MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Mau Menunggu Apa Lagi



Mungkin bagi sebagian orang mempunyai rumah mewah dan besar adalah sebuah impian. Tapi terkadang ada pula orang yang menginginkan rumah yang sederhana namun mempunyai kesan nyaman. Seperti Axel saat ini, dirinya baru saja sampai dirumahnya. Rumah megah bak istana itu terlihat begitu indah. Namun bagi Axel sendiri rumahnya terlihat seperti rumah tak berpenghuni. Karena sangat sepi sekali.


Ya tentu, dia hanya tinggal bertiga bersama ayah ibunya. Dan tentunya para pelayan yang senantiasa ada di setiap sudut ruangannya. Sebenarnya Axel enggan sekali datang kerumah ini. Ia lebih senang dan tenang jika tinggal di apartemen miliknya. Panggilan sang Ayahlah yang membuatnya menginjakkan kakinya disini.


"Sayang, Akhirnya kamu pulang juga, Ibu kangen" sambutan hangat Ibunya langsung dia dapatkan.


"Axel juga Bu" balasnya seraya menerima pelukan wanita yang telah melahirkannya itu.


Tamara mengelus punggung putranya dengan lembut. Rasanya sudah lama sekali ia tak berpelukan hangat dengan putranya. "Kamu sibuk banget ya, sampai nggak pernah njenguk ibu" Tamara berucap dengan nada bergetar. Sungguh dia sangat sentimentil dalam seperti ini.


"Maafin Axel Bu, Ibu kan tau sekarang punya tanggung jawab baru" Axel mencoba menenangkan ibunya. Ia menatap wajah Ibunya yang masih tampak muda di usianya yang kepala empat.


"Ibu tau, Kamu yang sabar ya, Ini semua demi kebaikan kamu" Tamara tau putranya kini sudah menanggung beban yang cukup berat di usianya yang cukup muda.


"Yaudah kamu pasti laper, Ibu masak sup iga kesukaan kamu hari ini, kamu harus makan banyak ya, ibu lihat kamu kurusan" Tamara menggandeng putranya masuk kedalam rumah.


Axel hanya tersenyum sedikit mendengar ucapan ibunya. Dia hanya terdiam mengikuti langkah ibunya yang langsung menuju ruang makan. Ternyata sudah ada Ayahnya yang terlihat sedang melihat tablet ditangannya.


"Ayah udah kerjanya, ini anak kita udah Dateng loh" seloroh Ibu Tamara yang melihat ayahnya begitu fokus.


"Axel, bagaimana kabar kamu?" sapa ayah Axel tersenyum lebar menatap Axel yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Baik, Ayah sendiri?" Axel langsung duduk disamping ayahnya. Tamara sibuk menghidangkan beberapa makanan yang baru saja di hangatkan oleh para pelayan.


"Ya yang seperti kamu lihat, Ayah baik, sangat baik malah" ucap Ayah Axel tak henti-hentinya mengembangkan senyum di wajahnya.


"Bagaimana perusahaan?" Pertanyaan yang sama setiap Axel datang dirumah.


"Cukup bagus" Axel menjawab sekenannya ,toh ayahnya juga sudah tau karena dia selalu mengawasi kinerjanya di perusahaan.


"Ya Ayah lihat kamu sudah semakin pandai untuk menganalisa tender yang menguntungkan untuk perusahaan kita" Ayah Axel mengangguk-angguk puas dengan kinerja putranya. Tak salah jika dirinya menetapkan Axel sebagai gantinya.


"Lalu bagaimana Bianca?" Tanya Ayah Axel lagi, Kali ini dengan nada sedikit santai.


Axel terdiam, ia sempat melirik ayahnya yang terlihat menunggu jawaban darinya. Namun ia memilih bungkam.


"Sudah sayang, kamu udah bisa makan, kamu mau lauk apa? Ibu ambilkan ya" Untunglah Ibunya datang di waktu yang tepat hingga ia tak perlu menjawab pertanyaan tak penting ayahnya.


"Gak usah Bu, Axel bisa sendiri kok, ibu makan aja" Axel memilih mengambil makanan miliknya sendiri. Toh dia sudah besar dan tak ingin merepotkan ibunya.


Suasana ruang makan sangat sepi. Semua orang terlihat fokus dengan makanannya. Hanya denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ayah tadi" ucap Ayah Axel di sela makannya.


"Pertanyaan yang mana?" Axel hanya melirik malas.


"Tentang Bianca, gimana dia kerjanya?" tanya Ayah Axel.


"Ya biasa, udah bener kok" sahut Axel seraya mengelap mulutnya, dia sudah menyelesaikan makannya.


"Dia itu anak pinter, lulusan terbaik di kampusnya, makanya Ayah saranin buat jadi Sekretaris kamu" Ayah Axel tersenyum sedikit menatap Axel yang memasang wajah datarnya itu.


"Bianca siapa Yah?" Tamara yang memang belum kenal wanita yang sedang mereka bicarakan.


"Bianca itu Lo Bu, anaknya Jordi sahabat ayah waktu kuliah, anaknya itu nggak mau dia suruh nerusin usahanya jadi ayah saranin untuk jadi Sekretaris Axel, eh ternyata ke terima" ucap Ayah Axel tak menyembunyikan nada bahagia di setiap ucapanya.


"Oh, Ibu nggak pernah lihat anaknya yang mana sih?" tanya Tamara lagi.


"Ibu emang belum pernah lihat solanya dia baru aja pulang dari luar negeri" Ayah Axel terlihat bersemangat menceritakan tentang Bianca. Tamara hanya mengangguk tanda ia mengerti.


"Sebenarnya ini alasan ayah memanggil Axel kemari" ucapan ayahnya selanjutnya membuat Axel sedikit mengerutkan dahinya.


"Ayah dan Jordi sempat berbicara dan kami berfikir Bianca sangat pantas untuk menjadi pendamping Axel, jadi ayah ingin Axel menikah dengan Bianca" kata Ayahnya membuat Tamara dan Axel kaget.


"Ayah apa-apan sih, Axel bukan anak kecil yang harus ayah atur harus menikah dengan siapa"


Axel menatap kesal pada pria yang sebenarnya sangat dia segani itu. Tapi dia tak ingin menerima permintaan konyol ayahnya itu. Di jodohkan? Yang benar saja.


"Ini semua demi kebaikan kamu, Bianca itu wanita baik-baik, dia wanita yang cocok untuk kamu, lagipula umur kamu udah cukup matang, mau menunggu apa lagi"


****


Jangan lupa like koment.....


TBC