Aster Veren

Aster Veren
Episode 77




-Aster-


Waktu sudah menunjukan pukul 07:05 pagi saat sampai di akademi bersama ayah.


"Hah~ seandainya tadi ayah tidak ribut dulu dengan paman," gumamku setelah menghela napas letih saat mengingat pertengkaran ayah dengan paman Arsel yang datang ke rumah pagi ini.


Bukan tanpa alasan paman tiba-tiba berkunjung, dia tau aku akan pergi ke akademi hari ini jadi dia datang untuk memberikan salam perpisahan. Meski awalnya paman memaksa ingin pergi mengantarku juga, tapi ayah menghentikannya.


Kalau diingat-ingat lagi Khael tidak datang menemuiku ... kenapa paman tidak membawa Khael ke rumah? Batinku bertanya-tanya sambil memperhatikan kedatangan siswa-siswi lainnya yang berjalan memasuki gerbang akademi dengan seragam hitam putih mereka.


"Kenapa papa lama sekali?" Gumamku lagi mencari keberadaan ayah yang menghilang dari pandanganku setelah mengatakan untuk menunggunya di depan gerbang akademi. Lalu pergi dengan koper dan tas jinjing berukuran cukup besar ditangannya.


Apa papa pergi ke asrama? Lanjutku dalam hati bersama hembusan angin yang menerpa rambutku dengan lembut.


Aku masih tidak percaya kalau hari ini aku akan tinggal di asrama. Padahal pagi ini papa nyaris mencabut pendaftaranku di akademi karena tidak ingin berpisah denganku. Tapi syukurlah aku bisa menghentikan tindakannya.


"Itu, itu perempuan yang berdansa bersama kak Nathan malam itu kan?" Bisikan beberapa orang yang menghentikan langkahnya tak jauh dariku, mereka terlihat curi-curi pandang padaku. Membuatku tidak nyaman.


"Ah, iya aku ingat. Sebelum sesi berdansa dimulai, dia sudah berdansa dengan kak Nathan." Lanjut seseorang disampingnya.


"Cantik ya ... siapa ya nama anak itu?"


"Hem... A–as, siapa ya? As, as–ter, ya Aster. Dia dari keluarga Veren kan?"


"Veren itu, ah jangan-jangan dia keponakannya Arsel Veren yang itu?"


Se–sebenarnya kenapa mereka membicarakanku? Meski kalian berbisik-bisik pun aku masih bisa mendengarnya loh. Batinku merasa tidak nyaman dengan apa yang ku dengar. Apalagi saat mereka membicarakan sesi berdansaku dengan kak Nathan. Membuatku teringat kembali dengan kenangan memalukan itu!


"... Kau bilang namanya Aster? Itu–anak yang pernah dirundung itu kan?"


Deg!


Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya saat mendengar ucapan mereka, rasanya tidak nyaman, sangat-sangat tidak nyaman.


"Pelankan suaramu bodoh!"


"Aw sakit tau!"


"... apa dia baik-baik saja? Ku dengar orang yang dulu merundungnya juga masuk akademi ini loh."


"Ah! Maksudmu si Kalea itu? Apa dia benar-benar masuk akademi? Apa dia masih punya muka untuk menunjukan dirinya didepan umum?" Ucapan seorang perempuan berambut pirang membuatku kesal, bahkan tanpa sadar kedua tanganku sudah mengepal erat disamping kaki ku.


Mataku juga tak bisa berpaling dari gerombolan perempuan itu, sepertinya mereka sangat suka bergosip? "Kenapa mereka memiliki mulut seringan bulu?" Gumamku mencoba menahan emosiku.


"... aku juga dengar ibunya mencampakannya!"


"Apa itu karmanya ya? Secara dulu dia berbuat seenaknya dengan merundung anak yang lebih lemah darinya."


"Bisa jadi. Dan lagi ku dengar dia mengaku-ngaku sebagai putrinya keluarga Veren juga loh!"


"Se–serius?"


"Benar-benar tidak tau malu ya?"


"Mereka–" Ucapku nyaris hilang kesabaran jika seseorang tidak muncul diantara kami.


"Kalian! Kenapa belum masuk? Upacara penyambutan siswa baru akan segera dimulai. Sebagai kakak kelas kalian harus bisa memberikan contoh yang baik pada siswa baru. Cepat masuk!" Ucapnya membuat mereka bergegas setelah memberikan salam hormat pada pria itu.


"Kakak kelas disini memiliki kebiasaan yang cukup buruk ya?" Lanjut suara yang tak ku sukai, ku lihat dia keluar dari balik punggung pria itu. Detik berikutnya aku baru sadar kalau dua orang dihadapanku ini adalah kak Nathan dan Nadin. Dua orang yang katanya sudah bertunangan.


"Selamat pagi Aster." Suara Nadin mengejutkanku.


"Pa–pagi ...." Gumamku mencoba menghindari tatapannya. Entah kenapa jika dibandingkan dengan Kalea, aku malah lebih takut dengan Nadin. Mungkin karena perlakuannya padaku?


"Kenapa kau mengikutiku? Upacaranya hampir dimulai loh." Tanya kak Nathan tak diperdulikan olehnya, "kau juga masuklah Aster." Lanjutnya mengalihkan pandangannya padaku.


"Duluan saja, aku masih menunggu papa." Jelasku sambil mencari keberadaan ayah yang masih tak ku temukan. Entah bersembunyi dimana dia sampai melupakanku.


"Selamat pagi kak." Sapa beberapa siswi yang melewati kak Nathan sambil tersenyum ramah.


"Pagi," jawab kak Nathan membalas senyuman mereka.


"... yang tadi itu tunangannya kak Nathan?" Suara mereka yang hampir berlalu.


"Yang mana? Kan dua-duanya berdansa dengan kak Nathan semalam ...."


"Kau mau masuk bersamaku Aster?" Tanya Nadin segera merangkul tangan kananku dengan gembira, mengalihakan perhatianku padanya.


"Ya, kalian masuk saja dulu. Kau bisa menunggu ayahmu di dalam." Tutur kak Nathan menyetujui ucapan Nadin yang mengajak ku masuk.


"Kau lihat tadi? Dia sangat menyedihkan, kenapa tidak kau temani?"


"Mana mau aku menemani orang sepertinya, kau saja!"


"Pelankan suaramu, dia ada dibelakang kita tau!"


"Siapa?" Gumamku merasa penasaran dengan pembicaraan kedua orang yang baru melaluiku, dengan cepat aku menoleh kearah belakangku. Ku lihat Kalea sedang berjalan menuju gerbang masuk akademi dengan langkah kecilnya yang penuh percaya diri. Bahkan kepalanya tidak menunduk dan terlihat tegap.


"Ku harap dia bisa menjalani kesehariannya dengan baik di akademi." Tutur Nadin membuatku melirik kearahnya yang sudah memasang ekspresi murungnya, terlihat sekali topengnya.


"Jika saja dia tidak berbuat jahat padamu, dia tidak akan dikucilkan seperti sekarang." Lanjut kak Nathan ikut memperhatikan sosok Kalea dan membuatku kesal.


"Ayo masuk!" Ucap Nadin sambil menarik tanganku, dengan hati-hati ku lepaskan tangannya saat perhatian semua orang tertuju pada kalea.


"Ada apa Aster?" Tanya kak Nathan mewakili Nadin yang membeku ditempatnya dengan ekspresi terkejutnya. Mungkin dia tidak berpikir aku akan menolak ajakannya.


"Aku akan masuk bersama Kalea." Jawabku sambil tersenyum sebaik mungkin pada kak Nathan, sengaja ku keraskan suaraku supaya semua orang mendengarnya sebelum berjalan mendekati Kalea.


Entahlah, aku berpikir hal ini akan berhasil. Jika mereka melihatku berteman baik dengan Kalea, mungkin saja mereka akan berubah pikiran tentang hubunganku dengan Kalea. Begitulah pikirku.


"Tunggu–Aster?!" Suara kak Nathan tak ku dengarkan, dengan cepat aku berjalan mendekati Kalea dan menggandeng tangan kirinya sekuat mungkin sambil menyapanya "Selamat pagi Kalea."


Syukurlah Kalea tidak menepis tanganku. Batinku tak bisa melepaskan pandanganku dari ekspresi datar Kalea. Padahal aku sudah takut kalau-kalau Kalea akan bersikap dingin padaku dan menepis tanganku.


"Mana mungkin papa mengizinkanku pergi sendiri." Jawabku membuat Kalea tersenyum tipis dengan pandangannya yang masih tertuju kedepan.


"Kau benar ... lalu dimana si bodoh itu?"


"Si bodoh? Siapa?"


"Orang sint*ng."


"Sin–siapa?" Tanyaku semakin bingung dengan teka-teki yang diberikan oleh Kalea.


"Siapa yang kau sebut bodoh dan sint*ng itu hah?!" Suara Carel menghentikan langkahku dan Kalea.


"Orangnya muncul." Gumam Kalea membuatku terkejut.


"Kau!" Geram Carel berniat menyerang Kalea namun segera dihentikan oleh Teo yang sejak tadi berdiri dibelakangnya.


"Tenangkan dirimu Carel!" Ucap Teo berusaha menahan tubuh Carel dengan memeluknya dari belakang.


"Kau terlambat." Lanjut Kalea sambil melirik dingin pada Carel dengan senyuman sarkasnya.


Melihat mereka sedekat ini sepertinya Carel dan Kalea sudah berbaikan ya? Syukurlah.


Dan sepertinya tatapan semua orang juga sedikit berubah sekarang. Batinku memperhatikan beberapa orang disekitarku sebelum menaruh perhatianku lagi pada Kalea.


***


-Carel-


"Apa yang kau lihat?" Suara Teo mengejutkanku karena kedatangannya yang tiba-tiba. "Ah ... kenapa dia sok dekat begitu dengan Aster?" Lanjutnya saat menyadari apa yang ku lihat.


"Benar kan?" Tanyaku masih memperhatikan sosok Nadin yang merangkul tangan Aster meski dia tau kalau Aster tidak nyaman dengan rangkulannya itu.


Lalu sepanjang perjalanan menuju gerbang akademi, telingaku benar-benar dibuat gatal dengan pembicaraan orang-orang yang terus-terusan membahas soal Kalea. Mereka benar-benar mengasihani Aster dengan menjelek-jelekan Kalea.


Tunggu! Sejak kapan aku perduli pada anak itu? Batinku mencoba menepis pikiranku soal Kalea jauh-jauh. Tapi pikiran itu malah kembali padaku, terutama saat mendengar perkataan mereka yang bilang soal Kalea yang ditelantarkan oleh ibunya. Menyebalkan!


"Padahal mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi." Suara Teo membuatku melirik padanya yang juga masih terfokus pada Aster dan Nadin.


"Kau lihat dia tadi? Dia sangat menyedihkan, kenapa tidak kau temani?" Suara seseorang menarik perhatianku, dan ku lihat Kalea berjalan dibelakangnya tanpa memperdulikan suara mereka.


Secara perlahan dia mulai mendekati Aster, dan ku lihat Aster berjalan cepat menghampiri Kalea sambil menggandeng tangannya dengan senyuman terbaiknya setelah berhasil melepaskan diri dari Nadin.


"Benar-benar tak terduga." Guman Teo bersamaan dengan sudut bibirku yang sudah terangkat.


Bisa-bisanya aku masih berpikir untuk memaafkan atau tidak memaafkan Kalea setelah Aster dengan tulus memaafkan semua kesalahan Kalea padanya. Batinku segera melangkahkan kakiku untuk menyusul mereka yang hampir memasuki gedung akademi.


Kau benar-benar hebat Aster. Dengan begini pandangan semua orang terhadap Kalea ... mungkin bisa berubah. Kau sudah membantunya, kalau begitu aku juga akan membatu. Lanjutku masih dalam hati, melewati Nathan dan Nadin yang masih mematung di depan gerbang akademi. Memperhatikan punggung Aster dan Kalea.


"Kau tidak akan memisahkan mereka kan?" Tanya Teo menebak isi pikiranku.


"Mana bisa aku merusak senyuman itu?" Jawabku tak bisa mengalihkan perhatianku dari Aster yang terlihat gembira berjalan disamping Kalea. Apalagi beberapa hari belakangan ini aku tidak mengunjunginya dan tidak bisa melihat senyuman itu lagi.


"... lalu dimana si bodoh itu?" Tanya Kalea saat aku hampir mendekatinya.


"Si bodoh? Siapa?" Jawab Aster balik bertanya, dan entah kenapa aku mengetahui siapa yang dimaksud oleh Kalea.


"Orang sint*ng."


"Sin–siapa?"


"Siapa yang kau sebut bodoh dan sint*ng itu hah?!" Geramku menghentikan langkah mereka.


"Orangnya muncul." Gumam Kalea membuatku kesal.


"Kau!" Geramku berniat menyerang Kalea namun segera dihentikan oleh Teo yang sejak tadi berdiri dibelakangku.


"Tenangkan dirimu Carel!" Ucapnya berusaha menahan tubuhku dengan memeluk ku dari belakang.


"Kau terlambat." Lanjut Kalea sambil melirik dingin padaku dengan senyum sarkasnya. Bahkan aku bisa lihat manik birunya memberikan kode padaku supaya aku melihat kearah yang dia lihat.


Mau tak mau aku pun melihat apa yang sedang dilihat olehnya. Ku lihat tangan Aster masih menggandeng tangan Kalea dengan erat, dan anak itu mencoba untuk memanas-manasiku? "Lepaskan aku Teo! Akan ku habisi anak ini sekarang juga!"


"Hhahaha, apa yang kau katakan Carel?" Tanyanya dengan ekspresi lucu yang dibuat-buatnya, membuatku semakin kesal. Terutama suara tawanya yang dipaksakan.


"Kau benar–benar!" Gumamku penuh penekanan, berusaha melepaskan diri dari pelukan Teo yang semakin mengerat.


"Berhenti mempermalukan dirimu seperti ini Carel!" Ucap Teo bersamaan dengan suara Kalea yang mengajak Aster untuk masuk dan meninggalkanku bersama Teo di depan gedung sekolah.


"Tunggu–kau! Jangan kabur!" Teriak ku tak diperdulikan.


Mereka benar-benar ... menunggalkanku? Lanjutku dalam hati memperhatikan punggung mereka yang semakin menjauh. Namun detik berikutnya aku melihat Aster menoleh padaku dan tersenyum manis dengan tatapan hangatnya.


"... kau berhenti setelah melihat senyuman manis Aster?" Suara Teo menyadarkanku dari lamunan singkatku, "dia benar-benar hebat ya? bisa membuatmu tersipu seperti ini hanya dengan satu senyuman." Lanjutnya membuatku terperajat, untuk pertama kalinya aku menunjukan sisi memalukanku pada orang seperti Teo.


"Berisik!" Ucapku segera menyusul Aster dan Kalea.


"Pft, sejak kapan kau bisa selucu ini? Wajah malu-malu mu itu benar-benar imut ya," ejeknya membuatku kesal.


"Teo, mau ku robek mulutmu itu tidak?" Ancamku membuatnya bungkam dan menggelengkan kepalanya dengan cepat saat aku menoleh padanya.


.


.


.


Thanks for reading...