MARRIAGE BY MISTAKE

MARRIAGE BY MISTAKE
Papa Percaya Padamu



Axel menatap punggung Bella yang kini tidur dengan posisi membelakanginya. Ia tau jika wanita itu belum tidur, tapi Bella memilih berpura-pura untuk menghindari interaksi dengannya.


Axel menghela nafas panjang, menghembuskan ya perlahan. Sebenarnya masih banyak hal yang perlu mereka bicarakan. Karena kebodohannya yang tak bisa mengendalikan diri semuanya menjadi kacau. Hubungannya dan Bella sudah begitu kaku, dan dia malah memperburuk keaadaan.


"Apa kau sudah tidur?" ucapnya memberanikan diri untuk memulai percakapan dulu.


Bella tak menyahut. Dia memilih memejamkan matanya rapat untuk menghalau rasa malu yang mendera.


Sangat Sangat Malu


Ia tak henti mengutuk dirinya yang begitu bodoh hingga bisa berciuman dengan Axel. Oh no! Bahkan sekarang pun dia masih teringat ciuman singkat namun panasnya bersama Axel.


Sialan


"Aku tau kau belum tidur" sambung Axel lagi karena tak mendapat jawaban. "Tentang masalah tadi aku minta maaf, dan tolong lupakan hal itu"


"Enak banget Lo ngomong! Itu adalah ciuman pertama gue, dan Lo dengan seenaknya mengambilnya" protes Bella kesal karena dia ingat kalau itu adalah first kissnya dan pria brengsek itu yang sudah mengambilnya. Dan apa tadi? Menyuruh untuk melupakan? Yang benar aja.


"Tapi aku rasa ini bukan yang pertama, karena sebelumnya... " Axel sengaja menggantung ucapannya..


"Stop! Itu beda cerita. Waktu itu Lo ngambil ciuman gue tanpa sepengetahuan gue" kini Bella bangkit dari tidurnya dan menatap Axel dengan tatapan kesalnya.


Axel mengulum senyumnya memancing kekesalan Bella sungguh sangat mudah. Rasanya ia ingin tertawa melihat wajah wanita itu yang terus berkerut karena kesal.


"Sama saja kan? Sama sama ciuman" jawabnya dengan senyum manis.


Bella sampai meleleh rasanya melihat senyum manis Axel. Dia baru sadar kalau Axel semakin tampan kalau tersenyum. Ah tidak! Kenapa sih sekarang rasanya dia begitu gila karena pria itu.


"Hentikan omong kosong Lo! Lo harus inget batasan antara kita. Dan gue harap Lo masih inget tentang janji Lo untuk menceraikan gue setelah bayi ini lahir"


Bella tentu tak ingin terus terperangkap oleh pesona pria itu. Karena dia tak ingin sampai terbawa perasaan dan nanti pasti akan mempersulit semuanya. Meskipun saat ini ada rasa yang aneh dalam hatinya saat mengatakan itu semua.


Axel mengerutkan dahinya, merasa perkataan Bella cukup tak di sukainya. Mereka baru saja menikah, dan kenapa malah membicarakan tentang perceraian. Tapi bukankah itu memang rencananya? Kenapa malah dia yang tak rela?.


"Sesuai keinginanmu, Aku pasti akan menepati janjiku" ucap Axel dengan nada datar. Matanya mengejar mata Bella yang sedari tadi terus menghindarinya.


"Sudah malam, sebaiknya kau tidur! Tidak baik untuk kesehatan jika tidur terlalu malam, Aku pergi dulu" Ucap Axel lagi seraya turun dari kasur.


Bella membuka mulutnya ingin bertanya kemana pria itu akan pergi. Tapi hatinya seolah menolak, dia memilih bungkam menatap punggung tegap Axel yang berjalan menjauh.


****


"Merokok itu tidak baik untuk kesehatan" suara Papa Nugraha terdengar memecah keheningan yang sedari tadi Axel rasakan.


Axel sedikit kaget, dia menggerus rokoknya kedalam Asbak. "Om" ucapnya terdengar kaku.


"Sedang apa disini? Tidak tidur?" tanya Papa Nugraha mendudukkan dirinya di samping Axel.


"Belum mengantuk" jawab Axel sekenanya.


"Atau di usir Bella?" tebak Papa Nugraha di ikuti kekehan kecil malah terdengar seperti ejekkan bagi Axel.


Axel tersenyum kecut, dia merasa sedikit heran dengan sikap Papa Nugraha yang terlihat santai. Berbeda sekali dari tadi.


"Bella itu emang anaknya gitu, dari dulu paling susah di dekati. Banyak orang menilai kalau dia itu sombong, tapi sebenarnya dia tidak begitu. Dia hanya butuh sedikit waktu untuk menjadi lebih dekat dengan orang lain" ujar Papa Nugraha seraya menerawang jauh.


"Dari kecil aku selalu menuruti semua keinginannya. Mungkin hal itu membuat Bella menjadi orang yang manja bahkan hingga dewasa. Kadang aku suka merindukan sifatnya yang kekanakan" Papa Nugraha tertawa kecil mengingat Bella yang suka merayunya jika menginginkan sesuatu. Namun sudut matanya terlihat basah.


"Waktu pertama kali dia lahir kedunia ini, Aku langsung berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjaga dan melindunginya. Tapi sekarang putri kecilku itu sudah menikah. Dan sekarang dia adalah tanggung jawabmu sebagai suaminya. Bisakah aku meminta tolong sesuatu padamu?" ujar Papa Nugraha dengan suara serius. Matanya menatap Axel dengan tajam.


Axel masih terdiam. "Apa itu Om? Kalau aku bisa membatu aku pasti akan melakukannya" ucap Axel dengan pasti.


"Tolong jaga putriku seperti aku menjaganya selama ini. Jika dia berbuat salah, tolong maafkan kesalahannya. Jangan pernah menyakitinya. Jika suatu saat kau sudah bosan dan tak menyukainya. Kembalikan saja dia kepadaku" Ucap Papa Nugraha lagi sorot matanya terlihat sendu. Dia menatap Axel dengan harapan.


Axel melihat hal itu. "Aku tidak akan menyakitinya, dan aku akan selalu menjaganya om" Axel menjawab dengan nada paling serius yang pernah ia ucapkan.


Papa Nugraha tersenyum lega. Menatap wajah menantunya yang begitu serius. Dia percaya Axel bisa menjaga putrinya. Sejak pertama kali melihat Axel di rumahnya, dia punya penilaian sendiri tentang pria itu. Dia gerik, cara bicara dan sorot matanya, Papa Nugraha tau jika Axel orang yang tepat untuk Bella. Meskipun Axel masuk ke keluarga ini dengan cara yang salah. Papa Nugraha tak pernah benar-benar membencinya.


"Papa percaya padamu"


****


Happy Eid Mubarak untuk para readers..


Maaf untuk keterlambatan up-nya.


Happy Reading..


TBC