Aster Veren

Aster Veren
Episode 74




-Ansel-


"Kita sudah sampai tuan." Ucap Tomi setelah memarkirkan mobil di parkiran khusus.


"Ini? Kenapa membawaku ke tempat Ian?" Tanyaku sebelum keluar dari dalam mobil sambil memperhatikan kediaman Ian.


"Itu ... sebenarnya tuan Ian menawarkan diri untuk mengurung orang itu di ruangan rahasia di kediamannya, jadi–" jawabnya terlihat ragu mengatakan apa yang ada dipikirannya, namun dengan cepat aku keluar dari dalam mobil dan membuatnya berhenti bicara. Ya, secara tidak langsung aku sudah memotong ucapannya.


"Terserahlah, bawa aku ke ruangan rahasia itu!" Titahku tak ingin membuang waktuku karena saat ini tanganku sudah gatal ingin memberinya pelajaran.


***


-Arsel-


"Tuan! To–tolong berhenti memukulinya, dia bisa hilang kesadaran sebelum kita berhasil mengintrogasinya," ucap Eric mengaburkan pandangan berkabutku.


"Hah, sepertinya aku lepas kendali ya?" Gumamku dengan napasku yang tak beraturan sambil memperhatikan kepalan tanganku yang berdarah akibat salah memukul orang dihadapanku.


Saking kesalnya aku bahkan tidak sadar sudah memukul dinding dibelakangnya beberapa kali saat dia berhasil menghindari tinjuku. Tapi tak lama kemudian aku berhasil melayangkan tinjuku di wajahnya, tak kalah banyak dari tinjuku pada dinding itu.


"Syukurlah dia masih hidup." Gumam Eric sambil memeriksa nadi dan nafasnya.


"Kau pikir aku akan membunuhnya?" Tanyaku membuatnya mengangguk dengan tatapan seriusnya dan menbuatku membatu untuk beberapa detik karena tak mau mengakui kebenaran dari tatapannya, "Ya–yah, inginnya ku habisi tapi orang itu melarangku. Cih, s*alan!" Lanjutku mengingat perkataan kak Ian yang memperingatiku untuk menahan diriku.


Lagipula siapa yang bisa menahan diri saat tau kalau pria yang terkapar dihadapanku ini ada sangkut pautnya dengan kematian ibuku? Apalagi ku dengar dia mengancam Hans untuk tutup mulut dengan berpura-pura hilang ingatan.


"Arrgh, s*alan!" Geramku tak bisa melepaskan ingatanku saat melihat kondisi terakhir ibu di rumah sakit.


"Hha–ha,haha ... ini benar-benar sakit bodoh!" Tawa pria itu berusaha bangkit dari posisi tengkurapnya dengan susah payah dan itu membuat kekesalanku kembali meluap.


"Hee... kau masih bisa bergerak ya? Kau juga masih bisa tertawa dan menunjukan senyumanmu itu ... haruskah ku robek mulutmu itu?" Tuturku dengan tatapan tajamku sambil mengepalkan kedua tanganku lagi.


"Kalau begitu dia tidak akan bisa membuka mulutnya untuk menjawab semua pertanyaanku." Suara kak Ansel mengejutkanku hingga membuatku refleks menoleh kearah kedatangannya.


"Ka–kakak!"


"... hem? Kau menghajarnya Arsel?" Tanyanya membuatku membuang muka darinya secepat yang ku bisa saat merasakan aura gelap dari tubuhnya, terlebih tatapannya sangat-sangat tajam.


"Bukankah aku bilang untuk menunggu? Kenapa kau bisa–" Lanjutnya terhenti saat Eric memotong ucapannya.


"Mo–mohon maafkan saya tuan, sepertinya tuan Arsel mengikuti saya ke kediaman tuan Ian diam-diam. Dan saat dia tau saya dan Rigel berhasil mengamankan pria ini, tuan Arsel langsung maju dan memukul wajahnya." Jelasnya mengingatkanku pada kejadian beberapa jam lalu saat aku melihat Eric dan Rigel membawa orang itu keluar dari dalam mobilnya. Tanpa sadar aku sudah menerjang pria itu dengan tinjuku.


"Sepertinya kau sudah mengabaikan peringatan ku ya?" Tutur kak Ian membuatku bergidik saat melihat senyuman manisnya sambil berjalan mendekati kakak dan Tomi.


"Yah terserahlah. Melihat kondisinya sekarang, sepertinya kau sudah melampiaskan semua amarahmu padanya kan?" Ucap kakak sambil melangkahkan kakinya mendekati pria yang masih terduduk dilantai dengan darah segar yang mengalir disudut bibir dan pelipisnya.


"Dan sekarang ... adalah bagianku, jawab pertanyaanku dengan jujur! Jika ku lihat kau berbohong sedikit saja maka jangan harap kau bisa hidup dengan damai di dalam jeruji besi." Lanjutnya sambil berjongkok dan meraih kerah baju pria itu dengan tatapan super tajamnya.


"Uwaah... kalau sudah begini aku tak akan bisa ikut campur lagi." Gumamku merasa ngeri sendiri melihat sifat dingin kakak ku itu.


"Padahal kalian berdua sama saja." Ucap kak Ian membuatku melirik kearahnya yang sudah berdiri disampingku.


"Jangan bercanda! Mana bisa aku disamakan dengan manusia kejam itu?!" Sangkalku sambil menunjuk punggung kakak ku yang masih mencengkram kerah pria itu.


"Hee..." Gumamnya kembali menunjukan senyuman manisnya yang membuatku bergidik ngeri.


"Sepertinya manusia disampingku ini juga sama kejamnya dengan kakak ya?" Bisik ku berusaha menghindari tatapan langsungnya.


"Hem? Kau bilang sesuatu?"


"Ti–tidak ada."


***


-Aster-


Waktu sudah menunjukan pukul 09:30 malam, ayah belum juga kembali dari kantornya. Tidak biasanya ayah pergi sebelum aku bangun dari tidurku, dan tidak biasanya juga dia bekerja sampai selarut ini.


"Padahal papa tau besok aku harus pergi ke asrama, tapi kenapa jam segini belum pulang juga?" Lanjutku bergumam, merasa khawatir karena ayah belum juga pulang.


Selain itu, pembicaraanku dengan Teo siang tadi masih terngiang di kepalaku. Entah kenapa aku semakin penasaran dengan kejadian tahun lalu yang menimpa Carel, aku bisa melihat Teo menyembunyikan sesuatu dariku mengenai kejadian itu. Tapi dia tidak ingin memberitauku dan berpura-pura tidak tau.


"Kenapa dia menyembunyikannya dariku? Sebenarnya ada masalah apa tahun lalu?" Gumamku sambil berjalan keluar kamar dengan pikiranku yang terus tertuju pada Carel.


Saat mengingatnya, hari ini dia tidak datang ya? Apa Carel sibuk mempersiapkan keperluannya untuk besok ya?


"Nona? Kenapa belum tidur?" Suara kak Mila mengejutkanku saat aku akan turun ke lantai bawah.


"Itu–"


"Aduh, sebaiknya nona tidur sekarang sebelum tuan kembali. Bukankah besok nona harus pergi ke asrama?" Tuturnya terlihat gusar, sepertinya kak Mila takut kena omel ayah karena aku belum tidur.


"Tapi aku mau menunggu papa di ruang tamu, aku tidak bisa tidur ... apa papa tidak menelpon?"


"Tidak ada nona."


"Kenapa papa belum pulang?"


"Ka–kalau begitu mau saya buatkan coklat panas nona?"


***


-Mila-


"Hah, lelah sekali ... rasanya hari ini menjadi hari yang sangat panjang ya? Semua hal yang diperlukan nona juga sudah dikemas, kalau begitu saatnya tidur supaya bisa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk nona." Gumamku sambil meregangkan otot-otot tubuhku dan berniat kembali ke kamarku setelah memeriksa ruang kerja tuan Ansel, takutnya tuan Rigel lupa menutup jendela ruangan itu.


"Nona? Kenapa nona belum tidur?" Lanjutku sambil menghentikan langkahku saat melihat nona Aster keluar dari kamarnya dengan ekspresi khawatirnya.


Dengan cepat ku langkahkan kembali kaki ku menuju anak tangga dan menghentikan pangkah nona yang juga akan menuruni anak tangga dihadapannya.


"Nona? Kenapa belum tidur?" Tanyaku mengejutkannya dan membuatnya tak jadi melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga dihadapannya.


A–ada apa denganku? Kenapa mengejutkannya? Nona jadi terkejut kan. Lanjutku dalam hati saat melihat ekspresi terkejut nona yang menoleh kearahku dan membuatku merasa bersalah karena sudah menghentikan langkahnya.


"Itu–" Gumamnya dengan senyuman kakunya.


"Aduh, sebaiknya nona tidur sekarang sebelum tuan kembali. Bukankah besok nona harus pergi ke asrama?" Tuturku tiba-tiba merasa gusar, entahlah. Rasanya aku merasa seperti akan diomeli tuan jika dia tau nona belum tidur dan menunggu kepulangannya.


Uwaaah... bagaimana ini? Membayangkan diriku kena omel tuan Ansel saja sudah membuat keringatku bercucuran begini. Lanjutku dalam hati sambil meremas celemek putih yang masih menghiasi pakaian maid ditubuhku.


"Tapi aku mau menunggu papa di ruang tamu, aku tidak bisa tidur ... apa papa tidak menelpon?" Tanya nona menghancurkan lamunanku.


"Tidak ada nona." Jawabku tak bisa berpaling dari ekspresi murungnya.


"Kenapa papa belum pulang?" Gumamnya sambil memperhatikan pintu rumah yang masih tertutup rapat dari lantai atas dengan salah satu tangannya yang sudah mencengkram pegangan anak tangga disampingnya.


Nona ... apa dia kesepian tanpa tuan Ansel? Ya, lagipula di rumah sebesar ini hanya ada dua pelayan perempuan, tiga pelayan pria, tukang kebun, supir, dan satpam. Jika ditambah nona dan tuan, penguni rumah ini ada sepuluh orang.


Sekarang hanya ada delapan karena tuan tidak ada di rumah dan Hans masih dirawat di rumah sakit. Setiap hari para pelayan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, sampai tidak ada waktu untuk ku bermain dengan nona. Beruntung tuan muda Carel selalu datang untuk menemani nona bermain saat tuan tidak ada di rumah, tapi disaat seperti ini tuan muda malah tidak ada. Jika dulu, nona akan pergi ke kamar nyonya dan tidur bersama. Tapi sekarang? Yang nona punya hanya tuan Ansel ....


"Ka–kalau begitu mau saya buatkan coklat panas nona?" Tanyaku membuat nona menganggukan kepalanya lemas.


"Terima kasih kak Mila." Ucapnya sambil memaksakan senyuman manisnya, entah kenapa aku ingin menangis sekarang.


Hana! bagaimana biasanya kau menghibur nona saat dia sedang murung seperti sekarang? Batinku merasa bangga pada Hana yang sudah sangat akrab dengan nona.


.


.


.


Thanks for reading...