
-Carel-
Kenapa reaksinya seperti itu? Batinku tak bisa mengalihkan perhatianku dari sosoknya yang terlihat gelisah. Entah dia sadar atau tidak, tapi anak ini sudah menunjukan kegelisahannya sejak melihat berita malam yang dia tonton.
"Aku akan pergi tidur sekarang, kau juga harus cepat tidur." Ucapnya kemudian sambil bangkit dari tempat duduknya.
Ku lihat dia sudah melangkahkan kakinya menuju kamar, mau tak mau aku juga harus pergi tidur mengingat aku harus membantunya di dapur besok, dan memastikan rencanaku berjalan dengan baik selama mengawasinya.
Jangan sampai dia mencurigai ku.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyanya saat aku berniat tidur di sampingnya.
"Tidur." Jawabku membalas tatapannya.
"Ya tapi—kenapa harus bersamaku?" Tanyanya lagi terlihat kesal.
"Karena tidak ada kamar lain? Kasur lain juga tidak ada. Aku tidak mungkin tidur di lantai kan saat aku sudah berniat membayar biaya menginapku?" Tuturku membuatnya bungkam, tapi tidak menghilangkan kerutan dikeningnya.
"Itulah kenapa aku tidak mengizinkanmu menginap di tempat ini." Dengusnya masih terlihat kesal, "kalau begitu biar aku tidur di lantai." Lanjutnya membuatku semakin bingung, apalagi saat dia berjalan kearah lemari dan mengeluarkan satu selimut dan bantal di dalamnya.
"Kenapa harus tidur di lantai? Aku tidak keberatan kau tidur bersamaku."
"Aku ... aku yang keberatan." Tegasnya segera meringkuk di lantai dengan selimut yang sudah membungkus tubuh kurusnya itu.
"Aneh." Gumamku membuatnya menoleh padaku yang memperhatikannya di atas tempat tidurnya. Rupanya dia mendengar gumamanku, tidak heran ekspresinya terlihat lebih kesal dari sebelumnya.
"Apanya yang aneh? Bukankah kau yang lebih aneh karena ingin tidur dengan pria sepertiku?" Ucapnya membuatku terkejut apalagi saat melihat ekspresi jijiknya yang tidak biasa.
Aku mengerti kenapa dia bisa salah paham, tapi aku? Aku tidak terima dia menatapku seperti itu, apa dia kira aku menyukainya? Seorang anak laki-laki sepertinya?
"Hah~ lupakan dan tidurlah." Ucapku segera berbaring ditempat tidurnya, tidak ingin melanjutkan perdebatan tidak berguna ini lebih jauh lagi.
Aroma ini ..., lanjutku dalam hati saat mencium wangi yang begitu familiar dibantal yang ku tiduri. Refleks aku membalikan posisi berbaringku dan melihat sosok Faren yang sudah terlelap dalam tidurnya.
***
-Arsel-
"Saya menemukannya tuan." Suara Eric membuatku menoleh kearah kedatangannya. Dengan terburu-buru dia memberikan flashdisk di tangannya.
"Itu rekaman yang di dapatkan Hans dari salah satu toko." Jelasnya saat aku menatapnya penuh tanya.
Dengan cepat aku memeriksa isi flashdisk yang diberikan Eric. Ku buka rekaman yang ada di file dalam flashdisk itu. Betapa terkejutnya aku dan Eric saat melihat seorang pria muda keluar dari toilet perempuan, padahal sebelumnya yang masuk ke toilet itu seorang perempuan.
"Tunggu! Jangan bilang anak ini ...,"
"Benar, anak itu menyamar menjadi anak perempuan untuk menjual cincin itu. Setelah berhasil menjualnya dia segera mengganti pakaiannya." Tuturnya.
Kenapa anak ini bersusah payah menyamar menjadi anak perempuan untuk menjual cincin itu, apa dia tau kalau itu cincin keluarga Veren? Kalau begitu, apa dia juga tau darimana dia mendapatkan cincin itu? Atau dia sendiri yang menemukannya? Dimana? Batinku bertanya-tanya dengan tindakannya yang terlihat mencurigakan itu.
"Cari anak ini sampai ketemu dan bawa dia kehadapan ku."
"Baik tuan."
"Lalu bagaimana dengan anak itu? Apa dia sudah menghubungimu?" Tanyaku lagi mengingat sosok Carel yang pergi begitu saja dari kediaman Albert saat kami sampai di kediaman pria itu.
"Tidak. Tapi tuan Victor bilang tuan muda pergi bersama temannya dan akan kembali beberapa hari lagi."
"Kenapa di saat seperti ini dia malah pergi bermain? Padahal sebelumnya dia sangat bersemangat ingin menangkap Albert karena kasus kematian Aster yang mencurigakan." Tuturku sebelum menghela napas letih mengingat pembicaraanku dengan Albert beberapa jam yang lalu.
"Lalu tuan Victor meminta cuti pada lusa nanti."
"Sepertinya nona Kalea ingin pergi ke festival tahunan tempat tuan Albert tinggal. Dia bilang akan pergi bersama putrinya ke sana."
"Festival ya ... baiklah biarkan dia libur satu hari. Aku akan mengurus soal Albert selama dia libur, lalu kau dan Hans urus soal pekerjaan yang diberikan Ian. Aku akan bicara pada kakak mengenai rencana kami untuk menangkap Rigel."
"Baik. Kalau begitu saya permisi undur diri dulu tuan."
"Pergilah."
***
-Sarah-
"Siapa dia?" Tanyaku saat melihat pria asing yang keluar dari dapur dengan semua roti hangat yang baru diangkat dari oven.
"Pegawai sementara." Jawab Faren yang terlihat sibuk di meja kasir.
"Hmm ... lalu kenapa anak itu berdiri di luar sejak tadi?" Tanyaku lagi sambil menunjuk Tami teman satu kelasku. Aku tidak pernah tau kalau dia suka mampir ke toko roti paman Tesar, ini pertama kalinya aku melihat anak itu berdiri selama ini di luar sana.
"Apa?" Gumamnya memperhatikan perempuan yang ku tunjuk, lalu detik berikutnya pupil matanya membesar sesaat. Apa itu artinya dia terkejut? Kenapa?
"Aku akan menemuinya." Lanjutnya segera pergi keluar untuk menemui perempuan itu.
"Masa muda ya?" Gumamku tertawa jahil, "Tunggu dulu! Jangan bilang anak itu menyukai Faren? Lalu dia berencana untuk menyatakan perasaanya sebelum festival? Supaya dia ada teman ke acara festival nanti?" Lanjutku menggerutu.
Aku tidak terima! Aku kan juga menyukai Faren. Awas kau ya Tami. Batinku segera berjalan ke dekat pintu toko dan membukanya sedikit untuk menguping pembicaraan mereka. Tidak sopan memang, tapi aku ingin memastikannya. Kalau-kalau dugaanku benar. Aku bisa langsung muncul di waktu yang tepat.
"Anu ... itu, apa kamu sudah punya orang untuk di ajak pergi ke acara festival nanti?" Suara lembut itu membuatku kesal, apalagi saat melihat tingkahnya yang sok imut itu.
"Kalau tidak ada maukah kamu—"
"Aku sudah ada janji dengan Dean dan Sarah, kalau kamu mau pergi bersama, aku akan bilang pada Dean dan Sarah. Sepertinya lebih banyak orang akan lebih seru. Bagaimana menurutmu?" Potong Faren membuatku senang, apalagi saat melihat ekspresi Tami yang terlihat terkejut dengan rona merah di wajahnya.
Sepertinya rencana untuk mengajak Faren pergi berdua dengannya gagal ya? Haha, aku senang Dean dan aku sudah membuat janji lebih dulu dengannya. Batinku tak bisa menahan rasa bahagiaku.
"... kalau pergi denganku saja bagaimana?" Suara Tami kembali mengejutkanku, "be—berdua." Lanjutnya benar-benar membuatku tak berkutik.
"Si sialan itu bicara apa? Kenapa Faren harus pergi berdua dengannya? Dia mau mati ya?" Gumamku sambil mencengkram pintu didepanku.
"Apa yang kau lakukan di sana? Kau menghalangi pelanggan yang akan masuk." Suara asing itu menarik perhatianku, ku lihat pekerja sementara itu sudah berdiri dibelakangku dengan ekspresi datarnya yang terlihat menyebalkan.
Kenapa dia bicara padaku? Apa dia tidak tau aku sedang sangat sibuk sekarang?
"Aku akan menyingkir kalau ada pelanggan. Sekarang kan tidak ada pelanggan jadi biarkan aku sendiri. Pergilah ke tempatmu, jangan menggangguku." Protesku kembali memperhatikan sosok Faren dan Tami di luar.
"Ah, aku jadi melewatkannya. Tadi Faren menerima ajakannya tidak ya?" Lanjutku bergumam.
"Anak ini punya kebiasaan buruk ya?" Suara pegawai itu lagi membuatku refleks menoleh padanya dan menatapnya setajam yang ku bisa.
"Tutup mulutmu sialan!"
"Kau menyukai pria kurus itu?"
"Bu—bukan urusanmu!"
.
.
.
Thanks for reading...