
"Just One, Please"
Mata Bella membulat mendengar permintaan Axel yang mengejutkan. Pria itu ingin melakukannya sekali lagi? What the f*ck? Apa dia tak kecapekan? Padahal semalaman mereka sudah melakukannya berulang-ulang?
"Kau ingin melakukannya lagi?" Tanya Bella menatap tak percaya pada Axel.
"I want to do it, Again and Again"
Dengan sekali tarikan, Axel berhasil mengungkung tubuh Bella kembali. Keduanya saling pandang, Axel mendekatkan wajahnya dan kembali mencium Bella sebelum melakukan semuanya. Dan pagi itu Axel dan Bella kembali mengulangi kegiatan panas dengan rasa yang semakin membara.
****
Bella mengatur nafasnya setelah percintaan singkatnya dengan Axel. Tubuhnya terasa lemas karena baru saja dibuat melayang oleh pria itu. Apalagi sepanjang percintaannya, Axel selalu menyebut namanya, membuat rasa yang tak bisa Bella ungkapkan.
"Apa aku menyakitimu?" Tanya Axel melihat Bella yang benar-benar terlihat lelah. Ia merasa bersalah karena sudah bersikap egois. Tapi ia tak bisa menahannya, mau gimana dong?
"Ck, masih tanya lagi" Cetus Bella melirik malas pada Axel yang masih memeluk erat tubuhnya.
"Maafkan aku" ucap Axel seraya mencium kening Bella.
Bella memejamkan matanya, sungguh ia tak ingin munafik. Ia benar-benar merasa nyaman saat bersama Axel. Tapi apakah mereka akan selamanya seperti ini?
"Axel.." Panggilnya memberanikan diri menatap wajah Axel yang terlihat begitu tampan.
"Hmmm..." Axel hanya bergumam, ia masih menenggelamkan wajahnya di leher Bella yang terasa harum hingga membuat Bella kegelian.
"Ih, Awas ah" Bella mencoba mendorong kepala Axel menjauh. Ia kembali meremang saat pria itu mengendus lehernya.
"Apa? Mau lagi?" Kata Axel mengerlingkan matanya.
"Ha? Nggak.. Nggak mau.. Gila apa.. Kau sudah melakukannya lima kali dari semalam..
"Jadi kau menghitungnya?" Mata Axel membelalak mendengar ucapan Bella.
Bella mengangguk dengan polos, membuat Axel gemas dengan wanita itu.
"Baru lima kali kan? Gimana kalau kita tambah satu kali lagi.." kata Axel menyentuhkan dirinya lagi kepada Bella.
Tapi Bella menolak hal itu, Selain tubuhnya lelah. Ia juga harus ke sekolah. Meskipun ia harus menolak manuver memabukkan dari Axel.
"Axel.. Udah.. Aku mau sekolah" ucapnya dengan suara terbata, menahan desahannya karena kini Axel asyik bermain di aset kembarnya.
Axel mengehentikan kegiatannya sejenak. Ia menatap Bella yang menatapnya dengan sorot mata memohon.
Axel lalu menghela nafas, kenapa ia hanya mementingkan dirinya sendiri seperti ini. Memang dasar! Adik kecilnya tak bisa di ajak kompromi.
"Baiklah, Aku juga akan ke kantor" kata Axel melepaskan Bella dari jeratannya.
Bella bernafas lega saat Axel melepaskannya. Ia melilitkan selimut tebal ke tubuh polosnya. Ia begitu malu karena Axel terus menatapnya. Ia hendak bangkit untuk ke kamar mandi, tapi tiba-tiba...
"Aduh!" pekiknya merasakan perih luar biasa di daerah intinya.
"Kenapa?" Axel langsung melompat kaget, ia sampai lupa kalau sekarang ia belum menggunakan apapun.
"Sakit" Ucap Bella seraya berdecak melihat Axel yang dengan pedenya bertelanjang ria di depannya.
Seketika mata Bella membesar melihat milik Axel yang ternyata begitu besar dan panjang. Jadi benda itu yang membuat dirinya menjerit sepanjang malam. Dasar Bella! Apa yang kau pikirkan!.
"Kita ke rumah sakit sekarang" ucap Axel khawatir Bella merasakan sakit. Ia mengutuk kebodohannya yang tak bisa mengendalikan diri. Sekarang wanita itu jadi kesakitan.
"Tidak Perlu, Nanti juga hilang, Aku mau mandi saja" Kata Bella masih bisa menahan. Lagipula tak sebegitu sakit, malah sakit saat pertama kali mereka melakukannya.
"Tapi kau kesakitan"
"Jangan lebay deh, Aku bilang nggak apa-apa juga" cetus Bella merasa Axel terlalu berlebihan.
"Maafkan aku" ucap Axel menatap Bella dengan sorot mata sendu.
Bella menjadi gemas melihat wajah Axel yang memelas. Membuat ia ingin memeluk pria itu segera.
"Ck, udah deh.. Aku mau mandi, sebelum telat ke sekolah"
"Baiklah, aku akan menyiapkan air hangat untukmu"
"Atau kita mandi bareng aja?" Axel kembali menggoda Bella.
"Tidak!" sahut Bella menatap sebal.
"Hahaha, aku hanya menggoda mu saja" kata Axel tertawa manis melihat wajah kesal Bella.
"Kalau aku bilang mau, Apa kau yakin hanya menggodaku saja"
"Maka aku tak akan menolak" kata Axel lagi sebelum melesat pergi ke kamar mandi.
****
Axel benar-benar melayani Bella dengan telaten. Ia bahkan mengendong tubuh Bella ke kamar mandi meskipun wanita itu menolaknya. Kini Axel sudah menyiapkan sarapan untuk Bella. Ia sudah begitu rapi, karena tadi ia memilih mandi di kamar mandi dapur untuk menghemat waktu.
"Axel!" Teriakan Bella terdengar dari kamar membuat Axel kaget.
Ia bergegas mendatangi Bella yang kini berdiri di depan kaca besar di lemarinya.
"Bella! Ada apa?"
"Ada apa? Apa-Apaan ini? Kau mau membuat aku malu" Bentak Bella menatap marah pada Axel.
Bagaimana tidak marah? Kalau seluruh tubuhnya kini penuh dengan kissmark yang pria itu tinggalkan sepanjang percintaan panas mereka. Bukan hanya di leher saja, tapi di perut, paha, semuanya.
"Aku udah kayak macan tutul begini?" Karena begitu kesal Bella melampiaskan dengan memukuli Axel dengan tangannya.
"Tanggung jawab nggak!"
Axel malah tertawa lepas melihat kekesalan Bella. Ia membiarkan Bella memukuli dadanya, karena tak sakit sama sekali.
"Ketawa terus.. ketawa terus" Bella kembali mengomel.
"Ya mau bagaimana lagi? Habisnya kau enak sih"
"Ck, Ini gimana dong? Apa kata temen-temen aku nanti" kata Bella menatap leher dan dagunya. Ia sudah memberikan bedak tapi tak bisa menutupi karena kissmark itu masih baru.
Axel terdiam sesaat, ia lalu membuka lemarinya dan mengambilkan salah satu jaket Hoodie miliknya.
"Mungkin kau bisa menggunakan ini"
"Masa iya aku sekolah pakai Hoodie, kayak orang sakit aja"
"Lalu, Kau ingin pakai apa?"
"Ck, ini semua gara-gara kau!" Bella menyambar Hoodie berwarna abu-abu yang di berikan Axel.
Ia langsung memakainya. Lumayan lah dari pada semua orang tau lehernya yang merah semua.
Hmm.. Harumm.. batinnya merasakan bau khas tubuh Axel.
Axel tersenyum melihat Bella yang begitu imut, saat tubuh mungilnya di balut Hoodie miliknya yang kebesaran. Sepertinya mau pakai apapun, Bella selalu cantik.
Mereka lalu sarapan bersama sebelum Axel mengantarkan Bella ke sekolah. Mobil Bella belum sempat ia ambil kemarin, Jadi ia harus kembali nebeng mobil Axel.
Jika kemarin Bella merasa kesal, entah kenapa sekarang ia malah senang saat Axel mengantarnya. Apalagi Axel terus menggenggam tangan Bella sepanjang perjalanan ke sekolah.
"Kau yakin tak ingin aku antar sampai ke gerbang?" Tanya Axel menatap wajah Bella yang terlihat pucat. Ia tak tega jika membiarkan wanita itu berjalan.
"Ya," sahut Bella singkat saja.
"Aku berangkat dulu" ucapnya lagi mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Axel.
"Maaf" ucap Axel segera melepaskan tangan Bella.
Bella tak menyahut, ia hendak turun dari mobil tapi Axel mencegahnya.
"Apalagi sih" seru Bella berdecak.
"Hati-Hati.."
"Hmm.." sahut Bella malas, ia harus bergegas pergi karena takut akan terlambat seperti kemarin. Tapi lagi-lagi Axel mencegahnya.
"Ap....
Cup
Mata Bella membesar saat Axel tiba-tiba mencium bibirnya.
"Morning kiss" kata Axel tersenyum lebar melihat wajah Bella yang melongo.
Bella tersadar mendengar ucapan Axel. Ia ingin sekali mengumpat pad Axel karena sudah bersikap seenaknya. Pria itu benar-benar tak bisa ditebak, terkadang bersikap dingin tapi sekalinya bersikap manis membuat seorang Bella tak berkutik.
*****
Mohon dukungan like dan Komen..
Happy Reading
TBC