Aster Veren

Aster Veren
Episode 30




-Aster-


Waktu bergulir dengan cepat, matahari sudah lama kembali ke peraduannya. Ayah dan Carel sudah kembali ke rumah mereka sore tadi.


Dan sekarang aku melihat paman yang masih anteng duduk dipinggir tempat tidurku selagi aku berbaring mendengarkan cerita perjalanan kerja paman keluar kota. Sesekali paman juga mengelus keningku dengan telapak tangan kanannya.


"Sudah malam, apa kamu belum ngantuk juga? Padahal aku sudah ceritakan semua hal ...." Tuturnya bertanya membuatku inisiatif tersenyum pada paman saat pandangan kami kembali bertemu.


"Masih suka bermimpi buruk?" Lanjutnya lagi bertanya.


"Tidak sesering sebelumnya." Jawabku tak bisa mengalihkan perhatianku dari sorot mata khawatir paman.


"Anu paman ... maaf ya, Aster gak bermaksud menyembunyikan pertemuan Aster sama tante Claretta." Lanjutku saat mengingat pembicaraanku dengan paman siang tadi.


Paman benar-benar terlihat kesal saat mendengar tentang tante Claretta yang menemuiku sepulang sekolah, dan memberitauku soal rencana pernikahannya dengan ayah.


Kini ku rasakan tangan paman menggenggam tanganku dengan erat, bahkan sorot matanya terlihat melembut.


"Semua itu tidak akan terjadi Aster." Ucap paman mengejutkanku.


"Tidak akan terjadi?" Tanyaku merasa tak percaya dengan apa yang ku dengar.


"Kakak tidak akan mungkin menikah dengan Claretta." Jawab paman sambil mengulas senyum tipisnya.


"Kenapa? Bukankah ayah terlihat dekat dengan Kalea? Ayah bahkan terlihat seperti orang yang akan memberikan apapun untuk kebahagiaan Kalea. Kalau dengan menikah dengan tante Claretta bisa membuat Kalea bahagia, bukankah ayah bisa melakukannya?" Tuturku tak bisa melanjutkan perkataanku saat mengingat suara ayah yang bergema diruangan tempat paman dan ibu berkumpul bersamanya pada hari itu.


Padahal pagi tadi ayah bersikap baik padaku, aku juga merasa senang karena banyak menghabiskan waktu bersama ayah, tapi ayah langsung pulang saat mendapat panggilan dari seseorang. Jika mengingat suaranya, tidak lain lagi suara itu milik Kalea.


Ayah langsung pergi saat mendapat telpon dari Kalea dan melupakan kehadiranku, sebegitu besarnya kasih sayang ayah untuk Kalea .... Batinku merasa sakit jauh didalam hatiku.


"Memangnya Aster mau punya ibu lagi?" Tanya paman membuatku terkejut dan langsung menggeleng cepat.


"Tidak mau, ibu Aster cuma ibu Helen. Tidak ada yang bisa menggantikan ibu." Tegasku membuat paman kembali tersenyum.


"Benar kan ... ngomong-ngomong, paman dengar kamu terluka lagi saat pulang sekolah tempo lalu–" Tutur paman segera ku hentikan saat aku mengetahui arah pembicaraannya.


"Sepertinya Aster mulai mengantuk." Gumamku sebelum menguap, pura-pura menguap maksudnya.


"Yah sebaiknya kamu tidur sekarang." Ucap paman menarik selimutku hingga menutupi hampir seluruh tubuhku.


"Kamu yakin bisa tidur sendiri?" Lanjut paman terlihat khawatir.


"Aster harus terbiasa tidur sendiri kan? Aster gak boleh terus-terusan jadi anak penakut. Paman tidak perlu khawatir." Jelasku berusaha meyakinkan paman meski sebenarnya aku sendiri merasa tidak yakin.


Tapi aku harus bisa mengalahkan rasa takutku dan berhenti membuat semua orang mengkhawatirkanku.


Aku harus bisa. Batinku menguatkan tekadku.


"Baiklah, kalau kamu berubah pikiran pergi ke ruang kerjaku." Ucap paman sambil bangkit dari posisi duduknya.


"Eh, paman mau bekerja lagi?" Tanyaku langsung mendapat senyuman lebar dari paman.


"Begitulah, selamat malam Aster." Jawab paman sebelum meninggalkan kamarku.


Padahal baru kembali dari luar kota, apa tidak apa-apa sudah bekerja lagi? Apa paman tidak memaksakan diri? Padahal masih ada hari esok, kenapa musti bekerja lembur? Batinku mengkhawatirkan kesehatan paman.


***


-Ansel-


"Kepalaku benar-benar sakit sekarang." Gumamku setelah menghempaskan tubuhku keatas tempat tidur.


"Di dunia ini, apa cuma Helen yang bisa mencintaiku dengan tulus?" Tuturku melantur sambil meraih heandphone di dalam saku celanaku. lalu ku buka pesan masuk yang baru ku terima.


"Dari anak itu ternyata," ucapku saat melihat nama Kalea disana.


"Hari ini Lea juga akan berterima kasih pada ayah karena sudah menjemput Lea. Lea sayang ayah." Lanjutku saat membaca pesan masuk darinya.


"Terima kasih ya ...." Gumamku sambil mematikan heandphoneku saat mengingat ekspresi yang ditunjukan Aster sebelum aku pergi dari rumah Arsel.


Anak itu benar-benar terlihat sedih, padahal sebelumnya dia terlihat begitu bahagia. Tapi ekspresinya begitu cepat berubah, mudah dibaca seperti Helen.


Soal ucapan Eric pagi ini ... ku harap semua itu tidak benar. Batinku kembali mengingat ucapan Eric yang mengatakan soal Kalea yang selalu mengganggu Aster di sekolahnya.


Dengan cepat ku raih kembali heandphoneku dan langsung menelpon Rigel untuk mencari tau kebenaran dari ucapan Eric.


"Hallo Rigel." Ucapku saat orang itu menerima panggilanku.


"Ya tuan," jawabnya.


"Aku punya pekerjaan untukmu, tolong awasi Kalea selama dia berada di lingkungan sekolah untuk ku, laporkan semua yang kau lihat. Lalu tolong atur pertemuanku dengan Claretta secepatnya." Lanjutku.


"Baik tuan." Ucapnya mengakhiri panggilan dariku.


Emh... kalau aku hanya mengandalkan Rigel saja, aku tidak akan mendapatkan banyak informasi. Lagipula dia tidak akan bisa leluasa masuk kedalam lingkungan sekolah. Batinku memikirkan rencana lain yang bisa menguntungkanku.


"Kalau begini aku harus mencari anak yang bisa mengawasi Kalea sepanjang hari selama di sekolah. Tapi siapa? Apa aku harus minta bantuan pada Nadin?" Lanjutku bergumam.


Ting!


Suara notifikasi pesan masuk heandphoneku meruntuhkan lamunanku, dengan cepat ku buka pesan masuk yang ku terima.


"Carel?" Gumamku saat melihat nama yang tertera dilayar heandphoneku.


"Aku sempat mendengar pembicaraan paman dengan Eric sebelum pulang ... mau ku carikan mata-mata yang bagus?" Lanjutku membaca pesan masuk darinya.


Dia pasti menguping dengan sengaja. Batinku sambil menghela napas letih.


"Aku punya kenalan yang sekolah disana, kalau paman mau aku bisa memintanya untuk mengawasi Kalea dan Aster." Lanjutku saat melihat pesan masuk berikutnya yang baru ku buka.


"Dan dia mendengar semuanya dari awal." Gumamku kembali mengingat percakapanku dengan Eric di depan pintu rumah Arsel.


Padahal saat itu aku sangat yakin tak ada siapapun di sekitar kami, aku juga sangat berhati-hati saat meminta salinan rekaman suara Claretta dan ibunya dari Eric. Tapi anak itu? Siapa sangka dia akan menguping pembicaraanku dengan sengaja seperti itu.


"Tapi tak ada salahnya meminta bantuan darinya. Lagipula aku tidak bisa meminta bantuan pada Nadin yang jelas-jelas teman dekatnya Kalea. Persahabatan mereka sangat erat, aku tidak bisa membuat Nadin berkhianat pada Kalea ...." Gumamku mempertimbangkan pikiranku sambil mengetik pesan balasan untuk Carel.


Ting!


Suara notifikasi pesan masuk kembali berbunyi setelah ku kirimkan pesan balasan pada Carel. lalu Carel membalas pesanku tak lama kemudian, dengan cepat ku baca pesan balasan darinya.


"Serahkan saja padaku." Ucapku saat membaca pesan darinya.


"Dia sangat percaya diri sekali ya ...." Lanjutku sambil mematikan heandphoneku dan langsung bangkit dari posisi terbaringku, berniat untuk pergi mandi sebelum tidur.


.


.


.


Thanks for reading...