Aster Veren

Aster Veren
Episode 232




-Aster-


Setelah selesai bersiap, aku langsung pergi ke halaman rumah karena yang lainnya sudah menungguku di sana. Bahkan paman Arsel dan ayah juga sudah bergabung bersama mereka.


Ku dengar ayah baru kembali dari kediaman tuan Alterio, dan langsung bergabung bersama dengan Carel dan yang lainnya saat melihat tenda yang dipasang di halaman rumah. Sedangkan paman Arsel, dia datang untuk menjemput Khael yang sudah lama menginap di rumah ayah. Tapi karena Khael belum mau pulang, jadi paman memutuskan untuk bergabung sebelum membawa Khael kembali.


Waktu juga sudah menunjukan pukul 06:30 malam, sudah saatnya makan malam bukan? Apa kami akan makan malam di luar? Batinku bertanya-tanya dengan beberapa pelayan yang terlihat sibuk menyiapkan beberapa peralatan barbeque.


"Yah itu akan sangat bagus, aku juga belum pernah mencoba suasana menyenangkan seperti itu." Gumamku sebelum melewati pintu keluar.


Ku lihat semua orang sudah berkumpul di sana, dengan cepat aku berjalan mendekati mereka yang terlihat menikmati waktu kebersamaan mereka. Senang juga bisa melihat Dean dan Sarah bisa berbaur dengan cepat seperti itu.


"Aster! Kemarilah." Teriak Tia sambil melambaikan tangannya kearahku membuat perhatian semua orang tertuju padaku.


"Karena sudah berkumpul semua, mari kita mulai acara barbeque nya. Setelah itu baru kita bermain kembang api." Tutur Carel membuat semua orang bersemangat.


"Biarkan aku yang membakarnya." Ucap Sarah merebut kipas ditangan Dean.


"Memangnya kau bisa?" Tanya Dean terlihat meragukan kemampuan Sarah, membuat gadis itu berdecak kesal karena merasa diremehkan.


"Kau meragukan kemampuanku?"


"Yah, kau tidak ingat dengan acara camping sekolah kita terakhir kali?"


"Mereka terlihat dekat ya?" Suara Tia menarik perhatianku, ku lihat dia juga sedang sibuk dengan pekerjaan membakarnya bersama dengan Nadin dan Kalea. Sedangkan Teo dan Carel, mereka mengambil tempat lain bersama ayah dan paman.


"Sudah matang?" Tanya Yuna disamping Sarah.


"Ah jangan dekat-dekat, bahaya."


"Benar, pergilah ketempat lain."


"Tidak mau!"


"Yuna kemarilah, kita main bersama." Ucap Nadin menarik perhatiannya.


"Main?" Gumam anak itu dengan mata berbinarnya.


"Khael juga kemarilah." Lanjut Nadin membuat Khael bersemangat dan mendekatinya.


"Kita mau main apa?" Tanyanya saat sampai di dekatnya.


"Mereka benar-benar dekat ya?" Gumamku tak bisa mengendalikan diriku saat melihat Nadin bermain bersama Yuna dan Khael.


"Ngomong-ngomong Lea?" Lanjutku bertanya karena ingin memastikan sesuatu saat mengingat ucapan Dean sore ini.


"Iya?" Jawabnya sambil melirik ke arahku.


"Apa Carel tidak mengundang kekasihnya?" Lanjutku kemudian saat tidak medapati orang baru di sekitarku. Bukankah aneh jika Carel merencanakan acara malam ini tanpa kekasihnya?


Seharusnya dalam acara seperti ini dia juga mengundang kekasihnya untuk dikenalkan pada teman-teman kan? Tapi kenapa aku tidak melihatnya bersama dengan perempuan itu ya?


"Uhuk! Uhuk uhuk, apa yang kau katakan?" Tanya Tia terbatuk saat sedang meminum air digelasnya, terlihat begitu terkejut sampai dia tersendak.


"Ekhem! itu ...," ucapku segera berdehem dan berusaha mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Tia saat merasakan keringat dingin di tengkuk ku.


"Setauku dia tidak menjalin hubungan dengan siapapun, ini aneh. Apa anak itu diam-diam menjalin hubungan dengan seseorang?" Lanjut Kalea segera memperhatikan sosok Carel yang terlihat kesal bersama dengan Teo dan paman Arsel. Sedangkan ayah, dia sudah duduk manis di tempat yang sudah disediakan oleh Carel sore ini sambil memeriksa layar ponselnya.


"Benarkah? Padahal aku melihatnya sangat serius dengan handphonenya sore ini. Bukankah itu artinya dia sedang bertukar pesan dengan seseorang? Dan lagi, Dean bilang Carel butuh waktu untuk berduaan dengan kekasihnya sore ini." Tuturku lagi ikut merasa bingung mengingat ucapan Dean, apalagi saat ekspresi wajahnya kembali tergambar jelas dalam pikiranku.


"Dia mengatakan hal itu?" Tanya Tia lagi membuatku mengangguk dengan mantap.


"Apa dia mengatakannya saat sedang bersamamu juga?" Lanjutnya terlihat berpikir keras sambil memperhatikan daging dipemanggang selagi Kalea mengipasi daging itu.


"Iya." Jawabku lagi membuatnya bertukar pandangan dengan Kalea, lalu sebuah senyuman yang tidak ku ketahui maknanya tiba-tiba terpancar di wajah mereka berdua. Aku yang melihatnya hanya bisa mematung kebingungan. Sepertinya akan ada sesuatu yang terjadi?


"Biar aku yang mengurusnya. Kau tunggulah di sini oke." Ucap Tia membuat Kalea mengangguk hidmat dengan senyuman tipisnya, lalu beralih memperhatikan sosok Carel lagi sebelum dia pergi dari hadapanku dan Kalea.


"Apa yang kalian pikirkan?" Tanyaku mengejutkannya.


"Yah lihat dan tunggulah sebentar oke." Jawabnya kembali menunjukan senyuman tipisnya, masih mengipasi daging dihadapannya setelah membalikkannya.


Lalu ku tolehkan kepalaku ke arah Tia yang sudah bergabung dengan Dean dan Sarah. Aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka karena suara tawa Khael dan Yuna. Tapi jika dilihat dari ekspresi dan suasananya, sepertinya mereka sedang berbicara dengan serius? Tapi mereka juga tampak menikmatinya, tidak kah aku salah mengerti?


Apa aku salah mengira? Tapi kan Dean mengatakan hal itu ....


"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." Ucap Kalea lagi sambil meraih bahuku dengan lembut lalu memberikan piring berisi daging ke tanganku. Apa dia sedang menghiburku?


"Sudah matang, kau bisa memakannya bersama ayahmu di sana. Bukankah ini kesempatan bagus untuk bisa lebih dekat dengannya lagi?" Lanjutnya membuatku menoleh ke arah ayah yang masih duduk sendirian di tempatnya dengan tatapan kosongnya. Rupanya ayah sudah tidak memainkan ponselnya lagi.


Sepertinya ada banyak pikiran yang mengganggu ayah. Apa ayah masih merasa canggung denganku? Batinku bersamaan dengan hembusan angin malam yang terasa sejuk juga dingin diwaktu yang bersamaan. Padahal hari masih sore, tapi anginnya sudah sedingin ini.


***


-Kalea-


"Bagaimana?" Tanyaku saat melihat Tia kembali dengan ekspresi yang membuatku penasaran, "katakan padaku." Lanjutku benar-benar tidak sabar ingin mendengarkan apa yang dia dapat dari pembicaraannya dengan Sarah dan Dea.


"Tenanglah dulu, aku yakin kau akan menyukainya. Ini benar-benar akan menjadi bahan yang bagus untuk mengganggu si pembuat onar itu." Tuturnya terlihat menyeramkan saat menatap Carel yang sedang bersenang-senang dengan Teo.


"Bahan untuk mengganggu?" Gumamku tidak mengerti dengan ucapannya sedikitpun.


"Ekhem, jadi begini ... kau siap untuk mendengarkanku?" Lanjutnya sambil melipat kedua tangannya diatas dadanya dengan senyuman lebarnya sebelum menatapku dengan serius.


"Aku sudah siap sejak tadi. Cepat katakan!" Dengusku mulai merasa kesal karena Tia terus mengulur waktu.


"Haha, baiklah-baik. Sini biar ku bisikan sesuatu yang menarik." Tuturnya membuatku memperpendek jarak diantara kami supaya aku bisa mendengar bisikannya dengan lebih jelas.


.


.


.


Thanks for reading...