
-Aster-
Waktu sudah menunjukan pukul 06:15 pagi, aku baru saja selesai sarapan pagi bersama ayah dan nenek. Dan sekarang aku harus bergegas ke sekolah dengan diantar oleh paman Tomi dan nenek.
"Ibu yakin mau mengantar Aster ke sekolah? Bagaimana dengan pekerjaan ibu?" Tanya ayah yang terlihat mengkhawatirkan nenek dengan ekspresi datarnya itu.
Ternyata aku memiliki seorang ayah yang kurang mahir mengekspresikan dirinya ya ... lihatlah ekspresi wajahnya yang terlihat datar itu, padahal suaranya terdengar khawatir. Batinku sebelum mengalihkan pandanganku pada sosok nenek yang sudah berdiri disampingku.
"Memangnya siapa yang mau bekerja sepagi ini? Hampir semua perusahaan memulai pekerjaannya tepat pada pukul tujuh tiga puluh pagi lebih awal, paling telat pukul delapan pagi." Jelas nenek sambil meraih tangan kananku, lalu menuntunku berjalan menuju teras rumah diikuti oleh langkah ayah.
Apa nenek tidak sadar kalau ucapannya itu sudah menyindir ayah? Ayah sampai tak bisa berkata-kata lagi untuk membalas ucapan nenek. Batinku sambil melirik kearah ayah yang sudah berjalan sejajar dengan nenek.
"Kalau begitu kami pergi dulu ya, kamu kalau mau kembali ke rumahmu atau pergi kerja. Pergi saja, jangan tunggu ibu pulang. Ibu mau mampir ke suatu tempat dulu." Tutur nenek setelah sampai di teras rumah sambil tersenyum lebar pada ayah.
"Ya baiklah, hati-hati di jalan." Ucap ayah setelah menghela napas berat saat melihat senyuman lebar nenek.
"Aster sekolah dulu ya papa." Pamitku sambil memeluk ayah setelah melepaskan genggaman tangan nenek.
"Ya," ucap ayah bersamaan denganku yang menengadahkan kepalaku untuk melihat ekspresi ayah, dan ku lihat senyuman tipis ayah sudah terukir dibibirnya bersama dengan tatapan hangatnya yang tak bisa ku palingkan.
padahal baru saja ekspresinya terlihat menyedihkan, seperti orang yang kalah dalam berperang. Dasar ayahku ini ....
"... hati-hati di jalan." Lanjutnya sambil mengelus puncak kepalaku sebelum aku melepaskan pelukanku darinya.
"Iya." Angguk ku sambil tersenyum lebar pada ayah dan segera berjalan menuju mobil yang mana pintu belakangnya sudah dibuka oleh paman Tomi.
***
-Arsel-
"Hah ...." Gumamku kembali menghela napas berat sambil bermalas-malasan di sofa ruang kerjaku.
Sejak pagi aku tidak bisa fokus bekerja karena terus-terusan memikirkan perkataan Wanda semalam. Bahkan semalam pun aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Batinku sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 11:20 siang.
"Hah ... sebenarnya apa yang dia katakan? Apa yang aku lupakan? Jawaban apa yang dia maksud?" Gumamku lagi, kembali menghela napas untuk kesekian kalinya.
"Ada apa denganmu tuan muda?" Suara Eric meruntuhkan lamunanku.
"Sejak kapan kau disana?" Tanyaku saat menyadari kehadirannya yang sudah berdiri di dekat meja kerjaku.
"Sejak tuan muda terus-terusan menghela napas dan bergumam aneh." Jawabnya sambil merapikan beberapa kertas yang berceceran di meja kerjaku.
"Su–sudah selama itu?" Gumamku merasa malu sendiri, "apa dia mendengar semuanya?" Lanjutku masih bergumam.
"Sepertinya hari ini tuan muda benar-benar tidak bisa fokus bekerja ya ... apa tidak sebaiknya tuan muda beristirahat dulu?" Tuturnya sambil berjalan mendekatiku setelah selesai dengan pekerjaan merapikan meja kerjaku itu.
"... Eric," ucapku merasa ragu untuk melanjutkan perkataanku.
"Ya?" Tanyanya membuatku menatap matanya dengan serius tanpa ku sadari.
"Apa aku pernah mengatakan sesuatu pada Wanda? Dia bilang aku melupakan sesuatu, tapi aku tidak tau apa yang ku lupakan. Selain itu dia bilang ingin memberikan jawaban untuk seseorang dan aku diminta untuk menemuinya jika sudah mengingat apa yang ku lupakan. Sebenarnya apa yang ku lupakan?" Jelasku setelah meyakinkan diriku untuk menanyakannya pada Eric.
"Apa anda yakin menanyakannya pada saya?" Tanyanya sambil tersenyum tipis dengan sorot matanya yang tak bisa ku jelaskan, untuk sesaat aku merasa dia sedang menekanku dengan tatapannya itu. Padahal beberapa detik yang lalu tatapannya masih terlihat berkabut, seperti orang kebingungan pada umumnya.
"Ya–yah, mana mungkin kau tau kan?" Gumamku sambil membuang muka darinya dan kembali menghela napas beratku.
"Hah ... sepertinya kau sangat kesulitan ya," ucap Eric mengubah cara bicaranya secara tiba-tiba sambil memperhatikan layar heandphonenya, "sebenarnya aku ingin kau mengingatnya sendiri. Tapi aku tidak bisa membiarkan Wanda terus menunggumu, jadi aku akan memberitaumu sedikit. Lalu sisanya ingat sendiri." Lanjutnya sambil melirik kearahku.
Apa yang dia katakan? Batinku bertanya-tanya.
"Pembicaraan terakhirmu dengan Wanda di rumah pohon dekat rumah ibumu." Jelasnya membuatku menganga saat merasakan kabut dalam otak ku menghilang.
"Aku tau sekarang!" Ucapku segera bangkit dari posisi duduk ku dan segera meraih heandphoneku sebelum berlari meninggalkan ruang kerjaku dengan terburu-buru.
Bagaimana bisa aku meluapakannya? Lanjutku dalam hati merasa jengkel dengan kebodohanku.
Kaki ku terus melangkah cepat menuruni anak tangga dengan suara Eric yang terus terngiang dalam kepalaku silih berganti dengan ingatan masa laluku bersama dengan Wanda.
... di rumah pohon dekat rumah ibu. Batinku segera mendapat bayangan wajah Wanda yang terlihat serius dengan sorot mata sendunya berkelebat cepat dalam ingatanku.
"Wanda–"
"Maaf Arsel, tolong beri aku waktu untuk memikirkannya ...."
"... tentu, aku tidak akan memaksamu untuk langsung memberikan jawaban dari pertanyaanku,"
"Setidaknya kau tidak langsung menolak ku lagi seperti sebelum-sebelumnya."
"Maaf ...."
Hari itu aku pergi ke rumah pohon bersama dengan Wanda dengan perasaan gembira karena akan bertemu dengan wanita pujaanku.
Di sana kami menghabiskan waktu bersama selama seharian penuh. Eric juga ikut bersamaku meski dia datang terlambat.
Lalu malam harinya saat gugusan bintang terlihat begitu indah memanjakan mata, aku pun memberanikan diri untuk melamar Wanda dengan Eric sebagai saksinya.
Namun lagi-lagi perasaanku kembali diuji dengan penolakan terus terang dari Wanda. Ya, itu bukan pertama kalinya aku ditolak oleh Wanda, tapi aku tidak pernah bosan untuk terus mencobanya karena hati kecilku merasa yakin dengan pilihanku, dan aku juga merasa mampu untuk menghancurkan dinding pertahanan Wanda yang terkenal dengan ketebalan dan ketinggiannya.
Sejak SMA dulu, Wanda sudah dijuluki sebagai gadis bertembok tebal dan jutek karena perlakuan juteknya pada lawan jenis. Meski pun begitu, aku tetap menyukainya dan terus mencoba untuk melamarnya berkali-kali dengan harapan "Mungkin suatu hari nanti perasaannya padaku bisa berubah dan secara ajaib dia mau menikah denganku".
Dan sekarang Wanda datang padaku untuk memberikan jawaban dari lamaran terakhirku padanya.
Ternyata sudah sangat lama ... aku sampai lupa hari dimana aku melamarnya untuk terakhir kali itu. Mungkin karena aku pikir, aku sudah di tolak lagi olehnya. Makanya aku melupakannya seolah tidak pernah terjadi apapun.
"Ah kenapa aku benar-benar menjadi orang gugup sekarang?" Gumamku memikirkan semua hal yang sudah ku lupakan.
"... Aku akan memberikanmu waktu selama yang kau mau. Tapi ingat satu hal ini saja ...."
"Apa?"
"Lamaranku kali ini akan menjadi lamaran terakhirku. Ku harap kau bisa memikirkannya dengan baik Wanda."
Begitulah pembicaraanku dengan Wanda yang masih ku ingat sekarang. Tidak, aku sudah lupa jika tidak diingatkan oleh Eric tadi.
.
.
.
Thanks for reading...