Aster Veren

Aster Veren
Episode 64




-Aster-


Hari ini paman datang berkunjung ke rumah nenek dengan membawa bingkisan ditangannya, benar-benar bingkisan yang sangat besar.


"Paman datang sendiri? Ku kira datang bersama Khael." Tanyaku merasa kecewa sendiri karena paman tidak membawa Khael ke rumah, padahal aku ingin bermain lagi dengannya.


"Bagaimana bisa paman membawa Khael dihari penting seperti ini. Kamu kan harus pergi ke kediaman keluarga Ravindra bersama dengan ayahmu." Jelasnya sambil berjalan menuju anak tangga dengan bingkisan ditangannya.


"Tapi kan acaranya nanti malam." Gumamku sambil mengikuti langkah paman yang terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku.


"Sebentar lagi Hana tiba, dia akan membantumu bersiap." Ucap paman membuatku terkejut dan menghentikan langkahku.


"Ma–maksudnya bersiap itu–sekarang?" Tanyaku segera mendapat anggukan cepat dari paman yang sudah menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir sambil menoleh kearahku yang masih mematung ditempat.


"Ta–tapi kan waktunya masih lama ...." Ucapku langsung mendapat senyuman lebar paman yang terlihat ramah dengan sorot mata antusiasnya yang tak bisa ku jelaskan.


"Persiapannya tidak akan cukup jika dilakukan sore nanti," jelas paman kembali melanjutkan langkahnya saat aku sampai disampingnya.


Memangnya persiapan apa yang harus ku lakukan sampai membutuhkan waktu berjam-jam? Batinku bertanya-tanya.


"Hana akan membantumu menjadi gadis paling cantik untuk acara malam nanti, saat dia sampai kamu akan langsung menerima perawatan wajah, rambut, lulur dan–" Jelas paman segera ku potong.


"Paman bercanda kan? Maksud–ku ini kan bukan pestaku dan bukan acara besar juga, kenapa aku harus tampil cantik dan melakukan semua perawatan yang–" Tuturku tak bisa membayangkan persiapan yang dimaksud oleh paman.


"Tentu saja kamu harus tampil cantik, bahkan semua perempuan yang akan menghadiri pestapun melakukan persiapan yang sama. Jadi hari ini izinkan pamanmu membantumu ya, paman sudah mempersiapkan gaun paling cantik untukmu." Ucapnya lebih antusias dari sebelumnya.


Tidak bisa dimengerti, bukankah biasanya pemilik acara pesta yang melakukan persiapan sedetil itu untuk tampil cantik atau tampan diacaranya sendiri? Ya–tokoh utama acara harus terlihat paling bersinar kan? Dan saat ini aku hanya seorang tamu undangan yang akan menghadiri acara nanti malam kan? Kenapa repot-repot melakukan perawatan? Batinku bertanya-tanya.


Ya meskipun beberapa hari terakhir ini aku melakukan perawatan tubuh dan kulit wajah dari kak Hana yang sering datang ke rumah atas perintah paman Arsel. Tapi tetap saja aku merasa belum terbiasa dengan semua itu ....


***


Kak Hana sampai di rumah pukul 01:10 siang bersama dengan paman Eric, lalu paman meminta kak Hana dan kedua pelayan lainnya untuk membantuku bersiap.


Mereka semua benar-benar sibuk mempersiapkan semua keperluanku, mulai dari memandikanku, mencuci rambutku, memijat tubuhku, memasker wajahku dan menyiapkan pakaianku beserta aksesoris lainnya.


"Untuk saat ini nona bisa tidur dulu selama satu jam, nanti saya bangunkan jika air aromanya sudah siap." Jelas kak Hana setelah memasang masker diwajahku.


"Air aroma?" Gumamku tak didengarkan.


"Setelah satu jam, kalian bangunkan nona dan mandikan dia dengan air aroma. Saya akan siapkan keperluan lainnya untuk nona." Jelas kak Hana membuatku terkejut.


"Ma–mandi lagi?" Ucapku tak bisa berkata apapun lagi.


"Untuk mandi ke dua, nona akan berendam selama tiga puluh menit dengan air aroma bunga yang sudah dipersiapkan tuan Arsel, untuk sekarang nona boleh tidur dulu sampai saya bangunkan nanti." Jelas pelayan lainnya membuatku tak bisa tidur.


Aku yakin cuma akan datang ke acara perayaan ulang tahunnya kak Nathan sekaligus acara perayaan kelulusannya ... bukan mau menikah. Tapi kenapa persiapannya sampai seperti ini? Batinku bertanya-tanya sambil mengingat beberapa novel fiksi romance yang ku baca.


***


-Hana-


"Lihatlah betapa cantiknya nona hari ini." Ucapku tak bisa berpaling dari sosoknya yang terlihat begitu cantik dengan balutan gaun berwarna hitam berpadu dengan warna ungu yang senada dengan warna bola mata nona.


Sepertinya tuan Arsel sengaja membuat gaun berlengan panjang dengan kain hitam tipis transparan dibagian lengan atasnya, dan membiarkan area bahu keatas terekspos dengan seutas tali yang melingkar dileher nona.


Bagian depan gaunnya pun lebih pendek dari bagian belakangnya, dan dibagian dadanya terdapat tempelan bunga besar berwarna ungu, menyamping hingga kebagian pinggang yang tertutup kain pita.


"... Biar saya kencangkan pitanya supaya tidak terlepas saat sedang berdansa nanti." Suara Mila meruntuhkan lamunanku, ku lihat dia sedang sibuk mengikat pita dipinggang nona, Mila sengaja mengikatkannya dibagian belakang supaya tidak bertubrukan dengan hiasan bunga yang ada didekat pinggang nona.


"A–anu, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Suara nona Aster membuatku menatap cermin yang memperlihatkan ekspresi canggung nona.


"Tidak nona, nona terlihat cantik." Jawabku sambil memasangkan jepit rambut berbentuk bunga sebesar kepalan tangan didekat telinga kanan atas nona.


"Tapi ... tidak kah bagian punggungnya sedikit terbuka?" Tanyanya membuatku menatap bagian punggung nona yang memang sedikit terekspos.


"Sepertinya lebih baik dari sebelumnya, rambutnya menutupi bagian punggungku yang terekspos. Terima kasih kak Mila." Ucap nona terlihat lebih percaya diri dari sebelumnya.


"Riasan wajahnya sudah selesai, pakaian nona juga sudah oke, rambut nona juga sudah ... sekarang pakai ini, heelsnya tidak terlalu tinggi dan sudah disesuaikan dengan kaki nona. Jadi nona bisa nyaman berlama-lama memakainya." Jelasku sambil meletakan heels berwarna hitam didekat kaki nona setelah puas memperhatikan kecantikan nona Aster.


"Terima kasih kak Hana." Ucapnya sambil memakai heels dihadapannya dan tersenyum ramah padaku dan Mila.


"Apa sudah selesai?" Teriak Desi bersamaan dengan pintu kamar nona yang sudah terbuka lebar karenanya.


"Bisakah kau tidak berteriak seperti itu dihadapan nona?" Tanyaku sedikit memelototinya karena merasa tidak enak pada nona.


"Ma–maaf, hehe ... aku terlalu bersemangat karena tuan Ansel sudah menunggu dibawah. Jarang-jarang aku bisa melihatnya berpakaian serapi itu, meskipun dulu sering melihatnya sih." Jelasnya sambil terkekeh dengan rona merah diwajahnya.


"Papa sudah menunggu?" Tanya nona terlihat gembira membuat Desi mengangguk cepat untuk menjawab pertanyaannya.


"Kalau begitu aku turun sekarang." Ucap nona segera bergegas menuju lantai dasar untuk menemui tuan Ansel, begitupun denganku, Mila dan Desi.


Kami pergi untuk mengantar kepergian mereka sampai ke depan pintu rumah.


"Papa sudah lama menunggu?" Tanya nona saat sampai dihadapan tuan Ansel, "hari ini papa terlihat lebih tampan dari biasanya ya ...." Lanjut nona bergumam dengan manik ungunya yang tak bisa berpaling dari wajah tuan Ansel.


Jika harus dijelaskan, tuan Ansel memang terlihat tampan seperti kata nona. Dia bahkan tidak terlihat seperti orang yang sudah memiliki anak berusia 13 tahun. Apalagi saat rambut hitamnya ditata serapi itu, benar-benar membuat siapapun pangling saat melihatnya.


"Hana! Dimana Arsel?" Tanya tuan Ansel menghancurkan lamunan indahku yang sedang mengagumi sosok menawannya dan putri cantiknya.


"Ya–tuan Arsel sudah pergi satu jam yang lalu." Jawabku mengingat tuan Arsel pergi dengan terburu-buru meninggalkanku bersama Desi dan Mila setelah puas melihat nona kerepotan mencoba semua pakaian yang dibawa oleh tuan Arsel untuk pesta malam ini.


"Ada apa papa?" Tanya nona menarik perhatianku yang juga ikut bertanya-tanya kenapa tuan menanyakan adiknya?


"Tidak ada, ayo pergi sekarang." Jawabnya sambil menuntun tangan nona Aster menuju mobil tuan Ansel yang sudah terparkir di depan rumah.


"Akan ku beri dia pelajaran nanti! Beraninya dia memakaikan pakaian terbuka seperti ini pada putriku." Gumam tuan Ansel membuatku bergidik karena berhasil mendengar ocehannya.


"Sepertinya tuan Ansel sangat menyayangi putrinya ya?" Bisik Desi membuatku melirik padanya, sepertinya bukan hanya aku saja yang mendengar ocehannya tuan.


"Dia pasti tidak ingin putrinya dikerubuni banyak laki-laki dipesta nanti, jadi dia sangat marah karena melihat putrinya berpakaian seperti itu dan terlihat sangat cantik kan?" Lanjut Mila ikut berbisik dengan ekspresi gembiranya.


"Bukankah itu berarti pekerjaan kita mendandani nona berhasil?" Tanya Desi tak kalah gembiranya dengan Mila.


"Maksudmu berhasil membuat tuan Ansel kesal?" Bisik ku membuat mereka bungkam.


"... benarkah?" Suara nona menarik perhatianku.


"Ya, kau sangat cantik seperti ibumu." Ucap tuan Ansel dengan senyuman tipis dan tatapan hangatnya, membuat hatiku lega karena tuan tidak protes dengan pakaian nona padaku, Hana dan Mila.


Dia malah mencari tuan Arsel ....


"Tidak tuh! Tuan Ansel malah terlihat senang." Bisik Desi membuatku mendelik kesal padanya.


"Terima kasih sudah membantu putriku bersiap, kalian boleh kembali ke rumah Arsel sekarang dan sampaikan pesanku padanya kalau dia harus bersiap-siap! Aku pergi dulu." Tutur tuan Ansel sebelum masuk kedalam mobil bersama dengan nona Aster.


Bersiap–siap itu ... maksudnya tuan Ansel akan memarahi tuan Arsel begitu? Batinku bertanya-tanya dengan keringat dingin yang ku rasakan dipunggungku saat melihat tatapan tajam tuan Ansel.


"Sampai nanti kak Hana, kak Mila dan kak Desi." Ucap nona sambil melambaikan tangannya dibalik jendela mobil dengan senyuman lebarnya. Terlihat sangat bahagia namun tak bisa menghilangkan rasa gelisahku sekarang. Entahlah, rasanya aku juga akan mendapatkan omelan dari tuan Ansel perihal gaun yang nona pakai sekarang.


"Selamat bersenang-senang nona." Ucap Mila dan Desi bersamaan sebelum pintu mobil bagian tuan Ansel ditutup oleh Rigel yang sejak tadi hanya membisu berdiri didekat mobil tuan.


Mati aku! Batinku menghela napas gusar sambil mengingat kapan terakhir kali aku berurusan dengan tuan Ansel.


.


.


.


Thanks for reading...