
Warning!!!! Sebaiknya di baca saat tengah malam dan ada pasangan...wkwkwkwk
______________________
Mata Karin membulat sempurna saat mendengar keinginan Dio. Ia menatap mata Dio yang menatapnya tajam namun lembut. Terlihat sekali sedang menahan gairahnya. Ia sebenarnya cukup malu, tapi sekarang Dio adalah suaminya, jadi tak ada salahnya jika ia mengikuti keinginan suaminya.
Karin mendekatkan wajahnya lalu me lu mat bibir tipis Dio yang langsung disambut penuh naf su oleh Dio.
Dio sedikit menaikan tubuhnya agar setengah bersandar di kepala ranjang agar mempermudah Karin. Kedua bukit kembar Karin yang menjadi sasaran tangannya, namun hal itu malah membuat Karin semakin terbakar.
Dengan tak sabar, Dio segera me lahap benda itu bergantian membuat de sa han Karin tak terkontrol.
"Dio....." ucap Karin seperti kehilangan akalnya karena kenikmatan yang di berikan suaminya. Ia menjambak rambut pria itu agar menghentikannya tapi hal itu malah membuat Dio menyesapnya dengan kuat.
"Ah....." de saha Karin semakin kencang, ia merasa sebentar lagi akan meledak karena kini Dio memainkan jarinya di bawah sana.
"Dio aku..."
"Jangan di tahan" bisik Dio menatap Karin yang terlihat sangat seksi karena wajahnya sudah penuh peluh dan sangat ho r ny.
Dio mempercepat gerakan tangannya membuat Karin semakin blingsatan dan mencengkram pundak Dio dengan erat saat gelombang kenikmatan itu datang.
"Sekarang ya .." kata Dio sesaat setelah memberi jeda untuk Karin.
Karin mengangguk pelan dan dia membatu Dio untuk melakukan penyatuan. Dio pikir akan mudah karena mereka sudah pernah melakukannya, tapi ternyata ia cukup kesusahan karena milik Karin yang masih sangat sempit.
Karin mengigit bibir bawahnya saat Dio sedikit memaksa untuk menerobos miliknya. De sa han keluar dari mulut Dio saat seluruh miliknya masuk dan terasa sangat mengigit.
Dengan menahan sedikit nyeri, Karin mulai menggerakkan tubuhnya perlahan, membuat miliknya merasa nyaman dulu dengan milik suaminya.
Dio tak menyianyiakan aset kembar Karin yang bergerak bebas di depan wajahnya, ia langsung melahap keduanya bergantian dengan rakus. Beberapa kali juga me re mas bokong istrinya saat ia merasakan nikmat yang luar biasa karena istrinya.
"Karin....." bisik Dio membantu istrinya untuk mempercepat gerakannya karena ia akan segera sampai.
"Dio...Ah...Aku...." Karin tak bisa lagi berkata-kata karena nafasnya terengah saat Dio menambah tempo keduanya.
"Bersama" kata Dio mencium bibir istrinya lalu menghentakkan keras miliknya dari bawah dan beberapa saat kemudian ia merasakan milik istrinya berdenyut bersamaan dengan miliknya yang memuntahkan benih cintanya.
"Kamu luar biasa sayang..." bisik Dio di antara kepuasan dan nafasnya yang terengah.
Karin masih mencoba mengatur nafasnya, lututnya masih terasa sangat lemas karena baru saja mendapatkan pelepasan. Mendengar pujian dari suaminya membuat Karin tersipu.
"Apaan sih" ucapnya memilih melepaskan diri.
Dio mele nguh pelan saat Karin melepaskan penyatuannya. Ia lalu menarik lembut tubuh Karin agar memeluk tubuhnya.
"Ehm...sudah lapar belum?" tanya Dio seraya mengelus pelan rambut istrinya.
"Sedikit" kata Karin singkat.
"Ingin makan sekarang? Aku akan memesankan makanan untukmu" kata Dio lagi.
"Nanti saja"
"Baiklah, setelah ini ingin kemana?" kata Dio menatap lembut istrinya.
"Tidak ingin kemanapun, Aku hanya ingin seharian begini bersamamu, boleh ya" kata Karin tersenyum manja pada suaminya membuat Dio tersenyum lebar.
"Serius ingin begini seharian?" kata Dio menyentuhkan hidungnya ke hidung Karin yang kecil. Dan tatapannya berubah tajam membuat Karin sedikit waspada.
"Maksudku, Aku ingin bersamamu seperti ini, bukan untuk hal lain" kata Karin mulai gugup saat merasakan sesuatu yang keras menekan pahanya.
"Hal lain apa maksudmu?" kata Dio menempelkan bibirnya di atas bibir Karin.
"Dio, jangan menggodaku" kata Karin menjauhkan wajahnya.
"Kau bilang ini terus seperti ini, Aku sebagai suami yang baik harus menuruti keinginan istrinya kan?" kata Dio mengedipkan matanya lalu kembali menyergap tubuh istrinya dan menyatukan tubuh polos mereka untuk sekedar membagi kehangatan bersama.
"Kita makan disini aja ya" Dio terlihat baru saja keluar kamar mandi dan berdiri di belakang istrinya yang sedang berdiri di depan kaca lemarinya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Dio lagi sambil menatap keseluruhan penampilan Karin yang menggunakan kaos oblong miliknya.
"Terserah" sahut Karin fokus mengeringkan rambutnya.
"Sambil nunggu makanan datang..." Karin melihat wajah Dio bersinar dari kaca di depannya. Sedetik kemudian tangan pria itu sudah melingkari tubuhnya.
"Lemme show you something...." bisik Dio menatap mata Karin penuh harap.
Dan definisi kalimat lemme show you something kemudian mengalir tanpa henti dari mulut Dio seolah menjadi motto hidupnya.
"Dio, Ih.. Katanya tadi mau ngajak jalan" bisik Karin dengan nafas tertahan karena Dio kembali menyergapnya di meja makan.
"Gampang..."
"Nanti kesorean...Ah..."
"Masih ada waktu...."
"Dio!" sungut Karin mencoba melepaskan jeratan Dio.
Tapi Dio jelas punya banyak strategi yang membuat Karin mati langkah. Ia malah mendorong tubuh Karin di meja makan dan kembali membuat Karin tak henti berteriak karena permainan Dio.
"Lahirkanlah anak untukku Karin" bisik Dio setelah mereka melakukan penyatuan untuk yang kesekian kalinya. Ia menatap mata Karin penuh harap membuat wanita itu terdiam.
Dio masih memeluk tubuh polos istrinya di kursi dapur.Inilah istimewanya jika tinggal berdua tanpa orang tua, mereka bisa bebas melakukan hal itu dimana saja tanpa gangguan apapun.
"Apa kau mau melahirkan anak pria brengsek seperti ku?" kata Dio menatap mata Karin sendu. Ia ingat dulu saat Karin memaki dirinya dan menolak mengandung anaknya dan memilih meminum pil kontrasepsi.
"Dio, jangan seperti ini. Aku minta maaf karena pernah berkata seperti itu. Kau tau sendiri kan, dulu bagaimana keadaannya?" kata Karin merasa kasihan dan juga bersalah mengingat sikapnya dulu.
"Kau tidak pernah salah, aku yang salah telah melakukan hal itu padamu, Maafkan aku" kata Dio mengambil tangan Karin dan menciumnya.
"Aku sudah memaafkan mu, Itu semua adalah bagian buruk masa lalu yang harus kita lupakan Dio, Sekarang yang aku butuhkan hanyalah bisa hidup bersamamu dan menjalani masa depan bersamamu" kata Karin memang sudah sepenuhnya menerima Dio sebagai separuh hidupnya.
"Terimakasih, Aku sangat bersyukur karena takdir mempertemukan kita, sekarang aku tau satu hal, bahwa tak ada yang lebih baik dan lebih tulus selain dirimu. Karin, Kau adalah masa kiniku dan semua hari esokku. My One and Only" kata Dio mencium lembut kening Karin sebelum memeluk erat tubuh istrinya.
Tidak ada kata-kata yang bisa di menggambarkan perasaan Dio saat ini. Yang jelas hatinya merasa sangat bahagia bisa memiliki Karin. Ia benar-benar bersumpah, tak akan menyakiti hati wanita ini lagi.
Setetes air mata kebahagian mengalir dari sudut mata Karin, ia juga sangat bahagia bisa bersama dengan Dio. Karin berdoa dalam hatinya, semoga mereka bisa bersama selamanya sampai maut memisahkan.
Happy Reading.
Tbc.
Tak kasih bonus Visual biar makin mantep halunya....wkwkwkwk
__Karina
_Dio