
Pandangan Karin melembut saat melihat kedua putra Bella. Ia mengulas senyumnya yang manis membuat Dio ikut tersenyum saat menatap Istrinya.
"Apakah mereka kembar?" tanya Karin dengan semangat. Ia tampak begitu gemas dengan Rendra dan Eril.
"Tidak, Beda satu tahun. Ayo, Beri salam buat Uncle dan Aunty" kata Bella tersenyum tipis lalu menuntun anaknya agar mendekat ke arah Karin dan Dio.
"Hai, Anak manis, Siapa namanya?" tanya Karin saat Rendra memberikan salam padanya.
"Namaku Rendra Aunty, Kalau ini adikku, namanya Eril" kata Rendra mewakili adiknya dengan suaranya yang tegas, persis sekali seperti papanya.
"Aunty siapa namanya?" tanya Eril dengan wajah ingin taunya.
"Nama Aunty, Aunty Karin" kata Karin masih dengan senyum manisnya.
"Aunty Karin cantik, Tapi kata Papa, Mamaku lebih cantik" kata Eril dengan polosnya membuat semua orang tertawa.
Bella mencubit pelan lengan suaminya. "Apa yang kau ajarkan pada putramu" cetus Bella.
"Aku mengajarkan kebenaran, kau tetap yang paling cantik di dunia ini" kata Axel mengerlingkan matanya menggoda istrinya.
"Rendra sama Eril masuk dulu yuk, kita ganti baju dulu ya" kata Bella ingin memberi waktu untuk suaminya agar biasa berbicara dengan Dio.
"Aunty Karin boleh ikut nggak Ma?" tanya Eril lagi.
"Boleh dong, Ajak aja. Tapi harus izin sama Uncle Dio, berani nggak?" kata Bella mengedipkan matanya pada Eril.
"Beranilah, Kata Papa anak laki-laki harus kuat dan pemberani" kata Eril dengan semangatnya mendatangi Dio.
"Uncle, Aunty boleh kan aku ajak main?" tanya Eril langsung.
"Boleh" kata Dio tersenyum dan mengelus lembut kepala Eril.
"Yes! Aunty ayo ikut ke kamar aku. Mainan ku banyak loh Aunty, Semuanya di beliin Papa tapi katanya pakek uangnya Mama" kata Eril kembali membuat semua orang tertawa.
"Aku tinggal dulu" bisik Karin pada Dio sebelum mengikuti Eril yang sudah menarik tangannya.
Dio tersenyum dan mengikuti istrinya dengan pandangannya sampai mereka hilang di balik tembok ruang tengah yang menghubungkan ke kamar anak. Dio kemudian beralih menatap Axel yang sejak tadi diam.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Dio berbasa-basi tentunya karena bingung harus memulai percakapan bagaimana.
"Seperti yang kau lihat, Aku sangat baik" kata Axel datar saja.
"Ehm...Axel, Sebelumnya aku ingin minta maaf. Aku minta maaf untuk apa yang sudah aku lakukan padamu di masa lalu" kata Dio merasa harus mengucapkan hal itu karena bagaimanapun juga, sikapnya dulu begitu keterlaluan pada pria ini.
"Baiklah, Hal seperti itu memang seharusnya di lupakan" kata Axel santai saja, lagipula ia sudah tak mau mengingat-ingat masa lalunya.
"Ya, Aku juga ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan yang kau berikan. Kalau bukan tanpamu, Aku tidak mungkin bisa bersama Karin saat ini" kata Dio dengan tulus, ia benar-benar sangat berterima kasih pada Axel akan hal ini.
"Aku hanya menuruti keinginan istriku" kata Axel cuek saja.
"Apapun alasanmu, Aku sangat berterima kasih dan berhutang budi padamu" kata Dio lagi.
"Tidak perlu berlebihan, Anggap saja itu juga ucapan terima kasihku padamu. Karena kalau bukan karena kau menyianyiakan Bella, dia tak mungkin jadi istriku sekarang" kata Axel menarik sudut bibirnya. Bagaimanapun juga, gara-gara pria inilah Bella menjadi istrinya.
Kalau saja waktu itu Dio tidak mengkhianati Bella, ia juga tak mungkin datang ke club dan ketemu Axel bukan? Jadi, menurut Axel, Pengkhianatan Dio cukup berjasa baginya.
Dio tersenyum penuh ironi mengingat apa yang di lakukan dulu. Antara menyesal dan tidak, menyesal karena sudah menjadi pengkhianat, tapi ia tidak menyesal karena kini bisa bertemu Karin, wanita yang tepat untuk dirinya.
*****
Di kamar anak-anak, Bella dan Karin tampak menemani Rendra dan Eril bermain. Karin tak henti tersenyum saat melihat kedua tingkah mereka.
"Mereka lucu banget sih Bel, Tapi nggak ada yang mirip kamu nih" kata Karin tertawa kecil melihat wajah Rendra dan Eril yang sama sekali tak ada yang mirip Bella.
"Itulah, Ngeselin kan? Padahal aku yang hamil, tapi mirip Papanya semua" kata Bella bersungut-sungut jika melihat hal itu.
"Nanti aja, Aku lagi nikmatin masa kuliah. Kamu aja yang buat sama Dio, pasti bakalan lucu gini juga" kata Bella mengerlingkan matanya.
"Ya semoga, Dio juga sudah menginginkan anak dariku" kata Karin juga berharap secepatnya hamil.
"Nah, Mumpung pengantin baru kan, Lagi semangat-semangatnya" kata Bella menggoda sahabatnya.
"Apaan sih, Emangnya kalau nggak baru nggak semangat gitu" kata Karin sedikit mencibir perkataan Bella.
"Kan pasti beda" kata Bella tertawa kecil.
"Bel, Aku mau bilang makasih sama kamu, berkat bantuan kamu, Dio bisa di selamatkan" kata Karin dengan tulus.
"Kayak sama siapa aja, Aku udah anggap kamu itu kayak saudara sendiri Karin, jadi jangan terlalu sungkan, kau juga tak perlu memikirkan bagaimana masa lalu antara kita semua. Anggap saja kita sudah melupakannya" kata Bella menyentuh tangan sahabatnya dengan lembut.
"Kamu dari dulu memang sahabat aku ter the best" kata Karin tersenyum manis.
"Jelaslah, Siapa dulu dong, Bella" kata Bella mengulas senyum sombong ala dirinya dulu membuat keduanya tertawa.
"Eh, Kok sepi? Anak-anak tidur?" kata Karin baru sadar kalau Rendra dan Eril tak ada suaranya.
"Ya, pasti kecapekan habis sekolah. Yaudah, kita sepertinya harus melihat kedua pria tadi Rin, jangan-jangan mereka berdua lagi melakukan gencatan senjata lagi" kata Bella tersenyum kecil.
"Semoga tidak" sahut Karin ikut tersenyum.
Tapi ternyata apa yang mereka pikirkan tidak sesuai kenyataan, karena Axel dan Dio terlihat ngobrol santai membuat Bella dan Karin melempar pandang.
"Ngobrol apaan sih, seru banget kayaknya" kata Bella mendudukkan tubuhnya di samping Axel.
"Ini urusan pria, wanita nggak boleh tau" kata Axel mencubit pelan hidung istrinya.
"Sudah selesai?" tanya Dio tersenyum lembut pada istrinya.
"Iya, Rendra sama Eril baru aja tidur" kata Karin seadanya.
"Baiklah, kita akan berpamitan kalau begitu. Axel, Bella terima kasih sekali lagi" kata Dio bangkit dan langsung merengkuh pinggang istrinya.
"Tidak perlu sungkan Dio, Aku udah anggap Karin saudaraku sendiri. Datanglah sesering mungkin jika ingin, Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian" kata Bella tersenyum manis tapi sedetik kemudian terdiam saat melihat tatapan mata suaminya.
"Hanya Karin yang boleh sering datang, bukan kau" kata Axel melirik tajam pada Dio yang menahan senyumnya.
"Jika ada waktu pasti aku akan sering mampir, Aku juga seneng banget bisa main sama Rendra dan Eril" kata Karin ikut tersenyum pada Bella.
"Baiklah, kami pamit dulu" kata Dio mengangguk sekilas pada Bella dan Axel sebelum mengajak istrinya pergi.
Axel dan Bella mengantarkan pasangan baru itu sampai ke depan pintu. Bella juga melambaikan tangannya saat mobil Dio sudah berjalan menjauh. Ia kemudian baru sadar melihat tampang suaminya.
"Kenapa memasang wajah seperti itu?" tanya Bella mengerutkan dahinya.
"Seneng banget ya habis ketemu mantan" kata Axel memasang wajah kesalnya membuat Bella tertawa.
"Lagi ngambek ya, Padahal aku mau kasih sesuatu yang spesial, tapi kalau ngambek gini ya nggak jadi" kata Bella mengerlingkan matanya.
"Sesuatu apa?"
"Mau tau banget atau mau tau aja?" kata Bella lagi.
"Kalau nggak mau kasih tau yasudah" kata Axel cuek saja ingin berlalu pergi, tapi Bella mencium pipinya sekilas.
"Aku tunggu di kamar, hari ini anak-anak udah tidur, sekarang jadwalnya Papa main sama Mamanya" bisik Bella membuat Axel tersenyum lebar sebelum menyusul istrinya.
Happy Reading.
Tbc.