
-Aster-
"... kau baik-baik saja?" Suara Sean membuyarkan lamunanku, ku lihat dia sudah menatapku dengan tatapan khawatirnya.
Sepertinya dia masih mengkhawatirkan kejadian beberapa hari belakangan ini. Hari-hari buruk yang sengaja ku ciptakan untuk mendorong Carel menjauh dariku.
Memikirkan bagaimana tindakanku pada Carel, ternyata aku juga bisa menjadi orang semenyebalkan itu ya? Aku bahkan sampai berhasil membuat anak itu marah besar padaku.
Bahkan Kalea pun ikut memarahiku yang bertingkah menyebalkan pada Carel, aku yang mendadak bersikap seperti orang lain pasti membuat mereka bertanya-tanya.
"Aster?"
"Aku baik-baik saja Sean." Jawabku sambil menunjukan senyuman terbaik ku. Tapi sepertinya senyumanku tidak berpengaruh untuknya, nyatanya ekspresinya malah jauh lebih buruk dari sebelumnya.
Apa dia mengira aku sedang berpura-pura tegar? Batinku merasa kesal saat membayangkan Sean memikirkan pikiran itu. Lebih menyebalkan lagi diriku yang menebak isi pikirannya.
"Kemarikan, aku akan membantumu membawakannya. Tidak adil jika kau membawa semuanya sedangkan aku hanya melihatmu kesulitan." Tuturku sambil meraih satu kantung barang belanjaan ditangan Sean, namun dengan cepat anak itu menjauhkan tangannya dariku.
"Tidak boleh. Biar aku saja yang membawanya." Tegasnya membuatku mendengus sebal.
"Kenapa tidak boleh?" Tanyaku segera berlari kecil menghampirinya yang sudah berjalan mendahuluiku.
"Ini berat."
"Aku bisa–"
"Tidak boleh."
"Cih, pelit."
"Mau mampir ke suatu tempat dulu?" Tanya Sean tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kau lelah? Atau lapar?" Ucapku balik bertanya.
"Yah sedikit lelah dan lapar. Lagipula sekarang sudah masuk jam makan siang." Tuturnya sambil memperhatikan sekelilingnya setelah melirik jam tangannya sekilas.
"Bagaimana dengan kafe disana?" Lanjutnya sambil menunjuk kafe yang dimaksud dengan dagunya.
Mau tak mau akupun mengikuti langkah Sean yang sudah berjalan kearah kafe yang dimaksud. Lagipula perutku juga sudah meraung meminta makan. Seharian berkeliling ke berbagai tempat membuatku lelah juga.
***
"Teh hijau?" Gumam Sean sambil mengernyit menatap cangkir teh pesananku.
"Tidak akan ku beri!" Seruku segera meraih cangkir tehku, menjauhkannya dari jangkauan Sean.
"Siapa juga yang mau minta?" Dengusnya segera menyeruput jus mangga dihadapannya sebelum menyantap makanan pesanannya.
"Hmm ...," gumamku tak pernah membayangkan sosok Sean yang menyukai makanan manis seperti yang ku lihat saat ini. Dia terlihat begitu menikmati makanannya, bahkan ekspresi wajahnya terlihat begitu puas dengan apa yang dia santap.
"Apa?" Tanyanya menghentikan aktifitas mengunyahnya sesaat saat mata kami bertemu tatap, membuatku refleks tersenyum jahil.
"... ternyata Sean suka makanan manis ya?"
"Ini–sedikit!"
"Pft ...,"
"Berhenti mentertawakan ku diam-diam!" Serunya membuat suara tawaku pecah saat melihat rona merah diwajahnya.
Apakah sebegitu malunya Sean jika ada orang yang mengetahui makanan kesukaannya? Memang apa salahnya jika anak laki-laki sepertinya menyukai makanan manis? Bukankah dia terlihat menggemaskan? Seorang Sean yang terlihat dingin dan cuek, ternyata memiliki sisi menggemaskan seperti itu. Jika ku ceritakan hal ini pada perempuan lain, mereka pasti tidak akan percaya jika tidak melihatnya langsung.
"Ngomong-ngomong, bagaimana pertemuanmu dengan nyonya Alterio? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Sean menghancurkan kesenanganku yang tengah memperhatikan ekspresi gembiranya saat menyantap makanan manis kesukaannya.
"Apa maksudmu?" Tanyaku sebelum meraih cangkir teh dihadapanku.
"Bukan urusanmu!" Dengusku sambil membuang pandanganku dari Sean. Entahlah aku malas menjelaskan alasanku bersikap seperti itu. Yang jelas aku memang sengaja menciptakan keributan diantara aku dan Carel, supaya anak itu pergi dari sampingku dan berlari pada Lusy. Semua itu demi kebaikannya.
Meski awalnya aku merasa sangat kesulitan untuk memulai rencanaku karena kami tidak pernah bertengkar sehebat ini sebelumnya. Bahkan aku tidak pernah menyangka akan mengatakan hal sejahat itu padanya, dia pasti sangat kesal padaku. Aku saja membenci diriku yang seperti itu, apalagi anak itu?
"Tapi Sean, kau tau darimana aku pergi menemui ibunya Carel?" Tanyaku kemudian saat menyadari ucapan anak itu.
"Itu ...," jawabnya tak melanjutkan ucapannya, membuatku memicingkan mataku curiga.
"Bukan urusanmu!" Lanjutnya membuatku mendengus sebal saat mendengar jawabannya.
Sudah jelas dia mencaritaunya kan? Atau bisa jadi dia menguntit ku? Batinku tak bisa berpikiran baik tentangnya.
"Ck, aku tau apa yang kau pikirkan. Jadi berhenti menatapku seperti itu!" Decak Sean setelah menghela napas kasarnya dan meletakan kembali garpu ditangannya.
"Jadi?"
"Habiskan makananmu, kita harus segera kembali ke akademi untuk menyelesaikan pekerjaan kita. Teman-teman pasti sudah menunggu kita." Jelasnya mengalihkan pembicaraan menguji kesabaran ku.
Mau tak mau akupun menuruti ucapannya untuk segera menghabiskan makananku karena apa yang dikatakannya memang benar, kami sudah pergi terlalu lama untuk berbelanja keperluan festival sekolah untuk besok lusa.
***
-Kalea-
"Masih memikirkan soal perubahan Aster?" Suara Teo membuatku menoleh kearah kedatangannya sebelum ku anggukan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya itu.
"Apa anak itu masih belum menceritakan alasannya?" Tanyanya lagi membuatku menggelengkan pelakau lesu.
"Padahal aku berharap dia sudah menceritakan alasannya padamu, dan aku bisa mencaritau alasannya bersikap seperti itu pada Carel darimu. Tapi, sepertinya aku terlalu berharap ya?" Lanjutnya bergumam setelah menghela napas beratnya.
"Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Maksudmu Carel? Ya, dia ... sedikit–gila. Ku rasa." Jawabnya membuatku tak bisa berkata-kata jika mengingat kedekatannya dengan Aster. Sudah pasti anak itu merasa terganggu dengan perubahan sikap Aster, apalagi dia menjadi sangat keras kepala dan menyebalkan. Bukan hanya pada Carel, tapi padaku, Teo, Nadin dan Tia juga.
"Hah~ sebenarnya apa yang dia pikirkan?" Gumamku merasa tak berguna karena tidak bisa menemukan alasan perubahan Aster.
Tunggu! Apa ini ada hubungannya dengan perempuan itu? Batinku tiba-tiba mengingat sosok Lusy.
Jika diingat-ingat lagi anak itu mulai berhenti mengganggu Aster saat Aster mulai menunjukan perubahan sikapnya pada Carel kan? Tapi apa hal itu ada hubungannya dengan perubahan Aster?
"Sepertinya kita memikirkan hal yang sama ya?" Tanya Teo membuatku melirik padanya.
"Apa?"
"Lusy. Anak itu berhenti mengganggu Aster setelah melihat perlakuan Aster yang berbeda pada Carel. Benar kan?" Jelasnya membuatku sedikit terkejut, bagaimana bisa dia memikirkan hal yang sama denganku.
"Tapi, entah kenapa aku malah menduga Aster sengaja membuat Carel merasa kesal dan marah jika terus bersamanya. Kira-kira kenapa ya?" Lanjutnya membuat pikiranku terbuka.
"Apa mungkin karena itu?" Tanyaku langsung mendapat anggukan dari Teo.
"Ya. Ancaman kakeknya Carel. Sepertinya Aster tidak mau melihat Carel dipindahkan ke kelas lain jika anak itu tidak menerima Lusy sebegai tunangannya. Jadi mau tak mau dia harus berubah dan membuat Carel membencinya bagaimanapun caranya. Dengan begitu dia bisa menerima Lusy secara perlahan. Tapi ini baru dugaanku saja, aku tidak bisa memastikannya jika tidak bertanya langsung pada orangnya."
Benar juga, kenapa aku tidak kepikiran sampai sana? Padahal aku sangat tau kalau Aster bisa melakukan apapun untuk Carel. Karena hanya dia yang tidak mau melihat Carel gagal mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang dokter yang bisa menyembuhkan ibunya.
Lalu hal yang bisa membuat anak itu marah besar adalah hal yang bersangkutan dengan ibunya. Dia meminta Aster untuk menemui ibunya yang kembali dirawat di rumah sakit tempo lalu, tapi Aster menolaknya dengan sangat menyebalkan sampai membuat anak itu kesal dan marah besar pada Aster.
Sepanjang aku mengenalnya, aku bahkan baru melihat anak itu marah pada Aster sebesar itu. Padahal selama ini dia selalu marah pada orang-orang yang mengganggu Aster. Tapi kali ini, alasan dia marah justru karena Aster itu sendiri.
.
.
.
Thanks for reading...