Aster Veren

Aster Veren
Episode 240




-Aster-


Ku rasakan kabin yang ku naiki semakin tinggi meninggalkan daratan, dan pemandangan yang ku lihat semakin banyak. Banyak orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar wahana bianglala sampai ke tempat di mana aku dan Carel mengantre roller coaster siang ini.


Lalu di tempat lainnya, aku melihat banyak gedung tinggi sejauh mata memandang. Bahkan langit malam ini juga tampak cantik dihiasi oleh taburan bintang yang memanjakan mata, hembusan angin yang masuk melalui ventilasi kabin membuat rasa gerahku sedikit berkurang.


Kemudian ku alihkan pandanganku pada Carel yang membisu cukup lama, aku bahkan tidak menyadarinya karena terlalu fokus pada pemandangan di luar.


"Carel?" Tanyaku saat melihatnya memperhatikanku dengan sorot mata teduhnya.


"Hmm?" Gumamnya sambil tersenyum tipis dengan matanya yang menyipit. Sangat menggemaskan.


"Ke—kejutannya?" Lanjutku kembali bertanya dengan tergugup saat melihat ekspresinya yang jarang ku lihat.


"Tunggu sebentar lagi."


"Hah? Kenapa harus menung—gu?" Tanyaku lagi bersamaan dengan bianglala yang tiba-tiba berhenti membuatku terkejut dan hilang keseimbangan. Beruntungnya Carel langsung memegangi kepalaku saat kepalaku hampir terbentur dengan pintu.


"Hati-hati ...," gumamnya terlihat panik.


"Hehe, terima kasih." Ucapku bersamaan dengan helaan napasnya yang terdengar lega.


"Tapi kenapa bianglalanya berhenti berputar?" Lanjutku membuat Carel menoleh keluar.


"Sudah waktunya ya?" Gumamnya membuatku mengernyit bingung, lalu ku lihat Carel sudah duduk di sebelahku dan meraih tanganku untuk dia genggam.


"Lihatlah ke luar." Ucapnya membuatku semakin bingung, lalu dengan ragu akupun menoleh ke luar jendela bagianku. Dan ku lihat letusan kembang api yang sangat indah meletus di luar sana.


Suaranya letusannya yang membuatku sedikit terkejut dikalahkan oleh indahnya penampakan kembang api yang terus berdatangan.


"Carel ini—" ucapku terhenti saat menoleh ke arahnya dan mendapatinya tengah memasukan sebuah cincin kedalam jari manis ku.


Hah? Apa yang dia lakukan?


"Ca—Carel?"


"Ternyata masih longgar, sepertinya memang harus dipakai seperti sebelumnya. Ayo kita beli kalung baru supaya cincinnya bisa kamu kalungkan lagi." Tuturnya sambil tersenyum hangat membuatku segera meraih cincin di tanganku dan melepasnya.


Ku lihat cincin itu sangat familiar dan saat aku memastikan bagian dalamnya, ternyata cincin yang Carel pasangkan tadi adalah cincin pernikahan ibu yang aku jual untuk membayar uang Carel dan biaya perawatan bibi Nina.


"Ini?" Tanyaku segera menatapnya dengan serius.


"Butuh waktu lama untuk menemukannya, tapi syukurlah aku menemukannya tepat waktu. Apa kamu terkejut?" Jawabnya sambil mengelus puncak kepalaku dengan lembut, "cincin itu sangat berharga untukmu kan? Jadi simpanlah dengan baik." Lanjutnya berhasil membuat air mataku menetes.


Aku bahkan tidak pernah memikirkan cincin ibu akan kembali ke tanganku saat aku menjualnya hari itu. Aku benar-benar sudah siap untuk kehilangan benda peninggalan ibu yang sangat berharga untuk ku. Tapi Carel, anak ini? Dia bisa mencarinya dan mengembalikannya lagi padaku?


"Sungguh luar biasa, kamu sangat hebat ya. Aku bahkan tidak pernah berpikir cincin ibu akan kembali ke tanganku. Tapi malam ini, cincin ini ada di tanganku? Bagaimana bisa kamu menemukannya? Dan lagi aku tidak menyangka kalau kejutannya adalah cincin ibu, ini benar-benar membuatku terkejut." Tuturku sambil menghapus air mataku sebelum menatap Carel.


"Itu ... aku menemukannya dengan sedikit usaha?" Jawabnya terlihat mencurigakan, apalagi saat dia berusaha membuang pandangannya dariku.


"Apa-apaan itu?"


Sepertinya kamu memang berusaha dengan keras untuk menemukannya ya? Aku tau Carel pasti kesulitan mencarinya karena aku menjualnya di tempat yang cukup sulit. Tapi dia berhasil menemukannya, sungguh luar biasa. Batinku tak bisa beralih dari wajahnya yang terlihat gembira saat kami tertawa bersama.


Kalau diingat-ingat lagi, sepertinya semua orang mulai bergerak setelah mengetahui cincin ibu ada di pasar gelap kan? Lalu keributan di malam festival pun terjadi. Tapi, apa Carel langsung mencari cincin ibu setelah mengetahui cincinnya dijual di sana?


Rasanya mustahil jika dia mencarinya baru-baru ini, karena barang yang dijual di tempat seperti itu biasanya akan dikirim ke luar dengan kapal penyelundup. Apalagi cincin ibu cukup mahal dan langka meski desainnya sedehana. Kalau di tanya kenapa langka? Mungkin karena pembuat cincinnya sudah wafat dan desain yang dibuat mendiang termasuk desain yang langka.


"Sekarang bisa aku pasangkan cincin dariku?" Suara Carel membawaku kembali pada kenyataan, lalu ku lihat tangan Carel kembali meraih tanganku dan memasangkan cincin ke jari manis ku.


"Apalagi ini?" Tanyaku melihat cincin yang sudah melingkar di jari manis ku. Terlihat indah dengan permata kecil berwarna biru safir, dan desainnya juga cantik.


"Hadiah dariku." Jawabnya tidak mengalihkan perhatiannya dari cincin yang sudah dia pasangkan, "sangat cocok di jarimu, ukurannya juga pas. Apa terasa tidak nyaman?" Lanjutnya setelah puas memandangi cincin itu dan beralih menatapku yang sudah lebih dulu memperhatikan Carel.


"Tidak, ini sangat nyaman. Dan aku juga menyukainya, terima kasih Carel." Ucapku melihat permata yang berkilauan di cincinku setelah tersenyum padanya.


"Tapi aku tidak menyiapkan apapun untuk hadiahmu. Rasanya tidak adil jika hanya kamu yang memberikan hadiah. Aku juga ingin memberikan hadiah untukmu." Lanjutku merasa kesal karena tidak bisa memberikan apapun untuk Carel.


Jika saja Carel memberitauku kalau dia mau memberikan hadiah, aku juga akan mempersiapkannya. Tapi yang ku dengar, dia hanya akan menunjukan kejutan padaku.


Padahal suasananya sangat bagus untuk ... apa semua ini di rencanakan oleh Carel? Mulai dari berhentinya bianglala sampai kembang api? Dan cincinnya juga? Batinku melihat pemandangan kembang api yang masih meletus di atas ketinggian.


"Aku tidak perlu hadiah, tidak apa-apa—"


"Tidak boleh. Pokoknya saat kita turun nanti, aku akan membelikan sesuatu untukmu." Potongku segera mengalihkan pandanganku dari kembang api dan menatapnya dengan serius sambil mengepalkan tangan kananku yang menggenggam cincin ibu selagi tangan kiriku masih di gandeng oleh Carel.


"Tidak, aku sungguh tidak menginginkannya. Bagiku kamu saja sudah cukup." Tolaknya lagi membuatku semakin ingin memberikan hadiah untuknya. Apalagi saat mengingat Carel yang memberikan hadiah padaku saat aku akan pergi ke Singapura.


Kalau dipikir-pikir, Carel selalu memberiku hadiah. Sedangkan aku? Aku hanya memberinya hadiah di hari ulang tahunnya saja?


Satu tahun satu hadiah, kenapa mengingat hal itu membuatku merasa pelit ya? Batinku merutuki diriku sendiri karena begitu bodoh.


"Pokoknya aku akan memberikan hadiah untukmu juga, jadi—" Tuturku terhenti saat mendengar selatan napas Carel. Apa dia marah?


"Hah~ kamu tidak akan berhenti sampai kamu membalas hadiah yang ku berikan kan?" Tanyanya setelah menghela napas pasrah sambil menyibak poninya ke belakang dan menatapku dengan serius.


"Ya!" Angguk ku sangat percaya diri.


"kalau begitu, aku akan mengambil hadiahku." Ucapnya membuatku terkejut. Lalu ku rasakan sentuhan bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut membuat detak jantungku kembali berpacu.


Ci—ciuman? Kami ciuman lagi? Batinku mengingat kejadian kemarin malam yang sudah ku lupakan, tapi sekarang saat Carel kembali menciumku, rasanya perasaan malu yang sudah ku kubur kembali naik bersama dengan perasaan malu yang baru.


"... sudah puas?" Tanyanya setelah mengusaikan ciumannya, lalu ku lihat rona merah di wajah Carel sudah menghiasi wajahnya membuatku merasa panas dibagian wajahku juga.


"Itu ...," gumamku tak bisa melanjutkan ucapanku karena terlalu gugup, apalagi detak jantungku tidak bisa ku kendalikan saat pandangan kami bertemu bersamaan dengan kembang api yang sudah berhenti meletus, bianglala yang sempat berhenti pun kembali berputar.


.


.


.


Thanks for reading...