
-Victor-
"Apa yang terjadi?" Tanyaku saat melihat Ansel memangku tubuh Kalea dengan ekspresi yang sulit untuk ku jelaskan.
Mataku membelalak terkejut saat melihat cairan merah di kain yang menutupi perut Kalea. "Lea?" Gumamku memperhatikan wajah pucatnya yang tak sadarkan diri.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit. Kau bereskan sisanya!"
"Hah? Tu–tunggu! Tidakah aku yang harus mengurus putri ku? Biar aku yang membawanya ke ru–" Ucapku terhenti saat melihat manik merah Ansel menatapku dengan tajam.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Bagaimana bisa putriku terluka? Apa saat dia berlari mengejar Aster ... benar Aster? Batinku bertanya-tanya.
"Dimana Aster?" Lanjutku bertanya sebelum Ansel masuk ke dalam mobilnya.
"Kau cari saja dia. Jika berhasil menemukannya segera hubungi aku. Biar aku habisi anak itu!" Jawabnya sambil tersenyum tipis dengan tatapan dinginnya, membuatku mengernyit bingung. Apa maksudnya dengan menghabisi? Apa dia gila? Mana mungkin dia mau menghabisi putrinya sendiri.
"Aku pergi!"
"Tunggu dulu!" Cegahku terlambat, mobil yang ditumpanginya untuk pergi ke rumah sakit bersama putriku sudah melaju dengan cepat membelah jalanan sepi menuju jalan utama.
"Kami menemukan orang dari keluarga Veren tuan!" Teriak bawahanku membuatku menoleh ke arahnya yang sudah memapah–Hans? Jadi Aster pergi bersamanya?
"No–nona, di mana nona?" Tanyanya saat sampai di hadapanku. Kondisinya benar-benar mengkhawatirkan, sepertinya Hans dihajar habis-habisan oleh orang-orang itu. Aku jadi penasaran dengan kondisi Aster, apa dia baik-baik saja? Atau dia juga mendapatkan banyak luka di tubuhnya?
"Victor! Mobil itu–" Suara Carel menarik perhatianku.
Ku lihat dia sudah berdiri disampingku dengan napasnya yang memburu. Apa dia habis berlari?
"Hans? Jadi berita itu ... di mana Aster?" Lanjutnya langsung memahami situasi kami setelah berhasil mengendalikan napasnya.
"Saya juga tidak tau. Saya meminta nona untuk melarikan diri saat saya mengalihkan perhatian para penjahat itu." Jelas Hans membuatku kembali bertanya-tanya dengan sikap Ansel saat kembali membawa Lea bersamanya.
"Saya pikir nona sudah bertemu dengan tuan Ansel atau anak buahnya. Sepertinya belum ya? Padahal nona harus segera mendapatkan perawatan." Lanjutnya dengan suara lirihnya membuatku mengernyit.
"Perawatan?" Tanyaku dan Carel bersamaan.
"Sebelumnya mobil yang kami tumpangi menabrak pembatas jalan, kepala nona terbentur. Lalu saat kami tertangkap oleh kelompok penjahat itu, nona juga mendapatkan banyak luka ditubuhnya karena siksaan dari orang-orang itu. Belum lagi sebelumnya sesak–penyakit nona kambuh," jelasnya membuat anak berambut pirang dari keluarga Alterio itu langsung berlari meninggalkanku dan Hans. Sepertinya dia mencoba untuk mencari Aster.
"Cari putri keluarga Veren sampai ketemu!" Titahku pada anak buahku, "dan kau! Bawa orang ini ke rumah sakit. Aku akan menyusul setelah selesai membereskan semua kekacauan di sini." Lanjutku membuatnya bergegas.
***
-Carel-
"Sial!" Ucapku merasa kesal pada diriku sendiri karena terlambat datang. Ya, aku harus mengambil jalan memutar untuk sampai ke tempat kejadian perkara. Lalu berlarian menyusuri jalan kecil sampai aku menemukan beberapa anak buah pak tua itu di ujung jalan. Dan saat ku tanyai, mereka sudah berhasil menangkap orang-orang gila itu dan menunjukan jalan menuju ke tempat Victor berada.
"Aster ... di mana kau?" Lanjutku bergumam, masih berlarian memeriksa semua tempat. Berharap bisa menemukan Aster.
Nihil, tidak ku temukan anak itu dimanapun. Aku hanya bisa menemukan tanda-tanda sisa perkelahian dan bercak darah di beberapa titik. Sepertinya sudah terjadi perkelahian cukup hebat diantara kedua kelompok.
"Bagaimana bisa pak tua itu tidak menemukan anaknya dan malah sibuk mengurus anak orang lain? Sebenarnya kemana perginya akal sehatnya itu?" Ocehku merasa geram sendiri karena tidak bisa menemukan keberadaan Aster.
Ku hentikan langkahku saat mendapat panggilan masuk dari Dwi, dengan cepat ku angkat telpon darinya. "Bagaimana situasinya?" Tanyanya terdengar menyebalkan.
"Kau bisa periksa sendiri, aku sedang sibuk!" Dengusku kembali melanjutkan langkahku.
"Sibuk? Maksudmu sibuk membuat keributan?"
"Tutup mulutmu itu!"
"Ku dengar suasana disana cukup kacau ya? Bagaimana dengan Aster? Apa dia baik-baik saja?"
"Tidak. Aku sedang mencarinya jadi berhenti menghubungiku!" Titahku berniat memutuskan panggilannya, namun dengan cepat Dwi berteriak menahanku.
"Apa maksudmu dengan mencarinya? Apa anak itu tidak ada bersama paman Ansel atau Victor? Bagaimana kalau dia bersama dengan Hans?"
"Ku bilang tidak! Hans sendirian dengan kondisi babak belur, pak tua itu sibuk mengurus anak orang lain. Dan Victor, dia sibuk membereskan tempat kejadian sebelum para polisi tiba." Jelasku mengepalkan tangan kiriku, menaruh semua kekesalanku disana.
"Polisi tidak akan tiba. Aku sudah mengurusnya. Aku akan membantumu mencari anak itu. Hubungi aku jika kau sudah menemukannya." Tuturnya sebelum mematikan panggilannya.
Ini salahku! Seandainya aku dengarkan cerita kakek mengenai rumor yang beredar itu. Mungkin aku tidak akan terlambat datang. Mungkin aku tidak akan mengetahui berita buruk ini dari televisi, dan aku juga tidak akan mengetahuinya dari Kalea. Batinku mengingat penjelasan Kalea mengenai kondisi Aster melalui telpon saat aku dalam perjalanan menuju tempat kejadian.
"Aster ...,"
***
-Aster-
"Hiks ...," Isak ku di jalan kecil sambil terduduk memeluk lututku.
Ibu ... Ayah–dia benar-benar jahat! Lanjutku dalam hati mengingat perbuatannya yang melesatkan tembakan ke arahku tanpa merasa ragu sedikitpun. Bahkan tatapan matanya benar-benar terlihat seperti ingin melenyapkan ku.
Kemudian ingatan saat Ayah memeluk Kalea, dan menatapnya penuh khawatir dengan tatapan yang sangat ku rindukan kembali berputar dalam ingatanku. Padahal kondisiku juga tidak baik-baik saja, tapi Ayah lebih mengkhawatirkan Kalea daripada putrinya sendiri.
"Ayah bahkan mengatakan hal jahat dan mengancamku. Memintaku untuk pergi dan bersembunyi darinya ...," gumamku masih terisak merasakan sakit disekujur tubuhku.
"Aku–hiks, harus pergi ke mana?" Tanyaku pada diriku sendiri. Aku bahkan tidak memiliki tempat untuk kembali sejak ibu dan nenek meninggal. Hari itupun jika paman Arsel tidak menyelamatkanku, mungkin aku sudah hidup di jalanan.
"Meong ...," ku dengar suara eongan kucing mendekatiku.
"... haha kau juga sendirian ya?" Tanyaku pada kucing putih yang terlihat kotor, berdiri dihadapanku. Manik birunya bertemu tatap dengan mataku, membuatku teringat kembali dengan kucingku yang sudah mati beberapa tahun lalu.
"Huwaaa... kenapa tuhan selalu mengambil hal-hal yang ku sayangi dalam hidupku? Kenapa Ayah harus melupakanku? Kenapa aku ditinggal sendirian? Kenapa ... kenapa tidak sekalian saja Tuhan membawaku pergi dari dunia ini?" Tangisku kembali pecah membuat kucing putih itu menjauh.
Rasanya hidup ini benar-benar tidak adil!
.
.
.
Thanks for reading...