
-Aster-
"... aku tidak bisa seperti ini terus," gumamku setelah menghela napas panjang sambil memperhatikan buku tebal dihadapanku sebelum menyenderkan tubuhku pada sandaran kursi perpus.
Saat ini aku tengah berada di perpustakaan untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian semester pada lusa nanti. Dan satu Minggu telah berlalu sejak gosip-gosip itu menyebar.
Aku sampai tidak bisa fokus belajar karena gosip-gosip itu. Teo bilang pertunangan Carel itu sudah direncanakan oleh kakeknya, dan setelah ujian berakhir keluarga Alterio akan mengadakan pesta pertunangan Carel dengan Lusy.
Saat mendengar hal itu tiba-tiba saja hatiku menjadi sakit, tanpa sadar ... aku sudah membuat jarak dari Carel. Batinku mengingat semua pertemuanku dengannya akhir-akhir ini.
"Dan ... aku menyadari perasaanku padanya." Lanjutku bergumam.
"Kau yakin tidak akan memperbaiki jarakmu dengan Carel?" Tanya Kalea yang sejak tadi membisu, diam-diam memperhatikanku dengan berpura-pura membaca buku dihadapannya.
"... tidak, aku tidak mau Carel mendapatkan banyak masalah. Teo bilang sendiri kalau Carel tidak bisa berbuat apa-apa mengenai keputusan kakeknya karena dia diancam–"
"Akan dipindahkan ke kelas lain jika sampai dia bersikeras membantah keinginannya." Lanjut Kalea memotong penuturan ku.
"Ya, apalagi aku sangat tau kalau Carel sangat ingin menjadi seorang dokter untuk menyembuhkan ibunya. Kalau sampai dia dipindahkan ke kelas lain, maka ...," Angguk ku tak bisa melanjutkan penjelasanku. Rasanya hatiku benar-benar tak karuan.
Padahal Carel selalu ada dan selalu membantuku apapun masalahku, tapi aku? Aku tidak bisa berbuat apapun untuknya.
Yang bisa ku lakukan hanya menjaga jarak dan menjaga pandangan orang lain tentangnya. Semua itu demi kebaikan Carel, aku harus melakukan apa yang bisa ku lakukan saat ini.
"Akhir-akhir ini aku sering melihatnya murung. Kau yakin tidak akan menemuinya? Sebentar saja, biarkan dia menjelaskan apa yang harus dia sampaikan padamu Aster." Tutur Kalea sambil menutup buku dihadapannya.
"Ti–tiba-tiba ... apa maksudmu Lea?"
"Aku tau kau berusaha untuk menghindari gosip buruk tentangmu dengan Carel, tapi ... apa masalahnya? Kau bahkan lebih dulu dekat dengan Carel, kenapa kau harus menjauh hanya karena perempuan itu adalah tunangannya Carel? Bukankah kalian masih bisa berteman? Dan lagi, aku merasa sangat-sangat kesal pada perempuan itu! Kenapa dia sok sekali?!" Jelas Kalea dengan nada suara naik turun, terlihat sangat-sangat berusaha untuk menahan emosinya.
"Anak menyebalkan itu juga terlihat tak memperdulikan tunangannya dan selalu berlari ke arahmu dengan tampang bodohnya jika melihatmu." Lanjutnya setelah menghela napas dalam untuk mengontrol emosinya, membuatku mengingat saat-saat Carel mencoba untuk mendekatiku.
"... sudahlah berhenti membicarakan Carel dan Lusy. Aku akan kembali ke asrama untuk beristirahat, Lea mau ikut?" Tuturku kemudian sambil bangkit dari posisi duduk ku.
"Hah~ aku akan di sini sebentar lagi." Jawabnya setelah menghela napas untuk kesekian kalinya, membuatku melangkah pergi dari hadapan Kalea dan menyimpan kembali buku yang ku pinjam pada tempatnya sebelum pergi dari perpustakaan.
Ku langkahkan kaki ku menuruni sekumpulan anak tangga menuju halaman akademi. Lalu mataku menangkap sosok Lusy yang tengah berbincang dengan teman-temannya di dekat lapangan olahraga. Dia terlihat sangat–sedih?
"Apa Carel berbuat jahat lagi padanya?" Gumamku bertanya-tanya dengan sifat menyebalkan Carel yang terlintas dalam ingatanku.
"Tidak teman-teman!" Teriak Lusy meruntuhkan lamunanku, ku lihat dia tengah berlari mengekori kedua temannya yang berjalan—menghampiriku?
"Aster!" Ucap perempuan yang tidak ku ketahui namanya, terdengar lantang membuatku terperajat.
"Tidak, semua ini bukan salahnya. Sudah ku katakan Aster tidak mungkin–" Potong Lusy membuatku mengernyit bingung. Sebenarnya ada masalah apa?
"Jangan terlalu polos Lusy!" Ucap perempuan lainnya semakin membuatku bingung.
... ini—sebenarnya situasi apa ini? Apa Lusy? Batinku bertemu tatap dengan manik coklat Lusy. Detik berikutnya, entah kenapa naluriku berkata kalau perempuan bernama Lusy ini sedang melakukan hal licik padaku seperti sebelum-sebelumnya.
***
-Sean-
"Membosankan," gumamku merasa bosan dengan kegiatanku akhir-akhir ini.
"Apa yang sedang mereka lakukan?" Lanjutku masih bergumam bersamaan dengan hembusan angin sore yang terasa lembab, sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan.
"Hmm... kali ini pun dia diganggu lagi oleh mereka ya?" Ucap Hendric mengejutkanku.
"Kau!" Geramku berusaha menahan emosiku sambil mengusap dadaku, berusaha untuk meredakan rasa terkejutku.
"Yo! Kau mau kembali ke asrama? Kenapa tidak menungguku?" Tuturnya dengan mata berkaca-kacanya, terlihat menggelikan.
"Urusanmu sudah selesai?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Begitulah, selain itu ... apa yang akan mereka lakukan lagi pada anak itu?" Jawabnya sambil menunjuk sosok Aster yang berdiri tak jauh dariku dan Hendric.
"Apa maksudmu?"
"Tempo lalu aku tidak sengaja melihatnya berhadapan dengan ketiga perempuan itu. Bahkan beberapa hari sebelum-sebelumnya pun mereka terus-terusan mengganggu Aster di tempat-tempat sepi. Kira-kira apa yang mereka katakan pada Aster? Kenapa selalu mengganggunya seperti itu?" Jelasnya membuat perhatianku teralihkan pada sosok Aster dan ketiga perempuan yang dimaksud oleh Hendric.
"Apa dia dilabrak? Kenapa? Apa jangan-jangan gosip itu benar?" Lanjutnya membuatku semakin bingung dengan celotehnya.
"Kau bicara apa sih?" Dengusku segera meliriknya yang masih memperhatikan sosok Aster dan ketiga perempuan itu dengan serius.
"Sean ... apa kau tidak mendengar gosip hangat akhir-akhir ini?" Tanyanya membalas lirikan mataku dengan cukup tajam.
"Memangnya aku perduli pada gosip yang beredar di akademi?"
"Hah~ kau benar-benar menyebalkan."
"Tutup mulutmu!"
"Kalau begitu aku tidak perlu memberitahumu kan? Kau memintaku untuk tutup mulut."
"Arrgh, katakan apa yang kau tau secara singkat dan padat. Intinya saja jangan berbelit-belit!" Geramku merasa kesal sendiri dengan sifat temanku yang satu ini.
"Kalau begitu seperti biasa ya." Ucapnya sambil tersenyum lebar dengan sorot mata menyebalkannya.
"Yaa, kalau perlu ku beri imbalan dua kali lipat." Dengusku berusaha untuk tetap menjaga emosiku.
"Benar ya dua kali lipat, jangan bohong atau pura-pura lupa nantinya."
"Memangnya aku pernah berbohong dalam bisnis?"
"Entahlah~ siapa tau kau mulai belajar untuk berbohong."
"Ck, cepat katakan informasi yang kau tau! Jangan banyak basa-basi."
"Dasar anak tak sabaran," dengusnya kembali memperhatikan Aster dan ketiga perempuan dihadapannya. "Gosip yang beredar adalah Lusy dan Carel sudah bertunangan. Aku tidak tau itu benar atau tidak, tapi ... Aster yang sudah lama dekat dengan Carel dituduh sebagai orang yang menghalangi hubungan Lusy dan Carel. Bahkan akhir-akhir ini gosipnya menjadi lebih parah–" Lanjutnya membuatku terkejut.
"Benarkah?" Tanyaku memotong penjelasan Hendric. Aku benar-benar tidak percaya ada gosip seperti itu di akademi. Dan lagi memangnya benar perempuan itu sudah bertunangan dengan si pembuat onar itu? Kapan? Kenapa tidak ada berita yang beredar di internet?
.
.
.
Thanks for reading...