merasa kasihan. Dia tak sadar jika Axel memperhatikannya tanpa berkedip daritadi.


Mata Axel terus menatap wajah Bella yang begitu dekat dengannya. Dia merasa senang karena Bella perhatian padanya. Cara bicaranya pun tak lagi meledak ledak seperti biasa.


"Malah bengong lagi!" Bella membuyarkan Axel dari lamunanya.


"Ya, aku nggak perlu obat kok! Eum, ada apa kamu kesini?" Tanya Axel mencoba kembali ke tujuan Bella datang kemari.


"Nggak! Muka Lo harus di obatin dulu, Lo ada handuk sama es batu nggak? biar gue kompres" Bella tak mau jika Axel mengabaikan luka yang menurutnya cukup parah.


"Aku bilang aku nggak perlu obat..


Axel menghela nafas kasar. Dia segera bangkit dan mengambilkan apa yang wanita itu butuhkan. Bella sendiri memilih duduk di sofa ruang tengah yang langsung berhadapan dengan pemandangan kota Jakarta.


****


Dengan penuh kehati-hatian, Bella mengompres luka Axel yang terlihat sudah membiru. Namun tetap saja masih terasa sakitnya, karena beberapa kali Axel terlihat meringis kesakitan saat Bella tak sengaja menekan lukanya dengan sedikit keras.


"Kenapa bisa jadi gini sih?" Antara menggerutu dan juga bertanya, Bella mengernyitkan dahinya membayangkan bagaimana parahnya luka ini kemarin. "Siapa yang ngelakuin ini? Papa gue?" tanyanya lagi.


"Nggak penting! Udah sembuh juga" jawab Axel seraya meringis kesakitan karena Bella menekan lukanya dengan keras.


"Ini yang Lo bilang udah sembuh?" Bella mencibir sebal.


"Ya tapi nggak apa-apa aku begini, ini emang pantes aku dapetin" kata Axel tersenyum sedikit.


"Tapi nggak separah ini juga! Lo sih, gimana bisa Papa gue sampai tau? Lo yang ngasih tau ya?" tuduhnya langsung, kini Bella mengambil antiseptik untuk di oleskan ke luka Axel.


"Maunya sih gitu, tapi orang tua kamu udah tau dari dokter yang rawat kamu" jawab Axel seadanya. "Kamu pingsan kemarin, gimana? Udah nggak papa?" Axel menatap Bella khawatir.


"Darah rendah sama banyak pikiran doang" jawab Bella dengan ketusnya.


"Kandungan kamu gimana?"


"Banyak bacot banget sih! Udah deh Lo diem, Ini mau gue obatin nggak" Bella menggerutu kesal, dia menarik wajah Axel untuk sedikit mendekat kearahnya supaya memudahkannya.


Axel mengembangkan senyum manisnya, meskipun lukanya masih lumayan sakit. Tapi dia merasa senang karena mendapatkan perhatian dari Bella. Kapan lagi dia bisa melihat wajah galak Bella menjadi begitu imut seperti kucing rumahan. Axel tak bisa melepaskan tatapannya dari wajah Bella yang telaten mengobati lukanya.


Bella mengoleskan antiseptik di beberapa luka Axel yang terlihat masih menganga, setelahnya dia menempelkan plaster kecil di pelipis Axel yang robek sedikit. Dia bukannya tak tau kalau sedari tadi Axel terus menatapnya lekat-lekat. Tapi dia pura-pura tak mengetahuinya dan memilih fokus mengobati luka Axel yang membuat wajahnya tak karuan.


"Udah nih" Kata Bella merasa senang karena sudah berhasil mengerjakan tugasnya. Dia menatap wajah Axel yang terlihat bonyok dengan plester di pelipis membuat wajahnya terlihat imut. Entah kenapa Bella begitu menyukainya.


"Makasih" ucap Axel seraya berbisik, dia terus memperhatikan apa yang dilakukan Bella Yang kini sedang merapikan obat-obatan yang tadi dia keluarkan.


Bella tak menggubris ucapan Axel, dia sengaja menyibukkan dirinya untuk menormalkan detak jantungnya yang terasa berdetak lebih kencang. Apa karena melihat muka bonyok Axel dia jadi begini? Hmm.. Tapi bonyok gitu masih ganteng kok. Bella menggelengkan kepalanya, kenapa dia jadi gila gini, Jangan bilang dia mulai ada rasa dengan pria brengsek itu.


"Karena luka Lo udah gue obatin, Sekarang ada hal serius yang mau gue omongin sama Lo" ucap Bella baru mengingat niat awalnya datang kesini untuk apa.


******


Like Like Like jangan kelewatan ya kakak..


Happy Reading..


TBC