
-Ansel-
Waktu sudah menunjukan pukul 11:20 siang saat aku tiba di kediaman Ian bersama dengan Victor dan Albert.
Setelah berpamitan dengan anak-anak, kami langsung memutuskan untuk pergi ke kediaman Ian untuk melanjutkan introgasiku dengan pria yang terlibat dalam kecelakaan ibu ku. Pria yang sempat dihajar habis-habisan oleh Arsel, dan sekarang aku ingin melanjutkan introgasi yang sempat tertunda karena tiba-tiba dia hilang kesadaran.
Lalu Albert yang memiliki urusan denganku memutuskan untuk ikut bersamaku dan berniat menungguku hingga selesai dengan urusanku. Sepertinya dia tidak ingin mencariku lagi dilain waktu, jadi dia memutuskan untuk menungguku selama apapun itu. Yang pasti dia ingin bicara denganku saat urusanku tlah usai, hari ini juga.
"Sebaiknya kalian bertiga selesaikan dulu urusan kalian, aku akan menunggu di ruang bawah tanah." Tutur Ian sambil memasuki rumahnya diikuli olehku dan yang lainnya.
Padahal aku berniat membuatnya menunggu lama, batinku sambil melirik kearah Albert yang berdiri disampingku dengan ekspresi seriusnya.
"Tapi urusanku hanya dengan Ansel saja, kenapa kau meminta dia untuk ikut bersama kami?" Tanyanya sambil menunjuk Victor dengan dagunya.
"Kau akan tau nanti ... dan kau bisa menyelesaikan semuanya hari ini kan Ansel?" Jawab Ian sambil meraih bahuku dengan telapak tangan kanannya.
"Semua bukti sudah terkumpul, Aku tinggal menemui wanita tua itu dan menggeretnya ke kantor polisi, kau tidak perlu mengkhawatirkanku Ian." Tuturku segera melepaskan telapak tangannya dari bahuku.
Setelah itu, aku akan menggeret putrinya juga. Lanjutku dalam hati sambil mengepalkan kedua telapak tanganku.
"Ya–baiklah, aku percaya padamu. Aku pergi dulu, kalian bisa menggunakan ruanganku untuk berdiskusi. sampai nanti Ansel, Victor." Ucapnya sambil berjalan menjauhi kami sambil melambaikan tangannya dengan malas.
"Sepertinya aku mengganggu urusan kalian ya?" Tanya Albert merasa bersalah karena memaksa untuk ikut bersama mereka.
"Tidak apa-apa, aku juga ingin segera bicara denganmu. Kau pasti sudah menungguku dengan sangat sabar selama ini, jadi aku akan memberitau apa yang kau ingin ketahui dariku." Tuturku sambil berjalan menuju ruang kerja Ian diikuti oleh Albert dan Victor.
"Aku sangat berterima kasih atas perhatianmu Ansel, ku harap kau bisa memberitauku semua yang ingin ku ketahui tanpa ada yang kau sembunyikan dariku sedikitpun." Ucapnya membuatku melirik dingin padanya yang sudah menunjukan senyuman tipis dengan tatapan dinginnya.
Aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi Albert. Mulai dari sini, aku akan menjawab semua rasa penasarannya itu. Jika dia sudah puas dan memutuskan untuk memusuhiku karena sudah menargetkan istrinya, maka aku tidak akan sungkan lagi padanya. Aku sudah berjanji akan menghancurkan semua orang yang menghalangiku! Tuturku dalam hati, mencoba untuk memantapkan hatiku.
Tak lama kemudian kami sampai di ruang kerja Ian, tanpa membuang-buang waktu lagi kami pun masuk ke dalam dan segera melakukan perbincangan setelah dua orang pelayan menghidangkan teh hijau dihadapan kami.
"Jadi? Apa yang ingin kau ketahui dariku?" Tanyaku membuka pembicaraan serius dengannya.
"Kau bisa beritau aku soal Claretta? Ku dengar kau hampir menikah dengannya kan? Itu berarti kalian sudah saling kenal dari lama kan? Ceritakan soal dia padaku," Tuturnya sambil duduk tegap dengan bertumpang kaki dihadapanku, menatap mataku dalam.
"Hee... ternyata kau sudah mencari tau tentangnya?" Tanyaku sambil meletakan kembali cangkir teh ditanganku tanpa ku minum sedikitpun, "kalau boleh tau, kenapa kau sangat penasaran dengan wanita itu? Bukankah kalian sudah menjadi pasangan suami istri, apa dia tidak memberitaumu soal dirinya sendiri?" Lanjutku tak ingin langsung masuk ke inti pembicaraan.
Entah kenapa aku merasa akan sangat menyenangkan jika sedikit bermain-main dengannya, "apa kau memutuskan menikah dengannya tanpa tau asal usul dan masa lalunya?" Tanyaku lagi kembali meraih cangkir teh dihadapanku dan menyecapnya.
"Aku hanya–"
"Apa dia menjebakmu juga?" Tanyaku memotong ucapannya, ku lihat pupil matanya mengecil sesaat lalu kembali membesar. Sepertinya dia sangat terkejut dengan ucapanku.
"Menjebak?" Tanyanya membuatku mengangguk mantap dan meletakan kembali cangkir teh ditanganku saat melihatnya memicingkan matanya penuh selidik.
***
-Albert-
Ku hela napasku sedalam mungkin saat mengingat pembicaraanku dengan Ansel dan Victor siang ini. Aku benar-benar sangat terkejut dengan apa yang ku dengar, aku bahkan tak bisa membayangkan selicik apa perempuan itu sampai menjebak Victor dan menjebloskannya ke penjara.
Lalu dia juga memiliki anak dari hubungannya dengan Victor dan mendidiknya dengan keras, bahkan sebelum dia menikah denganku. Dia sudah menekan putrinya supaya tidak menemuinya lagi dan memintanya untuk bersikap seperti orang asing saat mereka bertemu secara tidak sengaja.
"Jadi itulah kenapa wajahnya mirip dengan Claretta?" Gumamku mengingat kembali pertemuanku dengan anak yang bernama Kalea itu, putri dari Claretta dan Victor.
Mereka sampai merencanakan hal gila untuk menyingkirkan ibunya Ansel dan putrinya. Lalu yang mengejutkanku, mereka benar-benar menyingkirkan ibunya Ansel dengan tragis.
"Dia sampai mengancamku kalau aku ikut campur dalam urusannya dan melindungi istri dan mertuaku ...." Gumamku tak bisa melanjutkan ucapanku saat mengingat kembali ancaman Ansel yang tak main-main itu.
"Hah~ lupakan! Mari kita lakukan hal lain untuk menyelesaikan masalah ini." Lanjutku segera menghubungi putra pertamaku untuk membantuku menuntaskan semua kekacauan ini.
Maaf Ansel, jika kau melarangku. Aku malah jadi ingin terlibat. Seharusnya kau tidak perlu melarangku dan memberikan acaman seperti itu. Batinku sambil tersenyum tipis tanpa ku sadari.
***
-Arsel-
"... ya, kau tidak perlu mengkhawatirkanku kakak, aku baru saja selesai mengurus supir itu." Tuturku sambil mendekatkan henadphoneku ketelinga kananku.
"Ya, kau bisa menemuinya sekarang. Emh ... haruskah ku bawa supir si*lan ini?" Lanjutku sambil melirik pria paruh baya dihadapanku, pria yang sedang bersujud meminta ampunan dariku.
"Tentu saja."
"Baiklah, aku akan segera menyusulmu." Ucapku sebelum mematikan sambungan telponku.
"Sa–saya mohon ampuni saya tuan. Saya–hanya mendapat perintah untuk menghentikan mobil itu karena dia bilang supir itu mabuk. Ja–di saya mengejarnya, ta–tapi karena rem mobil saya blong, saya jadi kehilangan kendali dan menabrak mobil itu. Saya ti–dak menyadari remnya blong," tuturnya dengan tubuh gemetarnya.
"Entahlah, aku tidak yakin." Ucapku mengejutkannya, "aku sudah memeriksa kelayakan mobilmu dan rekaman cctv disekitar area kecelakaan. Bahkan aku bisa melihat ekspresimu direkaman kamera dashboard dimobilmu ...," lanjutku mengingat rekaman yang sudah ku lihat.
Sepertinya dia sengaja memutar kameranya untuk menyembunyikan kejadian sebenarnya saat dia dengan sengaja menabrak mobil ibu dengan sangat keras. Tapi dia tidak sadar kalau kameramya menharah padanya dan merekam ekspresi menjijikannya.
Dia terlihat menikmati pekerjaannya, senyuman lebarnya saat berhasil menabrak mobil ibu benar-benar membuatku emosi berkali-kali lipat.
"Sint*ng!" Umpatku menatapnya tajam sebelum melayangkan tinjuku diwajahnya.
***
-Ian-
Ku buka ponselku saat mendapat pesan dari nomor tak dikenal.
Tunda penangkapan Claretta dan ibunya selama tiga hari! Jika kau tidak menurutiku, maka aku akan membuat perhitungan dengan kalian. Batinku saat membaca isi pesan itu.
"Pesan ancaman? Siapa yang berani mengancamku seperti ini?" Gumamku tak kuasa menahan senyumanku.
"Kau gila?" Suara Ansel mengejutkanku dengan tatapan dinginnya.
"Mulutmu itu kurang ajar sekali ya Ansel. Lupakan dan lihat ini!" Ucapku sambil melemparkan heandphoneku padanya, dengan cekatan dia berhasil menangkapnya dan membaca isi pesan di heandphoneku.
"Ini?" Tanyanya menatapku serius.
"Mau bermain-main dengannya? Sepertinya akan seru ...." Saranku kembali menunjukan senyumanku.
.
.
.
Thanks for reading...