Aster Veren

Aster Veren
Episode 172




-Kalea-


Waktu sudah menunjukan pukul 09:40 saat aku sampai di kediaman Veren. Aku datang untuk menemui Aster setelah sekian lama kami tidak bertemu. Alasan lainnya, ya karena ayah mengundangku untuk makan siang bersama. Iya tau, aku datang terlalu awal untuk acara makan siang. Dan aku sengaja, karena aku ingin banyak berbincang dengan Aster sebelum bertemu dengan ayah.


Aku juga berencana mengajak Aster berlibur bersamaku, Teo, Carel, Nadin dan Tia. Karena kami baru saja selesai menjalani ujian kenaikan kelas, dan kami memutuskan untuk pergi liburan, untuk menjernihkan pikiran yang sudah ruwet karena dipakai untuk berpikir keras dalam ujian selama satu Minggu terakhir ini.


Brak!


Suara meja yang digebrak cukup keras menarik perhatianku, ku tolehkan kepalaku ke arah pintu ruang kerja ayah yang sedikit terbuka.


Apa ayah sedang bekerja? Batinku bertanya-tanya.


"Bukankah sudah ku bilang untuk menjaga tatakrama mu?" Suara Aster terdengar mengintimidasi, membuatku sedikit terkejut dan merinding saat aku mengintip ruang kerja ayah dari balik pintu.


"Kau sadar kau sedang berada di mana sekarang kan?" Lanjutnya, ku lihat manik ungu itu menatap tajam pada seorang perempuan yang berdiri tegap dihadapannya. Terlihat penuh percaya diri.


Lalu ku lihat tangan kanan Aster meraih sebuah cangkir disampingnya dan mencengkramnya dengan kuat, terlihat dari urat tangannya yang mulai timbul. Sebenarnya apa yang sedang mereka bahas sampai Aster naik pitam seperti itu? Batinku kembali bertanya-tanya.


"Dan lagi, di mana Hans? Bukankah biasanya dia selalu berkeliaran disekitar Aster? Kenapa sekarang dia tidak ada?" Lanjutku bergumam.


"Kau benar-benar menyedihkan ya Aster? Pasti sangat melelahkan bersikap sok kuat sendirian ... mau ku bantu? Kau bisa menggulingkan posisi ayahmu jika kau mau, apalagi kondisinya sekarang–"


"Tutup mulutmu!" Seru Aster bersamaan dengan cangkir teh yang pecah akibat cengkraman tangan Aster, dan itu membuatku terkejut setengah mati saat melihat serpihan cangkir itu menumpahkan air panas yang masih mengepul ke tangan kanannya, tangan yang sudah mencengkram cangkir itu dengan seluruh kekuatannya.


Ku lihat cairan merah mengalir keluar dari tangannya yang masih mengepal, sepertinya ada pecahan cangkir yang dia genggam. Dengan cepat aku masuk ke dalam ruang kerja ayah dan berlari menghampiri Aster saat perempuan dihadapan Aster masih mematung ditempatnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku segera meraih tangan kanannya, "tanganmu berdarah, kau tidak sadar dengan apa yang baru saja kau lakukan? Kenapa–" lanjutku benar-benar panik menyingkirkan pecahan tajam ditelapak tangan Aster.


"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Aster memotong ocehanku, membuatku bertemu tatap dengan manik ungunya itu. Entah kenapa aku melihat ada kemarahan dalam tatapannya itu, dan itu membuatku tak bisa berkata-kata.


"... hee, ternyata benar begitu ya?" Gumam perempuan yang entah siapa itu menarik perhatianku.


"Sepertinya dugaanku benar." Lanjutnya sebelum menunjukan senyuman sarkasnya.


"Apa? Apa yang kalian–" Tanyaku bingung dan kembali dipotong oleh Aster.


"Kau bisa pergi sekarang. Anggap saja aku mengampuni mu,"


"Kenapa tiba-tiba mengusirku? Apa karena ada dia? Siapa namanya? Le–le ... Kalea? Ya, apa karena ada Kalea?" Tanyanya membuatku semakin bingung dengan siatuasiku saat ini.


"Biarkan saja dia dengar, ah! Jangan-jangan dia tidak tau soal ayahmu ya? Jadi dia berkeliaran di kediaman Veren tanpa tau apapun?" Lanjutnya membuatku mengernyit bingung saat dia menatapku dengan sarkas, lalu tersenyum tipis seolah mengejek ku.


Aster? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Batinku tak bisa berkata apapun, lalu ku tundukan kepalaku menatap kembali tangan Aster yang terluka. Dengan cepat ku gelengkan kepalaku untuk menepis semua rasa penasaranku.


Yang terpenting saat ini bukan apa yang disembunyikan Aster dariku, tapi luka di tangan Aster yang harus segera ditangani. Darahnya masih mengalir ... aku harus cepat mengobatinya jika tidak ingin lukanya terinfeksi. Ocehku dalam hati.


"Apa kau juga sadar? Kalau pengaruhmu tidak ada apa-apanya sejak tuan Ansel benar-benar kembali dari Singapura. Jabatan yang kau duduki saat ini, terlihat rapuh. Ah ya, benar. Kau kan hanya pengganti sementara, jadi cepat atau lambat tuan Ansel akan menyingkirkanmu dari posisimu saat ini kan?" Ocehnya semakin menjadi, entah kenapa aku jadi ikut kesal mendengarnya.


Memang apa salahnya jika Aster hanya menjadi pengganti sementara? Toh suatu hari nanti Aster akan benar-benar menjadi penerus keluarga Veren kan? Dan itu sudah pasti.


"... rapuh ya? Aku tidak terlalu memikirkan pengaruhku dalam posisi menggantikan ayah tuh. Selagi aku masih menjadi pengganti ayah, sepetinya aku bebas melakukan apapun yang bisa ku lakukan pada rekan-rekan bisnis ayah." Tutur Aster setelah menghela napas singkat sambil menyibak rambutnya kebelakang dengan tangan kirinya.


Ku lihat air muka perempuan itu berubah menjadi lebih kesal, padahal sebelumnya aku melihat dia tenang-tenang saja dan begitu percaya diri dengan ucapannya itu. Tapi sekarang?


"E–entahlah, kita lihat saja." Ucapnya sedikit terbata.


"Hah~ aku benar-benar kesal sekarang. Bisa-bisanya kau menerobos masuk disaat aku sedang sibuk dengan pekerjaanku. Lalu mengoceh hal-hal tidak penting sampai mencoba untuk menghasut ku untuk mengkhianati ayahku, apa kau tidak punya otak?" Lanjut Aster kembali menatap tajam perempuan itu dengan manik ungunya.


Kali ini Aster berjalan mendekati perempuan itu dan memegang bahunya dengan tangan kirinya, "haruskah aku batalkan kerjasama keluarga Ellene dengan perusahaan kami?" Tanyanya membuatku terkejut saat Aster menyebutkan nama tante Ellene.


Tante Ellene adalah sahabat baik ibu, tapi sudah lama aku tidak mendengar namanya karena ku dengar Tante Ellene sedang sibuk mengurus butiknya di luar negri. Tapi hari ini, aku mendengar nama tante Ellene lagi, dan itu dari mulut Aster.


Ku tatap perempuan yang berdiri dihadapan Aster dengan seksama, menerka-nerka siapa dirinya? Dan ada hubungan apa dia dengan tante Ellene?


"Kau!" Geramnya terlihat gusar, "kau mau mengancamku?" Lanjutnya menepis tangan Aster dari bahunya.


"Tidak tuh, aku benar-benar akan memutuskan kerjasama kita. Tolong jelaskan pada tantemu itu ya, dan tolong jelaskan dengan benar. Jangan sampai aku mendengar hal yang tidak benar beredar diluaran sana."


Eh? Tante? Jadi perempuan dihadapanku ini keponakannya Tante Ellene yang selalu dia bangga-banggakan itu?


"Ap–"


"Kenapa? Kau tidak yakin dengan pengaruh yang ku miliki? Meski lemah dan rapuh seperti katamu. Aku masih bisa menghancurkan keluarga sekelas keluargamu loh. Jadi berhati-hatilah dalam berucap." Potong Aster masih menatap perempuan itu dengan tajam, namun bibirnya tertarik keatas dan menunjukan senyuman sarkasnya.


.


.


.


Thanks for reading...