
Terjerat dalam pesona asmara mu.
Ternyata semudah hembusan nafas.
Namun melupakanmu adalah hal yang paling menyakitkan untuk aku lalui.
------------------------------------------------
Acara pesta ulang tahun itu segera di lanjutkan, Karin masih disana bersama Nathan menyaksikan bagaimana sepasang kekasih yang kini sedang mengumbar kemesraannya itu. Tanpa sadar tangannya mengepal saat melihat Cindy menyuapkan kue ulang tahun pertamanya untuk Dio.
"Aku ingin pulang saja" ucapnya merasa sudah muak dengan drama malam ini.
"Kenapa terburu-buru, acaranya juga baru mulai" kata Nathan menatap Karin.
"Aku sudah bosan, Lagipula aku juga kesal padamu, kenapa kau mengatakan aku wanitamu" kata Karin masih kesal dengan sikap Nathan.
"Itu memang benar, Kau adalah wanita ku" kata Nathan dengan santainya.
"Sejak kapan? Kita bahkan tidak mempunyai hubungan apapun" kata Karin semakin kesal dengan tingkah Nathan.
"Sejak saat ini, Kau adalah wanitaku" kata Nathan seenaknya saja. Karin sudah ingin protes sebelum suara pembawa acara menggema.
"Malam ini, tidak akan menjadi malam yang biasa saja. Semua orang pasti membawa pasangannya untuk berdansa. Tapi untuk malam ini, Aku meminta kepada kalian untuk berdansa dengan pasangan orang lain. So, Ayo cari pasangan yang lain" suara pembawa acara itu menggema.
"Karin, Aku pinjam Nathan sebentar ya" Cindy terlihat mendekati mereka.
"Silahkan" sahut Karin acuh, toh ia tak ada niat untuk berdansa.
"Aku tinggal dulu" ujar Nathan menyambut uluran Cindy padanya dan berlalu untuk berdansa di tengah ruangan bersama yang lain.
Setelah Nathan meninggalkannya, Sudah ada enam pria yang langsung mendatangi Karin, tapi menurut Karin tak ada yang lebih menarik dari Nathan, wajah mereka biasa-biasa saja.
Tiba-tiba dari arah belakang sebuah tangan langsung melingkar di pinggangnya yang kecil, dan suara berat pria terdengar.
"Dia bersamaku" Pria itu langsung menerobos berdiri di depan Karin dan mengambil tangannya untuk di genggam dan di letakkan di bahunya yang bidang.
Karin terhenyak kaget, dia langsung melihat manik mata pria di depannya, walaupun awalnya tak berniat berdansa namun karena tatapan tajam dari mata indah itu..membuat tubuhnya seolah terhipnotis bergerak mengikuti alunan lagu.
"Dio! Apa yang kau lakukan?" kata Karin ingin melepaskan diri tapi Dio malah menarik tangannya dan memutar tubuhnya hingga kini Dio berada di belakangnya dengan tangan yang melingkari tubuhnya.
"Apa kau senang bertemu denganku?" bisik Dio tepat di telinga Karin membuat tubuh Karin meremang. Apalagi posisi mereka saat ini sangat intim.
Karin bisa merasakan nafas Dio yang hangat menerpa lehernya, ia memejamkan matanya karena jantungnya kini berlompatan ingin keluar dari tempatnya.
"Lepaskan aku" kata Karin menoleh ke belakang hingga mata mereka saling bertautan membuat ia merasa terperangkap oleh mata itu.
Dio menarik sudut bibirnya, Ia melepaskan Karin namun tangannya masih ia genggam.
Karin terdiam, Ia ingin sekali marah tapi sekali lagi ia terjebak oleh tatapan mata itu. Dio pun diam menatap wajah indah wanita yang sudah mengacaukan hatinya selama lima tahun ini. Wajah mereka sangat dekat hingga nafas keduanya beradu, tapi Karin langsung sadar akan hal itu.
"Aku tidak pernah lari darimu" kata Karin di antara rasa gugup yang mendera.
Dio kembali tersenyum dan menegakkan tubuhnya lalu melepaskan Karin karena musik sudah berhenti.
"Sayang" Terdengar suara Cindy mendekat lalu merangkul kan tangannya di lengan Dio yang masih tak melepaskan tatapannya dari Karin.
Melihat hal itu Karin langsung membuang muka dan bertatapan dengan Nathan yang juga baru datang.
"Bagaimana dansamu?" tanya Nathan berdiri di samping Karin.
"Tidak buruk, Aku yakin kau bisa lebih darinya" kata Karin merasa kesal sendiri melihat Dio dan Cindy. Ia mendekatkan tubuhnya pada Nathan membuat posisi mereka lebih intim. Dio hanya menatapnya dan Nathan menyukainya karena Karin mau berdekatan dengannya.
"Terima kasih dansanya Karin, Nathan. Aku pergi dulu" kata Dio terdengar santai saja lalu merengkuh pinggang Cindy dan menjauh dari mereka.
Karin menekuk wajahnya, Pria itu sama sekali tidak berubah. Sangat suka menebar pesonanya kepada semua wanita. Oh, ternyata memang begitu triknya. Membuat orang penasaran dan bertanya-tanya. Licik sekali.
Menyesal sekali ia selama lima tahun ini selalu merasa bersalah saat mengingat wajah sendunya terakhir kali di Bandara. Padahal pria itu sudah tak memikirkannya sama sekali. Malah menurutnya, Dio semakin bebas karena merasa tak terbebani oleh tanggung jawab karena sudah merenggut kesuciannya.
******
Karin pulang tepat tengah malam, dia mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati dan perlahan. Di luar hujan sangat deras, Tapi Karin terpaksa menerobosnya karena tidak ingin menginap di hotel atau di tempat Cindy sekalipun. Ia merasa trauma jika harus menginap di tempat lain.
Hujan yang sangat deras membuat kabut semakin tebal di malam yang gelap itu, Karin merasa takut jika melanjutkan perjalananya. Ia memutuskan untuk kembali ketempat Cindy tadi, tapi saat ia memundurkan mobilnya sudah ada mobil yang terparkir disana membuat dirinya kaget.
Kepanikan langsung melanda dirinya, Karin semakin ketakutan saat melihat empat orang yang mengelilingi mobilnya dan mengetuk kaca mobil dengan keras.
"Buka!!" Teriak seorang yang berwajah sangar mengetuk kaca mobil sangat keras.
Nafas Karin semakin cepat karena ia sangat takut sekarang, berulang kali melihat ke segala arah dan berpikir bagaimana caranya lolos dari mereka. Jika pria-pria berbadan besar itu ingin mengambil mobilnya silahkan, tapi bagaimana kalau mereka ingin membunuh atau memperkosa dirinya.
Ketukan itu semakin lama semakin keras, tapi Karin tak ingin membukanya, Ia baru akan menghubungi seseorang ketika penjahat itu menghentikan ketukan di mobilnya. Karin menatap ke arah depan dimana kini penjahat itu tampak berkelahi. Karin tak bisa melihat siapa orang yang berdiri disana karena hujan yang lebat.
Tapi saat wiper mobilnya menyapu kaca mobil Karin kaget saat melihat Dio yang kini berkelahi dengan empat pria. Karin sangat cemas melihat hal itu, bagaimana kalau mereka melukai Dio.
Dio berdiri dibawah derasnya hujan dengan mata yang awas menatap dua orang yang masih berdiri karena dua orang lain sudah ia tumbangkan, tapi ia harus hati-hati karena salah satu dari mereka membawa pisau.
Salah satu dari mereka segera menyerang ingin memu kul wajah Dio namun ia dengan cepat menangkisnya dan balik menen dang pria itu hingga tubuhnya jatuh tepat di atas mobil Karin membuat wanita itu menjerit karena ada orang pingsan tepat di depan matanya.
Tapi Dio lengah, salah satu temannya tadi segera menyerangnya dengan menggunakan pisau tadi, Dio masih bisa menangkisnya namun pria itu cukup lihat membuat pisau itu mengenai perutnya, Hal itu menyulut kemarahannya membuat ia langsung meng hajar habis pria itu.
Happy Reading.
Tbc.