
Baiklah. Ikut bersama Axel ke kantor adalah ide buruk yang pernah Bella lakukan. Karena di Kantor sama membosankannya seperti di Apartemen. Sejak mereka masuk ke ruangan, Axel langsung sibuk dengan laptopnya. Sedangkan Bella duduk di sofa dengan meja yang penuh camilan yang di berikan Hana beberapa saat yang lalu.
Ia melirik Axel yang tampak begitu serius. Beberapa orang juga tampak keluar masuk ruangan untuk sekedar memberi laporan. Axel benar-benar berbeda, jika sedang bekerja seperti ini.
"Kenapa menatapku terus? Baru sadar kalau aku tampan?" Axel tiba tiba menoleh ke arah Bella. Membuat Bella gelagapan.
"Siapa yang menatapmu! Dasar ge-er" bantah Bella tak mau mengakui tuduhan Axel.
"Benarkah?" Axel memasang wajah tak percaya, karena sejak tadi merasa Bella terus memperhatikannya.
"Ya, Apa kau masih lama?" mengalihkan percakapan adalah hal yang tepat untuk menghindar.
"Tinggal sedikit lagi, Apa kau bosan?" tanya Axel menatap Bella yang memasang bete.
"Hmm" Bella hanya berguman menjawab pertanyaan Axel.
Axel menatap arloji miliknya sejenak. Melihat jam yang ternyata sudah pukul dua siang. Dan ia juga baru ingat kalau Bella belum makan apapun sejak sarapan tadi. Hah! Bagaimana dia bisa melupakan hal sepenting ini.
"Aku akan mengantarmu pulang, Tapi kita makan siang dulu, ini sudah lewat tengah hari dan kau belum makan apapun" Axel segera menyimpan file file penting yang ada di laptop dan segera mematikannya. Ia lalu berdiri menatap Bella dengan cemas.
"Ayo" Axel mengulurkan tangannya pada Bella.
Bella terdiam sesaat menatap tangan Axel yang di ulurkan padanya. Lalu menatap wajah Axel yang sedang menunggunya. Tapi ternyata Bella memilih tak menyambut uluran tangan itu, ia malah menyelonong begitu saja membuat Axel menarik lagi uluran tangannya.
Axel mengulum senyumnya, Ia pikir Bella sudah mau menerima dirinya karena wanita itu sudah tak memanggilnya dengan kasar, seperti Lo-Gue. Tapi sepertinya ia salah.
*****
Axel mengajak Bella ke restoran yang cukup terkenal di Jakarta. Tadi ia sempat bertanya pada Bella ingin makanan apa, tapi wanita itu mengatakan terserah. Baiklah, daripada ia bingung akhirnya Axel memutuskan mengajak Bella ke resto Paradise Dynasty yang letaknya cukup dekat dengan Kantornya.
Sama seperti tadi, Axel kembali membukakan pintu untuk Bella meskipun wanita itu sudah melarangnya.
"Kan aku udah bilang nggak usah" gerutu Bella merasa sebal karena Axel tak mau mendengarkannya.
"Dan aku juga sudah bilang, kalau aku senang melakukannya" sahut Axel santai saja.
"Ayo, disini panas" kata Axel lagi merangkul bahu kecil Bella, ia juga menggunakan tangannya untuk menutupi wajah Bella dari panas matahari yang menggigit.
Ah, Axel ini perlakuannya membuat wanita merasa istimewa dan dihargai. Bella bahkan tak bisa berkata kata karena sikap manis pria itu. Suasana di restoran cukup ramai, untung mereka masih mendapatkan tempat duduk.
"Kau mau pesan apa?" tanya Axel menatap Bella yang membolak balikkan buku menunya.
"Hm, aku mau mie pedas level 5 sama minumnya jus Strawberry" kata Bella merasa ingin sekali makan mie itu, pasti akan sangat enak. Membayangkan saja sudah membuatnya ngiler.
Axel mengerutkan dahinya mendengar pesanan Bella. "Mie pedas? Apakah itu bagus untuk ibu hamil?"
"Mulut lo!" sentak Bella melotot pada Axel. Bagaimana bisa pria itu berbicara begitu frontal di tempat umum seperti ini.
"Kenapa? Apa bayi kita tidak akan kepedesan?" Axel tak merasa ucapannya salah. Ia menatap Bella dengan wajah polosnya.
*****
Axel menatap Bella yang makan begitu lahap. Wanita itu beberapa kali terlihat kepedasan hingga wajahnya berkeringat. Meskipun begitu tak mengurangi sedikitpun kecantikan Bella.
Malah di mata Axel, Bella terlihat sexy dengan wajah penuh peluh begitu. Mengingatkannya tentang malam panas mereka. Axel menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran mesumnya.
"Sudah, kau sudah tidak kuat" kata Axel melihat mata Bella yang sudah berair.
"Biar, ini enak, aku suka" Bella masih meneruskan makan mie pedas itu. Padahal lidahnya sudah terasa terbakar.
"Aku bilang sudah, Kau sudah tidak kuat" Axel langsung merebut piring Bella untuk menghentikan wanita itu.
"Hei, kenapa kau mengambil makananku" seru Bella menatap Axel tak suka.
"Sudah cukup, Kau bisa makan ini lain kali" kata Axel datar dan dingin, ia tak mau sampai Bella kenapa-napa.
Bella hendak memprotes namun dia urungkan saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Ia menoleh menatap seorang pria yang ternyata adalah Dio.
"Bella, Kau disini?" tanya Dio tak menyangka bisa bertemu Bella disini. Karena selama seminggu ini Dio tau jika Bella tak masuk sekolah.
Axel diam mengamati pria yang memanggil Bella, ia menatapnya dari atas sampai bawah. Ia menebak siapa pria itu?
"Menurut Lo" jawab Bella malas sekali melihat wajah Dio. Apalagi pria itu tak datang sendiri, melainkan dengan wanita selingkuhannya.
"Sayang, udah yuk, katanya mau jalan, ngapain ih ngurusin orang yang nggak penting" kata Valerie menatap Bella dengan sinis.
Ia masih merasa kesal jika mengingat apa yang sudah Bella perbuat. Dengan sengaja ia merangkul mesra bahu Dio. ia ingin menunjukkan kalau wanita itu bukan siapa-siapa lagi bagi Dio.
"Tunggu dulu, ada yang mau aku obrolin sama Bella" Dio berbisik pada Valerie. Ia merasa penasaran kemana perginya Bella seminggu ini.
Bella mendengus menatap kedua pasangan tak tau malu ini. "Apa kalian sudah selesai, Jika iya silahkan pergi, Lo berdua membuat gue mual" kata Bella dengan nada sarkas.
"Eh, Belagu banget sih lo! Gue tuh juga muak lihat wajah lo" Valerie merasa tersulut dengan sikap Bella yang seperti menghina dirinya.
"Ya bagus, ngapain masih disini aja! Sana pergi, ajak pacar Lo sekalian" Bella tentu tak ingin kalah, membuat Dio bingung karena malah keduanya bertengkar.
"Alah, bilang aja lo nggak bisa move on, Maka nya lo nggak suka lihat gue jalan sama Dio" Suara Valerie semakin melengking, ia tak menghiraukan Dio yang sejak tadi mencoba menenangkannya.
"Cih, omong kosong! Ambil sono bekas gue, Lo pikir gue nggak bisa cari cowok yang lebih dari dia" Bella semakin kesal karena tuduhan wanita itu.
"Oh ya, mana buktinya! Lo masih jalan sendiri tuh, Emang siapa sih cowok yang nggak mau sama cewek nggak tau diri kayak lo" Valerie tersenyum mengejek, merasa puas karena sudah membuat Bella mati langkah.
Bella mengepalkan tangannya erat, dia tentu tak boleh kalah. Bella menyeriangi karena menemukan ide gila di kepalanya.
TBC