
-Aster-
Ku hela napasku setelah melihat Sarah pergi dengan di jemput oleh Dean. Rasanya aku bisa bernapas dengan lega sekarang, padahal beberapa waktu lalu aku sangat kesulitan untuk bernapas karena Sarah dan Tami.
Sarah tiba-tiba muncul di saat aku berniat untuk menolak Tami setelah dia mengutarakan isi hatinya padaku. Dan karena kemunculannya, aku jadi tidak sempat menolaknya karena perempuan itu tiba-tiba melarikan diri setelah melihat sosok Sarah.
Aku tidak tau kalau mereka bermusuhan ... jadi bagaimana aku harus menjelaskannya pada Tami? Apa aku tolak dia dengan tegas besok?
"Rasanya kepalaku mau pecah sekarang." Lanjutku bergumam sambil memijat keningku perlahan.
Aku benar-benar merasa tak habis pikir dengan situasi yang tidak pernah ku duga ini. Bisa-bisanya ada perempuan yang tertarik padaku dalam wujud seorang pria. Padahal semua orang selalu mengatakan aku pria cantik, ku kira aku akan aman karena tidak akan ada yang mengusik ku. Tapi ternyata aku salah, sepertinya ada beberapa perempuan yang menyukai pria cantik?
Aku benar-benar tidak mengerti dengan selera mereka. Padahal pria tampan jauh lebih baik kan?
"Uh mataku sakit." Gumamku merasa perih karena terlalu lama menggunakan softlens.
Padahal biasanya aku tidak menggunakan softlens. Tapi sejak bertemu dengan Carel, aku jadi harus menggunakan softlens untuk menyembunyikan warna mataku.
Meski aku tidak yakin dia mengingat warna mataku di pertemuan pertama kami. Tapi setidaknya kalau dia membahasnya, aku bisa bilang kalau waktu itu aku menggunakan softlens dan warna mataku yang sebenarnya adalah warna mata yang ku samarkan dengan softlens.
"Faren." Suara bibi mengejutkanku, ku lihat dia sudah berjalan kearahku dengan langkah ringannya.
"Ya bibi?"
"Paman bilang dia akan kembali besok lusa." Jawabnya mengutarakan alasannya menemuiku.
"Benarkah? Kalau begitu paman tidak akan ikut ke acara festival besok malam dong. Padahal aku ingin pergi bersama paman dan bibi juga." Tuturku merasa tak bersemangat. Apalagi aku sudah kehabisan ide untuk menghibur bibi yang masih terlihat sedih dengan musibah kegugurannya.
Aku juga belum berani bertanya kenapa bibi bisa keguguran, yang bisa ku lakukan sekarang hanya memikirkan cara untuk mengurangi rasa sedih bibi. Tapi sekarang aku sudah kehabisan ide, tak ada hal yang bisa ku lakukan untuk bibi selain memperhatikannya diam-diam.
"Kamu ingin pergi bersamaku dan pamanmu?"
"Tentu saja, kita kan sudah lama tidak pergi keluar bersama. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali kita pergi bersama untuk bersenang-senang." Tuturku sebelum melihat ekspresi bungung bibi. Entah apa yang sedang bibi pikirkan sekarang, yang ku tau bibi seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
Apa bibi mencoba memikirkan kembali ajakanku?
***
-Kalea-
"Kau dimana?" Tanyaku dengan telpon di telingaku.
"Kau tidak perlu tau." Suara Carel membuatku mendengus sebal saat mendengar jawabannya itu. Padahal aku niat datang untuk menikmati festival besok malam bersamanya dan Teo.
Tapi kenapa anak menyebalkan ini terus mencari ribut denganku? Dan lagi, kenapa Teo lama sekali sampai? Apa dia tersesat?
"Yang benar saja, jawab aku dengan benar bodoh!" Ketusku berusaha untuk tetap bersabar menghadapi anak Alterio yang satu ini.
Si sialan itu rupanya langsung memutus sambungan telpon ku dengan seenak jidatnya. Padahal aku belum selesai bicara.
Ku hela napas sedalam mungkin sebelum akhirnya memperhatikan pemandangan diluar kamar melalui jendela besar di kamar yang ku tempati.
Langit biru yang cantik dengan gumpalan awan putih di sana membuat perasaanku lebih tenang, lalu hamparan ladang rumput yang terlihat luas membuatku semakin terpana. Aku benar-benar tidak tau kalau ada tempat seindah dan setenang ini.
Padahal selama di kota, aku tidak pernah berpikir untuk pergi ke tempat seperti ini untuk menenangkan diri. Tapi saat Teo memberitauku mengenai keberadaan Carel dan apa yang anak itu bilang padanya, aku langsung meminta Teo untuk mengajak ku.
Selain untuk pergi ke festival, aku juga ingin bertemu dengan Carel setidaknya sekali. Apalagi dia sudah lulus dengan cepat dari akademi, aku jadi tidak punya banyak kesempatan untuk bertemu dengannya dan memastikan kondisinya.
Meski Teo bilang kondisi Carel sangat bugar, aku tetap tidak bisa mempercayainya. Biar bagaimanapun anak itu sempat gila karena kabar kematian Aster, dia terus-terusan bilang kalau Aster masih hidup, lalu dengan bodohnya dia mengerahkan orang-orangnya untuk menemukan Aster.
Setelah melakukan pencarian selama dua bulan penuh dan tidak mendapatkan hasil, barulah dia menyerah dan kondisinya semakin terlihat menyedihkan. Tapi sekarang, tiba-tiba saja dia berkeliaran di luar—sangat jauh dari tempat tinggalnya? Terlihat mencurigakan, entah apa lagi yang dia rencanakan.
Aku harap dia benar-benar sudah menerima kenyataan dan mulai melangkah ke depan ... yah, akupun masih kesulitan menerima kenyataan, jadi tidak ada gunanya berbicara seperti itu pada anak yang sangat menyukai Aster lebih dari siapapun. Batinku kembali menghela napas panjang dan berbalik badan meninggalkan kamar.
"Ayah bilang akan kembali saat makan malam nanti, kalau begitu aku akan pergi berkeliling sebentar." Gumamku menuruni anak tangga dan berjalan keluar penginapan.
Sekali lagi aku dibuat kagum dengan pemandangan yang ku lihat di sekitarku. Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat, padahal saat di kamar ladang rumputnya terlihat luas, tapi saat keluar penginapan dan melihatnya langsung, ternyata lebih luas lagi.
"Menakjubkan ...,"
Ting!
Notifikasi pesan masuk mengejutkanku, segera ku lihat benda pipih yang sejak tadi ku genggam dan ku buka pesan singkat yang ku terima.
Aku akan sampai sebentar lagi, maaf sudah membuatmu menunggu lama. Batinku saat membaca pesan masuk dari Teo.
"Ya, kau membuatku sangat lama menunggu—" gumamku tak bisa berhenti tersenyum, entahlah aku merasa sangat bahagia hanya dengan satu pesan masuk dari Teo. Meski itu bukan apa-apa, tapi saat melihat nama Teo di sana, rasanya perasaanku menjadi lebih tenang.
Perasaan tenangku hanya bertahan selama beberapa detik sebelum aku melihat seorang pria yang berjalan melewatiku, terlihat sangat familiar. Refleks aku meraih pergelangan tangannya untuk menghentikan langkahnya. Ku lihat dia sudah menoleh kearahku dengan ekspresi terkejutnya.
Cantik ... tidak! Apa yang ku lakukan? Batinku segera menggelengkan kepalaku dan melepaskan tanganku yang sudah menahannya.
"Ma—maafkan aku." Lanjutku segera meminta maaf dengan sedikit membungkukkan tubuhku.
"Tidak—tidak masalah, apa kamu penduduk baru? Atau wisatawan? Aku baru pertama kali melihatmu di sekitar sini." Tuturnya sambil melambaikan kedua tangannya dan tersenyum ramah.
"Itu, aku ...,"
.
.
.
Thanks for reading...