
-Aster-
Pagi ini satu persatu siswa-siswi di asrama sudah kembali ke kediaman mereka untuk menikmati waktu liburan sekolah mereka yang berlangsung selama dua pekan.
Dan aku, aku masih bermalas-malasan di asrama. Padahal Kalea, Nadin dan Tia sudah pergi beberapa jam yang lalu.
"... apa aku tidak usah pulang saja ya?" Gumamku sambil berdiri didepan jendela kamar, menikmati hembusan angin yang bertiup lembut menerpa wajahku.
Ku lirik kembali jam dinding yang sudah menunjukan pukul 09:15 pagi sambil menghela napas berat sebelum memperhatikan langit biru cerah pagi ini.
Tok, tok tok!
Terdengar suara pintu kamar yang di ketuk dari luar, menghancurkan suasana hatiku yang mulai membaik. Ya karena selama dua hari ini suasana hatiku sangat kacau saat mengetahui kondisi ibunya Carel dari Teo. Bahkan malam festival sebelum Teo memberitau ku soal Carel yang kembali ke kediamannya, aku dipaksa untuk meminta maaf pada Carel oleh Kalea dan Nadin setelah aku menceritakan rencanaku untuk membuatnya jauh dariku. Mereka benar-benar marah besar saat mendengar penjelasanku, padahal semua itu ku lakukan demi Carel.
Dengan malas ku buka pintu kamar dihadapanku, menampilkan sosok ibu asrama yang sudah tersenyum lembut padaku. "Jemputanmu sudah tiba Aster."
"Eh? Siapa?" Tanyaku merasa terkejut saat mendengar ibu asrama memberitauku bahwa jemputkanku sudah tiba. Padahal aku tidak diberi tau akan dijemput.
"Pria itu bilang namanya Hans, bawahan ayahmu."
"Paman Hans?"
"Yaa,"
"... ka–kalau begitu aku akan segera turun." Ucapku kemudian setelah membisu selama beberapa saat, lalu dengan cepat aku kembali ke kamar untuk membawa barang-barang ku yang memang sudah ku kemasi sejak semalam. Itupun dengan paksaan Kalea yang turut membantuku.
Saat ku bilang tidak mau pulang, dia memaksaku untuk kembali ke rumah dan memintaku untuk beristirahat selama dua pekan.
Tapi kalau diingat lagi, aku sendirian kan? Setelah masuk ke rumah hantu itu aku sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak. Lalu sekarang aku harus pulang dan ... aku sendirian di rumah, batinku berusaha menepis semua imajinasi buruk ku yang mulai menghantuiku.
"Sudah selesai?" Tanya ibu asrama yang ternyata masih menungguku di luar kamar.
"Sudah." Jawabku setelah keluar kamar dan berhadapan dengannya.
"Mari ibu bantu,"
"Ah! Ti–tidak perlu repot-repot, aku bisa–"
"Tidak apa-apa. Ibu tidak merasa direpotkan. Ngomong-ngomong, selamat ya Aster karena sudah mendapatkan peringkat satu umum di tahun ajaran pertamamu di akademi. Ibu benar-benar bangga padamu." Tuturnya membuatku merasa malu setengah mati.
Aku bahkan tidak pernah menyangka akan mendapatkan peringkat satu umum di akademi–di gedung tempatku belajar maksudnya. Karena di gedung tempat Carel belajar. Dialah yang mendapatkan peringkat satu umumnya.
Padahal aku tidak terlalu mati-matian dalam belajar, dan aku pikir semua teman-temanku juga sangat pintar dan pekerja keras.
***
Setelah berpamitan dengan ibu asrama, aku langsung pergi bersama paman Hans menuju kediaman Veren.
"Ngomong-ngomong paman, apa papa memberitahumu kapan dia akan kembali?" Tanyaku memecah keheningan di dalam mobil.
Ku lihat paman Hans menatapku dipantulan kaca spion sesaat sebelum dia menjawab pertanyaanku, "tuan bilang akan berada di Singapura untuk sementara waktu. Setelah pekerjaannya selesai tuan akan segera kembali. Beliau bilang tidak ingin melewatkan waktu liburan nona, mungkin secepatnya tuan akan segera kembali." Tuturnya masih sibuk dengan kemudinya.
"Hmm, begitukah? Lalu apa ada kabar dari paman Ansel atau Khael?"
"Tidak ada nona."
Jadi belum ada surat masuk dari mereka ya? Pesan singkat, telpon bahkan email pun tidak ada. Apa kabar mereka baik-baik saja ya?
"Selamat datang kembali nona," sambut beberapa pelayan rumah yang sudah berbaris di depan pintu saat aku memasuki rumah membuatku sedikit terkejut. Padahal sambutan yang ku terima hari ini bukan sambutan yang pertama kali ku terima lagi, tapi aku tetap merasa tidak nyaman dan belum terbiasa dengan perlakuan mereka padaku.
"Ah, ya–terima kasih. Aku akan pergi beristirahat." Tuturku segera pergi melewati sekumpulan anak tangga menuju kamarku.
***
-Carel-
"Jadi bisa jelaskan semuanya padaku?" Tanyaku berusaha menahan emosiku saat mendengar pembicaraan ayah dan kakek secara tidak sengaja.
"Carel? Kau–" Gumam ayah dengan ekspresi terkejutnya.
"Jelaskan padaku!" Ulangku menatap manik ayah dan kakek secara bergantian.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kau fokus saja pada pendidikanmu dan tunanganmu itu!" Tutur kakek membuatku semakin mengeratkan kepalan tanganku saat melihat sorot matanya yang terlihat dingin.
Sebenarnya apa yang kakek pikirkan sampai-sampai dia melakukan semua ini padaku? Apa kesepakatan kita sebelumnya tidak berarti sampai-sampai dia tidak mempercayai ku sedikitpun?
Aku serius belajar di akademi dengan seluruh tekadku, apa dia pikir aku akan mempermalukan diriku jika rumor tentangku beredar? Dan lagi kenapa keluargaku harus tunduk pada orang yang tingkatannya berada dibawah kami?
"Apa kesepakatan kita tidak berarti?" Tanyaku setelah mengumpulkan seluruh keberanian ku untuk tetap berbicara setenang mungkin.
"Apa maksudmu?"
"Bukankah kita sudah sepakat? Kau akan mengawasi ku saja?"
"Benar."
"Lalu kenapa kau melakukan perjodohan sampah ini? Itupun tanpa sepengetahuanku? Apa kau sangat takut pada kakek tua pemilik akademi itu? Ah bukan, kau hanya takut namaku mencoreng nama baik keluarga ini lagi kan?" Tuturku membuat raut wajah kakek tidak enak dipandang, terutama tatapan kesalnya yang sangat menusuk.
"Jaga ucapanmu itu Carel!" Seru ayah sedikit membentak.
"Yang ku katakan itu memang benar kan? Kenapa aku harus menjaga ucapanmu jika kalian saja tidak mau mendengarkanku dan menghargai keputusanku? Kalau nama keluarga sebegitu pentingnya bagi kalian daripada aku sebagai putra dan cucu kalian, lebih baik kalian membuang ku saja!" Teriak ku lepas kendali, aku benar-benar marah sekarang.
Rasanya sangat menyesakan hidup dalam keluarga yang penuh dengan peraturan dan selalu mementingkan nama baik dan pekerjaan ketimbang kebahagiaan keluarganya.
"Cukup Carel! Kau sudah besar dan aku yakin kau sangat pintar. Cobalah untuk memahami situasi kami saat ini." Tutur ayah lagi-lagi menunjukan tatapan tajamnya. Padahal dia bilang tidak membenciku, tapi tatapan itu?
"... haha, mengerti? Kalian saja tidak pernah berusaha mengerti, kenapa aku harus?"
"Anak ini!" Geram kakek bersamaan dengan kedatangan Dwi yang tiba-tiba membuka pintu ruang kerja kakek dengan sangat kencang.
"Ah–maaf. Apa kalian sedang berbicara serius?" Tanyanya sambil menunjukan senyuman lebarnya yang menyebalkan.
"Hah~ tidak." Jawab ayah setelah menghela napas letihnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Berusaha mengembalikan ekspresi wajahnya yang sempat memerah kesal karena ku.
"Kalau begitu apa aku bisa membawa anak itu? Ada yang ingin ku katakan padanya." Tuturnya sambil menunjuk ku dengan telunjuknya.
.
.
.
Thanks for reading...