
Karin baru saja bergabung bersama beberapa crew yang sudah mempersiapkan perlengkapan mereka untuk mendaki Gunung dan pemotretan. Empat buah mobil jeep juga sudah di sewa. Karin mengedarkan pandangannya dan melihat Dio yang sedang berbicara serius dengan Angga. Tak lama, pria itu kembali mendatanginya.
"Semua udah siap, Kita berangkat sekarang" ucap Dio mengulas senyumnya yang indah pada Karin.
"Ehm...Dimana Nathan dan Cindy? Mereka tidak ikut?" tanya Karin sedikit penasaran karena tidak menemukan keduanya sama sekali.
"Cindy belum bangun karena semalam terlalu banyak minum, Kalau Nathan mungkin sama, aku juga belum menemuinya" kata Dio malas rasanya jika menyebut mereka berdua.
"Apa dia tidak marah?" tanya Karin.
"Bisakah kau jangan menanyakan hal itu? Waktuku mencintaimu hanya tinggal hari ini saja, Aku tidak ingin membahas hal yang tidak penting" kata Dio dengan wajah memelasnya.
"Maafkan aku" kata Karin menatap Dio dengan lembut.
"Kau tidak salah, Ayo berangkat" kata Dio lalu membantu Karin naik ke mobil.
"Kita hanya naik berdua?" tanya Karin saat melihat yang lainnya sudah berangkat.
"Ya, Aku ingin berdua denganmu" kata Dio terkesan datar namun Karin tau kalau pria itu hanya menahan perasaannya.
Karin mengambil tangan Dio dan menciumnya membuat Dio langsung menoleh namun tak mengatakan apapun. Dio segera melajukan mobilnya dengan tangan yang tak lepas saling bertautan. Sepanjang perjalanan pun mereka tak banyak bicara, hanya sesekali saling melempar pandangan.
Dio merasa senang namun juga takut secara bersamaan. Karena waktunya bersama Karin hanya tinggal hari ini saja.
"Kenapa kau membohongiku?" tanya Dio secara tiba-tiba.
"Bohong tentang apa?" Karin menatap Dio tak mengerti.
"Bohong kalau kau sudah sering melakukannya dengan Nathan" kata Dio yang ingat bagaimana semalam ia cukup kesusahan untuk memasuki Karin. Namun ia juga senang karena ternyata Karin bisa menjaga dirinya.
"Kau yang memancingku" kata Karin seadanya.
"Maafkan aku, Aku hanya terlalu cemburu saat melihatmu bersamanya" kata Dio merasa sangat bersalah sekali karena sudah berpikiran yang tidak-tidak pada wanita itu.
"Tidak apa-apa" kata Karin tersenyum tipis.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, mereka sudah sampai di kaki Gunung Rinjani. Matahari saat itu bersinar cerah namun hawa dingin disana masih sangat terasa.
"Dio, Ini pemandu yang akan nemenin kita naik ke Gunung, Namanya Febri" kata Angga menemui Dio untuk memperkenalkan pemandunya.
"Ya Baiklah, Jadi Bagaimana? Aman semua kan?" tanya Dio ingin memastikan segalanya sebelum naik ke Gunung yang ia sendiri belum paham medannya.
"Aman Tuan, Kita akan lewat jalur utara yang lebih gampang jalannya. Kalau mau sampai puncak, kita biasanya butuh waktu 8 jam lebih" kata Febri yang mungkin usianya seumuran dengan mereka.
"Enggak harus sampai puncak, Cari viewnya yang paling bagus dimana?" tanya Dio merasa waktunya tak memungkinkan jika harus mendaki sampai puncak.
"Banyak Tuan, Kita lewat jalur Selatan saja kalau begitu, dari sana juga sangat bagus pemandangannya" kata Febri lagi.
"Baiklah" Kata Dio mengangguk setuju.
Semua crew sudah siap dengan ranselnya masing-masing. Dio ikut membantu membawa tenda yang cukup besar karena yang lainnya cukup kesusahan.
"Kamu jalan dulu, Aku jaga di belakang" kata Dio membiarkan Karin berjalan di depannya.
"Iya, semangat dong" kata Karin sedikit menghibur Dio yang sejak tadi tampak muram.
"Pasti" kata Dio tersenyum tipis.
Hutan disana juga masih sangat lebat membuat sinar matahari cukup susah menembus dedaunan yang rimbun. Padahal sudah siang tapi disana masih terlihat cukup gelap.
"Capek?" tanya Dio saat mereka berhenti sejenak untuk istirahat.
"Pastinya" kata Karin tertawa kecil.
"Mau aku gendong?"
"Enggaklah, Gini doang aku masih kuat. Tinggal dikit lagi kan" kata Karin menatap Dio sekilas.
"Kalau capek bilang aja, Nggak usah di paksain" kata Dio penuh perhatian.
"Iya, Harusnya aku yang tanya, kamu capek nggak? Katanya kemarin sakit?" kata membenarkan kupluk Dio yang ia rasa kurang simetris.
"Udah sembuh, Kan udah kamu obatin semalem" kata Dio menangkap tangan Karin dan menciumnya. Wajah Karin langsung merona mendengar ucapan Dio.
"Bos? Lanjut nggak? Apa disini aja, kita gelar tenda sekalian?" Angga tiba-tiba berseloroh saat melihat Dio dan Karin yang asyik bermesraan.
Dio sedikit mendengus karena ucapan Angga yang jelas menyindir dirinya. Ia kemudian bangkit dan mengajak yang lain untuk melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi. Karin tertawa kecil melihat wajah Dio yang kesal, entah setan apa yang merasukinya, ia tiba-tiba saja memberikan kecupan di bibir Dio sebentar.
"Jangan cemberut terus" ucapnya menahan malu yang luar biasa kemudian berjalan mendahului Dio.
Dio tersenyum hampir tertawa dengan tingkah impulsif Karin. Menggemaskan sekali, pikirnya.
Tak sampai satu jam, mereka sudah sampai di atas anak Gunung Rinjani yang menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Udara di atas ternyata lebih dingin daripada di bawah tadi. Semua orang hanya istirahat sejenak lalu menata peralatan untuk pemotretan. Dio juga sudah tampak begitu sibuk membantu anak buahnya.
Karin mengganti bajunya di tenda kecil dan memberikan make up di wajahnya agar terlihat bagus saat di foto. Setelah menyelesaikan semuanya, Karin segera keluar tapi bersamaan dengan Dio yang terlihat baru saja masuk.
"Eh? Sudah siap?" tanya Karin.
Dio diam, dia menatap keseluruhan wajah Karin yang menurutnya begitu cantik. Dari mata, hidung dan bibirnya terlihat sangat indah.
"Ehm...Ada apa? Apa aku terlihat aneh?" tanya Karin salah tingkah sendiri karena di tatap Dio seperti itu.
"Oh tidak, Kenapa memakai lipstik terlalu merah seperti ini" kata Dio mendekati Karin yang semakin salah tingkah.
"Benarkah? Apakah terlalu merah?" tanya Karin mengambil kaca dan melihat lipstiknya yang memang terlihat merah sekali.
"Aku tidak punya tisu untuk menghapusnya" kata Karin melirik kesana kemari namun tak menemukan tisu.
"Aku bisa menghapusnya" kata Dio tiba-tiba menarik tangan Karin hingga membentur dadanya.
Karin sedikit kaget. "Kau membawa tisu?" kata Karin terbata karena kegugupan yang mendera.
"Tidak perlu tisu, tapi menggunakan ini.." kata Dio lalu menyentuhkan bibirnya di atas bibir Karin yang dingin, hanya sebentar namun sudah bisa membuat Karin hilang akal. Dia belum terbiasa dengan sentuhan-sentuhan seperti ini.
Dio tersenyum dalam ciumannya karena merasakan tubuh Karin yang sudah bergetar hanya dengan ciuman, Benar-benar polos sekali, pikirnya.
"Sudah bersih, Aku lebih suka kau seperti ini" kata Dio tersenyum tipis saat melihat wajah Karin yang terlihat natural.
Happy Reading.
Tbc.