
-Carel-
Brak!
Suara pintu yang dibuka dengan kasar mengejutkanku yang tengah memperhatikan layar heandphoneku sambil melamun.
Lalu ku lihat sosok Teo yang memasuki ruangan dengan perawakannya yang sangat mengkhawatirkan, terlihat sangat kelelahan. Entah apa yang sudah dia lakukan sampai perawakannya terlihat seperti itu.
"Ada apa denganmu?" Tanyaku merasa sangat kesal dengan kelakuannya yang tidak seperti biasanya itu.
"Sepertinya aku harus rajin berolahraga lagi," jawabnya membuatku bingung. Apalagi saat dia menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidurnya dengan malas.
"... kau benar-benar seperti orang lain ya Teo?" Ucapku sambil mengingat semua gerak-geriknya yang terlihat begitu berkarisma, terlihat seperti anak baik-baik yang sangat menjaga image-nya. Berlawanan dengan dirinya saat ini.
"Apa maksudmu?"
"Entahlah, aku hanya mengatakan apa yang ku lihat."
"Makanya itu, apa maksudmu?!" Ucapnya terlihat kesal, tapi tidak ku perdulikan karena perhatianku kembali teralihkan pada pembicaraanku dengan ayah melalui telpon beberapa saat lalu.
Ku hela napas letihku, memikirkan apa yang akan terjadi jika Aster sampai mengetahui berita mengejutkan ini. Aku juga tidak yakin bisa menghentikan berita yang sudah menyebar di akademi.
Semua orang pasti akan mengerumuninya untuk mecaritau apa yang sebenarnya terjadi. Dan disaat itu, aku–apa yang sebaiknya ku lakukan ya? Batinku bertanya-tanya, memikirkan apa yang bisa ku lakukan untuk melindungi senyuman Aster.
"Padahal beberapa jam yang lalu aku berharap Aster segera pulih, tapi sekarang aku malah berharap dia sakit lagi untuk beberapa hari ...," lanjutku bergumam sebelum menghela napasku kembali.
"Kau gila?" Suara Teo meruntuhkan lamunanku dan membuatku mendelik padanya, "memangnya apa yang kau dengar dari ayahmu? Apa berita itu memang benar?" Lanjutnya bertanya sambil bangkit dari posisi tengkurapnya, lalu manik hijaunya itu mulai menatapku dengan serius.
"... kau pikir itu semua berita bohong? Baik ayahku maupun pak tua itu–maksudku paman Ansel, keduanya tidak akan pernah membuat keributan untuk sesuatu yang–"
"Baiklah-baik, aku mengerti maksudmu. Aku hanya mengkhawatirkan hubungan Aster dengan Kalea yang sudah membaik."
"Aku malah lebih mengkhawatirkan anak itu." Ucapku mengingat putra tuan Albert.
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan anaknya tuan Albert."
"Ah, anak itu."
"Pasti sulit ya menjadi dirinya, dia sangat dikenal banyak orang di akademi. Dan lagi semua orang mengetahui identitas ibu tirinya,"
"Kau tidak sadar diri ya?" Dengusnya membuatku menoleh padanya.
"Apa?"
"Kau juga terkenal di akademi sebagai anaknya tuan Ian Alterio, orang yang sangat disegani oleh banyak orang. Selain itu, kau juga terkenal sebagai anak nakal dengan sejuta keonarannya–"
"Aku baru tau."
"Ya, kau terlalu cuek. Makanya tidak tau hal-hal seperti itu. Tapi kalau menyangkut soal Aster, aku bisa memberimu nilai seratus untuk kepekaan dan keperdulianmu itu." Jelasnya membuatku jengkel dengan ekspresi bangganya itu.
"Kau meledek ku?" Dengusku membuatnya segera berpaling dari tatapanku.
***
-Kalea-
Kemudian ku edarkan pandanganku ke seluruh ruangan saat tak menemukan suara Aster dimanapun karena kondisi ruangan yang gelap. Lalu tatapanku terhenti pada tirai jendela yang bergoyang akibat tertiup angin, dan cahaya bulan yang mulai menyorot menerangi kamar gelapku dan Aster. Perlahan sinar bulan itu semakin terang menyorot kearah tempat tidur Aster.
Dia sudah tidur? Batinku saat menemukan sosok Aster yang meringkuk diatas tempat tidurnya dengan plester penurun panas dikeningnya. Bahkan selimut yang harusnya menghangatkan tubuhnya pun sudah merosot, nyaris terjatuh dari tempat tidurnya. Memperlihatkan pakaian tidurnya yang tipis.
Untuk sesaat aku dibuat terpaku pada pesonanya yang sedang tertidur. Mataku benar-benar tak bisa berpaling darinya, memperhatikan wajahnya yang terlihat bersinar akibat pantulan cahaya bulan. Terlihat begitu pulas dalam tidurnya.
"... entah kenapa aku merasa lega karena dia sudah tertidur," lanjutku bergumam setelah menghela napas legaku.
Lalu dengan perlahan ku langkahkan kakiku menuju jendela kamar dan menutupnya hingga tak ada angin malam yang bisa masuk ke kamar kami. Setelahnya ku tutup tirai jendela transparan itu dan menyalakan lampu kamar sebelum pergi mengambil pakaian tidurku dan pergi membersihkan diriku.
Setelah selesai membersihkan tubuh dan mengganti seragam sekolahku dengan pakaian tidur, akupun kembali dari kamar mandi dan berjalan mendekati tempat tidur Aster untuk memeriksa suhu tubuhnya dan membenarkan selimutnya yang sempat ku abaikan tadi.
"... syukurlah demamnya sudah turun." Bisik ku kembali merasa lega saat merasakan suhu tubuhnya yang mulai menghangat, tidak seperti pagi tadi. Yang mana suhu tubuh Aster terasa begitu panas.
Sepertinya pembuat onar itu mahir merawat orang sakit ya? Syukurlah aku memberitaunya, jadi dia bisa menemui Aster ... meski aku tidak pernah menduga kalau dia akan membolos selama seharian ini. Lanjutku dalam hati, mengingat ucapan Teo yang bilang akan mengomeli Carel karena sudah membolos.
Dan bicara soal Teo, aku jadi mengingat kejadian sore ini. Saat Teo mencariku ke perpustakaan. Bayangan saat dia memeluk tubuhku pun mulai tergambar lagi dalam ingatanku.
Dengan cepat ku gelengkan kepalaku untuk menyadarkanku dari situasi yang tak biasa itu, bagiku pun saat ini aku berpikir soal lawan jenis adalah hal yang tidak biasa. Apalagi sejak kak Nathan memilih Nadin sebagai tunangannya, rasanya aku mulai membenci hubungan seperti itu.
Aku tidak suka jika ada lawan jenis yang dekat-dekat denganku, kenapa? Karena aku tidak ingin mengulang kejadian dimasa lalu. Saat Nadin mengira aku merebut orang yang disukainya. Padahal aku hanya membantu anak itu supaya bisa dekat dengan Nadin. Tapi dia malah mengira aku sebagai orang jahat yang menusuknya dari belakang.
"Padahal ungkapan perasaan waktu itu hanya latihan saja. Dia tidak sungguh-sungguh mengutarakan perasaannya padaku ...." Gumamku mengingat kejadian saat orang itu menyatakan perasaannya padaku. Dan tanpa diduga, saat itu Nadin melihatnya.
... dan terjadilah kesalahpahaman yang tak berujung ini.
"Tapi anehnya, aku merasa baik-baik saja berada didekat Teo dan Carel. Apa karena dari awal mereka membenciku ya? Jadi aku tidak khawatir dengan perasaan mereka. Tapi ... kenapa hari ini sikap Teo berubah seperti itu?" Gumamku kembali teringat pada kejadian di perpustakaan sore ini.
Aku bahkan tidak bisa mengenyahkan bayangan wajah Teo yang menatapku dengan tatapan khawatirnya, lalu perlahan tatapan itu menghangat bersama dengan senyuman tipisnya. Membuat jantungku berdebar tak karuan.
"Ada apa denganku? Aku bahkan masih bisa mendengar suara Teo dengan jelas sekarang," ucapku mengingat semua ucapan Teo di perpustakaan.
"Tidak perlu menahan diri Lea."
"Jangan khawatir, aku yakin Carel bisa menjelaskan situasinya pada Aster."
"Kenapa? Bukankah kau takut hubunganmu dengan Aster kembali memburuk?"
"Karena Aster sudah memaafkanmu kan? Dan kalian sudah menjadi teman sekarang, jadi kau juga temanku dan Carel. Tentu saja kami harus membantu teman kami kan?"
Saat mengingat semua ucapannya, entah kenapa aku jadi merasa sedikit lebih tenang. Rasanya seperti aku memiliki seseorang yang bisa ku andalkan, seseorang yang bisa melindungiku dan mempercayaiku dalam situasi apapun. Hebat bukan?
Aku jadi merasa kembali ke kehidupanku dulu, disaat aku memiliki seseorang yang bisa melindungiku dan mempercayaiku setulus hatinya. Lalu melindungiku dari rasa iri perempuan lainnya. Untu sesaat wajah Nadin kembali terbayang dalam kepalaku. Dia benar-benar temanku yang sangat tangguh.
"... ku rasa aku juga harus meminta maaf dengan benar padamu. Berkatmu yang mau mencoba memperbaiki hubungan kita, aku jadi bisa dekat dengan Teo dan Carel juga ...," Gumamku setelah puas memperhatikan wajah Aster.
Mungkin seperti ini rasanya dilindungi, aku hampir lupa bagaimana rasanya. Tapi setelah Teo menghiburku, aku jadi mengingat kembali bagaimana rasanya. Dan selama ini, Teo dan Carel berusaha melindungi Aster dengan cara mereka sendiri.
Lalu aku, aku juga akan melindungimu meski nantinya kau akan membenciku karena artikel itu, tapi aku tidak akan menyerah. Lanjutku dalam hati, mengingat kenangan masa kecilku saat ibu dan ayah hampir menikah. Dan ibu bilang aku akan menjadi kakak tirinya Aster, tentu saja aku harus melindungi adik ku meski ibu tidak benar-benar mengatakannya dengan tulus.
.
.
.
Thanks for reading...