Aster Veren

Aster Veren
Episode 162




-Carel-


"Kau tidak akan kembali?" Suara Kalea memasuki ruang rawat Aster, membuatku melirik sekilas padanya yang sudah berdiri disampingku.


"Aku akan kembali nanti, kalau mau kembali. Pergi saja duluan." Ucapkugm tak bisa mengalihkan perhatianku dari sosok Aster yang masih terbaring lemah, tak sadarkan diri.


"Hah~ baiklah. Hubungi aku jika Aster sudah sadarkan diri. Aku pergi." Tuturnya setelah menghela napas panjang, lalu meninggalkanku berdua dengan Aster.


Hans pergi setelah menerima telpon dari seseorang, dan aku menggantikannya untuk menjaga Aster.


Ku langkahkan kedua kaki ku mendekati tempat Aster terbaring dengan wajah pucatnya, mengingatkanku kembali pada sosok Ibu. Ku lihat keringat dingin membasahi kening Aster, dengan hati-hati ku lap keringatnya menggunakan saputanganku.


Aku benar-benar benci aroma ini, tapi kenapa aku harus kembali lagi ke rumah sakit? Aku bahkan sampai memutuskan untuk menjadi dokter meski aku tidak menyukai rumah sakit. Batinku tidak memiliki kenangan baik di rumah sakit.


"Apa bagusnya menjadi seorang dokter jika ibu saja tidak bisa ku selamatkan." Lanjutku bergumam sambil meraih ujung rambut Aster.


Mataku membelalak terkejut saat menyadari rambut panjangnya menjadi pendek, "apa kau memotongnya?"


***


Waktu semakin larut tapi Aster masih belum sadarkan diri, bahkan Hans pun belum kembali ke rumah sakit. Padahal dia bilang akan pergi sebentar, tapi apa yang dia lakukan sekarang?


Ting!


Notifikasi pesan masuk heandphone ku mencuri perhatianku, dengan cepat aku keluarkan heandphone ku dari dalam saku celanaku, sebelum membaca pesan masuk yang ku terima.


"Dwi?" Gumamku saat melihat nama yang tertera di layar heandphoneku.


Dengan malas ku buka pesan masuk darinya dan mulai membacanya. "Kau sudah lihat beritanya."


"Berita apa?" Ucapku segera memeriksa internet untuk melihat berita terbaru yang dimaksud olehnya.


Mataku kembali dibuat membelalak terkejut saat melihat berita tentang hancurnya keluarga Robert. Ku lihat beberapa anak buah ayah berada disana juga bersama dengan Hans?


"Kasus korupsi?" Gumamku lagi saat membaca judul berita lainnya yang menunjukan potret wajah Robert disana.


"Percobaan pembunuhan pada putri tuan Ansel oleh putrinya tuan Robert." Lanjutku melihat berita lainnya yang menunjukan potret seorang perempuan yang mirip dengan Robert. Mungkin dia adalah putri yang dimaksud.


"... jadi perempuan ini yang sudah meracunimu?" Geramku tak bisa berhenti memperhatikan potret wajah Rose dari layar heandphoneku. Berusaha mengingat wajahnya, entahlah aku merasa kita akan bertemu tanpa sengaja. Itulah kenapa aku merasa harus mengingat wajahnya dengan baik. Supaya aku bisa membalas perbuatannya pada Aster.


***


-Arsel-


Ku matikan layar heandphoneku setelah membaca berita soal hancurnya keluarga Robert. Ternyata anak itu cukup pintar juga ya? Batinku mengingat perjuangan Hans dalam menyebarkan berita soal tuan Robert yang berkorupsi dan berita soal putrinya yang melakukan percobaan pembunuhan pada keponakanku.


"... siapa suruh kalian menyentuh keponakanku!" Gumamku merasa kesal saat mendengar soal Aster yang dilarikan ke rumah sakit karena keracunan.


Kenapa dia harus mengalami hal buruk itu disaat aku tidak ada disampingnya, dan disaat ayahnya masih terbaring koma di rumah sakit.


"Cepatlah sadar kakak bodoh! Kita harus segera bergerak untuk membalas perbuatan si Aslan padamu." Tuturku kembali memasukan heandphone ku kedalam saku celanaku.


Aku juga harus kembali ke rumahku untuk menyelesaikan pekerjaanku sebelum tenggat waktunya habis. Lanjutku dalam hati, mengingat projek besarku yang terbengkalai.


"Selain itu, aku tidak bisa meninggalkan Khael dan istriku lebih lama lagi." Gumamku bersamaan dengan kedatangan Rigel.


"Kau datang di waktu yang tepat, bisa kah kau memantau kondisi kakak ku selama aku tidak ada? Aku harus segera kembali ke tempatku, ada pekerjaan yang sudah lama menungguku." Tuturku segera meraih bahunya dengan kedua tanganku.


"Saat dia sudah siuman, segera hubungi aku!" Lanjutku membuatnya bingung dan mengangguk ragu.


"Kalau begitu aku pergi sekarang. Sampai nanti Rigel." Pamitku segera pergi dari sana, dan bersiap untuk pergi ke bandara.


Urusanku di sini sudah selesai, sisanya hanya tinggal mengurus keluarga si Aslan. Batinku kembali mengingat kakek tua yang sudah mengirimkan anak buahnya untuk mencelakai kakak ku.


"Keluarga si Robert juga sudah ditangani ... ya memang sisanya hanya tinggal keluarga si Aslan saja. Tunggu saja pembalasanku kakek tua."


***


-Aster-


Ku bukan mataku saat merasakan udara dingin menyapa kulit wajahku, ku lihat langit-langit bercat putih sebelum beralih memperhatikan sekelilingku.


"Aroma ini ... aroma rumah sakit?" Gumam ku berhenti pada celah jendela yang sedikit terbuka, membawa angin malam masuk menyapa ku.


Ku lihat cahaya bulan juga terlihat begitu terang, bersinar diantara ribuan bintang. Rupanya hari masih gelap. Batinku segera bangkit dari posisi terbaring ku dan memperhatikan selang infus ditangan ku.


"Ugh! Kepalaku," lanjutku saat merasakan denyutan dikeningku.


"Biar aku saja yang berjaga malam, kau bisa kembali ke rumah dan beristirahat." Suara paman Hans membuatku menoleh kearah pintu.


"Tapi, ini sudah lebih dari satu minggu nona tidak sadarkan diri karena terlalu banyak meminum teh beracun itu. Aku–"


"Aku yakin nona akan baik-baik saja dan segera bangun." Potong paman Hans membuat suara kak Mila tak terdengar lagi.


Tunggu! Satu Minggu? Aku tidak sadarkan diri selama satu Minggu?


"Kak Mila bilang ... aku terlalu banyak minum teh beracun?" Lanjutku mengingat kejadian yang tampak samar di kepalaku.


Seingatku aku sedang melakukan pertemuan dengan keempat–benar! Hari itu, aku sedang berkumpul bersama mereka, lalu aku merasa mengantuk dan segera meminum teh hijau milik ku sampai aku muntah darah. Lalu setelah itu aku tidak ingat apapun sampai aku terbangun di kamarku.


Kemudian aku mendengar keributan di ruang sebelah kamarku, tak lama kemudian suara Kalea dan Carel terdengar memasuki kamarku. Dan Carel menggendongku, membawaku pergi ke rumah sakit bersama paman Hans dan Kalea. Setelahnya pun aku tidak ingat lagi.


"Jadi teh yang ku minum itu beracun ... ku kira aku muntah darah karena hal lain. Ternyata ...," gumamku sambil mengalihkan perhatianku pada pemandangan indah di luar jendela, tak mampu melanjutkan ucapanku.


Bagaimana kondisi ayah sekarang ya? Aku bahkan tidak tau ayah sudah bangun atau belum karena tidak sadarkan diri selama itu.


Terdengar suara pintu yang dibuka dari luar membuatku menoleh kearah pintu, dan ku lihat paman Hans sudah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi terkejutnya.


"No–nona? Dokter!" Gumamnya sebelum berteriak memanggil dokter.


Tak lama kemudian paman kembali bersama seorang dokter yang siap untuk memeriksa kondisiku.


"Bagaimana kondisinya dok?" Tanya paman Hans terlihat khawatir, tapi dokter yang memeriksaku tidak memperdulikannya karena dia sedang fokus memeriksa tubuhku.


.


.


.


Thanks for reading...