
Ketika Karin terbangun di pagi hari, ia bertekad memulai semuanya dari awal. Langkah pertama yang dilakukannya adalah bersahabat dengan kruk yang akan menemaninya kemana pun ia pergi. Mulai menyelesaikan pekerjaannya sebagai seorang istri yang sesungguhnya.
Meskipun ada kalanya ia merasa lelah dengan semua hal yang dilakukannya, tapi Karin tak ingin menyerah dan tak ingin mengecewakan orang-orang yang mencintainya. Karena pada dasarnya,rasa suka, duka, kekhawatiran, ketakutan, kebahagian, akan datang silih berganti selama hidup ini terus berjalan.
Karin terus menerus belajar dan bersabar menikmati semua proses yang di lewati, hingga sampai dua bulan kemudian, ia sudah bisa berjalan normal, lalu tiga bulan kemudian bicaranya pun sudah kembali normal. Benar-benar waktu yang di tunggu dan sangat menyenangkan.
"Gimana Bi? udah siap semuanya kan?" Karin terlihat sudah tampil sangat cantik menggunakan dress berwarna putih, Ia datang ke dapur untuk melihat persiapan untuk acara pagi itu.
Ya, untuk mengucapkan rasa terimakasihnya pada sang maha pencipta, Dio mengadakan acara syukuran kecil-kecilan untuk merayakan kesembuhan Karin. Tak banyak yang di undang, hanya beberapa kerabat dan sahabat dekat mereka.
Rumah mereka pun sudah di hias dengan sederhana, para pekerja tampak masih berlalu lalang bersama beberapa petugas katering yang sibuk menata makanan.
"Sudah siap semuanya Non" sahut Bibi Asih pembantu rumah tangganya.
"Oke, nanti jangan lupa meja-meja yang di depan di rapihkan lagi ya" kata Karin lagi seraya berlalu untuk naik ke lantai atas untuk melihat suaminya.
Saat ia membuka kamar, di lihatnya Dio baru saja selesai menggunakan kemejanya. Karin berdecak demi melihat rambut Dio yang masih basah tapi sudah memakai baju.
"Ish, kebiasaan banget sih, udah tau rambut masih basah gini, kenapa udah pakai baju" Karin setengah menggerutu lalu mengambil handuk yang di letakkan begitu saja di atas meja rias.
Mendengar gerutuan istrinya, Dio malah tersenyum manis. Ia senang sudah kembali bisa mendengar suara cerewet istrinya.
"Nungguin kamu juga lama" kata Dio kini menatap istrinya yang pagi itu sudah terlihat sangat cantik.
"Alesan aja, Sini" Karin tersenyum tipis dan menyuruh Dio menunduk sebelum ia membantu mengeringkan rambutnya dengan gerakan lembut. "Lain kali jangan gitu, kamu bisa sakit kalau gini terus" kata Karin lagi.
"Makanya kamu harus rajin bantuin aku" kata Dio mengedipkan matanya.
Karin tak menyahut, ia kini membantu memasangkan kancing kemeja Dio yang masih terbuka. Dio hanya diam menatap istrinya lekat-lekat.
"Kamu cantik" ucapnya spontan.
"Udah dari lahir kalau itu" kata Karin terkekeh kecil, ia sudah selesai menyematkan seluruh kancing kemeja suaminya.
Dio tersenyum lalu merengkuh pinggang istrinya dan mencium dahinya sekilas. "Semuanya sudah siap?" tanya Dio.
"Tinggal nunggu kamu aja, Bentar lagi anak-anak juga pasti dateng" kata Karin mengusap dada bidang suaminya dengan lembut.
"Kau melupakan sesuatu Nyonya" kata Dio semakin menarik tubuh Karin agar mendekat.
"Melupakan apa?" tanya Karin tak mengerti.
"Jika kau sembuh, Kau harus memanggilku apa?" kata Dio mengerlingkan matanya membuat Karin tertawa kecil.
"Enggak lupa, emang apa bedanya sih?" kata Karin dengan wajah santainya.
"Pasti beda dong, Aku sangat suka kalau kau mau melakukannya" kata Dio lagi.
Karin tersenyum manis menatap wajah Dio yang pagi itu terlihat semakin tampan dengan balutan kemeja hitam. "Abang" Bisiknya perlahan langsung berhasil membuat senyum Dio mengembang.
"Lagi..." kata Dio merasa senang dengan panggilan itu.
"Udah ah, Kayaknya di bawah udah rame, Ayo Turun" kata Karin melepaskan dirinya.
"Enggak boleh turun kalau belum kamu coba panggil lagi" kata Dio kembali meraih pinggang istrinya.
"Kamu manggil-manggil gitu aku jadi makin gemes, sini cium aku" kata Dio tertawa lalu menyodorkan pipinya.
Karin ikut tertawa melihat tingkah suaminya, Ia mendekatkan wajahnya, tapi bukan mencium pipi Dio, melainkan mencium bibir tipis suaminya. "Aku lebih suka yang ini" kata Karin tersenyum menggoda.
"Kalau kau suka, Aku lebih suka" kata Dio langsung menyambar kembali bibir istrinya. Me lumatnya perlahan dengan begitu mesra.
"Abang ih, Lipstick aku ilang kalau gini caranya" gerutu Karin setelah Dio menyelesaikan serangan bertubi-tubi di bibirnya.
"Kau yang memulainya Nyonya" kata Dio santai saja.
Karin mencibir pelan seraya kembali menambah lipstiknya yang hilang. Setelah merapikan penampilannya sedikit mereka segera keluar kamar. Karin menuruni tangga rumahnya dengan tangan yang melingkar di lengan suaminya. Wajah keduanya tampak berseri-seri menandakan kebahagiaan keduanya.
"Loh, Mama udah datang? Udah lama?" tanya Karin saat melihat Mama mertuanya sudah berada disana. Ia memberikan pelukan hangat pada mertuanya itu bergantian dengan Dio.
"Enggak, Mama baru aja datang, kamu gimana kabarnya? Sehatkan?" kata Mama Sofi mengusap-usap lembut lengan Karin.
"Aku baik Ma" kata Karin mengulas senyum manisnya.
Tak lama setelah itu, ternyata Kedua orang tua Karin juga datang, di susul oleh kerabat yang lain dan juga sahabatnya. Semuanya sudah berkumpul dan saling bercengkrama membuat kebahagiaan itu semakin bertambah.
"Aduh Bella, Udah hamil berapa bulan ini? Makin cantik aja" seloroh Elmira begitu melihat Bella yang datang dengan perutnya yang membuncit.
"Tujuh bulan tante, Aku gendutan ya tan?" Bella memang kurang tak percaya diri di usia kehamilannya yang memasuki trimester kedua.
"Hamil ya biasa, tapi tante rasa aura kamu beda, Tante tebak, anak kamu pasti perempuan" kata Elmira lagi. Karin yang berada disana juga terlihat gemas saat melihat perut Bella.
"Boleh pegang nggak? Lucu banget lihat perut kamu" kata Karin.
"Bolehlah, pegang aja, siapa tau ketularan" kata Bella menarik tangan sahabatnya agar menyentuh perutnya.
Karin tersenyum dan memegang perut Bella, tapi sedetik kemudian matanya membesar saat merasakan tendangan ajaib dari perut Bella.
"Wow, Dia menendang" kata Karin begitu takjub.
"Ya, mungkin dia tau kalau di pegang Auntynya" kata Bella lagi.
"Kamu hamil gini, apa nggak repot Bel? Gimana Rendra sama Eril? Belum kuliah kamu juga" Kata Tiara yang sejak tadi duduk diam.
"Ya repot pastinya, tapi ya harus di nikmatin" kata Bella tertawa kecil.
"Kamu sih, Udah tau kuliah, anak masih kecil-kecil, kenapa malah hamil lagi" kata Tiara menggelengkan kepalanya.
"Ya nggak apa-apa dong Ra, Aku malah pengen kayak Bella" sahut Karin berubah sendu tatapannya.
"Kau juga akan memilikinya nanti, sudah aman kan?" tanya Bella.
"Ya, aku sudah berhenti mengkonsumsi obat" kata Karin sebenarnya sudah cukup lama tidak minum obat untuk pemulihan kakinya. Tapi memang belum mendapatkan hasil yang di inginkan.
Happy Reading.
Tbc.