
Karin membesarkan matanya melihat apa yang terlihat dari celah pintu itu. Terlihat Nathan dan Cindy sedang ber cinta ria. Karin menahan nafasnya, what the fu ck?
Karin memastikan lagi bahwa mereka berdua memang benar Nathan dan Cindy. Karin masih terlalu syok dengan ini semua. Bagaimana bisa Nathan dan Cindy berbuat gila seperti ini. Yang lebih parah mereka berdua berarti sudah mengkhianati Dio.
Lalu untuk apa dia dulu mati-matian menahan sakit dan patah hati hanya demi menjaga hati wanita itu. Karin begitu geram, meskipun ia dan Dio juga menjalin hubungan tapi hal itu juga mengesalkan.
Karin baru saja ingin mendorong pintu itu lebih lebar dan ingin menangkap basah keduanya tapi tiba-tiba mulutnya di bekap seseorang dari belakang dan tubuhnya di seret pergi. Karin berontak sekuat tenaga hingga membuat gaduh karena sepatu hak tingginya yang menghentak lantai.
Mendengar suara gaduh itu, Nathan segera melepaskan dirinya dari Cindy yang tampak belum puas karena mereka belum selesai. Nathan lalu melirik pintu ruangan yang terbuka sedikit.
"Sayang...Ada siapa?" tanya Cindy sedikit tanggung sebenarnya.
"Tidak tau, sebaiknya kau harus secepatnya pergi" kata Nathan memakai bajunya dan melihat keluar namun tak ada siapapun disana.
"Sial!" makinya kesal lalu mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
******
Karin terus berontak dengan terus memukul tangan pria yang kini sedang menyeretnya pergi. Tubuhnya kini bahkan sudah di tarik ke dalam satu ruangan yang berada disana.
"Stttt......Karin, Ini aku" mendengar suara yang sangat khas itu membuat Karin berhenti berontak dan kaget melihat sosok Dio.
"Dio! Kau disini?" tanya Karin kaget namun juga bingung melihat Dio ada disana.
"Iya, kenapa kau tidak jadi menjemputku?" kata Dio memasang wajah cemberutnya.
"Aku memang belum menjemputmu. Tapi ada hal penting yang harus aku tujukkan padamu" kata Karin masih menggebu mengingat apa yang di lihatnya tadi.
"Tidak ada gunanya" kata Dio mencegah Karin yang ingin keluar.
"Dio! Jangan menghalangiku. Mereka berdua benar-benar keterlaluan. Kenapa kau bertingkah biasa saja? Apa kau sudah tau?" kata Karin menyipitkan matanya menatap Dio penuh selidik.
"Ya, Aku juga baru akan memberitahu mu dan menunjukkan sedikit bukti, Ayo" kata Dio menarik lembut tangan Karin dan membawanya pergi dari ruangan itu.
Tapi saat mereka keluar, Mereka kaget melihat Nathan yang sudah berdiri disana. Dio mengertakkan giginya lalu menarik tangan Karin agar bersembunyi di belakangnya.
Nathan yang melihat keduanya langsung mengembangkan senyum manis tapi wajahnya tampak mengerut. Ia berjalan mendekat ke arah Karin yang bersembunyi di belakang Dio.
"Karin, Kenapa tidak menemuiku?" ucap Nathan dengan suara lembutnya.
"Jangan mengganggunya" kata Dio menahan emosinya untuk tidak menghajar Nathan.
"Lucu sekali, Seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu sepupu" kata Nathan melirik Dio dengan tajam, ia menekan kata sepupu membuat Dio semakin kesal.
"Aku sudah tau tentang kau dan Cindy. Nathan, Bagaimana bisa kau mempermainkan Dio seperti ini" kata Karin menatap Nathan dengan marah.
"Benarkah? Kau sudah tau ya? Sayang sekali, kenapa cepat sekali terbongkarnya" kata Nathan dengan santai dan tenang-tenang saja membuat Dio tersulut emosinya ingin langsung menghajar pria itu tapi Karin menahannya.
"Kau memang ba jingan Nathan" kata Dio.
"Apa maksudmu?" tanya Dio tak mengerti.
Nathan tersenyum sinis lalu berjalan mendekati Dio. "Kau tau, rumah sakit ini adalah daerah kekuasan Ayahku. Jadi aku bisa dengan mudah melakukan sesuatu disini" kata Nathan.
"Nathan! kau tidak boleh berbuat seperti itu, Kita sudah tau sama tau, jadi sebaiknya hentikan hal ini" kata Karin menatap Nathan dengan kesal.
"Dia tidak mengincar mu, tapi dia menginginkan aku" kata Dio membaca apa yang di pikirkan Nathan.
"Bravo! Kau memang cerdas sekali sepupu. Bagaimana, masih mau mencoba melawan?" kata Nathan menepuk tangannya dengan keras hingga tiba-tiba datang empat orang pria yang berbadan besar mendekati mereka.
Dio menggeram marah, ia melirik mereka yang sebenarnya bisa saja ia lawan. Tapi bagaimana dengan Karin, ia tak mungkin membuat wanita itu terluka karenanya.
"Sebaiknya menyerah lah Dio! Dan kembalikan apa yang sudah seharusnya menjadi milikku" kata Nathan menatap Dio dengan tajam.
"Menjijikan! Beraninya kau bermain keroyokan seperti ini, pengecut!" kata Dio meludah ke lantai.
"Kau pikir aku peduli? Cepat serahkan Karin padaku atau kau tau sendiri akibatnya!" kata Nathan mengeluarkan aura dingin mencekam membuat Karin takut dan semakin memegang tangan Dio dengan erat.
Dio mengertakkan giginya, ia benar-benar tak bisa berkutik sekarang. Dengan perlahan ia melepaskan tangan Karin membuat wanita itu kaget.
"Dio! Aku tidak mau" kata Karin menggelengkan kepalanya menolak saat Dio ingin melepaskannya.
"Mereka tidak akan melukaimu" kata Dio benar-benar tak rela tapi ia harus melepaskan Karin dulu karena ia tau Nathan bukan orang yang suka main-main.
"Ternyata kau memang sudah membaca rencanaku ya, Kemarilah Calon istri" kata Nathan menarik lengan Karin dengan kasar, ia merasa kesabarannya sudah habis.
"Lepaskan aku...." bentak Karin membuat Nathan menarik tangannya dengan keras membuat Karin berada di dekatnya.
"Berteriaklah dan terus saja melawanku. Kalau kau terus saja begitu, aku akan menyuntik mati pria yang kau cintai ini" kata Nathan mengancam.
Karin membesarkan matanya saat melihat Dio tiba-tiba di pukul bagian lehernya dan di suntikkan sesuatu membuat tubuh Dio langsung lemas. Karin membesarkan matanya dan khawatir, dia ingin menandatangi Dio tapi Nathan kembali mencengkram lengennaya.
"Apa yang kau lakukan pada Dio?" teriak Karin sangat khawatir, matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Dio baru saja sembuh, tapi kenapa harus mendapatkan perlakuan seperti ini.
"Kau akan tau apa yang terjadi dengannya jika kau terus melawanku. Jadi Karin, Nasibnya tergantung sikapmu padaku" kata Nathan tersenyum sinis melihat Dio yang tak sadarkan diri.
Nathan segera menarik tangan Karin dan membawanya ke mobil. Ia sedikit menghempaskan tubuh wanita itu untuk masuk ke dalam.
Karin hanya bisa pasrah saat Nathan membawanya pergi, ia melirik Nathan yang benar-benar tenang membuka jas dokter nya. Bagaimana bisa dia seperti ini?
"Apa sebenarnya maumu? Kau dan Cindy mempunyai hubungan lalu untuk apa kau melibatkan ku?" kata Karin dengan nada tinggi.
"Jawabannya mudah saja, karena kau itu lebih menarik dari pada Cindy dan kau adalah satu-satunya wanita yang cocok untuk mejadi istriku" kata Nathan tersenyum manis namun membuat Karin bergidik ngeri.
Happy Reading.
Tbc.