
-Aster-
Setelah pulang dari sekolah, aku tidak banyak berbicara dengan ayah. Ayah juga tampak murung setelah melihat Kalea pergi bersama dengan paman Victor.
Hari ini aku hanya bisa mengurung diri di perpustakaan bersama buku-buku yang ku anggurkan.
Padahal sebelumnya aku sangat merindukan papa dan sangat ingin memeluknya. Tapi siang tadi Kalea memeluk papa mendahuluiku .... Batinku sambil menghela napas lelah.
"Disini kau rupanya!" Suara Carel mengejutkanku.
Dengan cepat aku menoleh kearahnya yang sudah berdiri disampingku.
"Ada apa denganmu?" Tanyanya sambil berkacak pinggang dengan pandangan yang terfokus pada beberapa buku yang berceceran dihadapanku.
"Kau sakit? Biasanya kau sangat serius membaca buku, tapi kenapa sekarang malah mengabaikan buku-buku dihadapanmu?" Lanjutnya bertanya sambil meraih keningku.
Melihatnya yang mengkhawatirkanku seperti ini malah membuatku ingin menangis. Padahal aku sengaja bersembunyi di perpustakaan supaya bisa menangis diam-diam, tapi belum sempat menangis sudah ketahuan duluan sama Carel.
"Tidak panas." Gumamnya membuatku tak bisa menahan perasaan sedihku lagi, dengan cepat aku langsung memeluknya dengan sangat erat.
"Carel ... hiks," ucapku langsung terisak dalam pelukannya.
"A–ada apa? kenapa tiba-tiba menangis seperti ini?" Tanyanya terdengar kebingungan.
"Aku ... aku–hiks, hwaaa...." Jawabku tak bisa menjelaskan apapun padanya, rasanya hatiku terlalu sakit memikirkan hubungan ayah dan Kalea.
Aku tau mereka sudah hidup bersama sebelum aku hadir dalam hidup ayah, aku juga tau kalau ayah masih sangat menyayangi Kalea, lebih besar dari perasaan sayangnya padaku. Tapi aku bisa apa? Yang ada perasaan iriku pada Kalea semakin besar, bukankah itu buruk?
"Hey tenanglah, jelaskan sedikit-sedikit. Aku tidak akan mengerti kalau kau tiba-tiba menangis seperti ini." Tutur Carel sambil menepuk-nepuk punggungku dengan perlahan.
"Apa kau dijahili lagi di sekolah?" Lanjutnya membuatku menengadah memperhatikan manik merahnya itu.
"Bagaimana kau tau aku dijahili?" Tanyaku sambil terisak.
"Eh–itu ...." Jawabnya langsung membuang pandangannya dariku.
"Ah, pasti Teo yang memberitaumu ya?" Gumamku kembali membenamkan wajahku diperut Carel, karena memang sejak tadi dia hanya berdiri disampingku yang sedang duduk dikursi.
"Iya–Teo, dia memberitauku." Ucapnya membenarkan perkataanku.
"... bukan hiks, aku tidak dijahili teman-temanku lagi. Aku hanya ... biarkan aku seperti ini sebentar saja." Jelasku tak ingin menjelaskan apapun padanya.
"Baiklah, tenangkan dirimu dulu." Ucapnya kembali menepuk punggungku dengan perlahan sebelum akhirnya mengelus kepalaku berulang kali.
Ibu ... apa tidak apa-apa aku menjadi anak yang egois kali ini? Aku sudah lama menginginkan sosok ayah, dan sekarang aku memilikinya. Tapi ayah ... sepertinya dia belum menyayangiku sepenuhnya.
"Ugh," gumamku merasakan sakit didadaku.
"Ada apa?" Tanya Carel terdengar panik dan langsung melepaskan pelukanku darinya.
"Se–sesak!" Jawabku berusaha mengatur napasku sebaik mungkin.
Sudah berapa lama aku tidak merasakan sesak napas seperti ini? Apa sesak napasku selalu sesakit ini? Lanjutku dalam hati.
"Te–tenanglah, coba atur napasmu pelan-pelan. Tarik napasmu perlahan dan keluarkan dari mulutmu perlahan ...." Tuturnya langsung berlutut dengan salah satu lututnya dihadapanku yang masih duduk dikursi.
Carel ... dia benar-benar sangat lucu saat mengkhawatirkanku. Ekspresinya benar-benar tak bisa ku gambarkan, tapi dia benar-benar mengkhawatirkanku.
"Bagaimana?" Tanyanya setelah aku berhasil mengatur napasku sesuai dengan intruksinya.
"Huft, syukurlah." Gumamnya sambil menghela napas lega dengan tangan kirinya yang langsung mengelus dadanya.
"Terima kasih Carel." Ucapku membuatnya menengadah menatap mataku.
"... Jangan menangis seperti tadi lagi Aster. Aku tidak mau melihatmu kesakitan seperti tadi lagi." Tuturnya sambil tersenyum tipis dengan sorot mata sendunya, untuk pertama kalinya aku bisa melihat sisi Carel yang seperti itu. Padahal biasanya dia selalu bersikap menyebalkan dan selalu membuatku jengkel.
"Aku pasti akan merindukanmu." Ucapku saat mengingat aku harus ikut pergi bersama dengan ayah beberapa hari lagi.
"Aku juga," gumamnya membuatku membalas tatapannya setelah sempat membuang pandanganku darinya.
"Sebenarnya aku merindukan ibu saat melihat papa murung karena berpisah dengan Kalea di sekolah tadi. Aku juga merasa papa belum bisa menyayangiku sebesar dia menyayangi Kalea, jadi aku merasa sedih sekaligus iri pada Kalea. Aku pikir hanya aku yang merasa bahagia karena bisa bertemu dengan papa, aku merasa papa tidak menginginkanku ...." Jelasku panjang lebar sambil meneteskan air mataku lagi.
"Aster, percayalah padaku. Paman Ansel sangat menyayangimu lebih dari yang kau tau." Tutur Carel dengan suara lembutnya.
"Tapi papa–" Ucapku segera dihentikan olehnya yang tiba-tiba berdiri dari posisi berlututnya.
"Mungkin ayahmu masih menyayangi Kalea, tapi dia juga menyayangimu. Dia tidak akan mengajakmu ke Singapura kalau tidak menyayangimu. Bukankah dengan dia mengajakmu sudah membuktikan kalau dia menyayangimu? Bukankah itu artinya dia ingin hidup bersama denganmu? Hanya denganmu." Jelasnya panjang lebar membuatku tak bisa berkutik sedikitpun.
"Aku tidak tau, yang ku lihat papa sangat menyayangi Kalea." Gumamku kembali menyeka air mataku.
***
"Ayo kita tidur, hari ini biar nenek ceritakan tentang ayahmu." Tutur nenek sambil berbaring disampingku dan menyelimutiku dengan selimut tebal miliknya.
Malam ini aku tidur dengan nenek seperti kemarin, setelah selesai makan malam Carel langsung pulang bersama paman Tomi dan aku pergi tidur dengan nenek.
Ayah? Dia bahkan belum pulang setelah menjemputku dari sekolah dan mengantarku pulang ke rumah nenek.
"Kau tau? Dulu ayahmu itu sering dijahili oleh pamanmu karena selalu sibuk belajar di perpustakaan. Pernah suatu hari pamanmu mengunci perpustakaan dan membuat ayahmu tidak bisa belajar, dia bahkan sampai menyingkirkan semua buku milik ayahmu dari kamarnya. Lalu kau tau apa yang terjadi?" Tutur nenek mulai menceritakan kisah ayah dan paman saat mereka masih kecil dulu.
"Apa?" Tanyaku sambil menengadah untuk melihat ekspresi nenek, dan nenek langsung tersenyum geli sebelum melanjutkan ceritanya.
"Tentu saja ayahmu marah, tapi dia langsung menangis karena tidak bisa belajar. Pamanmu yang melihat kakaknya menangis langsung panik dan berlari mencari nenek, sepertinya dia lupa kalau dia hanya perlu memberikan kunci perpustakaan pada kakaknya, tapi dia tidak melakukannya." Jelas nenek sebelum terkekeh.
"Kenapa papa menangis?" Tanyaku merasa heran, bukankah marah lebih tepat daripada menangis?
"Karena ayahmu sangat suka belajar, daripada marah tidak jelas dia lebih memilih untuk menangis supaya adiknya berhenti mengerjainya. Kau tau? Sejak melihat ayahmu menangis, pamanmu jadi berhenti mengerjai kakaknya. Dan saat itu nenek jadi tidak bisa membedakan siapa diantara mereka yang kakaknya." Lanjut nenek menjelaskan sambil memeluk tubuhku.
"Lalu pernah suatu hari ayahmu terluka karena terjatuh dari atas pohon dan yang menangis malah pamanmu." Tutur nenek tak bisa ku bayangkan seperti apa ayah dan paman saat mereka masih kecil dulu.
"Saat itu pamanmu memaksa kakaknya untuk pergi keluar perpustakaan sesekali, lalu dia mengajari cara memanjat pohon dan hal-hal lainnya yang tidak bisa dilakukan ayahmu. Dan saat ayahmu memanjat pohon, tiba-tiba saja dia terjatuh dan membuat adiknya terkejut." Lanjut nenek masih menceritakan soal ayah dan paman selagi aku sibuk mendengarkan.
"Lalu dari sana Arsel bertekad untuk tidak pernah mengganggu kakaknya lagi, dan kau tau? Sebenarnya yang jahil itu bukan pamanmu, melainkan ayahmu."
"Kenapa begitu?" Tanyaku tak mengerti sama sekali.
"Karena sejak awal Ansel menangis untuk menggoda adiknya yang gampang panik, lalu saat dia terjatuh di pohon, dia membuat adiknya panik lagi dan menangis. Tentu saja Ansel tidak sengaja terjatuh dari pohon ... mereka benar-benar lucu ya." Tutur nenek kembali terkekeh.
Papaku itu benar-benar jahil ya? Batinku ikut terkekeh bersama dengan nenek.
.
.
.
Thanks for reading...