
Axel terbangun saat merasakan getaran di ponselnya. Ia melirik Bella yang sudah tidak ada disampingnya. Ia lalu membuka ponselnya yang terdapat banyak sekali panggilan terjawab dari Bram. Axel sedikit mengerutkan dahinya melihat Bram yang menelponnya sepagi ini, masih jam enam pagi. Untuk apa?
"Bram?" ucapnya ketika panggilan tersambung.
"Ya Tuan, Maaf menggangu waktu anda. Tapi sebaiknya anda lihat berita sekarang. Ini sangat penting" jelas Bram terdengar panik membuat Axel merasa ada yang tidak beres.
"Baiklah" jawabnya segera memutusakan panggilan dan segera membuka portal berita.
Seketika wajahnya terkejut melihat berita yang tertulis.
"Heboh! Beredar foto-foto vulgar pengusaha AL (25th) dengan wanita tidak di kenal"
"Viral! Di duga AL tengah terlibat affair dengan sekretarisnya sendiri"
"Penuh teka teki. Skandal Yang melibatkan pengusaha besar ini membuat jagat maya tercengang"
"Astaga! Ada wanita yang mengaku pernah menjadi korban AL"
"Setelah foto fotonya tersebar, AL masih belum menunjukkan batang hidungnya hingga saat ini"
"Terjerat Skandal Foto Vulgar! Ini potret AL yang sukses di usia muda"
"Mengenal AL, Yang di duga menjadi Sugar Daddy. Anak orang tajir melintir"
"Brengsek!" Axel memaki dengan penuh amarah membaca berita tentang dirinya. Belum lagi komentar netizen yang menyudutkannya membuat Axel semakin geram.
Bianca. Wanita itu tak main-main rupanya. Sampai matipun Axel tak akan melepaskan wanita itu. Ia segera menghubungi Bram.
"Dimana wanita itu!" ucapnya dengan geraham mengetat.
"Mereka belum bergerak. Tapi untuk saat ini sebaiknya anda jangan keluar dulu Tuan. Karena sekarang kantor dan rumah anda penuh dengan wartawan" jelas Bram juga pusing menghadapi situasi ini.
"Sialan! Cepat turunkan berita itu Bram!" maki Axel meremas ponselnya menahan amarah yang menguasai. Ia menjambak rambutnya frustasi.
Ia tentu harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Ia tak ingin sampai Bella tau tentang berita itu. Bisa di pastikan wanita itu pasti akan meninggalkannya jika sampai itu terjadi.
****
Bella sedang berkutat di dapur untuk membuat sarapan dengan di bantu asisten rumah tangga yang baru saja di pekerjakan Axel beberapa hari yang lalu. Namanya bibi Mauli berumur 50 tahunan. Bibi Mauli tidak menginap disana, Ia akan datang pagi dan pulang malam harinya karena suaminya yang sedang sakit tidak bisa di tinggalkan sendiri dengan anaknya.
"Non, Biar Bibi aja Non. Nona Bella lebih baik istirahat aja" ucap Bibi Mauli entah yang ke berapa kalinya mencegah Nona mudanya untuk tidak memasak.
Jujur saja ia takut karena saat ia mulai bekerja, Tuan Axel sudah mewanti-wanti nya untuk tidak memperbolehkan Bella mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi pagi tadi Nona mudanya ini sangat ngotot ingin membuat sarapan. Ia sekarang hanya bisa meringis saat melihat dapurnya yang berantakan karena ulah Bella.
Saus tampak bertebaran di meja. Serta alat-alat yang berserakan. Belum lagi sejak tadi Bibi Mauli harus mendengar Nona mudanya beteriak karena takut terkena percikan minyak.
"Udah, Biar aku aja Bi. Ini juga udah mau selesai kok" sahut Bella seraya memindahkan spaghetti yang baru saja di masaknya.
Bella memilih menu itu karena menu itu yang paling mudah dibuatnya. Matanya berbinar cerah melihat masakannya sudah jadi.
"Yes! Akhirnya aku selesai juga. Bibi tolong icipi, kurang apa sebelum aku berikan untuk Axel" ujarnya bersorak riang, lalu menyendok kan satu suap spaghetti untuk Bibi Mauli.
"Eh? Tidak usah Nona. Untuk Nona saja" tolak Bibi Mauli sungkan karena di suapi oleh majikannya. Lagipula dia hanya seorang pembantu, rasanya sangat tidak pantas.
"Tidak apa Bibi, Coba saja" kata Bella sedikit memaksa.
"Tidak perlu Nona. Sebelumnya terimakasih. Tapi saya sudah sarapan tadi" tolak Bibi Mauli lagi membuat Bella tak lagi memaksa.
"Baiklah. Aku akan memberikan ini untuk Axel. Dia pasti senang aku masakan" kata Bella melangkahkan kakinya dengan riang untuk menemui suaminya.
Dia lupa telah menghancurkan dapur yang kini sudah seperti tempat pembuangan sampah karena ulah Bella.
****
"Axel!" Panggilnya.
Axel sedikit kaget mendengar suara lembut dibelakangnya. Ia segera mematikan panggilan dan merubah ekspresi wajahnya.
"Bella?" ujarnya mengulas senyum tipis di bibirnya. Axel melemparkan ponselnya dan mendekati Bella yang kini menatapnya dengan curiga.
"Kau darimana saja? Bangun tidur aku mencari mu" ucapnya dengan suara sedikit manja. Axel merengkuh tubuh kecil istrinya untuk mengalihkan perhatian wanita itu yang terus menatapnya.
"Aku sedang di dapur. Ada denganmu? Apa kau ada masalah?" ucap Bella masih tak melepaskan tatapannya.
"Tidak ada. Untuk apa kau di dapur?" tanya Axel lagi kali ini berhasil membuat Bella tak lagi menatapnya curiga.
"Aku membuat sarapan untukku. Kau harus mencobanya, Ayo" kata Bella dengan semangat menarik tangan Axel keluar.
Axel tersenyum lega saat Bella tak lagi mencurigainya. Ia mengikuti langkah Bella yang begitu semangat.
"Taraaaaa!!!!" seru Bella setibanya di ruang makan menunjukkan hasil masakannya yang sudah ia siapkan tadi.
Wajah Axel sedikit mengerutkan wajahnya melihat masakan yang di buat Bella. "Apa ini?"
"Spaghetti buatanku. Cobalah" kata Bella kembali menarik tangan Axel agar pria itu duduk.
Axel hanya tersenyum melihat tingkah Bella yang tak sabar. Ia menurut dan mencoba Spaghetti yang Bella buatkan, Namun ia begitu terkejut dengan rasanya yang aneh hingga ia ingin mual.
"Bagaimana? Apakah enak?" cerca Bella menunggu komentar Axel tentang masakannya.
"Enak" sahut Axel tersenyum terpaksa. Tentu saja dia berbohong karena tak ingin membuat Bella kecewa. "Aku sangat menyukainya, Terima kasih ya sudah membuatkan ku sarapan seenak ini" puji Axel membuat Bella tersenyum senang.
"Benarkah? Kalau begitu besok aku akan memasakkan mu lagi, Kau ingin aku masakan apa?"
"Eh? Tidak perlu.." Axel langsung mencegah ide itu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia setiap hari harus memakan masakan Bella yang tidak enak.
"Kenapa? Kau bilang kau menyukainya" Bella menatap Axel tak mengerti.
"Ya, Tapi aku tidak ingin kau nanti capek. Kan sudah ada Bibi Mauli" sahut Axel mencari alasan yang tepat.
"Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak sibuk. Kau tidak menghabiskan makananmu?" sahut Bella santai saja namun membuat Axel gelagapan.
"Iya, ini akan aku habiskan" Dengan berat hati, Axel mulai menyendok kan spaghetti itu dengan gerakan terburu-buru hingga tersedak.
"Astaga! Tenang saja Axel, Aku tidak akan meminta makananmu" Bella terkekeh kecil melihat tingkah Axel. Ia menyodorkan air minum untuk suaminya itu.
"Aku hanya terlalu menikmati" Axel mengutuk dirinya yang entah sudah berbohong keberapa kalinya pagi ini.
"Apa segitu enaknya? Aku jadi penasaran ingin mencobanya" kata Bella mengambil sendok baru untuk mengincipi hasil masakannya sendiri.
"Jangan!" cegah Axel langsung membuat Bella sedikit kaget.
"Kenapa? Aku juga belum sarapan, Jangan-jangan kau berbohong kalau ini enak" Bella menyipitkan matanya.
"Tidak. Ini beneran enak kok" sergah Axel tak ingin Bella memakan spaghetti ini, ia malah takut kalau wanita itu akan sakit perut.
"Kau bohong!" sahut Bella meraih piring spaghetti dari tangan Axel dengan paksa.
Bella langsung mencobanya, setekita saja raut wajahnya berubah saat merasakan Spaghetti buatnya. Itu adalah spaghetti yang terburuk yang pernah ia makan. Bella bahkan langsung memuntahkannya karena rasanya yang begitu buruk. Asin, pahit dan argh.. Pokoknya begitu buruk. Bagaimana Axel mengatakan Spaghetti itu enak.
Happy Reading
TBC