
Di sebuah restoran, terlihat seorang wanita cantik sedang celingukan mencari seseorang. Wanita itu tak lain adalah Tiara yang hari itu sudah membuat janji untuk bertemu dengan Angga. Tapi ia tak melihat sosok Angga berada disana, Tiara segera mengambil ponselnya, tapi urung tatkala matanya di tutup oleh seseorang dari belakang.
Tiara kaget namun sedetik kemudian tersenyum.
"Angga?" kata Tiara sudah tau siapa yang melakukan hal itu.
"Yah, kenapa kau selalu saja tau. Nggak seru ah" kata Angga dengan gayanya yang pura-pura cemberut.
"Kamu itu ketebak banget" kata Tiara tertawa kecil melihat wajah Angga.
"Baiklah, Kita makan dulu. Hari ini aku akan mengajakmu pergi" kata Angga merangkul bahu Tiara untuk mengajaknya masuk kedalam restoran.
"Kemana?" tanya Tiara sedikit penasaran.
"Nanti kau juga akan tau" kata Angga mengerlingkan matanya.
"Males ah, nanti ujung-ujungnya nggak jadi lagi gara-gara kamu di telepon Dio" kata Tiara kesal jika mengingat saat mereka merencanakan liburan bersama tapi harus gagal karena Dio meneleponnya untuk mengadakan meeting mendadak.
Memang setelah berbulan-bulan menjalin hubungan, mereka tidak pernah memberitahu Karin ataupun Dio tentang hubungan mereka. Tiara yang meminta hal itu, ia ingin mengumumkan hubungan mereka jika nanti sudah ada ikatan resmi, setidaknya itulah yang di pikirkan Tiara.
"Hahaha, Enggak. Hari ini Dio lagi liburan sama Karin ke Kalimantan. Jadi hari ini aku free, dan menjadi milikmu seutuhnya Babe" kata Angga sedikit berbisik mesra pada Tiara.
"Beneran ya? Aku hari ini pengen nonton, temenin ya" kata Tiara langsung bertingkah manja pada Angga.
"Siap dong, Cuma mau nonton aja? Nggak belanja sekalian?" kata Angga hafal bagaimana sifat kekasihnya yang suka sekali berbelanja ini. Entah bagaimana kalau mereka menikah nanti jika Tiara masih suka melakukan hobinya itu. Sepertinya dia harus sangat bekerja keras.
"Kalau kau yang memintanya, maka aku tak akan menolak" kata Tiara selalu bersemangat jika mendengar kata belanja.
"Baiklah, kita makan dulu. Kamu mau pesan apa?" kata Angga menyodorkan buku menu pada Tiara.
"Apa ya..." Tiara membaca menu-menu yang akan di pesannya. Saat dia sedang fokus, tiba-tiba ada seorang yang memanggil Angga.
"Angga!" suara seorang wanita terdengar menyapa Angga. Membuat keduanya menoleh bersamaan.
Tiara langsung menyipitkan matanya saat melihat seorang wanita yang memiliki tubuh tinggi dan langsing. Kulitnya putih bersih bak porselen, wanita itu cukup cantik juga. Tiara hanya diam menatap wanita yang kini mendekati Angga itu.
"Angga! Astaga, ternyata benar kau. Lama banget nggak ketemu, aku sampai hampir tidak mengenalimu" kata wanita itu dengan suara renyahnya.
Angga menatap wanita itu, dia tidak ingat siapa wanita di depannya ini.
"Kau lupa denganku ya? Ya ampun, Aku Lisa" kata wanita yang menyebutkan namanya Lisa itu.
"Lisa? Oh, yang waktu dulu SMP bukan?" tanya Angga mengingat.
"Benar, kau ini....terlalu banyak wanita ya sampai lupa denganku?" kata Lisa memasang wajah pura-pura merajuknya yang tampak cantik.
Tiara hanya diam mendengarkan, tapi sebenarnya hatinya cukup panas saat melihat tingkah Lisa yang sok kenal dengan Angga.
"Tidak juga" sahut Angga melirik Tiara yang mulai menunjukkan raut wajah tak nyaman.
"Lihatlah, kau masih sangat tampan" kata Lisa memuji terang-terangan sampai kemudian ia menyadari ada sosok wanita lain yang bersama Angga.
"Ehm...Dia?" kata Lisa.
"Oh, Dia pacarku. Namanya Tiara" kata Angga menarik lembut tangan Tiara untuk di genggamnya.
"Ya, aku kan memang tidak menyukaimu. Kalau aku berpacaran itu pasti dengan orang yang aku suka" kata Angga membuat Tiara langsung mengangkat pandangannya dan menatap Angga.
"Jadi kau menyukainya? Apa kau serius Angga?" tanya Lisa masih tak percaya.
Lisa menatap Tiara dari atas sampai bawah, namun sialnya Tiara memang wanita yang sempurna. Dari ujung kepala sampai kaki, semua yang di pakainya sangat mahal dan wajahnya yang tak di ragukan lagi cantiknya.
"Tentu, aku menyukainya, Apa itu masalah bagimu?" kata Angga dengan suara khas dirinya.
Tiara merasa jantungnya ingin copot saat Angga dengan gamblang menunjukkan perasaannya.
"Tidak, maksudku...ehm..." Lisa tak bisa lagi berkata-kata. Ia merasa tak habis pikir karena Angga dengan mudah menyukai seseorang.
Padahal ia ingat dulu berapa banyak wanita yang di sekeliling Angga. Mereka berlomba untuk mendapatkan status untuk menjadi pacar Angga, tapi sak satupun yang berhasil menaklukannya. Dan sekarang Angga dengan bangganya memamerkan wanita ini di depannya, membuat Lisa iri sekali.
"Maaf Tuan, Nona, Apakah makanannya sudah bisa dipesan?" tanya Pelayan terlihat kembali mendatangi meja mereka.
"Oh iya, Aku pesan makanan yang paling recommended disini, minumnya jus strawberry saja. Pacarku sangat suka minuman itu" kata Angga kembali membuat jantung Tiara berdetak tak karuan.
"Ehm, baiklah. Angga aku permisi dulu, senang bertemu denganmu" kata Lisa ingin secepatnya pergi sebelum hatinya memanas.
Angga hanya bersikap cuek saja, Tiara memandangi wajah Angga yang kini membuka ponselnya.
Yap, Angga memang sangat tampan. Ia mempunyai kharismanya sendiri, berbeda dengan Dio yang terlihat tenang dan ramah. Wajah Angga terlihat datar, tapi mempunyai lirikan yang nakal. Badan Angga juga sangat bagus, meskipun tidak setegap Dio tapi tubuh Angga tetap bagus karena ia memiliki tubuh yang cukup tinggi.
"Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Angga baru sadar kalau Tiara menatapnya terus.
"Oh tidak, aku hanya penasaran siapa wanita tadi" kata Tiara.
"Seorang teman wanita saat aku SMP" kata Angga acuh.
"Berapa banyak wanita mu dulu?" tanya Tiara ingin tau.
"Maksudmu?"
"Ya berapa banyak pacarmu dulu, pasti banyak sekali ya" kata Tiara menebak.
"Pacar? Kau yang pertama" kata Angga menatap Tiara dengan senyumnya yang memikat.
"Ha? Jangan bohong" kata Tiara tak percaya.
"Aku tidak berbohong, kau memang pacar pertamaku" kata Angga jujur.
"Lalu apa alasanmu memilihku? apa benar kau menyukaiku?" tanya Tiara sebenarnya memang cukup penasaran kenapa Angga dengan mudah memintanya untuk menjadi pacar.
"Ehm, apa ya? Aku tanya padamu, lalu apa alasanmu menerimaku?" Angga sengaja membalikkan pertanyaan itu.
Tiara mengerutkan dahinya, ia juga tidak tau apa yang di pikirkan saat itu sampai dengan mudah menerima Angga, semuanya terjadi begitu saja dan ia merasa nyaman saat bersama Angga, sudah itu saja.
"Kau tidak bisa menjawab kan? Sama, itu juga yang aku rasakan" kata Angga menyingkirkan tangannya saat makanan mereka tiba.
Happy Reading.
Tbc.