Aster Veren

Aster Veren
Episode 97




-Nadin-


"Selamat," gumamku ketika sampai di depan pintu kelas dengan napasku yang memburu setelah berlari dari asrama menuju akademi.


... hah, aku merasa sudah menggunakan seluruh energi kehidupanku. Sangat melelahkan, batinku masih dengan napasku yang memburu.


"Padahal hanya menyusup ke kamar Kalea untuk mengembalikan buku hariannya diam-diam, tapi rasanya sangat lelah. Ingin membolos saja." Lanjutku sambil melihat jam tanganku yang sudah menunjukan pukul 06:53 pagi.


Tujuh menit lagi bel masuk akan segera berbunyi. Lalu ku benarkan seragamku yang sedikit berantakan akibat berlarian tadi. Dan ku atur napasku sebaik mungkin sebelum meraih pintu kelas dihadapanku dan membukanya dengan sangat hati-hati, memeriksa suasana di dalam kelas. Takutnya pak Vito sudah tiba sebelum bel berbunyi, seperti kejadian beberapa hari lalu.


Aman, batinku saat tak mendapati pak Vito dimanapun.


"Tapi ... Kenapa suasananya sangat aneh seperti ini?" Gumamku memperhatikan semua orang yang sudah duduk membisu di tempatnya masing-masing. Lalu ku tutup kembali pintu kelas dibelakangku sebelum melangkahkan kaki ku menuju tempat duduk ku.


"Pagi Nadin." Sapa Tia dengan senyum lebarnya saat aku sampai di tempatku.


"Pagi," jawabku sambil meletakan tas sekolahku di atas meja.


"Kenapa kau sangat terlambat pagi ini?" Tanyanya sedikit memiringkan kepalanya dengan tatapan penuh tanya.


"Belum terlambat, masih ada tujuh menit lagi sebelum bel berbunyi." Jawabku setelah menghela napas letih dan mendaratkan pantatku di atas kursi.


"Ngomong-ngomong hari ini suasananya agak berbeda dari biasanya, ada apa?" Lanjutku mengecilkan suaraku sambil memperhatikan punggung semua orang. Mereka semua terlihat tegang kecuali Teo, Sean, Hendric, Aster dan anak perempuan disampingku–Tia.


"Sebenarnya ...," bisik Tia sambil mendekatkan kursinya dengan kursi ku, lalu tangannya mulai menutupi mulutnya yang sudah mendekat ke telingaku. Dan aku langsung membenarkan posisi duduk ku, bersiap untuk mendengarkan bisikannya.


"Tadi, semua orang di kelas membicarakan soal gosip kemarin malam. Mereka juga menjauhi Sean secara terang-terangan setelah menyindir dia dengan sebutan anak pembunuh, lalu–" Lanjutnya terpotong saat aku berteriak "Apa?!" tanpa sadar, namun dengan cepat Tia menutup mulutku dan mengacungakan jari telunjuknya didekat bibirnya.


"Kau benar-benar membuatku terkejut!" Ucapnya sambil melepaskan tangannya dari mulutku.


"Ma–maaf, aku juga terkejut mendengar ceritamu," tuturku membuatnya mendelik sebal padaku. Mungkin karena aku memotong ceritanya dan membuat perhatian semua orang tertuju pada kami selama beberapa saat.


"Lalu apa yang terjadi? Mereka tidak mungkin langsung membisu seperti itu kalau tidak ada yang menghentikannya kan?" Lanjutku kembali berbisik, ingin mengetahui cerita selanjutnya.


"Lalu sekumpulan anak perempuan membela Sean seperti kemarin malam dan membuat keributan lagi. Kau tau kan anak perempuan mempercayai gosip tentang keluarga Veren yang menjebak keluarga Alaric?" Jawabnya kembali menceritakan kelanjutannya sambil berbisik antusias.


Aku bingung harus menanggapi Tia seperti apa, apa aku harus kesal karena dia sangat menikmati bergosip seperti saat ini. Atau harus berterima kasih karena sudah memberikan informasi padaku?


Selain itu, aku merasa saat ini nyawaku sedang terancam. Mengingat aku sendiri yang menyebarkan gosip itu untuk menghancurkan Kalea di waktu yang tepat. Tapi setelah mendapat ancaman dari Carel dan Teo, aku terpaksa harus menghentikan aliran gosip itu.


Padahal aku tinggal membuat suasana bagus disaat kesabaran Kalea habis dan mengungkapkan identitas sebenarnya pada semua orang. Tapi harus ku hentikan demi keselamatanku dan ... untuk menebus semua kesalahanku padanya. Batinku mengingat isi surat yang diberikan Teo padaku.


"Intinya anak laki-laki itu membela Aster kan?" Gumamku saat kesadaranku kembali membuat Tia menganggukan kepalanya dengan mantap. Sudah jelas mereka membela Aster, anak itu kan dikenal sebagai putri tunggalnya tuan Ansel. Dia juga dijuluki sebagai perempuan paling cantik di akademi karena manik ungu yang dimilikinya.


"Terus saat mereka sedang berdebat, Aster dan Teo datang. Mereka mendengar keributan itu dan membuat mereka semua bungkam, kau tau kan ancaman Teo? Dia langsung menatap tajam semua orang dihadapannya, sedangkan Aster, dia–" Jelasnya lagi terpotong oleh kedatangan pak Vito bersamaan dengan bel masuk yang berdering, membuatku menghela napas kasar bersamaan dengan Tia yang juga ikut menghela napas kesar dengan ekspresi kesalnya, mungkin karena ceritanya harus dia jeda sampai jam istirahat nanti.


***


Setelah lama bersabar menunggu bel istirahat berdering, akhirnya telingaku bisa mendengar suara indah itu bersamaan dengan kepergian pak Vito dari kelas kami.


Ini anak kenapa? Batinku merasa takut dan merinding saat melihat perubahan sikap Tia.


"Lanjut? Mau dilanjut gak yang tadi pagi?" Tanyanya membuatku tak bisa bekata-kata untuk sesaat.


"A–apa?"


"Cerita tentang keributan tadi pagi, bagaimana saat semua orang membisu ketika mendengar ucapan Aster,"


"Ah~" Gumamku mengingat pembicaraan kami pagi ini, aku hampir lupa kalau tidak diingatkan.


Dan tanpa ku sadari, sepertinya Tia sangat suka bergosip, untunglah dia bisa bersabar menutup rapat mulutnya dan menunggu sampai jam istirahat tiba. Dan untungnya juga dia tidak mengajak ku mengobrol selama kelas berlangsung, aku benar-benar sangat terkesan dengan tingkat kesabarannya itu. Tak banyak orang yang bisa menahan diri sepertinya. Batinku sambil menghela napas lega.


"Ya–iya, lanjut." Jawabku membuatnya semakin antusias, "tapi sambil jalan ke kantin ya." Lanjutku merasakan lapar diperutku.


"Oke!" Ucapnya penuh semangat sambil bangkit dari tempat duduknya, masih dengan matanya yang berbinar.


"... sampai mana kita bicara pagi ini?" Tanyaku berusaha mengingat kembali percakapanku dengan Tia pagi ini.


"Aster dan Teo mendengar keributan saat tiba dikelas, kedatangan mereka membuat semua orang bungkam saat Teo menginterupsi pertengkaran kelompok perempuan dengan kelompom laki-laki dengan tatapan tajamnya, sedangkan Aster, dia menyudutkan kelompok perempuan dengan pemikirannya." Jelasnya sambil berjalan disampingku.


"Benarkah?" Tanyaku membuatnya segera menoleh padaku dan mengangguk antusias saat mata kami bertemu.


"Ya, kau tau apa yant dikatakan Aster saat itu?"


"Apa?"


"Dia bilang, "orang bodoh mana yang mau menjebak keluarga orang lain dengan mengorbankan salah satu nyawa keluarganya? Dan lagi, apa tidak ada pembicaraan yang lebih bermanfaat lagi untuk kalian bahas? Kenapa ribut sekali membicarakan masalah keluarga orang lain? Padahal bukan siapa-siapa, menyebalkan". Begitu, dia benar-benar keren. Aku sampai dibuat terpana olehnya, sorot matanya saat itu juga sangat cantik. Manik ungunya terlihat mengkilap saat menatap sinis semua orang. Aku jadi ingin berteman dekat dengannya Nadin." Lanjutnya panjang lebar dengan ekspresinya yang semakin berseri-seri.


Baru pertama kali aku berteman dengan orang aneh seperti anak ini. Bisa-bisanya dia terpana pada orang yang sedang kesal? Tidak kah itu aneh? Ya, ditambah lagi dia terpana pada anak perempuan.


Tapi masih bisa dimengerti kalau anak itu terlihat cantik, imut dan menggemaskan. Tapi ini? Yang ditunjukan bukan ekspresi seperti yang ku sebutkan. Dan lagi bukankah akan lebih normal jika dia terpana pada lawan jenisnya? Seperti kebanyakan orang yang terpana pada sosok laki-laki tampan dan keren.


"Ah, Aster!" Ucapnya dengan ekspresi gembiranya saat kami memasuki kantin.


Ku lihat dia sudah berlari mendekati meja Aster dengan tergesa-gesa. "Tidak kah dia harus ikut mengantre dulu denganku?" Gumamku sambil melihat antrean panjang disisi lainnya.


"Ya, terserahlah. Aku lapar, jika dia merasa lapar sepertiku. Dia juga akan ikut mengantre kan?" Lanjutku sambil berjalan kearah antrean setelah melirik meja Aster sekilas.


Tampaknya dia juga sedang bersenang-senang dengan Teo, Carel dan Kalea. Tapi Tia malah mengganggu mereka ..., batinku sambil menghela napas letih saat melihat barisan antrean yang sangat panjang ini.


"Harusnya tadi aku bergegas ke kantin dulu, baru dengarkan cerita Tia." Sesalku kembali menghela napas letih.


.


.


.


Thanks for reading...