
-Ansel-
Ku langkahkan kaki ku dengan tergesa menghampiri Albert yang sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku tanpa basa-basi, langsung mengambil sikap duduk di sofa lainnya. Sedangkan Hans dan Mila yang mengekoriku, mereka memilih untuk berdiri tak jauh dibelakang ku.
"Apa ... kau yakin belum mengingat apapun tentang putrimu?" Tanyanya, menjeda ucapannya seperkian detik sambil menatapku serius. Sepertinya dia merasa heran dengan reaksi khawatirku yang terlihat berlebihan.
"Katakan saja apa yang sudah terjadi? Kenapa pelayanku sampai terlihat seperti itu?" Kilahku sambil menunjuk sosok Mila yang masih menangis disamping Hans, tidak ingin menjawab pertanyaannya.
"Hah~ aku datang untuk memberikan ini, sayang sekali aku–" Tuturnya setelah menghela napas dalam, lalu tangan kanannya menyodorkan sebuah potongan kain biru dengan bercak darah dan noda hitam seperti terbakar di ujung-ujung kainnya.
Ku tatap mata Albert dengan bingung sebelum meraih kain di hadapanku, "kau bisa memastikan DNA-nya ke rumah sakit." Lanjutnya membuat perasaanku semakin gusar. Apa maksudnya dengan memastikan DNA? Bukankah dia datang untuk memberitauku soal keberhasilannya menangkap Rigel?
"Apa maksudmu?" Tanyaku memicingkan kedua bola mataku penuh selidik, berusaha menepis semua pikiran buruk ku saat menemukan gambaran sesuatu dari tatapannya, dan aku tidak ingin mengakuinya.
"Seperti yang kau pikirkan. Kita terlambat satu langkah. Maafkan aku," ucapnya berhasil menebak isi pikiranku, terdengar penuh penyesalan.
"Apa maksud tuan? Nona baik-baik saja kan? Nona tidak–" Ucap Hans saat aku membisu selama seperkian detik, berusaha untuk mencerna ucapan Rigel.
"Non–anak itu tidak di temukan di manapun setelah dia masuk ke dalam bangunan yang dibakar habis oleh anak buah Rigel. Aku mendapatkan informasi itu dari anak buahku, dan mereka hanya menemukan potongan kain itu setelah bangunan berhasil di padamkan." Jelas Albert memotong ucapan Hans setelah menggelengkan kepalanya dengan lesu.
Aku yang mendengarnya benar-benar dibuat terkejut setengah mati, padahal aku berniat membawanya kembali dalam keadaan sehat tanpa luka segorespun di tubuhnya. Dan aku sudah meminta Hans untuk mengirimkan beberapa orang untuk mencari Aster secara rahasia tanpa sepengetahuan Rigel dan anak buahnya yang lain. Tapi, apa yang ku dengar sekarang?
"Bohong! Semua itu pasti bohong kan? Mana mungkin nona?" Ucap Mila sedikit berteriak membuat denyutan kepalaku semakin terasa.
"Nona," lanjut Hans terdengar putus asa.
"Aku ...," gumamku masih merasakan denyutan kepalaku yang semakin menjadi. Akhir-akhir ini sakitnya semakin menyiksa, dan entah kenapa nuraniku terus menanyakan keberadaan anak itu.
Aneh, padahal beberapa Minggu ini aku ingin menghabisi anak itu, aku sampai mengirim Rigel dan anak buahnya untuk mencari keberadaannya. Tapi, saat mendengar rencana busuk Rigel dari Hans beberapa Minggu lalu. Aku–niatku untuk menghabisinya tiba-tiba hilang.
Aku bahkan sampai meminta bantuan Albert untuk mencari Aster dan menangkap Rigel, karena tidak bisa meminta bantuan Arsel yang jelas-jelas masih menyimpan rasa marahnya padaku.
Ah, aku jadi mengingat sumpah serapahnya hari itu ..., batinku mengingat ocehan Arsel yang memberiku sumpah serapahnya sebelum dia pergi dari kediaman Veren.
"Helen ...," gumamku tiba-tiba mengingat wanita itu sambil meremas kain di tanganku dengan seluruh tenagaku. Entah kenapa rasanya aku sangat marah sekarang, entah marah pada Rigel dan orang-orang suruhannya, atau marah pada diriku sendiri karena tidak bisa membawa anak itu kembali.
Aku ..., lanjutku dalam hati, sebelum rasa sakit di kepalaku berhasil merenggut kesadaranku.
***
-Albert-
"Bagaimana?" Tanya Arsel dengan ekspresi khawatirnya, ku dengar napasnya sedikit memburu dengan penampilannya yang acak-acakan. Sepertinya dia terburu-buru kembali ke kediaman Veren saat mendengar Ansel hilang kesadaran.
"Dokter masih menanganinya di dalam." Jawabku sambil memperhatikan pintu kamar Ansel dengan kedua tanganku yang masih terlipat di dada.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa orang bodoh itu sampai hilang kesadaran?" Tanyanya sambil menyibak rambutnya ke belakang.
"Aku sudah mengamankan mereka semua, jangan mengalihkan pembicaraan. Jawab aku! Sebenarnya apa yang–"
"Aster ... sepertinya anak itu sudah meninggal dalam kobaran api," jawabku memotong ucapannya. ku lirik sosok Arsel yang mematung dengan mulut ternganga. Terlihat begitu terkejut dengan apa yang ku katakan.
"Jangan asal bicara! Aster tidak mungkin–" geramnya langsung menarik kerah kemejaku dengan kedua tangannya, lalu mencengkramnya kuat-kuat. Manik merahnya terlihat lebih menyala, menatapku dengan tajam.
"Anak buahku melihatnya masuk ke dalam bangunan yang di lalap api saat dia mengejar anak buahnya Rigel. Dia–"
"Lalu kenapa dia tidak menolong Aster?"
"Dia sudah melakukannya, tapi dari penjelasan yang ku dengar, api membesar dengan cepat dan dia–"
"Dia keluar sendirian tanpa Aster?" Tanyanya sambil mendorong tubuhku dengan seluruh kekuatannya, beruntung aku bisa menyeimbangkan pijakanku.
"Kau bisa menemuinya di rumah sakit. Dia juga mengalami luka bakar yang cukup serius saat berniat untuk menyelamatkan keponakanmu itu." Tuturku lagi mengingat kejadian yang cukup menghebohkan itu.
***
-Arsel-
Ku tatap sosok kakak yang terlihat menyedihkan di atas tempat tidurnya, lalu beralih pada makanan yang tak tersentuh di atas nakas. Sepertinya dia tidak makan sedikitpun setelah mendengar kabar kematian putrinya, meski aku tidak mengakui kematiannya sedikitpun. Entahlah, aku merasa ada beberapa hal janggal yang tidak bisa ku abaikan.
Dan entah kenapa aku merasa sedikit puas saat melihat kakak ku terpuruk seperti itu. Aku merasa dia memang harusnya seperti ini sejak awal jika ingatannya tidak hilang. Tapi, sayangnya hal itu tidak terjadi. Jadi saat aku melihat dirinya kacau seperti ini, aku merasa hal itu menjadi wajar. Meski tidak benar-benar wajar karena ingatannya belum pulih seratus persen.
Dokter bilang, ingatan kakak perlahan kembali. Meski perkembangannya cukup lambat, "hmm, jika dokter berkata seperti itu. Apa mungkin saat ini kakak sudah mengingat Aster sedikit demi sedikit? Haruskah kali ini benar-benar ku pukul kepalanya?" Gumamku bertanya-tanya dan segera menggeleng cepat saat pikiran buruk itu melintas.
Jika memang ingatannya sudah kembali sedikit demi sedikit, ya seharusnya hal yang ku lihat ini memang wajar kan? Lagipula orang tua mana yang bisa terlihat baik-baik saja setelah mendengar kabar buruk mengenai anaknya? Lanjutku dalam hati sambil menggigit bibir bawahku dengan gemas. Apalagi saat mengingat penjelasan Albert mengenai kejadian kebakaran itu.
Jarum jam terus berdetik memenuhi ruangan, menemani kesunyian malam yang terasa lebih dingin dari biasanya. Lalu ku langkahkan kedua kaki ku untuk mendekati kakak ku.
"Apa ... kau puas sekarang?" Tanyanya menghentikan langkahku tepat di hadapannya. Ku lihat kakak menengadahkan kepalanya dengan lesu.
Apa-apaan dengan ekspresinya itu? Kenapa dia terlihat begitu terpuruk? Bukankah ingatannya belum sepenuhnya kembali? Dan lagi, bukankah kematian Aster yang dia harapkan? Normalnya dia harus merasa lega bukan? Batinku tiba-tiba merasa kesal lagi saat melihat raut wajahnya yang menyedihkan itu. Padahal beberapa detik lalu aku sudah merasa iba padanya.
"Aku ... ini mungkin terdengar bodoh. Tapi, aku merasa hancur sekarang. Rasanya seperti ada lubang besar di hatiku. Bukankah itu aneh? Padahal aku menginginkan anak itu lenyap, tapi saat mendengar kematiannya ... kenapa hatiku rasanya sangat sakit?" Ocehnya terlihat menyedihkan, apalagi saat air mata itu keluar dari matanya.
"Apa ingatanmu–"
"Sepertinya sumpah serapahmu hari itu benar terjadi ya? Tuhan mengabulkan do'amu–" potongnya membuatku terkejut. Aku memang menyumpahi kakak ku yang bodoh ini, tapi bukan hal seperti ini yang ku harapkan.
"Aku ...," gumamku sambil mengepalkan kedua tanganku dengan seluruh kekuatanku, menyimpan seluruh perasaanku di sana. Tidak tau harus membalas ucapannya seperti apa.
.
.
.
Thanks for reading...