MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
(S2) Serangan Tak Terduga.



Karin tersenyum dan merangkul perut suaminya. Ia baru saja akan menikmati indahnya perjalanan sore itu, tapi tiba-tiba mobil mereka berhenti mendadak membuat mereka kaget.


"Ada apa?" tanya Dio yang merasa tubuhnya terguncang, ia menatap Karin, memastikan wanita itu tidak apa-apa.


"Ada yang memblok jalan kita Tuan, sepertinya kita harus putar balik" kata Supir langsung memundurkan mobilnya dengan terburu-buru dan langsung melajukan mobilnya, menerobos blokade yang sepertinya sengaja di buat seseorang.


Dio dan Karin tentu kaget dengan hal ini, mereka lalu melihat ada mobil lain yang mengejar dari belakang.


"Dio! Aku takut" kata Karin sangat panik dan ketakutan.


"Tenang dulu sayang" kata Dio meraih tubuh Karin dalam pelukannya. Ia segera mengambil ponselnya untuk mengubungi seseorang.


"Angga! Aku butuh bantuan! sekarang mobilku di kejar oleh orang tidak di kenal, lacak....!


Tapi belum sempat ia menyelesaikan bicara sebuah tem ba kan di lepaskan mengenai kaca belakang mereka. Karin berteriak histeris.


"Menunduk Karin!" kata Dio menarik Karin agar menunduk lebih dalam dan kembali memeluk tubuh Karin yang gemetaran.


Dio kembali mencari ponselnya yang sudah terlempar entah kemana. Suara tem ba kan kembali terdengar, kali ini menghantam sandaran Dio. Terlihat sekali kalau Dio yang memang di incar.


"Dio...Aku takut...." kata Karin semakin menangis dan gemetaran.


Mobil mereka berjalan dengan sangat cepat dan asal-asalan. Dio menatap mata Karin namun tak bisa mengatakan apapun.


"Tuan terus menunduk, ada empat motor yang mengarah pada kita" kata supir yang sibuk memerhatikan jalanan dari spion mobil.


Mendengar itu, Dio semakin mengeratkan pelukannya pada Karin dan terus menundukkan kepalanya. Mata meraka sama-sama memancarkan kengerian karena mobil mereka tak kebal peluru, kalau mereka terus menem baki mobil itu pasti mereka akan terluka.


Supir yang melajukan mobil itu membawa mobilnya ke arah hutan yang jalannya cukup sepi karena menurutnya ia akan lebih bisa mengendarai mobilnya sangat cepat.


Sedangkan dua pengendara motor itu sudah berada disisi kanan dan kiri mobil, dua lainnya berada tepat di belakang mereka.


Mereka terus menembaki mobil itu, dan akhirnya mereka berganti me ne mbak supir yang masih mencoba bertahan, hingga salah satu peluru menembus tepat di kepalanya, darahnya langsung keluar dan muncrat hingga sedikit mengenai wajah Karin.


"Arghh......" Karin berteriak histeris dengan apa yang di lihatnya.


Kemudi mobil itu bergerak liar, dan berputar tajam hingga membawa mobil itu keluar jalur, masuk kedalam pinggiran jalan yang lebih rendah, hingga mengakibatkan mobil terguling hingga masuk dalamnya.


Dio dan Karin berpelukan dan hanya meperhatikan mobil mereka yang terombang-ambing dan terus bergulir di antara pecahan kaca yang bertaburan. Seketika semuanya hening ketika tubuh mereka menghantam semuanya dan dengan keras terhempas begitu saja.


*******


Suara sirine polisi dan ambulance saling bersahutan memenuhi tempat terjadinya kecelakaan Dio dan Karin. Disana tampak sangat kacau, mobil mereka ringsek dan terbalik. Angga segera menyuruh para petugas mengeluarkan korban, tapi ia kaget saat hanya menemukan Dio dan supir yang sudah tak bernyawa.


"Hanya ada dua korban Tuan"


"Tidak mungkin, Atasanku bersama istrinya, pasti ia juga terjebak di mobil itu, cepat cari" kata Angga panik sekali, ia menatap Dio yang kini di tandu untuk di bawa menyingkir.


"Tidak ada korban lagi Tuan, Hanya ada dua orang, atau mungkin...


"Mungkin apa?" Angga langsung menyela cepat.


"Tadi ada orang lain yang sudah kesini terlebih dulu dan membawanya. Kalau di lihat disana ada sebuah jejak ban mobil yang berputar balik" jelas petugas itu membuat Angga semakin pusing.


Dio membuka matanya setelah tubuhnya di keluarkan dari mobil. Kepalanya tampak sedikit berdarah namun lengannya terluka parah.


"Karin...." ucap Dio bangkit dan mencari-cari istrinya.


"Dimana Karin? Dimana istriku?" tanya Dio menatap kesana kemari namun hanya para petugas penyelamat dan polisi.


Dio segera berjalan ke arah mobilnya namun baru dua langkah, ia kaget saat mobil itu meledak dengan keras.


"Karin!" Teriak Dio berpikir istrinya masih di dalam sana. Ia menjatuhkan tubuhnya lemas di tanah.


"Dio, sorry. Kita kalah cepat, Karin udah di bawa, sepertinya Karin di culik" kata Angga menjelaskan.


Mendengar itu mata Dio membesar lalu menatap Angga dengan sangat tajam, kekagetan dan kemarahan terpatri jelas di matanya. Tangannya mengepal erat dan giginya gemeletuk menebak dalang di balik ini semua.


"Brengsek!" Maki Dio begitu emosi. "Kita harus cari Karin sekarang" kata Dio lagi tak memperdulikan rasa sakitnya, ia ingin segera menemui pelaku penyerangan ini.


Jika memang benar orang itu dalangnya, Dio pastikan, ia yang akan mencabut nyawa orang itu dengan tangannya sendiri.


Angga yang sudah melihat sikap Dio itu tak melarang, ia lalu menyuruh para polisi itu untuk mengurus semuanya. Termasuk untuk memberi uang kompensasi pada supir yang nyawanya melayang karena peristiwa sendiri.


"Dio, Apa perlu kita kesana? Kalaupun mereka pelakunya, mereka pasti tidak akan mengaku kan?" kata Angga saat keduanya dalam perjalanan.


Dio terdiam tapi ia membenarkan perkataan Angga, tapi dimana ia bisa menemukan istrinya.


"Apa kau sudah mengecek CCTV yang berada di jalan itu?" tanya Dio memutar otak untuk mencari istrinya. Ia harus mencari petunjuk se kecil apapun.


"Itulah masalahnya, Di jalan itu termasuk daerah sepi dan tidak ada CCTV" kata Angga lagi.


"Sial!" umpat Dio semakin tersulut emosinya. Terlihat sekali penyerangan ini sangat berencana. Sekarang bagaimana caranya ia menemukan istrinya? Melacak pun tak ada gunannya karena Karin tidak membawa apapun. Tapi Dio ingat sesuatu.


"Ngga! Kita putar balik"


"Ha?"


*******


Cindy menyeringai puas saat melihat tubuh Karin yang meringkuk di dalam mobil, wanita itu terluka dimana-mana tapi Cindy tak perduli. Ia segera membawa wanita itu pergi agar tak ada yang bisa menemukannya.


"Bagaimana?" ucapnya kembali menghubungi seseorang.


"Aku sudah menyiapkan tempatnya, pastikan semua aman dan bawa dia kesini"


"Baiklah, tenang saja. Tidak akan ada yang bisa menemukan dia" kata Cindy tersenyum sinis lalu mematikan sambungan teleponnya.


Mobil mereka segera berjalan cukup cepat dan bergerak meninggalkan keramaian kota menuju jalanan sepi dengan hutan di sisi kanan kiri. Mobil itu segera masuk kedalam jalanan yang lebih kecil dan masuk ke dalam hutan.


Cukup jauh mereka berjalan hingga terlihat sebuah bangunan rumah yang sangat besar dan kotor. Namun saat mereka masuk, ternyata didalamnya jauh berbeda dengan apa yang di luar, sangat bersih dan cukup banyak orang juga.


Cindy mengulas senyumnya pada dua orang yang sudah menunggu.


"Kerja bagus Cindy" ujar Ibu Nathan tampak senang saat melihat Cindy berhasil membawa Karin.


"Tentu saja ibu mertua, Setelah ini bagian mu untuk memberi pelajaran pada wanita itu" kata Cindy tanpa belas kasih menatap Karin yang kini di letakkan di tengah ruangan.


Happy Reading.


Tbc.