Aster Veren

Aster Veren
Episode 56




-Aster-


Waktu sudah menunjukan pukul 09:45 malam, semua orang sudah beristirahat dikamarnya masing-masing. Begitupun dengan Khael yang sudah tertidur dikamar paman Arsel bersama kak Wanda.


Kak Hana juga sudah beristirahat dikamar pelayan setelah mengantar kepulangan Carel dan paman Tomi ke depan pintu rumah sebelum menguncinya dari dalam.


"Nenek," gumamku mengingat hari-hariku saat tidur bersama nenek sebelum kepergianku ke Singapura. Malam itu nenek banyak menceritakan soal ayah dan paman, tapi sekarang semua itu hanya tinggal kenangan.


Bicara soal ayah, tiba-tiba saja aku ingin bertemu dengannya karena sejak pagi aku belum bertemu dengan ayah.


"Apa papa masih di ruang kerja nenek? Ku harap papa lebih banyak memperhatikan waktu istirahatnya." Lanjutku sambil berjalan keluar kamar dengan perasaan khawatirku.


"Nona?" Suara paman Rigel yang baru keluar dari ruang kerja nenek mengejutkanku.


"Apa papa masih didalam?" Tanyaku langsung pada intinya.


"Ya, tuan masih bekerja didalam." Jawab paman Rigel membuatku bergegas masuk kedalam ruangan kerja nenek yang mungkin nantinya akan menjadi ruang kerja ayah untuk kedepannya.


"Papa?" Ucapku sambil menutup kembali pintu ruang kerja itu.


"Aster, kemarilah." Suara ayah terdengar letih, "kenapa belum tidur?" Lanjutnya saat aku sampai disamping ayah.


"Papa sendiri kenapa belum tidur?" Jawabku balik bertanya bersamaan dengan tangannya yang sudah meraih tubuhku kedalam pangkuannya.


"Pa–papa, Aster sudah besar." Ucapku merasa malu karena masih diperlakukan sebagai anak kecil oleh ayah.


"Bagi papa kamu itu masih kecil, 13 tahun itu belum bisa disebut besar." Jelas ayah membuatku kesal saat melihat ekspresi datarnya itu.


"Sudahlah, karena kamu datang sebaiknya kita tidur sekarang." Lanjutnya sambil melepaskanku, tapi tak lama kemudian ayah langsung memangku tubuhku dan menggendongku menuju kamarnya setelah bangkit dari posisi duduknya.


"Padahal tubuhku berat, papa masih saja suka menggendong Aster," gumamku sambil melingkarkan kedua tanganku dibahu ayah, lalu membenamkan kepalaku dibahunya.


"Apa kau bilang sesuatu?" Tanya ayah membuatku menggelengkan kepalaku dengan cepat.


Klek!


Terdengar suara pintu yang dibuka membuat langkah ayah terhenti, "tuan?" Suara paman Rigel membuatku enggan menoleh padanya, entahlah rasanya aku akan bertambah malu jika menatapnya. Saat ini saja aku merasa malu karena paman Rigel melihatku digendong ayah.


Meski mungkin hal ini sudah biasa baginya, karena paman Rigel sudah sering melihat ayah menggendongku saat kami berada di Singapura. Tapi bagiku hal ini sangat memalukan, bisa saja orang-orang menganggapku anak yang manja.


Entah kenapa aku teringat dengan Carel sekarang, jika dia melihatku seperti ini. Dia pasti akan mengejek ku sampai puas.


"Untuk hari ini kau boleh beristirahat, aku juga akan pergi beristirahat. Sampai besok." Tutur ayah kembali melanjutkan langkahnya melewati paman Rigel yang masih berdiri didekat pintu saat aku diam-diam melirik kearah paman Rigel untuk melihat ekspresi yang dia buat saat melihatku.


"Baik, selamat beristirahat tuan." Ucap paman sambil membungkukan tubuhnya sedikit saat melihat ayah pergi dari hadapannya, dia juga tersenyum ramah saat mataku bertemu tatap dengannya.


"Haah~ papa," ucapku setelah menghela napas berat sambil merasakan panas diwajahku.


"Ya?" Jawab ayah merespon ucapanku.


"Lain kali jangan pernah menggendongku dihadapan orang lain." Jelasku kembali menghela napas berat.


"Sejak kapan putriku punya malu seperti ini?" Tanya ayah membuatku terkejut.


"Ugh, pu–punya malu? Tentu saja Aster punya malu dari lahir." Jawabku melantur sambil menjambak rambut bagian belakang ayah sedikit.


"Pft, aduh! Maksudku, kau kan biasanya berlarian menghampiriku saat melihatku senggang. Lalu tanpa tau malu kamu meminta untuk digendong saat kakimu sakit karena berjalan lama. Karena itu kau tidak bisa berjalan jauh dan fisikmu jadi lemah–" Jelas ayah setelah mengaduh karena jambakanku dan membuatku bertambah kesal saat mendengar ucapannya itu.


"Fisik ku tidak selemah yang papa pikirkan tau!" Ketusku membela diri segera memotong perkataan ayah sambil melepaskan jambakanku.


"Benarkah?" Tanya ayah dengan tatapan tak percayanya yang membuatku tertekan saat mata kami bertemu tatap.


"Katanya tidak mau digendong, kenapa sekarang malah terlihat menikmatinya ya?" Tanya ayah membuatku malu setengah mati, ya biarpun begitu aku benar-benar suka digendong oleh ayah. Rasanya sangat nyaman dan hangat, apalagi saat tangan besarnya memeluk tubuhku dengan lembut, rasanya kasih sayang ayah mengalir kedalam tubuhku.


"Ngomong-ngomong kau sudah bertemu dengan Khael?" Lanjut ayah mengalihkan pembicaraan.


"Ya, dia benar-benar tampan dan menggemaskan." Jawabku kembali bertemu tatap dengan manik merah ayah saat menoleh padanya.


"Benarkah?" Tanyanya kembali fokus pada langkahnya menuju kamar ayah.


"Aku suka dengan pipi chubby-nya." Jawabku tak bisa berhenti tersenyum saat mengingat tingkah menggemaskannya sore tadi.


"Harusnya pipimu juga bisa se-chubby itu." Gumam ayah membuat senyumanku memudar dan menatapnya dengan tatapan dinginku.


"Wajahku bisa terlihat jelek jika hanya bagian pipiku saja yang berisi. Bisa-bisa setiap hari Carel mencubit pipiku saking gemasnya, hari ini saja dia sudah mencubitku berapa kali?" Tuturku menjelaskan isi pikiranku setelah mendengus sebal.


"Hhaha... sepertinya dia sangat menyukaimu ya." Tutur ayah dengan senyuman tipisnya yang entah kenapa terlihat dingin.


"Papa bisa percepat langkah kakinya? Kalau papa berjalan selambat ini kapan kita akan pergi tidur?" Ucapku saat menyadari pergerakan ayah yang begitu lambat.


"Kau menyadarinya?" Tanya ayah membuatku kembali membenamkan wajahku dibahunya, lalu ku rasakan sentuhan hangat ayah yang mengelus kepalaku dengan lembut, membuat sudut bibirku terangkat.


"Papa jangan berpikir macam-macam ya ...." Gumamku mengingat kejadian lama saat mendapatkan teman baru di Singapura, ayah benar-benar mengintimidasinya dengan tatapan tajamnya.


Padahal dia masih kecil, tapi ayah tidak pernah pandang bulu untuk mengintimidasi orang-orang yang dekat denganku. Aku baru tau kalau papa seprotektif ini padaku. Batinku sambil menghela napas letih.


"Apa maksudmu?" Tanyanya membuatku kembali menggelengkan kepalaku dan tersenyum tipis pada ayah saat mataku kembali bertemu tatap dengan manik merah ayah.


***


-Arsel-


"Kau belum tidur?" Suara Wanda mengejutkanku yang tengah melamun di dekat jendela kamarku.


"Ada apa?" Lanjutnya sambil mengikat rambutnya yang terurai sebelum meninggalkan tempat tidurnya dan berjalan menghampiriku.


"Aku hanya kepikiran sesuatu." Jawabku mencoba untuk menunjukan senyuman terbaik ku.


"Tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja dihadapanku Arsel. Kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu?" Tuturnya membuatku terkekeh saat melihat ekspresi datarnya.


"Yah, kau benar. Tidak ada gunanya aku menyembunyikan hal ini darimu," ucapku setelah puas tertawa.


"Menyembunyikan apa?" Tanyanya setelah duduk disampingku dan menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.


"Soal kematian ibu," jawabku berusaha mengendalikan amarahku yang meluap.


Entahlah, rasanya aku sangat kesal dan marah saat mendengar penjelasan Tomi dan Eric siang tadi. Bahkan dari semua hal yang bisa ku lakukan hanya menuruti perkataan kakak.


Biar bagaimanapun penerus keluarga Veren selanjutnya adalah kakak karena aku sudah keluar dari rumah ibu dan tidak pernah mau ikut andil dalam mengurus perusahaan keluarga.


Jadi bagiku yang melihat sendiri bagaimana perjuangan kakak dalam mengurus semua perusahaan keluarga dan kepetingan keluarga. Aku hanya bisa menurut patuh saat kakak mengatakan untuk menunggunya.


Aku jadi tidak bisa bergerak bebas, batinku sambil mempererat kepalan tangan kananku yang tidak digenggam oleh Wanda.


"Apa maksudmu?" Tanyanya meruntuhkan lamunanku, membuatku menoleh pada istriku yang sudah menunjukan ekspresi terkejutnya.


.


.


.


Thanks for reading...