
-Carel-
"Kau disini?" Suara Teo mengejutkanku yang tengah fokus mengerjakan pekerjaan rumahku.
Ku lihat dia sudah berjalan menuju tempat tidurnya, "kenapa tidak pergi ke kantin?" Tanyanya.
"Kalau kau sudah kembali, setidaknya pergilah ke kantin untuk menemui Aster. Dia terlihat khawatir saat kau tidak ada disampingnya," Lanjutnya membuatku menghela napas panjang dan menghentikan kegiatan belajarku.
"Aku sudah makan bersama ibuku di rumah sakit," jawabku sambil memutar kursi putarku untuk melihat Teo.
"... terserahlah, yang pasti aku sudah memberitaumu kalau Aster mengkhawatirkanmu."
"Kau tidak memberitaunya soal–"
"Tidak!"
"Bagus!"
"Tapi ...,"
"Apa?"
"Tidak jadi."
"Kau mau berkelahi denganku ya? Katakan apa yang mau kau katakan! Jangan membuatku penasaran." Tuturku merasa kesal dengan sifatnya yang satu itu. Padahal kalau dia tidak berniat memberitauku, dia bisa tutup mulut sampai akhir saja. Tapi dengan sengaja dia memancingku.
"Katakan!" Ucapku penuh penekanan membuatnya menghela napas pasrah.
"... sepertinya memang tidak perlu ku katakan, selamat malam." Putusnya membuatku kesal, dengan cepat ku lempar buku tebal diatas meja belajarku kearah Teo hingga dia memekik.
"Sakit bodoh!" Ucapnya sambil mengelus kepalanya yang tetimpa buku.
"Kau pantas mendapatkannya!" Dengusku kembali melanjutkan belajarku.
***
-Aster-
"Belum selesai?" Suara Kalea yang sudah terbaring diatas tempat tidurnya, membuatku menoleh kearahnya yang ternyata sedang memperhatikanku.
"Sedikit lagi," jawabku sambil menunjukan senyumanku dan menggaruk kepala bagian belakangku yang sejujurnya tidak terasa gatal sama sekali.
"Maaf ya, karena aku kau jadi terlambat mengerjakan pekerjaan rumahmu." Ucapnya terlihat menyesal, "mau ku bantu?" Lanjutnya membuatku menggeleng cepat dan menghentikannya untuk bangkit dari posisi berbaringnya.
"Tidak apa-apa, tinggal tiga soal lagi. Lea tidur duluan saja." Tolak ku merasa tidak enak jika harus membuatnya bangkit dari atas tempat tidurnya. Dan lagi, aku masih bisa mengerjakannya sendiri.
"Baiklah, kalau sudah selesai cepatlah tidur ya. Selamat malam." Ucapnya membuatku mengangguk patuh sebelum mengerjakan pekerjaan rumahku kembali.
Aku benar-benar senang jika Nadin sudah berbaikan dengan Kalea. Batinku kembali mengingat curhatan Kalea sebelum dia tidur, lalu beralih pada bayangan kedekatan Kalea dan Nadin saat di kantin tadi.
"Memang ya, mereka sangat sempurna jika sudah berdekatan seperti itu." Gumamku kembali merasakan rasa iri jauh didalam hatiku, entah kenapa aku merasa takut jika Kalea akan lebih dekat dengan Nadin daripada denganku nantinya. Apalagi mereka dulu berteman—sahabat baik.
Dengan cepat ku tepis pikiran buruk ku itu dan kembali mengerjakan pekerjaan rumahku, berusaha untuk menghilangkan pemikiran negatifku itu.
Tok, tok tok!
Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar, dengan cepat aku berjalan kearah pintu untuk membukanya. Karena aku sudah tau siapa yang selalu mengetuk pintu di jam 09:45 malam. Siapa lagi kalau bukan ibu asrama?
Ku buka pintu kamarku dan ku lihat ibu asrama sudah tersenyum ramah padaku, "belum tidur?" Tanyanya langsung masuk ke dalam kamar untuk memeriksa Kalea.
"Belum, masih belajar." Jawabku membuat ibu asrama menoleh kearah meja belajarku, memperhatikan tumpukan buku yang berceceran disana.
"Jangan tidur terlalu larut ya, setelah selesai langsung pergi tidur. Aku tidak mau melihatmu jatuh sakit lagi," tuturnya sambil mengelus puncak kepalaku dengan lembut.
"Baik bu." Angguk ku sebelum menunjukan senyuman lebarku.
"Kalau begitu ibu pergi ke kamar yang lain ya, selamat malam Aster." Ucapnya sebelum pergi dari kamarku.
Ku tutup kembali pintu kamarku dan menguncinya sebelum melanjutkan kegiatan belajarku.
"Ermh ...,"
Terdengar suara erangan halus bersamaan dengan langkah kaki ku yang berniat kembali ke meja belajarku, membuatku refleks menghentikan langkahku dan mencari sumber suara yang ku dengar.
... apa itu suara Kalea? Batinku memperhatikan sosok Kalea yang tengah tertidur dengan posisi meringkuknya. Terlihat tidak nyaman.
"Uh!" Gumamnya membuatku melangkah cepat mendekati tempat tidur Kalea saat melihat keringat dingin di wajah Kalea, dia juga terus mengerang sambil memeluk perutnya. Suara erangannya pun terdengar lebih kesakitan, berbeda dengan sebelumnya.
"Lea?" Panggilku berusaha membangunkannya.
Keringatnya banyak sekali, tubuhnya juga hangat. Apa Lea demam? Lanjutku dalam hati.
"... Aster?" Ucapnya sambil membuka matanya.
"Kau sakit Lea?" Tanyaku merasa cemas saat melihat wajah pucatnya.
"Perutmu?"
"Sakit," jawabnya sambil bangkit dari posisi meringkuknya.
"Be–berbaring saja Lea, aku akan–" Ucapku terhenti saat melihat noda merah di seprai putih Kalea saat selimutnya tersingkup.
"Darah?" Gumamku begitu terkejut dengan apa yang ku lihat, "Le–Lea berdarah?" Lanjutku membuatnya memperhatikan seprainya.
"Ini?" Gumamnya sambil meringis.
"Bagaimana ini? Kenapa bisa berdarah? Pa–padahal Lea bilang sakit dibagian perut, lalu itu?" Ucapku merasa panik saat melihat pemandangan asing ini. Bagaimana tidak? Kan yang sakit perut, tapi ada darah di seprainya.
"A–apa perutmu terluka?" Tanyaku semakin panik dengan apa yang ku pukirkan sendiri.
"Tenanglah Aster, aku baik-baik saja. Ini mungkin–"
"Aku akan memanggil ibu asrama dan mencari obat untukmu, tenanglah Lea! Tahan sebentar ya!" Ucapku segera berlari keluar kamar setelah memotong ucapannya.
***
"Ibu!" Teriak ku saat melihat ibu asrama keluar dari kamar Nadin.
"Aster?" Ucapnya saat melihatku berhenti berlari tepat dihadapannya, dan ku lihat Nadin juga sudah melongokan kepalanya dibalik pintu saat mendengar suaraku.
"Ada apa Aster?" Tanyanya.
"Itu ... Lea," jawabku sambil mengatur napasku, "berdarah!" Lanjutku membuat Nadin terkejut begitupun dengan ibu asrama.
"Berdarah?" Tanya Nadin langsung berlari ke kamarku diikuti oleh ibu asrama.
"Lea?!" Teriak Nadin sambil membuka pintu kamarku, dengan cepat dia masuk ke dalam kamar diikuti oleh ibu asrama.
"Dimana Lea?" Lanjut ibu asrama membuatku bingung saat tak mendapati Kalea dimanapun.
"Itu ...," gumamku tak bisa memberikan jawaban pasti, yang jelas sebelum aku pergi dia masih duduk diatas tempat tidurnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Nadin saat bertemu tatap denganku.
"Itu tadi, setelah ibu pergi dari kamarku. Aku mendengar Kalea mengerang kesakitan, dia terus memeluk perutnya dengan erat. Tubuhnya juga hangat, dan saat aku membangunkan Kalea ... aku melihat bercak darah di seprainya. Kalea juga terus meringis kesakitan." Jelasku mengingat semua hal yang ku lihat.
"Itu maksudnya–" Ucap Nadin segera dipotong oleh ibu asrama.
"Ya, seperti yang kamu pikirkan." Ucap ibu asrama sambil tersenyum pada Nadin.
"Seperti yang dipikirkan Nadin?" Gumamku merasa bingung sendiri, memangnya apa yang sedang dipikirkan oleh Nadin?
"Tenanglah Aster, Kalea baik-baik saja. Dia tidak terluka. Darah ini adalah darah menstruasi." Jelas ibu asrama membuatku teringat dengan buku bacaan yang ku baca di perpustakaan.
Dibuku juga dijelaskan kalau menstruasi adalah proses keluarnya darah dari v*gina yang terjadi diakibatkan siklus bulanan alami pada tubuh wanita. Dan itu sedang terjadi pada Kalea saat ini?
"Jadi Kalea?" Tanyaku langsung mendapat anggukan cepat dari ibu asrama, lengkap dengan senyuman tipisnya.
"Tidak salah lagi ... kau membuatku takut Aster." Lanjut Nadin sambil memeriksa seprai putih Kalea.
"Ma–maaf, aku tidak tau." Ucapku merasa malu sendiri karena sudah membuat keributan.
"Tidak apa-apa, sekarang kamu sudah tau. Jadi saat kamu mengalaminya nanti, kamu tidak akan terkejut." Tutur ibu asrama membuatku terkejut, perkataannya benar-benar menggangguku. Terlihat sekali kalau dia tau aku belum mengalami hal itu.
"Ba–bagaimana ibu bisa tau?" Tanyaku mengecilkan nada bicaraku.
"Dari reaksimu," jawabnya menambah rasa panas diwajahku.
Klek!
Terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam dan menampilkan sosok Kalea yang keluar dari sana dengan tubuh lemasnya. Lalu dengan cepat Nadin menghampirinya dan membantunya berjalan.
"Apa terasa begitu sakit?" Tanyanya.
"Ya ... apa semua perempuan sering mengalami rasa sakit seperti ini saat menstruasi? Ini pertama kalinya untuk ku." Jawab Kalea balik bertanya.
Ba–bahkan Kalea langsung tau kalau dia sedang menstruasi? Kenapa aku tidak menyadarinya? Aku malah membuat keributan seperti ini, benar-benar memalukan.
"Benarkah? Kalau begitu ... Nadin kamu masih punya sof*ex?" Tanya ibu asrama yang sudah berdiri disisi lain Kalea dan memegangi tangannya.
"Ada, aku akan mengambilnya!" Serunya segera berlari menuju kamarnya.
"Aster, bisa kau ambilkan air hangat untuk Kalea?" Tanya ibu asrama membuatku mengangguk cepat dan segera mengambil termos kecil milik ku dan Kalea. Lalu tanpa membuang-buang waktu, aku langsung berlari menuju lantai bawah untuk mengisi tempat minum yang ku bawa.
.
.
.
Thanks for reading...