Aster Veren

Aster Veren
Episode 79




-Sean-


"Kau!" Ucapku dengan lantang memanggil perempuan bermanik ungu disampingku. Ku lihat dia menatap bingung padaku, "kau, apa kau mau duduk disamping dia?" Lanjutku bertanya padanya sambil menunjuk perempuan bernama Nadin dihadapanku.


"Itu ...." Gumamnya terlihat ragu dengan sorot matanya yang terus menatap Nadin dan temannya secara bergantian.


"Katakan saja, kau tidak perlu takut ya kan Nadin?" Tutur seseorang dibelakang perempuan itu dengan senyum manisnya yang tak kusukai.


"Kau mau duduk dekatku kan Aster?" Tanya Nadin dengan suara penuh harap dan percaya dirinya, namun tak ada jawaban dari perempuan itu. Sepertinya dia sedang mempertimbangkan jawaban yang akan diberikannya.


"Aster?" Tanyanya sekali lagi, setelah cukup lama perempuan bernama Aster itu membisu. Bergelut dengan pikirannya sendiri.


"... tidak mau." Jawabnya setelah menghela napas panjang.


"Apa?" Tanya Nadin terlihat sangat terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Aster.


"Maaf Nadin. Aku tidak mau duduk berdekatan dengan orang yang belum pernah meminta maaf padaku atas apa yang pernah dia lakukan padaku dimasa lalu." Jelasnya sambil tersenyum manis. Mirip dengan ekspresi yang dibuat oleh pria dibelakangnya.


Apa maksudnya? Minta maaf? Batinku bertanya-tanya dengan ucapan perempuan itu.


"Ap–apa? Apa maksudmu? Minta maaf? Aku? Aku minta maaf? Pada siapa?" Tanya Nadin mewakili rasa penasaranku saat ini. Padahal biasanya aku tidak pernah tertarik dengan masalah orang lain. Tapi kenapa sekarang aku tertarik?


"Padaku." Jawab Aster membuatku terkejut, begitupun dengan Nadin.


"Kenapa?" Tanya perempuan itu terlihat bingung.


"Mau ku katakan didepan semua orang?" Tutur Aster sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Bahkan bisikan beberapa anak perempuan mulai menggangguku sekarang.


"... ku pikir mereka berteman baik. Tapi kelihatannya Aster tidak suka dengan Nadin."


"Tadi dia bilang tidak mau duduk dekat Nadin karena dia tidak pernah meminta maaf padanya kan?"


"Ya, kira-kira kenapa Nadin harus minta maaf? Memangnya apa yang dulu dia lakukan pada Aster?"


Begitulah bisikan orang-orang yang ku dengar, sepertinya bukan hanya aku yang merasa penasaran dengan hubungan pertemanan mereka. Ku lihat Nadin tak berkutik ditempatnya dengan telapak tangannya yang sudah mengepal erat disamping tubuhnya.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Ayo pergi Tia." Ketusnya segera berlalu dari hadapanku dan Aster. Dia pergi kearah bangku kosong dibelakang kelas bersama dengan temannya.


"Ekspresinya berubah." Gumamku saat melihat ekspresi Nadin yang terlihat jengkel, padahal tadi tidak sejengkel itu saat berdebat denganku.


"Hah~" Ku dengar Aster menghela napas leganya setelah Nadin pergi dari hadapannya, tapi bertentangan dengan tubuhnya yang terlihat gemetaran, bahkan kedua tangannya sudah bergetar hebat.


Dia ketakutan? Batinku bertanya-tanya, tak bisa berpaling darinya. Terutama saat dia tersenyum miris memperhatikan kedua telapak tangannya yang tak berhenti bergetar diatas pangkuannya meski sudah digenggamnya dengan erat.


"Hhaha, ternyata aku masih lemah ya?" Lanjutnya dengan suara kecil, membuatku tersentak.


Jadi dia benar-benar ketakutan? Kenapa dia takut pada perempuan itu? Sebenarnya apa yang sudah dia lakukan pada Aster sampai dia setakut ini? Dan lagi ... rasanya aku pernah melihatnya, dimana ya?


"Kau baik-baik saja Aster?" Tanya pria dibelakangnya.


"Ya." Jawabnya sambil tersenyum manis, berbeda dengan senyuman manis sebelumnya yang terlihat menakutkan.


"Aku ingat!" Gumamku mengingatnya saat melihat senyuman manis itu.


Malam itu, saat aku dan ayah akan pergi dari kediaman Ravindra. Kami bertemu dengan tuan Ansel dan tuan Ian, bahkan ada putra-putri mereka disekitar tuan Ian dan tuan Ansel.


Kalau tidak salah Aster itu putrinya tuan Ansel kan? Aku melihat senyuman itu saat dia berpamitan pergi ke kamar kecil bersama perempuan satunya untuk menghindariku dan Ayah. Batinku mengingat kilas balik pertemuan kami, sepertinya dia tidak mengingatku.


***


"Perkenalannya sudah selesai ya? Dan pengurus kelas juga sudah ditentukan, lalu jadwal pelajaran sudah diberikan. Jadi untuk hari ini cukup sampai disini. Kalian boleh kembali ke asrama untuk membereskan barang-barang kalian. Untuk pelajaran serius akan kita lakukan mulai besok. Sampai jumpa besok anak-anak." Tutur wali kelas kami pak Vito sebelum beliau meninggalkan kelas.


"Kau mau pergi sekarang Sean?" Tanya Hendric, pria yang duduk dibelakangku.


"Ya." Jawabku bersamaan dengan suara berisik semua orang yang berjalan keluar kelas dengan terburu-buru, begitupun denganku.


"... haha, jadi Teo satu kamar dengan Carel?" Suara Aster menarik perhatianku saat dia berjalan melewatiku dan Hendric. Memotong langkah kami yang akan mencapai pintu keluar dalam beberapa langkah lagi.


"Aku memaksanya untuk satu kamar sih." Jawab pria disampingnya terlihat dekat dengan perempuan itu. Dia bahkan menunjukan senyuman lebarnya untuk membalas senyuman Aster.


"He? Kenapa? Bukankah Teo selalu menghindari Carel karena dia jahil dan menyebalkan?" Tanyanya sambil menoleh pada pria disampingnya, membuatku melihat ekspresi antusiasnya dari samping.


Mereka pacaran? Batinku bertanya-tanya sambil mengikutinya dari belakang. Bukan sengaja mengikuti, tapi karena arah kami sama. Jadi mau tak mau aku berjalan dibelakang mereka sampai keluar gedung.


"Dia memang menyebalkan sih, tapi aku tidak bisa membiarkannya sendirian dan kesepian di asrama sebesar itu. Apalagi dia mudah bosan, kalau aku tidak satu kamar dengannya, bisa-bisa dia sering datang ke kamarku untuk mengganggu. Kau tau kan kalau dia sudah bosan dia bisa lebih jahil dari biasanya."


"Hhaha, kau benar."


"Ada apa?" Suara Hendric mengejutkanku.


"Ti–dak ada!" Jawabku sambil mengelus dadaku, mencoba menenangkan jantungku yang sempat berdetak kencang saking terkejutnya.


Tanpa sadar aku sudah menguping pembicaraan mereka, tidak bisa dipercaya! Lanjutku dalam hati merutuki diriku sendiri yang tidak bersikap seperti biasanya sambil menuruni anak tangga menuju lantai dasar.


Dengan perlahan kami pun sampai dilantai dasar dan keluar dari gedung akademi disambut oleh hembusan angin sejuk bersama para orang tua yang sudah berhamburan disekitar akademi.


"Sepertinya pertemuan orang tua siswa sudah selesai ya?" Ucap Hendric membuatku mengangguk cepat menyetujui ucapannya saat melihat ayah sedang berkumpul diantara tuan Ian dan tuan Ansel.


"Paman Justin?" Ucap Aster memperhatikan seseorang didekat tuan Ansel.


"Paman Justin?" Tanya pria berambut pirang disampingnya tak didengarkan. Dengan cepat Aster berlari kearah orang yang dia sebut sebagai paman Justin itu.


"Paman Justin!" Teriaknya sambil berhambur kedalam pelukan pria berambut hitam dihadapannya.


"Sungguh?"


"Ya, kau tidak bertemu dengannya saat mendaftar ulang?"


"Tidak." Jawabku memperhatikan pria yang begitu gembira memeluk Aster.


"Ayahmu memanggil." Ucap Hendric membuat mataku tertuju apa ayah yang sempat melambaikan tangannya beberapa saat.


***


-Aster-


"Paman Justin!" Teriak ku sambil berhambur kedalam pelukannya saat melihatnya sedang bersama ayah dan yang lainnya.


Rasanya sudah sangat lama aku tidak bertemu dengan paman Justin. Padahal dulu paman sering main ke rumah untuk bertemu denganku, lalu ibu mengusir paman dan membuatku menangis.


"As–ter?" Suara ayah terdengar terkejut.


"Hhaha, sudah lama ya kita tidak bertemu paman. Aku sangat merindukanmu paman." Tuturku sambil menengadah untuk melihat ekspresi paman Justin.


Ku lihat paman juga terlihat senang bertemu denganku, bisa dilihat dari tatapannya dan sentuhannya yang penuh dengan kerinduan. Sama sepertiku.


"Ya, sudah lama sekali ya Aster. Bagaimana kabarmu sekarang? Kau masih sering sesak napas?" Tanya paman membuatku melepaskan pelukanku saat merasakan tatapan semua orang disekitarku, bahkan aku tidak menyadari kedatangan Carel dan Kalea dibelakangku. Mereka sudah bergabung dengan Teo.


"Tidak, aku sudah menjalani perawatan di Singapura bersama papa dalam waktu lama." Jawabku sambil tersenyum lebar.


"Kau sudah tumbuh sebesar ini ya? Padahal dulu saat aku menggendongmu, kau sangat kecil sampai aku takut kau akan sakit jika aku tidak bisa menyentuhmu dengan lembut." Tuturnya dengan tatapan hangatnya sambil mengelus puncak kepalaku.


"Paman selalu berhati-hati padaku, bahkan ibu sering memarahi paman karena memperlakukanku dengan istimewa haha." Ucapku tak bisa menahan tawaku saat mengingat kejadian paman Justin yang dimarahi oleh ibu.


"Ayah memanggilku? Ada apa?" Suara Sean mengejutkanku. Ku lihat dia sudah berdiri disamping tuan Albert.


Eh? Jadi dia putranya tuan Albert? Batinku telat menyadari wajah Sean yang pernah ku temui di kediaman Ravindra malam itu.


Lalu mataku melihat Carel dan Kalea yang sedang sibuk berbincang dengan ayah mereka, kecuali Teo dan pria dibelakang Sean.


"Ah!" Gumamku baru menyadari ekspresi ayah yang ku abaikan karena terlalu senang bertemu dengan paman Justin, "kenapa papa perginya lama sekali? Aku menunggu papa tapi papa tidak juga kembali." Lanjutku mengejutkan ayah.


"Ah–maaf. Tadi papa terlalu lama berbincang dengan ibu asrama." Jawab ayah sambil mengelus puncak kepalaku dan menunjukan senyuman tipis dengan sorot mata yang tak ku sukai.


"Syukurlah kalian sudah bersama." Ucap paman Justin dengan senyum hangatnya membuatku mengangguk senang sambil membalas senyuman hangat paman.


"Papa sudah merawatku dengan baik jadi paman tidak perlu mengkhawatirkanku lagi." Tuturku sambil menggandeng tangan ayah dengan gembira.


"Kau," suara ayah membuatku menengadah, ku lihat ada semburat merah diwajahnya. Tatapan sendu yang tak ku sukaipun menghilang, sekarang ayah terlihat malu-malu menatapku. "Kau harus bersikap sopan pada paman Justin saat berada dilingkungan akademi Aster." Lanjutnya sambil meraih puncak kepalaku dengan sorot matanya yang menghangat.


"Kenapa?" Tanyaku sambil memiringkan kepalaku sedikit karena merasa bingung dengan ucapan ayah.


"Karena Justin adalah kepala sekolah disini. Kau harus menghormatinya seperti siswa lainnya." Jelas ayah membuatku terkejut.


Kepala sekolah? Sungguh? Jadi ... syukurlah impian paman menjadi kenyataan. Batinku merasa lega saat mendengar paman menjadi kepala sekolah.


Padahal aku sempat khawatir saat paman Justin tiba-tiba berhenti mengunjungiku tanpa mengatakan apapun padaku. Tapi paman mengatakan ingin mengejar impiannya pada ibu, dan ibu menceritakannya padaku. Begitulah aku mengetahui alasan paman Justin menghilang.


"Ma–maafkan aku paman. Eh–pak kepala sekolah–" Ucapku terhenti saat paman Justin mengangkat telapak tangannya dengan ekspresi canggungnya.


"Ti–tidak apa-apa Aster. Kau boleh memanggilku paman saat diluar akademi. Kau juga tidak perlu menekan putrimu seperti ini Ansel." Tutur paman dengan tersenyum tipisnya.


"Ya kalau itu mau mu." Singkat ayah membuatku tersenyum geli saat melihat sikap dingin ayah pada orang lain. Bahkan paman Justin terlihat sangat terkejut dengan jawaban yang diterimanya.


"Kalau begitu aku permisi dulu, sampai nanti Aster." Ucap paman Justin sebelum undur diri.


Ku lihat paman Justin sudah pergi ke dalam gedung akademi setelah berpamitan pada paman Ian, paman Victor dan tuan Albert. Lalu masuk ke dalam gedung setelah menerima beberapa sapaan hangat dari siswa-siswi yang berpapasan dengannya.


"Padahal aku masih mau berbincang dengan paman Justin." Gumamku merasa kecewa karena paman pergi secepat ini, padahal kami baru bertemu lagi setelah sekian lama.


"Kau suka dengan Justin?" Tanya ayah membuatku menoleh padanya sambil menengadah.


"Ya, paman Justin sangat baik." Jawabku sambil tersenyum lebar. Biar bagaimanapun paman Justin selalu ada untuk ku saat aku membutuhkan sosok seorang ayah. Mungkin selama ini tanpa ku sadari, aku sudah menganggapnya sebagai ayahku diam-diam. Tapi aku tidak akan bilang pada ayah. Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak mau melihat ayah mengambek dan murung disaat aku tidak akan bisa bertemu dengan ayah dalam waktu beberapa bulan karena harus tinggal di asrama.


"Begitukah,"


"Jadi apa yang papa bicarakan dengan ibu asrama?"


"Daripada membahas itu, aku ingin tau hari pertamamu di kelas. Bagaimana? Menyenangkan? Apa ada yang mengganggumu seperti dulu? Kalau ada akan aku berikan pelajaran, katakan padaku!" Tutur ayah terlihat menyeramkan, entah kenapa ayah selalu bersikap berlebihan jika menyangkut soal ku. Padahal aku belum mengatakan apapun.


"Tidak, tidak ada yang menggangguku. Semua orang baik padaku. Jadi berhentilah memasang ekspresi menakutkan seperti itu papa." Jawabku berusaha menenangkannya.


"Pak tua ini selalu berlebihan ya?" Ucap Carel sambil mendekatiku dan ayah.


"Siapa yang kau panggil pak tua?" Tanya ayah penuh penekanan.


Mulai lagi, tidak papa tidak paman. Semuanya selalu lepas kendali jika berhadapan dengan Carel. Kenapa anak ini selalu membuat orang lain kesal? Batinku sambil menghela napas letih.


.


.


.


thanks for reading...