
Hidup itu tentang sebuah perjalanan, caramu menjalaninya dan caramu memberi arti pada perjalananmu itu. Seperti halnya sinar mentari di langit, yang terkadang dapat tertutup oleh awan mendung. Itulah hidup, yang tak selamanya akan selalu bersinar.
Bella sangat menikmati kehidupannya menjadi seorang Ibu baru. Ia tidak ingin menggunakan jasa pengasuh karena tak ingin sampai kehilangan momen tentang anaknya barang sedikit pun. Axel memang tak main-main dengan ucapannya, sejak malam pertama Rendra pulang ke rumah, Axel memintanya untuk tidur dan beristirahat.
"Biar luka operasinya cepet sembuh, Rendra biar sama Aku aja, kamu tidur" kata Axel memberikan kecupan singkat di dahinya.
Hal itu terus berulang setiap malamnya, Axel benar-benar mengerjakannya sendirian. Dari mulai mengganti popok, memberi susu Rendra saat malam hari. Juga saat Rendra yang rewel karena baru di imunisasi. Bahkan di sela-sela kesibukannya itu, Axel menyempatkan memasakkan dirinya saat Bibi Mauli tidak ada.
Well? Definisi nyata dari The Best Daddy and The Best Husband.
Malam itu Axel belum pulang dan Rendra terus menjerit karena badannya demam karena baru saja di imunisasi. Usia Rendra yang sudah menginjak umur 3 bulan membuat bayi itu semakin montok dan berisi. Bella sempat kuwalahan saat menenangkan bayinya.
"Rendra kenapa?" tanya Axel yang terlihat baru datang dari kantor.
"Demam, Tadi pagi habis imunisasi" kata Bella menatap suaminya.
"Sini, Biar sama aku aja" kata Axel ingin menggantikan Bella menggendong anaknya.
"Ish, kebiasaan. Cuci tangan dulu By" kata Bella memberi tatapan penuh peringatan.
"Maaf, Istriku marah-marah aja" kata Axel tersenyum seraya mengacak rambut Bella sebelum melesat ke kamar mandi.
Setelah mencuci tangan dan mengganti bajunya, Axel meraih Rendra dan menggendongnya, beberapa menit saja Axel menggendongnya bayi itu sudah tenang tanpa suara. Bella sampai terheran-heran.
"Dia benar-benar anakmu, Dari dulu suka banget dengan suara Papanya. Bisa banget langsung tidur gitu" kata Bella saat melihat anaknya sudah tidur pulas dan di letakkan di kasur karena Bella memang tak menggunakan box bayi. Dia lebih senang jika anaknya tidur bersamanya.
"Ya, Sekarang Mamanya juga harus tidur. Seharian ini pasti capek ngurus Rendra" kata Axel menepuk-nepuk bantal untuk Bella agar berbaring.
Bella terdiam melihat wajah Axel yang begitu dekat dengannya. Rasanya sudah lama sekali ia tak sedekat ini dengan suaminya. Bahkan sudah tiga bulan berlalu, Axel belum menyentuhnya. Mereka terlalu sibuk mengurus bayi dan pekerjaan membuat mereka melupakan hal itu.
"Kenapa menatapku terus? Apa baru sadar kalau suamimu tampan?" kata Axel mencubit pelan pipi Bella.
"Suka geer" kata Bella dengan wajah memerah dan tersipu malu.
"Tidak. Aku tau kau menatapku terus. Ada apa?" tanya Axel kini mendudukkan tubuhnya di samping istrinya.
"Tidak ada, Aku hanya melihat tadi ada nyamuk di dahimu" kata Bella entah mengapa malah berkata nyeleneh.
"Benarkah ada nyamuk? Dimana?" tanya Axel mencondongkan wajahnya menjadi lebih dekat dengan Bella. Bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas istrinya.
"Di..disini" kata Bella dengan suara terbata, ia merasa gugup saat melihat tatapan mata suaminya.
"Kenapa begitu gugup?" Axel malah sengaja menggoda istrinya dan lebih mencondongkan tubuhnya membuat Bella setengah berbaring.
"Aku..hanya.." Bella semakin salah tingkah.
"Hanya apa?" Axel kembali mencondongkan tubuhnya membuat Bella rebah sempurna. Ia kini sudah menindih tubuh istrinya dengan menyangga tangannya.
"Merindukanmu" bisik Bella antara malu dan juga gugup. Axel tersenyum dan keduanya saling padang. Hanya lewat mata, perlahan Axel mendekatkan wajahnya dan menyentuhkan bibirnya di atas bibir Bella.
Bella menyambut ciuman itu dengan lembut, ia mengalungkan tangannya di leher Axel. Ia beberapa kali menjambak rambut suaminya saat ciuman mereka semakin dalam. Ciuman itu penuh perasaan yang menggebu, mereka akan berhenti untuk mengambil nafas lalu kembali menyatukan bibir mereka.
"Huwa......Hakahakakakak....Huwaa...." Rendra menangis dan bergerak gerak dengan mata terpejam.
Axel setengah melompat dari atas istrinya saat mendengar Rendra menangis. Wajahnya terlihat begitu panik membuat Bella tertawa.
"Berani ketawa?" Axel menatap Bella dengan sebal. Inilah alasan kenapa Axel belum menyentuh istrinya selama ini, Meksipun ia begitu ingin, tapi Axel menahannya karena jika sudah setengah jalan seperti ini siapa yang susah?
"Maaf" kata Bella menatap suaminya iba, namun juga tersenyum membuat Axel semakin bermuka masam.
"Awas saja nanti" kata Axel kemudian berlalu untuk masuk ke kamar mandi.
"By, Jangan lama-lama. Sabunku nanti abis" kata Bella semakin tertawa menebak apa yang di lakukan suaminya di dalam kamar mandi.
*****
Keesokan harinya Axel terlihat terburu ke kantor karena bangun terlalu siang. Rendra sudah tidak demam dan Bella sedang menggendongnya untuk mengantar Axel ke depan rumah. Sebuah kebiasaan yang memang selalu di terapkan.
"Nggak sarapan dulu By?" kata Bella.
"Nggak usah, Nanti sarapan di kantor aja. Aku berangkat sayang" kata Axel menyempatkan dirinya mencium kening Bella dan anaknya.
"Bye...Bye .Papa..." kata Bella menirukan suara anak kecil dan melambaikan tangan Rendra.
"Bye Rendra...Baik-baik di rumah sama Mama" kata Axel tersenyum tipis dan membalas lambaian tangan anaknya sebelum melajukan mobilnya.
Bella masih melihat mobil Axel yang menjauh sebelum masuk kedalam rumah, Bella baru saja selesai menidurkan Rendra di box sebelum Bibi Mauli datang mengatakan kalau ada tamu yang mencarinya. Bella sempat mengerutkan dahinya sesaat, berpikir siapa tamu yang datang.
"Bibi Jagain Rendra dulu ya, Aku akan ke depan" ujarnya sebelum keluar dari kamar. Dan Bibi Mauli mengiyakan.
Saat Bella tiba di ruang tamu, Ia tertegun sejenak melihat sosok Naura yang kini memandang foto pernikahannya dengan Axel. Tanpa sadar tangan Bella mengepal saat melihat wanita itu.
"Naura?"
Naura yang sejak tadi menatap foto pernikahan mantannya seketika memalingkan wajahnya saat mendengar suara Bella.
"Selamat pagi Nona Bella" kata Naura dengan senyum yang memuakkan.
"Untuk apa kau kesini?" kata Bella menatap tajam wanita di depannya. Ia tak pernah berpikir kalau Naura berani datang ke rumahnya.
"Wow, Bella. Apakah ini sambutan mu kepada tamumu. Tak aku sangka Nyonya muda keluarga Leander tak memiliki sopan santun seperti mu" kata Naura dengan wajahnya yang sok kasihan.
"Cukup basa-basinya Naura, Apa yang sebenarnya kau harapkan?" kata Bella menahan emosi untuk tidak menampar wajah wanita tak tau malu ini. Ia lalu duduk agar mengurai emosinya, Ia harus tenang dan jangan sampai terpancing dengan permainan Naura.
Naura terdiam sesaat. "Mengharapkan sesuatu yang seharusnya menjadi milikku" kata Naura menatap Bella tak kalah tajamnya. Ia dengan santai duduk di sofa tanpa memperdulikan Bella sama sekali.
Happy Reading.
Tbc.