Aster Veren

Aster Veren
Episode 237




-Aster-


Byur!


Cipratan air berhasil membuat pakaianku basah kuyup begitupun dengan orang lain yang ikut bermain dalam wahana air bersamaku.


Ku lihat Carel juga sudah basah kuyup karena cipratan air saat perahu yang kami tumpangi berseluncur dengan cepat keluar dari terowongan.


"Hah~ tau begini aku akan menyiapkan pakaian ganti." Gumamnya sambil menyibak rambutnya kebelakang.


"Haha... sepertinya kita harus membeli pakaian ganti." Tuturku setelah puas tertawa, rasanya sangat lega saat kami berhasil keluar dari terowongan mengerikan itu.


"Benar. Ayo turun dan cari pakaian ganti. Pasti ada yang menjualnya di sekitar sini kan?" Angguknya sebelum turun dari atas perahu, lalu aku menyusulnya setelah Carel menjulurkan tangannya untuk membantuku turun.


Setelah mencari penjual pakaian, akhirnya kami memutuskan untuk mengganti pakaian di toilet umum. Karena yang dijual hanya pakaian, aku juga hanya bisa mengganti atasanku meski celanaku sedikit basah dibagian bawahnya.


"Apa terlalu kebesaran ya?" Gumamku melihat pantulan diriku di cermin dengan kaos polos berwarna biru yang ku kenakan. Lalu ku masukan ujung pakaian depanku ke dalam celana dan membiarkan bagian belakangnya menjuntai.


Setelah selesai dengan pakaian dan rambutku, aku putuskan untuk pergi keluar karena sudah terlalu lama aku di dalam toilet.


"Sudah selesai?" Tanya Carel menarik perhatianku.


Lihatlah pakaian yang dia kenakan, terlihat cocok di tubuhnya. Meski aku malu mengakuinya, tapi pakaian kami saat ini adalah pakaian couple yang dibeli oleh Carel. Meski kami berkeliling untuk mencari penjual pakaian yang lain, itu akan tetap sia-sia karena hampir semua penjual di tempat ini hanya menjual pakaian couple.


"Kemarilah dan pegang ini sebentar." Lanjutnya memberikan tas Tote bag yang dia pegang ke tanganku, lalu ku lihat Carel meraih tanganku dan melipat lengan baju yang menutupi tanganku karena kepanjangan.


Carel melipatnya hingga ke pergelangan tangan, "sepertinya aku membeli pakaian yang terlalu besar untukmu ya?"


"Tidak apa-apa, ini bagus karena hangat." Ucapku bersamaan dengan Carel yang sudah selesai dengan pekerjaan melipat lengan bajuku.


"Kalau begitu kita pergi cari makan dulu baru lanjut bermain. Bagaimana menurutmu?"


"Setuju. Aku juga sudah lapar, sudah waktunya makan siang juga." Angguk ku menyetujui usulannya itu.


"Baiklah, ayo pergi." Ucapnya mengambil tas Tote bag miliknya yang ku pegang, bahkan dia juga mengambil tas Tote bag milik ku yang kami beli bersama dengan pakaian kami. Lalu tangan satunya segera meraih tanganku dan menggandengnya.


Rasanya menyenangkan berjalan dengan bergandengan tangan. Lalu meski permainan yang kami mainkan tidak seekstrim saat aku bermain wahana dengan Sean. Entah kenapa, aku malah merasa puas. Padahal waktu itu juga aku puas karena banyak berteriak.


"Kita mau makan apa?" Tanya Carel menoleh padaku dan aku juga menoleh padanya saat dia mulai berbicara.


"Yang enak."


"Iya yang enak itu makan apa?"


"Tidak tau."


"Kamu ini ...," gumam Carel setelah menghela napas dan kembali fokus pada langkahnya.


"Aku mau makan yang manis, tapi juga mau yang asin, lalu yang pedas juga sepertinya enak. Atau yang dingin?" Tuturku berusaha mengurangi beban Carel dalam memikirkan makanan apa yang akan kami makan, tapi dilihat dari reaksinya sepertinya itu malah semakin membuatnya kesulitan.


"Untung sayang ...," ucapnya membuatku bingung saat dia tersenyum setelah mengatakan hal itu.


"Apa maksudnya itu?"


"Tidak ... bagaimana jika kita makan burger?" Jawabnya segera mengalihkan pembicaraan, lalu ku lihat Carel sudah menatap jauh ke arah yang tidak bisa ku lihat. Apa dia mengatakannya setelah melihat penjual burger?


"Yah tidak masalah, aku juga ingin mencobanya. Apa itu enak?"


"Sangaaaat enak."


"Sungguh?"


"Iya." Angguknya membuatku bersemangat dan refleks melepaskan genggaman tangan Carel sebelum berlari meninggalkannya.


"Ayo pergi!"


"Tunggu! Aster, kembali!" Teriak Carel membuatku menoleh sekilas kearahnya tanpa menghentikan langkahku. Ku lihat dia sudah berlari mengejar ku dengan ekspresi paniknya.


"Kamu!" Geram Carel bersamaan dengan tangannya yang sudah menarik pergelangan tanganku, membuat langkahku terhenti dan refleks membalikan badanku menghadap kearahnya, "jangan seenaknya berlari meninggalkanku seperti itu. Bagaimana kalau kita terpisah karena kerumunan orang-orang di sini?" Lanjutnya setelah mengendalikan napasnya.


"Hehe maaf, aku terlalu bersemangat." Ucapku merasa bersalah karena sudah membuatnya cemas dengan tindakanku yang seenaknya.


"Aku tidak akan melakukannya lagi, jadi berhentilah memasang ekspresi seperti itu. Sekarang ayo kita makan!" Lanjutku sambil meraih wajah Carel.


"Iya, berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi. Jangan pernah jauh-jauh dariku lagi." Angguknya dengan lesu membuatku tak bisa berkutik.


Aku bahkan tidak mengerti kenapa suasana hatinya jadi memburuk hanya karena aku berlari setelah melepaskan genggaman tangannya. Padahal aku hanya ingin sedikit mengusilinya, tapi sepertinya hal itu tidak baik untuk Carel.


Aku ingin menanyakannya, tapi sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk itu. Batinku yang sudah kembali berjalan bersama dengan Carel.


***


"Kenyangnya ...," gumamku setelah menghabiskan air minumku dan burger yang ku pesan.


"Bagaimana? Apa rasanya sesuai dengan bayanganmu?" Tanya Carel yang sudah menyelesaikan makannya terlebih dulu dariku.


"Iya, sangat enak." Angguk ku sambil tersenyum lebar padanya.


"Kalau begitu mau main apalagi kita? Apa ada wahana yang masih mau kamu mainkan?" Tanyanya lagi masih menopang dagunya dengan tangan kanannya selagi tangan kirinya bersedekap diatas meja.


"Hmm ... kalau dipikir-pikir aku sudah mencoba semua wahana yang aku mau. Tapi Carel, kamu belum kan? Apa ada wahana yang mau kamu mainkan?"


"Tidak ada. Jika aku main kamu tidak akan bisa ikut bersamaku kan? Aku tidak mau kamu menungguku sendirian, dan aku juga tidak mau meninggalkanmu." Jawabnya benar-benar tidak terduga.


Apa—apa jangan-jangan Carel juga suka bermain wahana ekstrem? Ya sih kalau dilihat dari wajahnya dia tidak akan takut bermain wahana ekstrem. Ternyata dia juga sama seperti Sean ya? Batinku sebelum menoleh ke arah roller coaster saat mendengar teriakan histeris orang-orang yang menaikinya.


"Sepertinya aku juga ingin mencobanya." Ucapku membuatnya mengenyit bingung.


"Apa?"


"Naik roller coaster." Jawabku sambil tersenyum lebar padanya.


"Kamu serius? Memangnya kamu berani?"


"Itu ... kamu kan ada bersamaku."


"Hee ... baiklah, ayo pergi. Sebelum itu kita harus pergi ke tempat lain untuk menyimpan barang-barang kita." Tuturnya setelah menunjukkan senyuman tipisnya dan menunjukan tas tote bag yang tersimpan di kursi kosong disampingnya.


Setelah pergi ke tempat penyimpanan barang, kami pun memutuskan untuk pergi ke area wahana roller coaster. Tapi tidak seperti bayanganku, ternyata antreannya sangat panjang. Aku bahkan tidak mengerti kenapa banyak sekali orang-orang yang ingin mencoba permainan mengerikan itu? Bukankah lebih asik bermain wahana yang lebih santai?


Ku lirik sosok Carel yang berdiri disampingku, menatap layar ponselnya dengan serius.


"Ada apa?" Tanyaku menarik perhatiannya, ku lihat dia sudah memasukan kembali ponselnya kedalam saku celananya.


"Tidak ada, aku hanya melihat jam digital di ponselku. Sepertinya akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menaiki roller coaster."


"Iya, antreannya sangat panjang. Aku bahkan sangat terkejut dengan orang-orang yang ingin mencoba wahana itu. Apa bagusnya bermain roller coaster yang menakutkan itu?"


"Kamu sendiri kenapa ingin mencobanya?" Tanya Carel membuatku terkejut. Tak ku sangka dia membalikan pertanyaannya padaku.


"I—itu ... karena penasaran." Dustaku tak ingin membuat Carel kecewa. Mana mungkin aku bilang alasannya padanya kan?


"Sungguh? Bukan karenaku kan?"


"Eh? Bu—kan."


"Baguslah kalau memang begitu. Aku akan ikut bersenang-senang jika kamu merasa nyaman." Tuturnya sambil menunjukan senyuman tipisnya lengkap dengan tatapan hangatnya.


.


.


.


Thanks for reading...